The Police

The Police
Chapter 39



Jendela kamar salah satu apartement mewah itu masih terbuka, terlihat dari jendela itu lampu lampu menyala di setiap penjuru kota telah menyala.


Di atas ranjang dengan sprey berwarna putih polos berbaring Jen yang masih tertidur di dalam pelukan pria itu, di bawah selimut dengan tarikan nafas nya yang terdengar tenang.


Lelah membuat nya tertidur.


Jhose mengecup pucuk kepala wanita itu, kemudian meringsut perlahan menyibak selimut.


Sangat perlahan, tidak ingin membangunkan.


Jhose menatap wajah teduh wanita itu beberapa saat, sebelum bangkit berdiri meraih handuk melilitkan di pinggang nya kemudian melesat menuju ke kamar mandi.


"Bodoh." Jhose menatap pantulan wajah nya di depan cermin wastafel. Mengusap lengan nya yang terdapat luka gigitan dan memeriksa beberapa tanda ke merahan di dada akibat ulah Jeniver.


Dengan tangan kekar nya, Ia memutar kran. Membasuh wajah nya beberapa kali dengan air menetralisir keadaan. Fikiran fikiran di kepala mulai berkecamuk.


Memikirkan langkah selanjutnya yang harus Ia tempuh tanpa menyakiti dan melibatkan Jen atas masalah nya dengan paman nya Mike.


"Ah Sial?!" Sedikit mengutuki diri nya yang tidak mampu menahan diri untuk tidak meniduri Jeniver.


Ia begitu mencintai wanita ini dalam hati, begitu merindukan nya saat jauh.


Aku benar benar jatuh cinta. Bodoh. Mengusap kasar wajah nya menghempaskan begitu banyak air sisa Ia membasuh muka nya tadi.


Otak nya tidak bisa bekerja dengan baik ketika berurusan dengan gadis itu.


"Bagaimana jika dia hamil." Jhose mengusap kasar wajah nya lagi, membasuh muka berkali kali kemudian Ia masuk menuju ruangan lain di dalam kamar mandi itu.


Hanya tersekat dinding kaca buram Jhose memutar Kran membiarkan air shower mengguyur wajah nya.


Membasahi tubuh yang berotot kekar dan otot perut nya yang nampak sempurna.


Berkali kali mengusap kepala sambil bergelut dengan fikiran yang sedang berkecamuk.


*


Jhose sudah terlihat lebih segar, masih terdapat sisa sisa air yang menetes dari rambut nya. Keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe.


Ia berdiri disamping ranjang sekarang, sambil memandang Jeniver yang masih memejam di bawah selimut.


Hanya kepala yang terlihat hingga ke bahu.


Jhose memandang nya lama, setelah Ia mandi Ia merasa lebih baik sekarang, Ingin sekali Ia melindungi gadis itu hingga terbesit harapan di hati nya.


"Aku segera menikahi mu, Jika semua urusan ku selesai."


Ujar nya sebelum Ia mendekat dan mengecup kecup dahi Jeniver


yang tidak sedikitpun bergerak dari tempat nya.


Jhose menutup pintu kamar perlahan, Ia terlihat sudah mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek sekarang, mengetik ponsel memesan sesuatu sebelum melangkah menuju dapur.


Membuka lemari pendingin memeriksa apa yang ada di dalam.


Jhose meraih beberapa potong daging dan sayuran. Membuka lemari meraih apron dan mengenakan nya. Menyalakan kompor dan memulai aktifitas nya.


Jen yang baru saja bangun mencari Jhose tidak ada di dalam kamar. Sorot mata nya tertuju pada meja di samping lampu hias.


Tersusun rapih handuk dan bathrobe di sana, Sepertinya Jhose sengaja menyiapkan untuk nya.


Jen pun meraih benda itu, Bangun dari tidur nya dengan bermalas malasan.


Badan ku terasa sakit semua. Dengan wajah yang memerah Ia duduk di tepi ranjang dan menutup wajah nya dengan handuk yang masih berada di tangan. Masih terbayang jelas apa yang sudah mereka lakukan tadi. Membuat nya bahagia memberikan itu pada laki laki yang sangat Ia cintai.


