
Dengan langkah tegap memasuki sebuah gedung tinggi markas ICPO-Interpol yang ada di kota London.
Melewati beberapa junior nya yang memberi hormat.
"Good morning Mr Jhos."
Seorang wanita dari anggota tim nya datang menghampiri.
"Ada pergerakan,?"
Jhose memicingkan mata nya.
Sambil melangkah lebar menuju ruang meeting diikuti wanita yang membawa beberapa berkas berkas.
"Good morning sir"
Tim anggota Jhose berdiri kemudian membungkuk menghormati kedatangan Jhose.
"Lanjutkan."
Perintah Jhose tanpa berbasa basi. Duduk di kursi memutar tubuh nya melihat layar dari proyektor.
"Menurut keterangan para Intel yang dikerahkan, Heroin dalam jumlah besar di produksi di salah satu benua Afrika."
Berkata sambil menekan tombol remote memperlihatkan layar lebar dihadapannya.
"Afrika."
Jhose menyentuh rehangnya sambil menatap layar pantulan dari proyektor berfikir keras.
"Apa ada hubungan nya dengan Mike Halten?."
Jhose berkerut dahi.
"Organisasi nya dibawah naungan Mike Halten."
Oh Tuhan.
Jen. Seperti nya nama itu harus aku kubur dalam dalam.
"Ada apa Mr Jhos?."..
"Tidak ada, lanjut kan."
Berkata sambil meraih remote me zoom gambar peta yang ada di layar lebar di hadapan nya.
"Jika ingin mendapatkan bukti yang kuat, maka harus mengerahkan satu orang agen profesional untuk masuk ke sana."
Wanita itu menjelaskan.
"Agen profesional ya."
Jhose menyentuh rehangnya sambil berfikir sejenak.
"Memiliki keahlian bela diri dan ..."
Wanita itu menggantungkan kalimatnya.
"Dan siap mati kapanpun."
Tim Jhose saling pandang. Hening, tidak ada pembicaraan di ruang meeting. Mereka tampak berfikir keras Jhose akan memberi perintah kepada siapa.
"Aku yang akan kesana."
Ujar Jhose.
"Tapi Mr?!."
Salah satu anggota nya tampak keberatan.
"Dan setiap 24 jam akan aku beri singhnal yang menandakan aku baik baik saja. Tapi jika dalam 48 jam tidak ada kabar dari ku. kerahkan bantuan, karena mungkin aku telah gugur."
Berkata dengan raut wajah yang serius.
Glek
Para anggota Jhose menelan Silva.
Memang begitu yang seharusnya. Aku sudah siap untuk mati kapan pun, Sejak aku memasuki organisasi kepolisian internasional ini. Tidak, bahkan sejak masih di akademi.
Bergumam dalam hati sambil menarik nafas yang panjang.
Anggota nya saling pandang. Merinding saat mendengar de..sa..Han nafas Jhose.
Itu lah Mr Jhos yang selalu siap apapun yang terjadi.
Terkadang Ia lebih memilih terluka untuk melindungi anggota nya.
Jhose Keluar dari ruang meeting. Melangkah lebar melewati lorong lorong remang remang menuju area bawah tanah yang hanya orang orang tertentu bisa memasuki nya.
Ya, sebuah tahanan bawah tanah dikhususkan untuk terpidana mati kasus kasus narkotika. Pimpinan organisasi Mafia buronan internasional.
"Buka?!."
Jhose memberi perintah.
"Siap pak."
Bugh,!! Bugh!! Bugh!!
Hantaman bertubi tubi mengenai wajah dan perut pria yang mengenakan seragam tahanan.
"Bicara atau tidak, kau tetap akan mati!."
Lirih Jhose sambil mencengkram leher pria itu sambil menghimpit kan ke dinding dan mengangkat nya.
Wajah pria itu pucat pasi. Lehernya tercekik, ini bukan kali pertama Ia mendapatkan nya. Sik...saan demi sik...saan telah tubuh nya dapatkan dari para tim penyidik.
Wajah nya telah lebam lebam, bibir nya pecah dan kuku jari kaki terlepas akibat himpitan kaki meja yang di duduki oleh tim penyidik.
Tubuh kekar penuh tato pun tidak lagi mampu menunjukan taringnya.
Benar, aku tetap saja akan mati. buka mulut atau tidak, aku tetap akan mati.
Berkata dengan terbata karena leher nya tercekik.
