The Police

The Police
8



 


 


Regitta melangkahkan kakinya keluar dari kantor. Polisi di luar sudah kewalahan menahan para wartawan dan warga.


 


 


"Komisaris Regitta, bagaimana dengan keselamatan kami?"


 


 


"Bagaimana bisa mereka membunuh 3 orang polisi sekaligus?"


 


 


"Jika mereka bisa membunuh polisi, bagaimana dengan kami?"


 


 


"Berikan penjelasan anda, Komisaris."


 


 


"Kami sedang ketakutan."


 


 


"Komisaris, apa tidak ada jalan keluar?"


 


 


"Komisaris, katakan sesuatu."


 


 


Regitta mengambil salah satu microphone dari wartawan dan dia pun berbicara. "Kami tidak diam saja, kami sedang melakukan tindakan. Kalian tidak perlu khawatir, kami berpatroli setiap 24 jam dan memasang banyak CCTV. Jika ada yang mencurigakan, kalian bisa menghubungi kami kapan saja. Kalian tidak perlu khawatir. Sekarang kalian semua bisa kembali."


 


 


Setelah mengatakan itu, Regitta kembali masuk. Dia berpapasan dengan Wildan.


 


 


"Komisaris Gitta, kali ini jangan gagal. Jika kau dan tim gagal, aku tidak bisa terus menerus memberatkanmu dengan kasus ini."


 


 


Regitta mengangguk. "Aku akan menangani kasus ini sampai tuntas dan menutupnya dengan tanganku sendiri, percayalah padaku... Kakak Senior."


 


 


Di apartemen,


 


 


Regitta sedang mengotak-atik komputernya di kamar.


 


 


Tempat tinggalnya tidak terlalu besar. Hanya ada 4 ruangan. Ruang tengah, satu kamar merangkap tempat kerja, dapur, dan kamar mandi.


 


 


Di kamarnya hanya ada sofa lebar untuknya tidur. Komisaris polisi cantik itu tampaknya memilih hidup yang sederhana.


 


 


Perempuan itu melihat kertas-kertas yang tetempel di dinding dengan benang merah yang saling membentang.


 


 


"Ada banyak kasus yang sudah aku pecahkan selama 4 tahun terakhir. Tapi, kasus macam apa yang sekarang ini? Kasus lama yang harus dibuka? Bukti dan saksi hampir tidak ada."


 


 


Regitta mendengus lalu merebahkan tubuhnya ke sofa.


 


 


"Ibu, aku merindukan ibu."


 


 


◈◈◈


 


 


Jakarta, Indonesia


 


 


Panasnya kota Jakarta membuat Regitta harus membuka jasnya. Bayu yang sedang menyetir, menoleh pada atasannya.


 


 


"Di sini panas sekali, Komisaris," ucap Bayu. Regitta menoleh pada Bayu sambil memutar bola matanya.


 


 


Mereka memasuki pabrik daging yang cukup besar.


 


 


"Apa pak Robi bekerja sebagai jagal sapi, setelah pensiun?" Tanya Bayu.


 


 


Regitta mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu, padahal uang pensiun yang dia dapatkan sangat besar."


 


 


"Regitta," panggil seseorang yang mengenakan kaos oblong dan sarung yang melingkar di pinggang buncitnya.


 


 


Regitta dan Bayu menoleh.


 


 


Kedua orang itu langsung memberikan hormat. Robi tertawa melihat tingkah dua juniornya itu.


 


 


"Aku sudah pensiun, tidak ada formalitas lagi di antara kita."


 


 


Regitta dan Bayu saling pandang.


 


 


"Ada kabar buruk?" Tanya Robi yang tampaknya tidak ingin berbasa-basi.


 


 


Bayu mengeluarkan suaranya, "Apa anda sudah mendengar kematian pak Haris, pak Erwin, dan pak Dani? Mereka dibunuh oleh seseorang yang belum berhasil kami tangkap."


