The Police

The Police
Chapter 20



London City


Mobil melesat menembus indah nya kota London. Kelap kelip lampu terlihat di sepanjang jalanan. Mobil terus melaju hingga menembus malam. Mobil menepi di depan sebuah bar ternama di kota ini. Setelah sebelumnya seorang rekan kerja nya menghubungi mengajak nya bertemu di tempat ini.


Jhose memasuki bar itu, tampak gemerlap lampu remang remang disana. Telah ramai juga pengunjung yang datang.


Ada yang sekedar ingin menikmati malam bersama wanita nya. ada juga yang datang sekedar menikmati segelas wine favorit nya dimeja.


Ada juga yang datang menghabiskan uang nya di casino.


Jhose mengedarkan pandangan. Mencari seseorang yang ingin Ia temui.


"Hi Jhose."


Seorang pria didepan meja pingponga melambai.



Jhose datang mendekat.


"did you come alone? Where's your girlfriend."


Seringai mengejek dari kapten Hwo.


"Seharus nya aku yang berkata begitu pada mu kapten."


Jhose memeluk kapten Hwo.


"Apa kabarmu brother."


Jhose menepuk nepuk punggung Kapten Hwo.


"Seperti yang kau lihat Jhos


Kapten Hwo melepas pelukannya.


"Mengapa tidak langsung kerumah saja."


"Besok sudah kembali bekerja, Aku ingin menantang mu bermain ini."


Kapten Hwo memberikan pemukul bola pada Jhose.


"Kau pasti kalah dari ku kapten."


Meraih pemukul bola itu disana.


Permainan tenis meja di mulai. Antara Jhose dan kapten Hwo.


"Bagaimana hari mu di Suriah?."


Kapten Hwo berkata sambil memukul bola.


Pletak


Bola mengenai meja.


"Berjalan dengan baik."


Plak


Membalas memukul bola.


"Datar sekali jawaban mu. Apa terjadi sesuatu disana?."


Plak


Berkata sambil memukul bola.


"Tidak ada, seperti nya kau penasaran sekali."


Plak


membalas memukul bola lagi.


"Kau sungguh tidak mengencani wanita,?"


Plak


Berkata sambil memukul bola lagi.


Jen,


ah.. Kenapa jadi sering mengingat wajah mu!


Plak..!!


Satu pukulan terakhir membawa kemenangan bagi Jhose.


"Sudah ku katakan kau kalah dari ku kapten."


Jhose melempar pemukul bola tenis meja kearah kapten Hwo. Dan kapten Hwo pun menangkap nya.


Kapten Hwo dan Jhose berjalan beriringan menuju meja bar kemudian duduk di kursi yang disediakan bar ini.


"Buatkan seperti biasa."


Jhose berkata pada bartender.


"Baik tuan."


Dua gelas wine terletak di meja.


"Silahkan tuan."


Jhose memutar gelas berisi wine kemudian menegak nya.


Kapten Hwo menyandar di meja bar tanpa menyentuh gelas berisi wine itu.


"Aku tidak minum, Apa kau amnesia?!."


Jhose tergelak."Kau tidak pernah berubah ya."


"Ayolah brother. Nikmati hidupmu."


Menegak wine dan menghabiskan nya.


"Hi Jhos, "


Jhose dan kapten Hwo menoleh pada sumber suara.


Seorang wanita cantik datang menghampiri.


"Sudah lama kau tidak kemari."


Wanita itu menyentuh pipi Jhose.


"Aku kemari karena merindukan mu."


Tangan Jhose meraih pinggang wanita itu.


Cih, menjijikkan!


umpat kapten Hwo dalam hati.


"Sungguh?."


Wanita itu berbicara dengan nada yang manja.


Membuat Kapten Hwo menatap jengah memijat pelipisnya.


Dasar Playboy!


Umpat kapten Hwo lagi dalam hati.


"Sungguh sayang."


Jhose mendekat kan wajah nya.


Cup


Aku disini woi!!


Dasar Sialan.


Kapten Hwo memalingkan wajahnya.


Sialan!!


Jomblo abadi yang berada di samping Jhose mengutuki diri nya. Mengumpat berkali kali hingga terasa amat jengah ketika berkali kali pula Ia melirik ke arah Jhose yang belum juga menyelesaikan ciuman nya.


Jhose melepas panggutan nya. Ketika tiba tiba bayangan wajah ceria Jen muncul di saat yang tidak tepat.


Oh ****..?!Kenapa jadi teringat Jen disaat seperti ini .


