
Tiva sedang rebahan di kasur. Hari ini dia kebagian shift malam. Jadi, pagi dan siangnya dia bisa bersantai. Gadis itu mengotak-atik ponselnya.
Melihat postingan Regitta di Instagram, Tiva tersenyum. Ada foto Regitta, Fernan, dan ibunya Regitta.
"Bahagia sekali Komisaris masih memiliki seorang ibu," kata Tiva.
Ibunya Tiva meninggal, setelah melahirkannya. Gadis itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.
Air matanya menetes. Tiva segera mengusapnya. "Kuatlah, Nativa."
Terdengar suara pintu diketuk. Ekspresi Tiva berubah serius. "Siapa yang datang di siang bolong begini? Bukankah ini waktunya orang tidur siang?"
Tiva beranjak dari tempat tidur dengan ekspresi konyol. Dia mengintip lewat lubang pintu, ternyata Regitta. Tiva membuka pintu.
"Aku mau bicara," kata Regitta.
Kedua perempuan itu duduk di kursi. Ada banyak cemilan di meja. Regitta terpukau dengan kemewahan apartemen milik bawahannya itu.
"Cieeee," goda Tiva.
Regitta mengernyit. "Kenapa?"
"Berkencan dan bertemu dengan ibu anda." Tiva tersenyum menggelitik.
Regitta terkekeh. "Fernan hanya menemaniku, tadinya aku mau sendiri ke sana."
Tiva ber-oh-ria. "Komisaris beruntung sekali masih memiliki seorang ibu."
Regitta melihat ekspresi sedih di wajah manis Tiva. "Ayahku juga masih hidup."
Tiva menatap Regitta.
"Tapi, aku menganggapnya sudah mati."
Tiva mengusap tangan Regitta. "Percayalah, seburuk apa pun seorang ayah, jika dia meninggal sungguhan, itu akan lebih menyakitkan."
Regitta mencerna ucapan Tiva.
"Mungkin anda pikir, hubunganku dengan Papa baik-baik saja, nyatanya tidak. Kami jarang berkomunikasi. Terakhir kali kami berbicara dan berpelukan seperti keluarga adalah saat-saat terakhir sebelum Papa meninggal." Tiva mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan air matanya.
Regitta menggenggam tangan Tiva. "Maafkan aku."
Tiva menoleh pada Regitta dengan wajah penuh air mata, tapi ekspresinya masih konyol. "Kenapa meminta maaf."
"Aku kurang bersyukur." Regitta menunduk.
Tiva terkekeh sambil mengusap air matanya. "Aku juga. Selama hidupku aku lebih sering mengeluh dan jarang bersyukur."
Hening.
"By the way, Kak Fernan itu orang yang baik. Dia itu selalu bertingkah sok keren sejak kecil. Nyatanya dia orang yang lembut," kata Tiva.
Regitta mengernyit. "Kau mengenalnya dengan baik?"
"Iya, dia sepupu jauh dari pihak ibuku."
Regitta merasa bersalah, karena sempat mengira Tiva dan Fernan dekat seperti pria dan wanita. Nyatanya mereka masih ada hubungan saudara.
"Kenapa kalian tidak pacaran saja? Cantik dan tampan, itu bisa memperbaiki keturunan."
Regitta tertawa mendengar ocehan gadis muda di depannya itu. "Gadis kecil sepertimu tahu apa?"
"Sore ini Komjen Pradifta akan datang ke kantor kita."
Tiva terkejut mendengar itu. "Sore ini?"
"Iya, sebaiknya kau datang ke kantor." Regitta menatap Tiva.
"Emm... itu... hari ini aku 'kan shift malam." Tiva tidak ingin bertatap muka lagi dengan Pradif. Cukup sekali pria itu melecehkannya.
"Tiva, tolong aku. Bukan hanya saksi, kau juga polisi yang menangani kasus ini bersama timku."
Tiva menghela napas kemudian mengangguk. "Baiklah."
Setelah mengantar Regitta sampai ke depan, Tiva mendengus kesal. "Apa yang harus aku lakukan nantinya? Apa si Pradif itu benar-benar polisi? Saat pertama bertemu, dia terlihat seperti psikopat gila."
Tiva mencari kemeja dan jas di keranjang pakaian. Ponselnya yang berada di atas meja berdering. Gadis itu menoleh. Dia melemparkan kemeja dan jasnya ke tempat tidur lalu mengangkat panggilan.
"Halo?"
"Berapa ukuran BRA yang kau pakai? Nomor celana dalammu sekalian."
Tiva mengernyit. "Jika kau maniak **** yang butuh ******, hubungi mereka, jangan meneleponku!"
"Berdandanlah dengan cantik, bukankah kita akan bertemu?"
Deg!
"Pradifta?"
"Wah, kau bahkan sudah mengetahui namaku. Aku sangat tersanjung."
"Aku ingin sekali memenjarakanmu, ********."
"Atas tuduhan apa?"
"Membunuh 2 orang polisi, melecehkanku secara verbal, meraba tubuhku, dan..." Tiva menghentikan kalimatnya.
"Dan apa?"
"... menciumku dengan paksa."
"Hei, kau juga menikmati ciuman itu, kan?"
"*******, kau!"
"Kalau aku memperkosamu, baru kau bisa menangkapku. Nyatanya kau masih perawan, kan?"
"Berhenti bicara vulgar padaku. Apa kau tidak malu dengan pangkatmu?!"
"Aku tidak malu, karena aku melakukan hal yang seharusnya aku lakukan sejak dulu."
"Kau...."
Panggilan diakhiri secara sepihak oleh Pradif.
"Sialan makhluk ini. Awas saja, aku akan menangkapmu dan memasukkanmu ke penjara."
◈◈◈
11.34 | 13 September 2019
By Ucu Irna Marhamah