The Police

The Police
14



Regitta mengadakan pertemuan pers dengan para wartawan dari berbagai media. "Orang yang telah membunuh detektif Haris, komisaris Erwin, dan komisaris Dani sudah ditemukan. Dia melarikan diri saat dikejar oleh detektif Nativa dan tertabrak mobil. Kini jenazah tersangka sudah dikembalikan ke keluarganya. Kami semua berbela sungkawa atas kepergian senior kami, Pak Haris, Pak Erwin, dan Pak Dani."


Setelah itu, Regitta mengakhiri pidatonya dan kembali ke kantor.


"Apa kau melakukan hal yang benar?" Tanya Fernan.


Regitta menunduk. "Entahlah, jangan membuatku semakin khawatir."


Seorang polwan memasuki ruangan, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Komisaris Regitta, Pak Robi dikabarkan telah meninggal dunia pagi dini hari ini di rumah sakit, karena tertembak di bagian leher."


Regitta membulatkan matanya. "Reza! Andi! Cepat kalian cegah berita ini agar tidak disebarluaskan oleh media!"


Andi dan Reza mengangguk. "Siap, Komisaris."


"Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang terjadi dengan para polisi di sana? Di mana Nativa dan Bayu?" Tanya Regitta.


"Mereka di Jakarta, mereka yang melaporkan kejadian ini."


Regitta menoleh pada Fernan. "Fernan, ikut aku ke Jakarta."


Fernan mengangguk.


Di perjalanan, Regitta tampak khawatir.


"Gitta, apa yang kau lakukan di masa lalu?" Tanya Fernan.


Regitta menoleh. "Apa maksudmu?"


"Pradif bilang, apa yang dia lakukan itu sama seperti apa yang kau lakukan. Jadi, apa yang kau lakukan? Kenapa Pradif bisa tahu?"


Regitta menggeleng. "Aku mohon, aku sudah melupakan itu."


Fernan memukul stir. "Untuk pertama kalinya aku melihatmu seperti ini. Kau tidak bekerja dengan profesional belakangan ini. Ada apa denganmu?!"


"Jangan mencercaku! Kepalaku sedang penuh sekarang!"


"Baiklah, setelah semua ini selesai, kau harus mengatakanya padaku."


-


Bayu duduk di samping Tiva. Perban putih melilit lengan kekar pria itu. "Kita sudah mendapatkan apa yang diinginkan Pradif. Jadi, dia harus memberikan kesaksian atas pembunuhan pak Haris dan pak Erwin."


Tiva menghela napas berat. "Bagaimana caranya?"


Bayu menunjukkan rekaman suara pada Tiva. Gadis itu mengernyit. Pria itu menyalakan rekamannya.


"Ini semua salahku, Nativa."


"Maksudnya?"


Itu adalah suara rekaman pembicaraan mereka dengan Robi.


"Jika kita membuka kasus Jidan Anggara dengan mengungkap kejahatan pak Robi dan rekannya, Pradif akan mengakui perbuatannya. Kedua kasus yang berat ini akan segera berakhir dan semuanya akan kembali normal." Bayu membujuk Tiva.


Gadis itu menatap Bayu. "Lalu bagaimana dengan para gangster? Mereka hanya akan tertawa melihat kasus ini, di mana para polisi saling membunuh, saling mecurigai, dan saling menjatuhkan."


Bayu mengacak rambutnya frustasi. "Terus kita harus bagaimana? Menerobos masuk ke markas gangster di Singapura dan menangkap mereka?"


Tiva menatap Bayu. "Ide yang bagus, dengan begitu kasus ini benar-benar bisa ditutup."


Mereka berhenti berdebat, saat melihat Fernan dan Regitta datang.


"Di mana pak Robi?" Tanya Fernan, sementara Regitta menerobos masuk ke kamar mayat.


Tiva dan Bayu menunduk.


Regitta kembali menghampiri mereka bertiga. "Kalian berdua pergi menjalankan misi sendiri tanpa izin dariku, bagaimana jika kalian terluka?!"


"Kami tidak apa-apa, kami mencemaskan pak Robi, maaf... kami tidak bisa menyelamatkannya," kata Bayu.


Regitta memijit pelipisnya. "Setelah ini, kepala polisi tidak akan menyerahkan kasus ini pada tim kita. Semuanya sudah berakhir. Kita pasti akan diberikan cuti panjang dan digantikan tim lain."


"Kita akan menutup kasus ini," kata Bayu sambil menyerahkan rekaman suara Robi.


Tiva menatap Bayu dengan ekspresi tidak percaya. Bayu menoleh pada Tiva sambil mengangguk.


"Apa ini?" Tanya Regitta.


"Rekaman pengakuan pak Robi pada kami," jawab Bayu.


Regitta menerimanya.


"Minggir!" Tiva menubruk mereka kemudian berlalu.


"Tiva! Nativa! Kau mau kemana?!" Tanya Fernan.


-


Pradif sudah mendengar kabar tentang kematian Robi. "Para gangster sepertinya sudah beraksi. Setelah Robi, mereka pasti mencium pergerakanku. Aku adalah target selanjutnya."


Pria itu melepaskan kaos putihnya, hanya menyisakan boxer hitam. Dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Terdengar suara dari jendela. Pradif menoleh. Dia bangun dan melangkah menuju jendela.


Ketika gorden disingkap, tiba-tiba seseorang dari luar memukul kaca jendela dengan benda keras hingga pecah.


Pradif terkejut dan bertiarap. Pria itu bersembunyi ke bawah tempat tidur.


Dua orang berpakaian serba hitam masuk dengan senapan di tangan mereka.


Pradif melirik ke laci. Pistolnya ada di sana. ******* ini, kenapa harus malam-malam begini?


Tiba-tiba pintu kamar terbuka disusul dengan suara tembakan. Melalui kolong tempat tidur, Pradif bisa melihat yang datang dari pintu itu adalah perempuan.


Dalam kesempatan itu, Pradif keluar dan mengambil pistol dari laci. Perempuan yang datang itu adalah Tiva. Dia melihat Pradif mengambil pistol dari laci. Dari arah luar, ada sniper yang membidik Pradif.


"Awas!" Tiva menarik tubuh Pradif dan membawanya bertiarap. Tembakan si sniper meleset ke tempat tidur.


Pradif segera bangkit dan menembak sniper itu hingga jatuh. Tiva menghela napas lega. Tiba-tiba Pradif mendorongnya ke ranjang dan menodongkan pistol ke leher gadis itu.


"Sedang apa kau di sini?"


◈◈◈


17.30 | 13 September 2019


By Ucu Irna Marhamah