"Baby aku ada sedikit urusan. Akan aku temui kau lain waktu."


Mengusap lembut pipi wanita itu kemudian.


Meletakkan beberapa lembaran uang di atas meja bar. Berlalu mrlangksh dengan gaya cool khas nya menyusul Kapten Hwo yang baru saja menjauh.


"Tunggu Jhos, Setidaknya ajak aku berkencan dengan mu!!."


Wanita hanya bisa menghentakkan kaki saat Jhose berlalu tanpa menoleh sedikitpun.


"Dasar brengs*k kau Jhose"


Kapten Hwo Keluar dari dalam bar merentangkan tangan menghirup udara segar.


Jhose terbahak-bahak di belakang Kapten Hwo.


"Kau cemburu Kapten?."


"Tutup mulut mu sialan!!"


"Hahaha"


"Aku jadi takut pada mu Hwo, Bisa bisa nya kau tidak tertarik dengan wanita."


"Berhenti menertawakan ku! Aku bukan homo atau playboy seperti mu."


Kapten Hwo meraih pintu mobil kemudian masuk ke dalam.


"Ayo lah kapten, nikmati hidupmu."


Seringai mengejek muncul di bibir nya.


"Kau menghentikan aktifitas mu, apa yang kau fikirkan?"


Melirik kearah Jhos yang berada di samping nya.duduk menyandar pada kemudi.


"Entahlah"


Jhose diam sejenak.


Mengapa jadi aku terkesan menghianati Jen.


Jhose membenturkan kepala nya di kemudi.


"Kau bertingkah seperti kakak ku saja."


"Raut wajah mu berubah, Seperti nya kau jatuh cinta."


Jhose menarik nafas nya panjang dan menghembuskan nya.


"Hanya terlintas saja, sama sekali tidak penting"


"Siapa dia yang sudah menggetarkan hati mu Jhose. Aku sangat mengenal mu"


"Apa begitu terlihat ya. Aku bahkan sangsi dengan yang kau sebut cinta"


"Aku melihat kelemahan mu disini komandan!."


Senyum samar terlihat di bibir kapten Hwo.


"Kau yang tidak pernah menghawatirkan apapun, bisa mencemaskan hubungan mu dengan wanita."


Jhose menghela.


"Jeniver halten"


Terdengar berat dari de...Sahan nafasnya.


"Jeniver halten"


Kapten Hwo berfikir sejenak, Nama itu seperti nya tidak asing.


"Keluarga Halten, kau ingat."


Memiring kan kepala nya menoleh pada Kapten Hwo.


"What,?"


Kapten Hwo tersentak, Sadar akan siapa yang Jhose maksud.


"Bagaimana bisa?"


"Tapi sudahlah, tidak heran jika banyak wanita mengejar mu."


Tunggu.


"Jangan katakan kau memanfaatkan wanita mu untuk melancarkan misi?!."


Jhose mengangguk.


"Dan aku terjebak dalam situasi yang rumit.


Mike Halten adalah musuh ku, dan aku terjebak dengan anak dari mendiang kakak nya."


Jhose mengusap pipi nya, saat teringat bibir Jen menyentuh disana.


"Baru kali ini aku serius merindukan wanita."


"Kejar, Dia misi untuk hidup dan masa depan mu."


"Misi ya"


Jhose mengangguk mengerti.


"Belum untuk melangkah sejauh itu. Hidup ku dikelilingi bahaya. Bisa saja sewaktu waktu gugur dalam tugas. Aku tidak ingin Dia menangis, maka menghindari nya itu jalan yang terbaik.


"Jhos."


Mobil menembus hening nya malam yang menjelang pagi. Sepi nya kota London ketika para penghuninya terlelap di peraduan.


Jarang sekali berpapasan dengan mobil yang lain nya membuat Jhose menginjak kuat pedal gas terus melaju hingga mobil berdecit sempurna di dermaga yang telah menunggu kapal angkatan laut disana.


"Sampai jumpa lagi brother."


Jhose dan kapten Hwo mengadukan kepalan.


" Kita akan bertemu ketika telah berubah status masa lajang."


Ujar kapten Hwo.


"Aku menantikan nya"


Jhose menepuk bahu kapten.


Kapten Hwo melambai pada Jhose, Kemudian berlalu menaiki tangga masuk kedalam kapal.


"Semoga Semesta segera memberimu pendamping, brother."


Bergumam sambil menatap punggung Kapten Hwo yang menjauh disana."


next