The Police

The Police
Chapter 29



Di Sebuah Mansion, masih di negara Suriah.


Jhose menepikan mobil nya, mengangkat Olive yang masih memejam masuk kedalam.


Dengan Jen mengikuti mereka dari belakang.


"Jen, kau sudah datang? Siapa Dia?."


Mia menyapa Jen kemudian menuruni anak tangga mendekati anak kecil yang baru Jhose turunkan.


"Dia Oliv,".


"Oliv, ini bibi Mia sayang, kau bisa bermain dengan nya".


Menyentuh kepala Olive merendahkan tubuh nya.


"Oliv, mari bibi antar ke kamar. Kau bisa tidur dengan bibi Mia malam ini."


Berkata dengan nada yang sangat lembut mengulurkan tangan nya, Olive pun menjabat tangan Mia dengan tersenyum manis.


"Baik bibi, rumah ini besar sekali seperti istana di negeri dongeng."


Olive mendongak menatap sekeliling." Apa kamarnya juga besar?."


Tanya Olive dengan polos nya sambil bergandengan tangan dengan Mia mengikuti Mia menuju kamar nya.


"Kamar nya besar dan nyaman."


Mia meraih Olive menggendong nya.


"Kau berat sekali Olive"


"Itu karena aku banyak makan.".Tertawa kemudian menutup mulut nya.


Mia meraih handle pintu pun membuka nya.


"Wow, kamar nya besar sekali bibi. Ini benar seperti istana negeri dongeng."


Antusias Olive turun dari gendongan Mia menuju ranjang.


Mia hanya tersenyum, hatinya terenyuh melihat itu. "Mungkin Oliv telah melewati begitu banyak kepedihan."


Hati nya ikut menghangat ketika tubuh mungil itu telah memejam memeluk bantal.


"Tidurlah Oliv, bibi akan menjaga mu."


***


"Jhose kau mau kemana"


Ujar Jen yang melihat Jhose naik ke lantai dua menuju kamar paman nya. Ia bergegas naik mengikuti Jhose hingga berdiri di hadapan nya.


"Aku ingin mencari sesuatu."


Jhose meraih jepit rambut Jen yang Ia gunakan untuk rambut nya ketika berkerja.


Rambut Jen pun terurai.


"Kau mau apa?."


Jhose menggunakan jepit itu untuk merusak akses CCTV seketika. Bagai mana bisa? Bukan Jhose jika tidak mampu melakukan hal se sederhana itu.


"Menyingkir lah aku akan bekerja."


Jen hanya bisa pasrah membiarkan Jhose menuju kamar paman nya, menggunakan sarung tangan membuka layar laptop disana. Jen menunggu menatap awas pada sekeliling berjaga jaga kemungkinan seseorang datang kesana.


Kenapa aku dengan senang hati membantu dia.


Itu karena menyukai nya, apa lagi


Jen bergelut dengan fikiran nya sendiri.


masih mematung menatap sekeliling, Sepi..


Para penjaga seperti nya telah terlelap.


Jhose menuruni tangga,


"Ikut aku."


Menyuruh Jen mengikuti nya agar pelayanan tidak terbangun dan mencurigai.


"Sudah cukup Jhose, aku lelah.,"


Jhose tidak mengindahkan, memeriksa seluruh ruangan hingga tiap tiap kamar bodyguard pun tidak luput dari pengawasan.


"Tunggu disini Aku akan masuk ke kamar Sam."


Kamar Sam?! Apa kau ingin bunuh diri!!


"Jhose apa yang akan kau lakukan,? Kenapa seluruh rumah ku kau curigai"


Kesal karena sejak tadi Jhose meminta nya untuk berjaga."Sam itu berbahaya, dia bisa mematahkan lengan siapapun jika barang barang bergeser walau hanya satu centi."


"Aku saja tidak pernah berani masuk ke kamar nya."


"Aku tidak pernah berharap kau memasuki kamar pria!."


"Kamar Pria?! Apa maksudnya. Apa kau sudah menganggap ku kekasih mu."


"Diam lah, Jangan bicara yang tidak masuk akal Aku sedang mengumpulkan bukti. Jika paman mu tidak jauh terlibat. Aku bisa melepaskan nya dan menangkap penjahat yang sebenar nya."


"Paman Mike mau berhenti dari organisasi nya setelah menikah dengan Mia."


"Bisakah kau membantu nya lolos dari hukum? Aku akan pastikan Ia tidak mengulangi perbuatannya seperti dulu."


Mia terus bicara sambil bersandar di balik pintu untuk berjaga.


