
Jhose berada di dalam ruangan bersama Sam. Surat pengunduran diri Ia letakkan di meja di depannya.
"Apa kau serius?!." Tanya Sam memastikannya.
"Maafkan saya tuan, tapi sepertinya saya harus kembali ke Suriah." Jawab Jhose.
"Sebenarnya cukup kehilangan jika kau pergi. Tapi jika itu keinginan mu, aku tidak akan memaksa. Ini gaji terahir dan bonus sebab kau bekerja dengan baik." Sam menyodorkan amplop berwarna coklat dan beberapa lembar kertas untuk ditandatangani.
Jhose meraih kertas itu kemudian membaca nya.
"Semua yang kau lihat dan kau dengar selama kau disini, simpan untuk dirimu sendiri." Ujar Sam memperingatkan.
"Saya mengerti tuan."
"Bagaimana dengan Nona Jen? Akan bagaimana dia jika kau pergi?."
Jhose sedikit terkejut. "Apa maksud Anda tuan?."
"Kalian cukup dekat, tidak pernah Sebenarnya Nona Jen berinteraksi dengan penjaga kecuali sekedar menyapa. Nona Jen menyukai mu." Ujar Sam.
Jhose menghela, "Sepertinya aku sangat tidak pantas untuk Nona Jeniver." Jhose bangun dari duduknya sedikit membungkuk kemudian berlalu.
"Semoga kau nyaman di tempat mu yang baru." Sam berkata saat Jhose meraih handle pintu.
"Terimakasih Tuan." Balas Jhose kemudian menghilang di balik pintu.
***
Di tepian kolam renang, Jen duduk melantai dengan kaki Ia masukkan kedalam air. Bungkam sebab pria yang berdiri disebelah nya belum mengatakan apapun.
"Aku akan pergi, jaga diri mu." Menyentuhkan tangan nya di kepala Jeniver.
"Bawa aku bersama mu."Lirih Jen. Menoleh pada Jhose mendongak menatap wajah nya.
"Jen, mengertilah." Jhose berbalik meninggalkan Jeniver sendirian di tepian kolam.
Jen menitikkan air mata. "Mungkinkah kita berahir dengan cara ini?. Tidak Jhose. Aku tidak mau!."
Jen mengusap air mata nya seketika langsung bangkit kemudian melesat mengejar Jhose yang tengah berpamitan pada rekan rekan nya.
"Jaga dirimu Lexy." Ujar salah satu bodyguard menepuk bahu.
Jhose mengangguk kemudian berlalu melewati ruang tamu sambil menarik travel bag.
"Tunggu!! Aku ingin bicara dengan mu!." Para bodyguard kaget ketika tiba tiba Jeniver menarik paksa tangan Jhose membawa nya kedalam ruangan.
Sontak saja para penjaga saling pandang bertanya dalam hati ada apa?
Sementara di balik pintu ruangan yang Jen baru saja menutup nya.
"Hanya seperti ini kah?" Jeniver menarik Jas yang Jhose kenakan dengan kedua tangannya.
"Mengerti lah." Jhose menurunkan tangan Jeniver. Berbalik keluar dari ruangan itu, meraih travel bag yang tadi Ia tinggalkan keluar dari pintu utama.
"Kau sudah siap Lexy? Maka aku akan mengantar mu." Ujar sopir sambil meletakkan Travel bag di bagasi.
Jhose sedikit membungkuk" Terimakasih."
"Aku akan mengantar mu sampai di Airport, anggap saja sebagai balasan sebab kau bekerja dengan baik menjaga ku." Jeniver masuk kedalam mobil sebelum Jhose masuk, dan akhirnya Jhose pun masuk ke dalam.
Sopir mulai melakukan mobilnya meninggalkan mansion.
Jeniver terkejut tiba tiba Jhose meraih tubuh nya mendekapnya erat.
"Maafkan aku."
Jen terkejut, dadanya sesak." Rasanya ingin menangis."Gumam Jen dalam hati.