"Akan aku jamin keselamatan keluarga mu dan anak gadis mu yang berusia 5 tahun."
"Apa?!."
Sial, bahkan dia mencari tahu tentang keluarga ku.
"Dia manis sekali, dan sangat menyukai ice cream."
Air mata pria itu menetes.
Aku memang baji..ngan tapi jika menyangkut putri ku, aku ingin jadi ayah yang baik.
Jhose melepaskan cengkraman nya.
Hingga pria itu terduduk. Tubuh nya bergetar menangis, menyesali perbuatannya meski menyesal pun tidak lah berguna.
Pria itu menceritakan apa yang Ia ketahui tanpa terlewat sedikitpun. Hingga penghianat penghianat dalam organisasi Mafia yang Mike Halten pimpin.
***
"Kau baru satu Minggu di rumah, sudah mau pergi lagi?."
Pekik Glory, Sang ibu. ketika melihat putranya menarik travel bag Menuruni tangga.
"Aku harus bertugas Bu."
Jhose berjalan menuju Ibu nya yang bangkit dari duduknya menggendong kucing kesayangan nya.
"Tidak biasanya kau keberatan aku pergi."
"Kau anak ku. tentu saja terkadang khawatir jika kau pergi dari rumah."
"Siapa wanita itu Jhos."
Elis tiba tiba menimpali keluar dari dapur masih membawa sendok nasi, seperti nya sedang memasak.
"Apa yang kau katakan Elis, Seminggu ini aku tidak berkencan."
"Biasa nya entah sudah berapa wanita yang datang menjemput ketika kau dirumah."
Ibu Jhose ikut berkomentar sambil mengusap usap kucing kesayangan nya.
Jhose tidak menjawab. Dia memeluk dan mencium ibu nya.
"Mungkin akan lama aku tidak kembali. Aku akan merindukan kalian."
"Jhos kenapa ucapan mu begitu? Kau tidak seperti biasa nya."
Melepas pelukannya.
"Manis nya, kau sedikit lebih dewasa. Apa ada wanita yang membuatmu lebih serius?."
Jhose hanya mengherdikan bahu.
"Semoga Tuhan selalu melindungi mu."
Ujar Elis menghampiri mengharu memeluk nya, dan selalu begitu ketika Jhose akan pergi.
"Sampai jumpa.."
Glory dan Elis melambai pada mobil yang mulai menjauh disana. Mobil terus melesat menuju Airport di kota itu.
Armada besi menerbangkan Jhose dengan fasilitas bisnis class. Duduk menyilang kan kaki di dalam pesawat sambil menyandarkan kepala di sandaran nya. hingga pesawat sampai di Negara Suriah.
Turun dari pesawat membuka kacamata hitam melangkah lebar melewati pintu keluar.
Disambut Kenzo yang sedikit membungkuk disana.
"Selamat datang kembali Mr Jhos."
"Anda serius dengan apa yang akan anda lakukan?."
Meraih travel bag milik Jhose meletak kan di dalam bagasi.
Kembali ke tempat nya kemudian. Yang ternyata Jhose telah duduk di samping kemudi.
"Aku selalu serius jika menyangkut pekerjaan."
Mobil melaju melesat jauh di bawah teriknya matahari dan panas' nya gurun pasir.
Debu debu berterbangan terhempas mobil yang terus melaju dengan kecepatan tinggi.
"Ada perkembangan selama aku pergi?."
"Mike Halten telah kembali dari El Salvador, Nona Jen seperti biasa menghabiskan waktu nya menjadi relawan di rumah sakit. Terkadang mengunjungi panti asuhan atau Kem Kem para pengungsi. Membagi bagikan makanan dan membawa anak anak mereka untuk di sekolahkan."
Kenzo melaporkan pekerjaan nya.
"Aku tidak menanyakan tentang wanita itu."
Ucapan datar keluar dari bibir nya. Tapi Jhose terlihat lega dari cara nya mengambil nafas.
"Nona Jen seperti nya hidup dengan sangat baik."
Kenzo mulai memancing sambil melirik pria disamping nya. up up up
Jhose diam tak bergeming.
"Nona Jen baik dan sangat cantik. Aku beruntung jika bisa mendekati nya."
"Tutup mulutmu!."
"Hahaha Kenapa Mr Jhose? Anda menyukai nya kan."
Pekik Kenzo sambil terus melesat kan mobil nya.
"Tutup mulutmu,! berhenti lah mengoceh."
Next
-