
◈◈◈ 9
Hari ini, Regitta berniat pergi ke desa. Dia mengenakan pakaian rumahan, tidak seperti biasanya memakai kemeja dan jas. Ketika dia akan memasuki mobil, Fernan datang dengan motornya.
"Komisaris, anda mau kemana?" Tanya Fernan.
"Sudah kubilang, jangan memanggilku komisaris, jika kita tidak sedang bekerja. Aku mau pergi ke rumah ibuku di kampung."
"Mau kuantar?" Fernan menawarkan jasa.
Regitta tampak berpikir kemudian mengangguk.
Fernan yang menyetir mobil milik Regitta. Mobil itu melewati jalan tanah yang bergelombang di pedesaan. Dinginnya kota Bandung terasa sangat nyata di tempat itu.
Di pesawahan ada banyak petani yang sedang menanam padi. Fernan memarkirkan mobilnya di tanah lapang yang luas. Regitta melewati ladang pertanian bersama Fernan yang mengikutinya di belakang.
Dia melihat rumah kecil di seberang sana. Itu adalah rumah ibunya. Tangannya bergerak mengetuk pintu, tidak ada jawaban.
"Apa mungkin sedang keluar?" Tanya Fernan sambil mengeratkan jaketnya.
"Entahlah." Sekali lagi gadis itu mengetuk.
"Bu Hiran, lihatlah, putrimu yang polisi itu datang mengunjungimu!"
Regitta dan Fernan menoleh ke arah pesawahan. Dia melihat para petani menoleh padanya, termasuk sang ibu.
Regitta tersenyum rindu.
Hiran membersihkan tangan dan kakinya di sumur belakang. Regitta menunggunya di dalam.
Hiran membawa beberapa toples makanan khas pedesaan di Bandung dan teh hangat yang manis untuk putrinya dan Fernan.
"Ibu, kenapa tidak ikut aku ke kota?" Tanya Regitta.
"Mau bagaimana lagi, Nak. Ibu tidak bisa meninggalkan sawah dan tanah kita."
Fernan merasa mengganggu momen mereka. "Permisi, ada yang ketinggalan di mobil."
Hiran dan Regitta mengangguk.
"Siapa pria tampan itu?" Tanya Hiran.
"Temanku," jawab Regitta lalu menunduk. "Aku tidak tega melihat Ibu seperti ini."
Hiran tersenyum. "Kau anak yang baik. Bagaimana kabar ayahmu?"
Regitta mengalihkan pandangannya. "Aku tidak mau membahas pria itu."
"Jangan begitu, bagaiman pun juga dia adalah ayahmu."
"Aku lebih bangga terlahir dari rahim seorang Ibu yang bertani." Regitta memeluk ibunya. Dia menangis.
Hiran membalas pelukan putrinya. "Apakah harimu begitu berat, Nak? Ceritakan pada Ibu, mungkin itu akan membuatmu merasa lebih baik."
Fernan menunggu Regitta dengan bersandar di mobil. Ponselnya berdering. Dia segera mengangkat panggilan dari Bayu.
"Kak Fernan, sore ini Komisaris Jenderal Pradifta akan datang ke kantor kita."
Fernan tampak terkejut.
Regitta menepuk bahu Fernan dengan tiba-tiba, membuat pria itu kaget.
"Ada apa?" Tanya Regitta serius.
"Sore ini Komjen Pradifta akan datang ke kantor kita."
Regitta tampak berpikir. Hiran melambaikan tangannya di kejauhan. Fernan manggut sopan. Regitta membalas lambaian tangan ibunya.
Selama di perjalanan, Regitta tampak berpikir keras. Sampai-sampai keringat dingin mengalir dari dahinya.
"Aku rasa, Tiva benar... Pradif pelakunya. Sayangnya kita tidak punya banyak bukti," kata Regitta.
"Kita akan menangkapnya? Atau menunggu bukti lain?" Tanya Fernan.
"Aku juga bingung, di sisi lain, kepala polisi menyuruhku untuk hati-hati, karena bisa jadi tuduhanku salah. Itu akan mencemarkan nama baik kepolisian. Selain itu, kita sedang berurusan dengan polisi. Tentunya Pradif selaku polisi tahu, langkah apa yang akan kita lakukan terhadapnya."
Fernan menghela napas panjang. "Pantas saja waktu itu kita kalah berkelahi dengan dia, ternyata dia Komisaris Jenderal."
"Aku bisa gila gara-gara kasus ini." Regitta menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
"Sepertinya Pradif ingin membuka kasus lama mengenai kematian Jidan Anggara," kata Fernan.
Regitta menggeleng. "Tidak, jika dia ingin membuka lagi kasus ayahnya, dia bisa melakukannya sendiri. Dia 'kan polisi. Kenapa dia harus membunuh? Mungkin dia ingin membalas dendam pada rekan-rekan ayahnya yang kurang bertanggung jawab atas keselamatan ayahnya waktu itu. Dia ingin menimbun kasus Jidan Anggara beserta kematian rekan-rekannya sekaligus."
Fernan tampak berpikir. "Kalau begitu, kita buka lagi saja kasus Jidan Anggara, agar Pradif berhenti membunuh."
Regitta memutar otaknya. "Aku harus membicarakannya dulu dengan kepala polisi. Kasus Jidan Anggara terjadi sebelum aku menjadi Komisaris di sini. Rasanya tidak nyaman jika aku mengacak-acak berkas lama."
"Baiklah, kurasa akan lebih baik jika membicarakannya nanti, seharusnya kau merasa happy, setelah bertemu dengan ibumu."
Regitta melirik Fernan. "Iya."
Melihat ada bingkisan di kursi belakang, Fernan bertanya, "Itu dari ibumu?"
"Iya, untuk kita berdua."
Kedua pipi Fernan memanas, ketika Regitta bilang, 'Kita'.
"Ibuku adalah gadis dari keluarga petani, karena cantik, seorang pengusaha melamarnya. Dia adalah ayahku. Semuanya berjalan baik, sebelum ada wanita sialan yang mencuci otak ayahku."
Fernan merasa sedih mendengarnya. "Seumur hidup mengenalmu, baru kali ini kau menceritakannya padaku."
Regitta tersenyum. "Kita tidak ada waktu untuk bicara soal pribadi. Meskipun kita sering bicara, yang kita bicarakan pasti kasus lagi, kasus lagi."
Fernan tertawa. "Harusnya kita berkencan dan menceritakan semuanya."
Regitta menatap Fernan. Pria itu merutuki ucapannya.
"Maaf, aku...."
"Kemana kau membawaku berkencan nantinya?" Potong Regitta sambil tersenyum geli.
"Setelah kasus ini selesai, aku akan memberitahumu," jawab Fernan.
Regitta tersenyum. "Janji, ya."
Fernan tertawa. "Iya, Gitta."
◈◈◈
09.14 | 13 September 2019
By Ucu Irna Marhamah