Meskipun yang di bawah sana sangat lah tidak nyaman.


Ia pun membersihkan diri,


kemudian membuka buka lemari di kamar itu mencari pakaian yang kemungkinan bisa di gunakan.


Jen Tidak menemukan pakaian yang bisa Ia kenakan selain kemeja putih polos milik Jhose dan Ia pun mengenakan nya sekarang.


Jeniver keluar dari kamar kamar dan menuju ke dapur.


Ya Jhose memasak di dapur, lebih membuatnya heran adalah Jhose mengenakan apron di sana.


Terlihat manis dan lucu.


Jen menyandar di sisi lemari pendingin sambil terus memperhatikan pria itu memasak


Hati Jen menghangat, Ternyata Kau memiliki sisi yang manis, gumam nya.


Jen menarik kursi dan duduk di depan meja makan.


Terus memandangi Jhose yang sedang memasak sambil tersenyum senyum sendiri.


Disamping membayangkan apa yang sudah Ia lakukan di atas ranjang tadi, Bagi nya terlihat menyenangkan saat Ia melihat sisi lahin dari sang Jendral.


Lucu nya, Astaga aku tidak menyangka kau imut sekali.


Senyum senyum sendiri sambil terus memandangi Jhose.


"Kau sudah bangun?." Berkata tanpa menoleh,


Jen malah tergelak, saat Jhose mencicipi masakan.


"Jhose."


"Aku buatkan makan malam untuk mu."


Meletakkan semangkuk sup panas di depan Jeniver. Meletakkan lagi semangkuk sup yang sama untuk diri nya sendiri.


Melepaskan apron yang Ia kenakan. Ekor mata nya melirik kemeja yang Jeniver kenakan.


"Aku tidak menemukan selain kemeja mu yang bisa ku pakai." Menarik kemeja ke bawah berusaha menutupi pa..ha.


"Kenapa tidak sekalian kau pakai saja celana da*la*m ku." Bicara sesuka hati sambil menarik kursi di hadapan Jeniver dan duduk di sana. Senyum samar di bibir nya Ia tutupi dengan tangan. Sangat tahu Jeniver tidak menenakan dalaman.


"Jhose!." Kesal.


Jhose malah tergelak, tubuh nya bergetar menahan tawa.


Kau bisa tertawa juga ya. Meski wajah Jeniver memerah malu, namun rasa malu menguap ketika melihat Jhose yang tertawa. Tawa yang tidak di buat buat. Dan baru kali ini Ia melihat itu.


"Makan lah selagi hangat." Menyuapkan sesendok sup untuk jeniver.


Lagi lagi Jen menghangat. Tidak pernah menyangka Jhose akan semanis ini.


Gadis itu yang awal nya ragu untuk datang ke London, takut takut jika Ia akan kecewa sebab Jhose tidak menginginkan kehadiran nya.


Namun setelah pertemuan dengan pria ini, Ia sungguh bahagia. Sejenak lupa akan jurang yang siap memisahkan dirinya dengan pria yang sangat Ia cintai.


Tidak lama bell berbunyi. Seseorang datang membuat Jeniver panik. "Ada yang datang."


"Tetaplah disini." Jhose bangkit berdiri mengusap kepala Jeniver lalu mengecup nya sebelum pergi keluar untuk melihat siapa yang datang.


Jeniver mengangguk, Ia sentuh pucuk kepala nya yang baru saja bibir itu mendarat disana. Jhose memperlakukan nya dengan sangat baik, membuat Jeniver terlena dan semakin takut kehilangan pria itu.


Jeniver tersadardari lamunan.


Dengan cemas Jeniver menunggu. Ia panik dan gelisah. Khawatir jika orang orang Mike menemukan nya di sini.


Tidak lama Jhose muncul di sana


"Siapa yang datang? Apa paman menemukan ku? Apa kau akan menyuruh ku untuk pergi,?."


"Tidak, hanga pengantar pesanan.


disini kau aman, privacy ku sangat terjaga."


Eh? Apa yang kau lakukan?!.


Jen terperanjat saat Jhose berlutut di hadapan nya dengan bertumpu dengan satu kaki.