
Teruntuk Elsa
Elsa apa kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja di sana. Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka baik kan? Aku yakin ibumu pasti sangat memperdulikanmu. Aku yakin ibumu pasti menyayangimu. Peluklah dan ciumlah ibumu selagi ia masih ada. Bagaimana dengan ayahmu? Dia juga baik kan? Apa ayahmu membicarakan aku? Apa pendapatnya? Aku tahu, ayah dan ibumu pasti mengira aku ini orang jahat. Mereka pasti tidak setuju dengan hubungan kita. Iya kan? Tapi tenang saja Elsa. Suatu hari nanti mereka akan menyetujui hubungan kita. Aku yakin.
Elsa....
Aku sangat merindukanmu. Apa kau merindukanku? Aku sangat ingin bertemu denganmu. Apa kau juga sama sepertiku? Nanti kita pasti akan bertemu. Elsa, kau sudah makan? Makanlah dengan lahap. Kau harus sehat. Kau tidak boleh sakit. Jika ada yang menyakitimu, kau boleh mengatakannya kepadaku. Jika kau kesepian, kau boleh melihatku dari langit malam. Bintang-bintang itu yang akan menyampaikan rindumu padaku. Sama sepertiku yang melihat kota malam dengan penuh rindu kepadamu.
Elsa...
Jangan mengkhawatirkanku. Aku sudah sehat. Aku sudah membaik. Tubuhku sudah tidak sakit lagi. Hanya saja hatiku yang sakit. Karena merindukanmu. Aku tidak bisa menahan rasa rinduku yang amat dalam kepadamu. Hatiku selalu sepi. Elsa... Jangan pergi meninggalkan cintaku. Aku akan sangat kesepian. Air mataku akan jatuh dengan deras. Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Aku tidak mau kehilangan cintamu.
Elsa... Maukah kau bertahan untukku? Maukah kau menemaniku hingga tua nanti? Maukah kau ikut bersamaku? Maukah kau menjadi kekasihku? Ehhh, maukah kau menjadi istriku? Jangan mencintai lelaki lain selain diriku. Nanti aku akan terluka. Hhehe... Tidak Elsa. Aku hanya bercanda.
Jika suatu hari nanti, kau menemukan lelaki yang lebih baik dari aku. Cintailah dia sepenuh hatimu. Pintaku mungkin terlalu berlebihan. Kita masih muda. Kau harus meneruskan semua mimpi-mimpimu. Kau tidak boleh menyerah. Jika kau gagal, ingatlah, kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Kegagalan itu hanya sebuah batu yang bisa kau lempar ke belakang, dan langkahkan lagi kakimu menuju masa depan yang cerah.
Elsa...
Rahasia tetap rahasia. Simpanlah sendiri untukmu. Biarkan ia teredam dengan seiringnya waktu berjalan. Biarkan ia di sana, tanpa harus kau sentuh dan ingat lagi. Saat kau tahu betapa buruknya mereka, tetaplah diam sampai kau menghembuskan nafas terakhirmu. Tetaplah bisu untuk kebaikan dirimu sendiri. Biarkan Tuhan yang memberikan pelajaran untuk mereka yang menghina dan melukaimu. Biarkan Tuhan yang balas semuanya. Aku tidak apa-apa. Orangtuaku sudah tenang bersama Tuhan. Seperti yang kau katakan waktu itu, aku tidak sendiri. Ada kamu yang selalu tersenyum kepadaku. Nanti, kita akan bertemu lagi. Yakinlah, Tuhan akan mempertemukan kita kembali.
Dari yang selalu merindukanmu.
Sameer.
Elsa mendekap erat-erat surat yang diberikan oleh ke-4 sahabatnya. Runtuh seluruh hatinya, rasa rindu begitu menyayat masuk ke dalam aliran darah dan nafasnya. Hatinya penuh dengan luka dan perasaan bersalah kepada Sam. Andai saat itu ia mendengarkan semua perkataan Sam. Mungkin, ini takkan terjadi. Baginya saat ini adalah memerangi orangtuanya sendiri. Itu adalah hal yang sulit bagi Elsa.
