The Police

The Police
Chapter 32



Tamu undangan telah berdatangan memenuhi kursi kursi yang telah disediakan. Sedangkan Pimpinan masing masing Klan dari organisasi yang Mike pimpin telah duduk di sofa khusus di lantai dua.


Duduk sambil menghisap cerutu dengan menyilangkan kaki mengudara kan asap disana.


Sedangkan para pengawal mereka menikmati pesta di lantai bawah sambil menunggu sang bos mafia Keluar.


"Tidak aku sangka, Mike akan menikah. Seperti apa wanita yang menaklukkan pria iblis itu."


Berbicara kemudian menghisap cerutu nya lagi dan lagi.


" Brigash, mengapa Mike tidak langsung menghancurkan nya, ketika tahu dihianati."


ujar salah satu dari mereka.


" Dia sangat licik, bahkan penyelundupan dengan kontainer itu ulah nya dan menjadikan Mike sebagai tameng."


Mereka menghentikan pembicaraan ketika melihat Mike dengan stelan toxedo meraih tangan Mia yang dibalut gaun indah berwarna putih menuruni anak tangga.


"Wow... Cantik."


Pria itu mematikan cerutu nya menekan di atas asbak.


Berdiri merapikan jas nya melangkah menyentuh teralis besi menatap takjub Mia yang terlihat jelas dari lantai dua.


Seorang pemuka agama telah menunggu.


Mike dan Mia mengucapkan janji pernikahan di hadapan para tamu yang hadir.


Para tamu berdiri bertepuk tangan ikut bahagia.


Sam memberikan tisu ketika Mia menitikkan air mata.


"Aku mencintaimu Mia."


Mike mendekatkan wajahnya menautkan bibir di hadapan semua orang yang hadir.


Ibu Mia yang berada di samping Olive mengusap air mata yang menetes penuh haru.


"Semoga kalian bahagia."


"Iya, semoga bibi Mia dan tuan Mike selalu bahagia."


Jawab Olive sambil menggenggam erat tangan Ibu Mia.


Senyum mengembang di wajah Jen yang saat ini menyaksikan pernikahan Mike.


"Romantis nya, Aku juga mau seperti itu."


Menyandarkan kepalanya di lengan Jhose.


"Jaga sikap anda nona."


Jhose melirik ke arah Jen kemudian mengedarkan pandangan nya dengan tatapan awas.


"Kau tidak ingin menikah Jhose?."


Menoleh pada Jhose.


Yang ditanya tidak bergeming.


Jen menghela."Oh Jeniver memangnya kau mau dapat jawaban ada dari pria disebelah mu."


Melirik Jhose lagi tetap tidak bergeming.


Kau tidak mengerti, seberapa ingin aku melindungi mu seumur hidup ku Jen


"Masuk lah ke kamar anda nona, Tidak baik terlalu lama beranda disini."


Karena tanpa Jen sadari sekarang Ia menjadi pusat perhatian disana.


Tubuh yang indah mengalahkan model ternama, dibalut dress yang memperlihatkan setiap lekuk nya dengan punggung yang terekspose dan belahan dada yang sedikit terbuka dan tampak indah menonjol.


"Kau tidak dengar musik nya berubah?! Aku ingin berdansa Jhose!."


"Pelankan suara anda nona."


Jhose mendekatkan bibir nya pada telinga Jen.


Nafas hangat Jhose mengenai telinga membuat Jen merinding.


"Lexy temani aku berdansa."


Menatap mata Jhose.


"Maaf nona."


"Dasar kau menyebal kan."


Jen kesal meninggalkan Jhose, melewati orang orang yang sedang berdansa bersama pasangan masing masing.


Jen terkesiap dengan seorang pria yang mengulurkan tangan nya sambil membungkuk kan badan mengajak Jen berdansa.


"Suatu kehormatan jika anda mau berdansa dengan ku, nona Jeniver."


Tersenyum pada Jen.


Pria ini cukup tampan.


Gumam Jen dalam hati.


Jen dengan hati hati mengulurkan tangan dan pria itu meraih nya, meletakkan tangan di pinggang sedangkan Jen menyentuh dada pria itu.


"Anda cantik sekali nona Jeniver."


"Terimakasih, aku sangat tersanjung."


Ujung mata Jen melirik ke arah Jhose yang duduk di depan meja bar.


Cemburu lah jika kau menyukai ku.


"Sialan!!."