 


 


Robi terkejut.


 


 


 


 


"Begitu, ya. Baiklah, lakukan saja apa yang disuruh atasan kalian."


 


 


Regitta dan Bayu mengangguk.


 


 


Ketika Regitta dan Bayu pergi, Robi mengernyitkan dahinya. "Apa mungkin para gangster itu membatalkan kesepakatan 7 tahun lalu? Kenapa mereka membunuh teman-temanku?"


 


 


Malam harinya, Robi mengambil buku tebal dari laci. Ada banyak nomor di buku tersebut. Pria paruh baya itu menemukan sebuah nomor dengan nama San Cortez. Robi mengambil ponsel jadulnya dan menelepon nomor tersebut.


 


 


"Kau masih menyimpan nomorku, Detektif Robi?"


 


 


"Kenapa kau membunuh mereka?"


 


 


"Kau baru tahu kabar kematian teman-temanmu? Sepertinya kepolisian menutupi kabar itu dari media."


 


 


"Kami sudah menutup mulut, kenapa kau membunuh mereka?"


 


 


"Jika aku boleh jujur, aku hanya membunuh Komisaris Dani, ada orang lain yang membunuh Haris dan Erwin. Aku tidak tahu siapa itu. Dia masih berkeliaran di luar sana. Mungkin target selanjutnya adalah kau."


 


 


"Kau tidak bisa membunuhku."


 


 


"Bukan aku yang akan membunuhmu, tapi orang itu."


 


 


Tut, tut, tut, tut.


 


 


Robi melempar ponselnya ke lantai hingga baterainya lepas.


 


 


"Siapa orang itu? Kenapa kepolisian menyembunyikan ini dariku?!"


 


 


Keesokan harinya, beberapa polisi tampak berjaga di depan rumah Robi. Tidak hanya itu, di depan pabriknya juga ada banyak polisi.


 


 


Aku merasa di penjara. Lambat laun mereka bisa tahu soal ini, batin Robi.


 


 


◈◈◈


 


 


Sementara itu, di kantor polisi, Regitta dan yang lainnya masih sibuk mencari informasi mengenai pembunuh Dani.


 


 


Regitta melihat Tiva yang melamun sambil menatap layar. Dia merasa sedih melihat ekspresi gadis itu. Biasanya Tiva akan menunjukkan ekspresi antusias dengan senyuman cerianya.


 


 


"Bayu," panggil Regitta.


 


 


Bayu menoleh. "Iya, Komisaris?"


 


 


Regitta menggerakkan wajahnya ke arah Tiva. "Ajak dia jalan-jalan setelah pulang dari sini."


 


 


Bayu mengangguk.


 


 


Selama di Cafe, Tiva tetap diam, padahal ada Bayu di depannya. Gadis itu sama sekali tidak menyentuh minumannya.


 


 


Lama-lama Tiva merasa tidak enak jika terus diam. Dia pun bicara, "Papa adalah orang yang keras. Mungkin orang lain mengira, jika aku dimanja, karena anak satu-satunya. Nyatanya tidak."


 


 


Bayu mendengarkan.


 


 


"Jika aku berbuat salah, dia akan marah. Aku tidak berbuat salah, dia akan mengungkit kesalahanku yang sudah lalu."


 


 


Bayu mengusap tangan Tiva.


 


 


"Jadinya aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan agar Papa tidak menyalahkanku terus."


 


 


"Tiva, kau sudah berjuang sejauh ini. Agar Papamu bahagia di sana, kau harus membuatnya bangga. Jadilah dirimu sendiri dan lakukan hal terbaik untuk semua orang, termasuk dirimu."


 


 


Tiva tersenyum. "Terima kasih sudah menemaniku, Bayu."


 


 


Pria itu tersenyum hangat.


 


 


◈◈◈


 


 


07.54 | 17 September 2019


By Ucu Irna Marhamah