"Jhose."
"Aku akan menjemputmu setelah tugas ku di Afrika selesai. Aku akan datang dan meminta mu langsung pada Mike, meskipun aku harus mati di tangan nya."Semakin mempererat pelukannya.
Jen menangis, tidak mampu lagi Ia tahan rasa haru nya. "Jhose mengakui nya. Jhose mengakui perasaannya pada ku." Batin Jen.
"Namun, jika aku tidak kembali dalam enam bulan. Berarti aku sudah gugur dan bukalah hati mu untuk orang lain."
Jen terkejut ketika bibir hangat itu menyentuh dahi nya."Aku mencintaimu Jeniver"
Aaa Jen semakin mengeraskan tangisan nya.
***
Sementara di belakang mobil yang Membawa Jhose dan Jeniver, mobil hitam di belakang Jhose mengikuti.
Pria berstelan jas tengah melajukan mobilnya, sebab tadi salah satu pengawal melaporkan bahwa Nona Jen ikut mengantar Jhose Membuat mereka bertanya tanya Mengapa Jhose diperlakukan sangat istimewa.
Mobil yang membawa Jhose dan Jeniver sampai di dalan bandara, masuk kedalam dengan tangan saling bertaut.
Duduk di ruang tunggu dengan Jen menyandarkan kepalanya di bahu pria yang sangat dicintainya.Sementara tangan Jhose Ia lingkaran di bahu Jeniver
Sementara jauh di sana, pria berkacamata hitam yang mengikuti Jhose dan Jeniver duduk menyilang kan kaki sambil membaca surat kabar.
Jhose bangkit setelah waktu nya Ia harus pergi. "Aku harus pergi, jaga dirimu."
Jen ikut bangkit melangkah dengan tangan saling bertaut.
Jen menatap Jhose dengan berkaca kaca, air mata nya menetes ketika Jhose mencium dahi nya.
Jhose mengusap pipi Jen yang basah. "Aku akan kembali untuk. I'm Promise" Berkata sambil mengecup dahi Jeniver lagi.
"Aku akan menunggu mu."
Hik.. Air mata nya lagi lagi tumpah.
Jhose mengusap nya, menyentuh dahi Jen mendekatkan wajah nya. Jen tertegun ketika bibir itu menyentuh bibirnya lembut. Jen pun membalas nya, berciuman meresapi rasa cinta kedua nya. melepas kan apa yang mereka rasakan saat ini dalam waktu yang lama.
"I love you Jen. Aku akan merindukan mu." Jhose mengecup dahi Jen lagi."
Jen menjinjit mengalungkan tangannya di leher Jhose menautkan bibirnya lagi dan lagi.
Hingga akhirnya mereka pun berpisah diakhiri dengan pelukan yang terahir.
Jhose melambai dengan senyuman, begitupun dengan Jeniver.
Aku akan menunggumu. Sampai kapanpun aku akan menunggumu meski kau gugur sekalipun aku akan tetap menanti kau datang menjemput ku.
"Keluar kau Sam!!." Jen meninggikan suara.
Ternyata Jen tahu jika Sam mengikuti nya.
"Anda pintar sekali nona." Ujar Sam sambil melangkah mendekati Jeniver.
"Perpisahan yang romantis."
Sam bertepuk tangan.
"Bukan urusan Mu!! ." Jen meninggal kan Sam.
"Percintaan nona muda dan Bodyguard, sungguh kisah yang mengharukan."
"Sudah kukatakan bukan urusan mu!!. Kau urusi saja dirimu jangan sampai kau jatuh cinta pada ku!." Ketus kemudian berlari menjauh.
"Anda terlalu percaya diri nona." Sam meninggikan suara.
"Lihat saja! Jika dalam waktu tiga bulan kau tidak memiliki wanita, Sebaiknya ku nikahkan kau dengang Xion." Jen memekik
"Xion itu pria!! Aku masih normal dam tidak menyukainya se- sama jenis!!."
-
-
Next