Ayah yang sangat ia percayai kini berubah menjadi monster yang mengerikan. Merampas milik orang lain bahkan dengan tega membunuh orang yang menghalangi jalan. Sesak nafas Elsa untuk percaya kenyataan pahit itu. Gara-gara ayah, Sam kehilangan orangtuanya. Dan itu yang kini membuat Elsa sangat menderita.
"Bagaimana keadaan Sam sekarang?" Elsa mendongak ke arah ke-4 sahabatnya secara bergantian. Tidak ada satupun yang menjawab. Hanya Naira yang berani mendekati Elsa perlahan-lahan. Ia duduk disamping kanan Elsa lalu merangkul pundak sahabatnya itu. Mata Naira berkaca-kaca, seakan-akan ia dapat merasakan apa yang terjadi kepada Elsa dan juga Sam. Ia mungkin tidak mengerti arti cinta seorang anak remaja yang berusia 14 tahun dengan seorang lelaki remaja yang berusia 18 tahun. Tapi Naira adalah satu-satunya sahabat yang mampu mendalami jiwa dan perasaan sahabatnya yang lain.
"Elsa...?" Lirih Naira. Seakan tenggorokannya tertekan pahit.
"Dia baik-baik saja kan?" Mata Elsa basah, sebening air mata tiba-tiba jatuh. Wajah pasi milik Elsa menandakan bahwa kini ia mengalami tekanan yang amat berat. Elsa berharap jawaban Naira dapat menenangkan hatinya, namun...
"Sam sudah pulih dan sehat." Jawab Naira pelan. Untuk beberapa detik Naira menelan ludah. Menundukkan pandangannya. Mengernyitkan dahinya sebentar. Lalu memandang Elsa dengan berat. Ia ingin mengatakan bahwa Sam baik-baik saja. "Tapi..."
"Sam di penjara, atas tuduhan penculikan yang dia lakukan kepadamu." Niken berujar. Naira menghembuskan nafasnya dengan berat. Nanar dua bola matanya. Ia tak mampu menahan rasa pahit yang ia rasakan saat ini. "Tapi dia janji, dia akan datang kepadamu. Kami merekam suara Sam untukmu. Semoga ini dapat membantu pemulihanmu." Lanjut Niken.
"Elsa...? Kau bisa dengar suaraku? Dengar, dengarkan aku baik-baik. Setelah kau mendengar semua penjelasan dari sahabat-sahabatmu. Aku harap kau mempercayainya. Kau tidak perlu berbuat apa-apa. Aku bisa mengurus semuanya. Aku sudah dengar dari mereka tentangmu. Dengarkan aku baik-baik, sayang. Kau tidak boleh memberontak. Kau cukup diam, agar mereka tidak memberikan obat apapun terhadapmu. Nanti aku akan menjemputmu untuk menemui Anna dan ibumu. Kita akan hidup di Kanada bersama-sama. Aku janji selama hidupku, aku akan selalu menjagamu. Berapapun waktu yang kita tempuh, baik 10, 15 atau 20 tahun yang akan datang. Hatiku tetap untukmu. Ratusan purnama akan aku lewati bersama ratusan elegi yang menyayat perih masuk ke dalam rongga nadiku. Elsa sayangku, mungkin sebagian orang menganggap kita adalah remaja yang gila. Tapi kamu adalah cinta pertamaku yang takkan usang ditelan masa. Kamu, adalah harapan dan impianku. Mulai saat ini, tujuanku adalah kamu. Oleh sebab itu, jangan pernah melepaskan hatiku darimu. Apapun yang terjadi, aku akan selalu hadir untukmu. Bersabarlah dulu, nanti kita pasti bertemu. Aku mencintaimu." Rekaman suara Sam terhenti disana.
Naira menyapu rambut Elsa dengan lembut. Dengan pelan Naira menepuk pundak sahabatnya. "Selain Sam, kita juga akan selalu ada untukmu Elsa." Elsa mengangguk percaya. Menatap satu persatu sahabatnya.