Jhose terus memeriksa kamar Sam. Namun tidak menemukan apapun disana.


"Sam sangat teliti, tidak mungkin Ia ceroboh meninggalkan bukti. Ah, sial!!."


"Jhose apa kau dengar aku?."


Jen meninggikan suara.


"Sssstttt"


Jhose menempel kan jari telunjuk nya di bibir Jen.


Tatapan mereka bertemu tubuh mereka merapat.


Dada Jen berdebar.


"Aku sedang bertugas, mengerti lah."


Lirih Jhose memejamkan mata menghembuskan nafas nya kasar.


"Bertugas ya"


Jen tersenyum kelu.


"Apa dekat dengan adalah bagian dari tugas mu? Atau kau tertarik dengan ku karena benar menyukai ku?. Apa kau mencintaiku Jhose?."


Menatap Jhose Lekat.


"Jangan bicara yang tidak tidak masuk akal."


Jhose memalingkan wajah nya, Dada nya juga berdebar meski berusaha mengelak dan menepisnya.


"Lalu mengapa kau mencium ku. Kau menyukai ku kan?"


"Katakan jika itu benar ."


"Semua orang dewasa melakukan nya.Ciuman bukan hal istimewa, Jadi jangan asal bicara. Jangan pula menyimpulkan sesuatu."


Jen mendorong tubuh Jhose


"Menyingkir lah, Aku cukup sadar jika hanya kau manfaatkan."


Jen berlari dari sana menuju depan lift yang hubungkan dengan lantai dua, menekan tombol di dinding kemudian pintu kubaikel besi itu terbuka


"Bodoh nya aku. Kau bahkan mendekati ku hanya karena bagian dari tugas mu. Seharus nya aku menyadari sejak awal."


Ciuman itu? Aku Fikir kau juga menyukai ku maka kau melakukan nya.


Jen masuk ke dalam lift namun pintu lift tak kunjung tertutup karena Jhose menahan nya.


Jhose masuk ke dalam, pintu kubaikel besi itu Ahir nya tertutup. Seketika Jhose membuat lift itu berhenti.


"Apa yang kau lakukan?!. Aku akan berteriak hingga penyamaran mu terbongkar!"


"Lakukan."


Jhose mengherdik kan bahu.


Jhose mendekati Jen, Hingga Jen mundur kebelakan membentur dinding.


"Pergilah Jhose, aku membenci mu,!."


Jen meninggikan suara mendorong tubuh Jhose yang terus mendekati nya.


"Mengertilah,"


Jhose meraih Jen masuk kedalam dekapannya.


Membuat Jen meronta namun Jhose semakin mempererat pelukannya.


Jen merinding nafas itu mengenai lehernya, juga saat bibir itu menyentuh bahu nya.


"Mengertilah, Harus kah aku memohon pada mu?."


Jhose menarik nafas nya berat, lalu menghembuskan nya.


Hati Jen yang beku perlahan mencair, tubuh nya menerima dekapan pria ini lebih sial nya lagi tangan Jen mendekap bahu nya.


"Aku hanya ingin kau mengatakan aku berarti untuk mu lebih dari sekedar mendekati ku karena sebuah misi."


Air mata Jen mengalir, membasahi Jas yang Jhose kenakan.


"Tidurlah bersama ku malam ini."


Lirih Jen.


"Bodoh,,!."


Jhose mendengkus.


"Berhenti mengatai ku begitu. Bukan kah kau harus melaporkan apa yang kau temukan pada rekan mu?! Maka tidurlah di bersama ku malam ini."


Jen menggit bibir bawah nya.


Jhose hanya terdiam, Entah apa yang Ia lakukan hingga lift kembali bekerja normal.


Pintu lift terbuka, Jen menarik Jhose masuk kedalam kamar nya, Menghimpun j


Jhose mengalungkan tangannya di leher.


Mendekatkan wajah nya.


"Bersihkan dirimu, Ini sudah larut malam."


Ujar Jhose melepaskan tangan Jen.


Jen menghela, meraih bathrobe masuk kedalam kamar mandi.


Jangan terus memancing ku. Aku takut tidak mampu lagi menahan diri.


Jen meraih handle pintu, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Jhose tidak ada, Ia telah kembali ke kamar nya.


Jen merebahkan tubuh nya di ranjang.


Mengulas senyum dengan penolaksn Jhose malam ini.


"Jika kau terus begini, jangan salahkan aku jika semakin gila karena mu."


Pada akhirnya Ia menemukan kesimpulan,