Umpat Jhose sambil menenggak segelas wine melihat langsung Jen yang tersenyum sambil berdansa dengan pria itu.


Jen tersenyum samar kemudian berbisik pada pria yang berdansa dengan nya mengikuti alunan musik.


Jhose tersulut, menghabiskan segelas wine lagi kemudian melangkah mendekati Jen dan pria itu.


"Tuan Mike memanggil anda nona."


Pria itu hanya pasrah ketika nama Mike disebut.


Para pengunjung yang berdansa melirik Jen tanpa berani bertanya kenapa.


"Lepaskan tangan ku?!."


Jen menghempas kan tangan Jhose namun Jhose semakin mempererat genggaman nya membawa ke arah lift menekan tombol disana.


"Lepaskan Jhose!! Apa mau mu?!."


Jhose mendorong Jen membawa nya masuk kedalam lift tanpa mengidahkan Jen yang terus meronta.


"Kenapa?! Mengapa kau melarang ku berdansa dengan pria itu!."


Jen mendekatkan wajah nya menatap kesal pada Jhose.


"Kau cemburu kan?!. Katakan kau cemburu Jhose."


Jhose hanya diam tidak mengidahkan Jen yang terus berteriak memaki. Beruntung suara musik disana menutup telinga orang orang sehingga tidak mendengar Jen yang terus berteriak hingga Jhose memasuk kan Jen ke dalam kamar.


"Lepaskan Jhose! Kau menyakiti ku?!."


Jhose melepaskan tangan nya ketika telah mengunci pintu.


"Katakan kau cemburu! Kau juga menyukai ku kan?!"


Jen mendorong tubuh Jhose.


Jhose masih tetap diam tidak bergeming.


"Jika kau tidak suka, maka biarkan aku berpaling pada pria lain."


Jen meraih handle pintu hendak membuka nya namun pintu terkunci dan Jhose lah yang menyimpan kunci nya.


"Buka pintunya sekarang."


Geram Jen kemudian memukul pintu berkali kali.


Jhose mendekat, meraih tangan Jen dengan lembut.


"Lepaskan!"


Jen kembali meronta.


"kau menyakiti tangan mu."


"Bukan urusan mu!."


Jen menghempaskan tangan Jhose memukul pintu berharap ada yang mendengar nya di luar.


"Ada orang diluar?!."


Jhose mengusap wajah nya kasar.


Meraih tubuh Jen masuk kedalam dekapannya.


Seketika Jen membeku.


"Jhose...?."


Dada Jen berdebar rasanya ingin menangis, mengapa selalu saja aku luluh di depan mu.


Jhose melepaskan pelukannya, tanpa aba aba menutup bibir Jen dengan bibir nya.


******* lembut mengaliri rasa cinta yang Ia pendam selama ini.


Jen ingin mendorong Jhose namun tubuh nya menerima, bibir mereka saling bertaut merasakan hangat nya cinta yang mengalir di dada.


Hingga beberapa menit Jhose melepaskan ciumannya.


"Maaf, "


Jhose mengusap bibir Jen yang basah.


"Maaf aku tidak sanggup lagi menahan nya."


Jhose mengeluarkan kunci membuka pintu kamar Jen namun Jen menahan nya.


"Bisakah kau tinggal untuk beberapa menit lagi? "


Menatap Jhose memohon.


Jhose mengurungkan niat nya, melepas jas menyisakan kemeja lengan panjang nya kemudian menutup tubuh Jen denga Jas nya.


"Kenakan pakaian yang lebih tertutup jika kau ingin keluar."


"Apa kau juga menyukai ku Jhose?."


Jen Menyentuh pipi Jhose dengan kedua tangan nya.


"Aku mencintaimu, Jen."


Jen mengalungkan tangan nya di leher Jhose, menjatuhkan jas nya mendekatkan tubuh dan wajah nya menautkan bibir nya dengan bibir Jhose.


Berciuman hingga waktu yang cukup lama dengan lidah mulai membelit didalam sana.


Tangan Jhose menahan tengkuk Jen.


Ciuman terjadi cukup lama hingga suara ketukan pintu membuyarkan semua.


Tok..tok.. "Nona, apa yang terjadi?"


"Aku tidak apa apa, pergi lah."


"Aku tadi mendengar anda berteriak."


Suara pelayan kembali menggema.


"Aku melihat serangga. Lupakan, sekarang pergi lah."


"Baik nona."


Sial, mengganggu saja! Umpat Jen dalam hati.


-


Next