"Kita janji, kita akan menjaga cerita ini. Kita adalah saksi dari cerita yang terjadi kepadamu. Sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkan sahabatnya. Selain dirimu sendiri ada aku, Niken, Naina dan Via yang akan menemanimu hingga nanti. Persahabatan yang kita mulai dari lima matahari yang akan selalu bersinar tanpa henti, dan tanpa waktu yang ditentukan." Tutur Naira.
"Ceritamu adalah cerita kita juga. Kau ingat Elsa, dulu aku pernah bercerita kepadamu tentang kematian Jihan sahabat kecilku. Dan tentang aku yang berbeda dari yang lain. Yang membenci laki-laki dan menganggap semua laki-laki adalah brengsek. Philofobia yang aku alami adalah yang membuat aku berbeda dari yang lain." Cerita Niken. Via merangkul pundak Niken dengan hangat. Naina pun ikut merangkul sahabatnya.
Hari-hari Elsa menjalani kehidupan di rumah sakit jiwa dengan penuh harap. Harapan yang nyata jika suatu hari nanti Sam akan datang untuknya, menjemputnya dan membawa ia pergi ke Kanada untuk menemui saudara kembarnya dan juga ibu kandungnya. Namun setiap kali ada yang datang menemuinya adalah dokter yang menyuntikan cairan yang akan membuat Elsa hilang ingatan. Sebuah dosis anti depresan yang dijual secara ilegal di Korea Selatan. Dokter itu menyuntikkannya kepada pasien yang mengalami paranoia seperti Elsa. Meski sebenarnya Elsa telah mengetahui semuanya. Ia bersikap pura-pura tidak tahu untuk melindungi Sameer.
"Sus...?" Lirih Elsa memanggil suster yang merawatnya.
"Ya...?"
"Boleh aku minta bantuanmu."
"Ada apa Elsa?" Suster Marina tersenyum dengan bangga ketika Elsa mau berbicara dengannya.
"Suster percaya kalau aku enggak gila?" Ujar Elsa. Suster Marina mengangguk sambil duduk disamping Elsa. Elsa menelan ludah. "Sebenarnya aku tahu mengapa kedua orangtuaku mengirimku ke rumah sakit jiwa." Suster Marina mengernyitkan dahinya. "Maaf jika aku merepotkanmu. Aku ingin suster Marina memberikan sesuatu kepada seseorang." Tukas Elsa sambil berjalan menuju loker paling bawah. Lalu memberikan sebuah dus sepatu kepada suster Marina.
"Emmm ini apa Elsa? Dan kepasa siapa harus kuberikan?" Tanya suster Marina dengan bingung.
"Bapak Dani. Foto dan alamatnya ada di sana. Aku ingin suster mengirimkannya langsung kepada orangnya. Kalau suster tidak bertemu dengan orangnya, suster bisa ke kantornya. Kapanpun ia akan membalaskan dendamnya, aku akan selalu siap dengan segala resikonya." Jelas Elsa. Ada secarik alamat untuk suster Marina. Elsa memberikan dua buah cincin yang melingkar dijari manis dan jari tengahnya.
"Sebagai imbalannya, suster bisa menjual cincin saya. Masing-masing cincin ada 10 gram. Dan sampaikan pada pak Dani bahwa uang yang ada didalam adalah milikmu. Dua hari setelah memberikan kotak ini, berhentilah menjadi seorang suster. Pergilah kemanapun kau mau, dan gunakan uang itu untuk keperluan sehari-harimu. Aku tidak ingin kau dalam bahaya." Jelas Elsa. Suster Marina mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti apa maksud perkataan Elsa.
"Tapi Elsa..?"
"Sus, nanti setelah Anda bertemu dengan pak Dani, aku yakin dia akan mengerti. Jalani saja perintahku. Aku hanya meminta bantuan sedikit padamu. Aku mohon..." Elsa memelas dengan penuh harap kepada suster Marina. Suster pun menganggukkan kepalanya.
***