
Pradif berhasil menduduki jabatan Komisaris Jenderal. Dengan begitu, dia lebih leluasa bergerak.
Pria itu mengambil jaketnya. Dia mengenakan topi dan sepatu. Sambil bercermin, Pradif memasukan peluru ke dalam pistolnya.
Pria itu mengambil name tag sang ayah dan memasangnya di bagian dalam jaket. Pradif memasuki klub malam. Dia mengincar Haris, si tua bangka yang egois dan genit.
"Siapa kau?" Tanya Haris, ketika Pradif berada di depannya.
Pria bertopi hitam tersenyum sambil menodongkan pistol ke dada pria tua itu. Gadis-gadis di samping Haris berteriak ketakutan dan segera lari.
Dor!
Mendengar suara letupan senjata, semua pengunjung klub berteriak ketakutan sambil berlarian keluar.
Darah segar mengalir membasahi kemeja putih pria tua itu.
Pria bertopi hitam mendecih sambil menyingkap jaketnya, ada name tag milik anggota kepolisian yang menempel di bagian dalam jaket pria bertopi itu. Ya, tanda pengenal itu milik Jidan Anggara.
Pria tua itu membulatkan matanya. "K-kau...."
Pradif mendecih. "Aku anak dari pria yang telah kalian bunuh, *******!"
Dor!
Tembakan kedua mengenai ***** pria itu.
Dor!
Tembakan ketiga mengenai dadanya.
Dor!
Tembakan terakhir di kepalanya.
"Kalian yang memaksaku menjadi seorang pembunuh." Air mata Pradif berlinangan.
-
Pradif mengeratkan topinya. Tangannya yang gemetar mengepal kuat.
Dia menyusup masuk ke apartemen Erwin. Ketika melihat keberadaan Erwin, Pradif menodongkan pistolnya ke pinggang pria itu.
"Komisaris Erwin, apa kabar?" Tanya Pradif.
Erwin menggerakkan matanya ke sudut. "Aku bukan komisaris lagi. Aku sudah pensiun. Siapa kau?"
Pradif tersenyum. "Aku yang membunuh Haris, sekarang kau akan menyusulnya."
Erwin bergerak menepis tangan pria itu.
Dor!
Pruaaanggg!!
Tembakan Pradif melesat ke guci besar di sudut ruangan. Terjadi sedikit perkelahian.
Pradif membanting tubuh Erwin ke meja kaca hingga pecah. Salah satu kaki mejanya yang patah menusuk punggung Erwin hingga merobek perutnya. Cairan merah pun menggenang di sekitar tubuh Erwin yang sedang sekarat.
"Kau mau tahu, siapa aku?" Pria bertopi hitam itu menunjukkan name tag kepolisian. Di dalam jaketnya.
"Kau ingat? Jidan Anggara?"
Kedua mata Erwin terbelalak. "Pradifta, aku tahu, itu kau."
Tidak menggubris perkataan Erwin, Pradif memukul wajah pria paruh baya yang sedang berada di ambang sekarat itu.
"Sekitar 26 kali aku memohon padamu untuk membuka kembali kasus ayahku! Sekarang aku mengerti, kenapa kau tidak mengizinkanku, kenapa kalian tidak memberikan penjelasan, kenapa kalian mengabaikan ayah... itu karena kalian yang membunuh ayahku, ********!!"
"Pradif... maafkan kami... kami telah buta karena hal kecil dan malah membuatmu kehilangan seorang ayah."
Pradif menangis. "Tidak ada gunanya kau meminta maaf. Itu tidak akan mengembalikan nyawa ayahku, atau pun nyawa Haris dan dirimu!"
Mendengar suara derap langkah kaki, Pradif segera lari ke jendela.
Erwin pun meninggal seketika.
-
Mendengar kematian Haris dan Erwin, ketua geng langsung merasa panik.
"Ada yang ingin membuka kasus lama ke permukaan," kata ketua geng.
"Bukankah bagus, Tuan, jika ada orang yang membunuh mereka? Itu artinya informasi tentang geng kita akan terkubur selamanya."
"Tidak! Itu tidak bagus! Pembunuhnya akan menyisakan Robi. Dia yang membunuh Jidan dan dia satu-satunya kunci yang bisa membuka kasus Jidan. Sebelum Dani dan Robi meminta perlindungan pada polisi, bunuh mereka."
"Baik, Tuan!"
Ketua geng tampak berpikir. "Siapa orang yang mampu membunuh Haris dan Erwin?"
Ketika Pradif menyusup ke kantor polisi dan mengambil semua barang bukti, dia harus berhadapan dengan Fernan dan Regitta.
Setelah itu, dia mencari lokasi Dani. Sesampainya di lokasi, dia melihat Dani sudah mati di tangan orang lain di hadapan Nativa.
"Sial, aku keduluan."
Pria itu harus melihat Tiva yang menangis saat detik-detik kematian ayahnya.
"Papa!"
***
Sementara itu di markas gangster,
"Tuan, Jidan Anggara memiliki seorang putra bernama Pradifta. Dia memiliki jabatan sebagai Komisaris Jenderal. Mungkin dia yang berhasil membunuh mereka dan membalaskan dendam ayahnya."
Ketua geng mengangguk. "Menarik, sekalian saja bunuh anak itu."
◈◈◈
Robi menunduk dengan air mata di wajahnya. "Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Kalian berdua... tangkaplah aku."
Pria paruh baya itu mengulurkan kedua tangannya pada Tiva dan Bayu. Ketika Bayu akan memborgol tangan Robi, tiba-tiba terdengar suara tembakan di luar.
Dor!
Robi tersungkur saat peluru menembus lehernya.
"Om Robi!" Tiva menarik Robi, tapi Bayu mendorong Tiva hingga gadis itu jatuh terduduk ke lantai.
Tembakan selanjutnya mengenai lengan Bayu.
"Cepat lari! Mereka di sini!" Bentak Bayu yang membopong tubuh Robi.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Tiva.
"Aku akan membawa pak Robi ke tempat yang aman. Kau berlindung di tempat aman dan jaga kami."
Dor!
"Aaaa!"
"Cepat!" Bentak Bayu.
Tiva mengangguk. Gadis itu berlari ke balik kemari besar. Dia menembaki para sniper yang bersembunyi di balik jendela dam pintu untuk melindungi Bayu dan Robi.
Merasa sudah aman, Tiva menyusul Bayu dan Robi. Mereka keluar dari rumah Robi. Para polisi yang berjaga semuanya terluka, ada juga yang tewas. Tiva tidak tahan melihat itu, emosinya meluap.
Bayu membawa Robi memasuki mobil. "Tiva, aku sudah memanggil ambulans untuk para polisi itu. Sekarang kita ke rumah sakit untuk membawa pak Robi."
Di perjalanan, Robi sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Itu membuat Tiva dan Bayu khawatir. Mereka telah sampai di rumah sakit dini hari.
Bayu juga diberikan penanganan, karena lengannya tertembak.
Dokter keluar dari ruangan UGD. Tiva segera menghampirinya. "Bagaimana keadaan pak Robi, Dok?"
Dengan wajah sedih, dokter menjawab, "Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain."
Tiva jatuh tertekuk sambil menangis.
◈◈◈
14.25 | 13 September 2019
By Ucu Irna Marhamah