The Police

The Police
1. Nativa Anjani Suhardi



 


 


 


 


Jakarta, Indonesia


 


 


Seorang gadis cantik dengan jaket parka panjangnya berwarna army tidak melepaskan senyuman kala kedua kaki jenjangnya memasuki gedung kepolisian. Dia mengikuti langkah pria berbadan kekar di depannya.


 


 


"Kak Fernan, aku dengar, komisaris polisi sangat cantik?" Tanya gadis itu.


 


 


Pria yang bernama Fernan tersenyum. "Iya, dia memang cantik. Sayangnya dia belum menikah."


 


 


"Kalau sayang, kenapa tidak Kakak saja yang melamarnya?" Goda gadis itu.


 


 


Fernan tertawa. "Apa yang kau bicarakan, Tiva. Tunggu aku menjadi kepala polisi dulu."


 


 


Tiva terkekeh.


 


 


Mereka tiba di depan ruangan komisaris. Fernan mengetuk pintunya.


 


 


Di dalam ruangan, seorang perempuan cantik dengan kemeja dan jasnya menoleh ke pintu. "Masuk."


 


 


Fernan dan Tiva masuk. Keduanya memberikan hormat. Perempuan itu melakukan hal yang sama.


 


 


"Selamat siang, Komisaris Regitta, saya bersama anggota baru. Perkenalkan dirimu." Fernan menepuk bahu Tiva.


 


 


"Siap, selamat siang, saya Nativa Anjani Suhardi, dari Akademi Kepolisian Bandung." Tiva memperkenalkan dirinya dengan antusias.


 


 


Komisaris cantik yang bernama Regitta itu tersenyum sambil mengangguk. "Senang bertemu denganmu, Nativa. Namaku Regitta Agustiani Nasution. Aku sudah mengecek semua hasil tes yang diberikan Fernan untukmu. Semua nilaimu sangat mengesankan."


 


 


Tiva mengangguk hormat.


 


 


"Kau putrinya komisaris Dani Suhardi, kan?" Tanya Regitta.


 


 


Tiva tampak berpikir. "Iya."


 


 


Regitta tersenyum. "Kau sangat beruntung, gadis muda. Selamat bergabung dengan tim kami. Fernanda akan mengajakmu berkeliling mengenal kantor kami."


 


 


Setelah itu, Tiva dan Fernan keluar dari ruangan Regitta. Ekspresi Tiva tampak begitu kesal.


 


 


"Apa maksudnya dia menyebut nama ayahku dan mengatakan aku sangat beruntung? Apa dia pikir, aku jadi polisi karena campur tangan ayahku? Aku bisa lolos karena kemampuanku sendiri," gerutu Tiva.


 


 


Fernan membekap mulut Tiva. "Jangan keras-keras, nanti dia dengar. Sebaiknya kita pergi melihat ruangan-ruangan di sini, ayo!"


 


 


◈◈◈


 


 


Tiva sangat kagum dengan tempat kerja barunya. Beberapa komputer canggih berjejer di sepanjang meja. Ada banyak polisi yang bertugas.


 


 


Mereka semua tampan sekali, tidak menyesal aku kesini, batin Tiva.


 


 


"Di sini kau tidak boleh menunjukkan sikap burukmu. Komisaris sangat mengutamakan kedisiplinan dan tanggung jawab," ucap Fernan.


 


 


Tiva mendelik kesal pada pria itu. "Memangnya aku pernah melakukan apa?"


 


 


Fernan memutar bola matanya. "Semua orang di Indonesia tahu, apa saja yang sudah dilakukan oleh putri semata wayangnya Komisaris Dani Suhardi. Apa kau lupa dengan perbuatanmu sendiri?"


 


 


Tiva mengalihkan pandangannya. "Tidak ada hal buruk yang aku lakukan, kok."


 


 


Fernan merangkul bahu Tiva dengan erat. "Merokok di depan umum saat kau masih mahasiswa akpol, mabuk di klub malam setelah kabur dari rumah, berkencan dengan orang asing, dan masih banyak lagi. Mau menambahkan?"


 


 


Tiva berusaha melepaskan tangan Fernan darinya. "Lepaskan aku, dasar sialan!"


 


 


Fernan tertawa. "Suka memaki kasar, jika kau sedang marah, meskipun yang kau marahi adalah bos seniormu sendiri."


 


 


 


 


Fernan tertawa. "Simpan tenagamu untuk menangkap pencuri, bukan berkelahi denganku."


 


 


Tiva kesal dan ingin melawan lagi, tapi dia menyadari keberadaan dua orang polisi wanita yang melihat mereka dengan ekspresi konyol.


 


 


Fernan menoleh ke arah pandang Tiva. Pria itu terkejut dan segera membenarkan posisi mereka.


 


 


◈◈◈


 


 


Tiva memasuki apartemennya. Dia menghempaskan tubuh rampungnya ke tempat tidur. Tangannya bergerak merogoh sesuatu dari tasnya, ternyata dia mengambil bir dingin.


 


 


Gadis itu bangkit dan meminum bir dinginnya. "Aaaaahhhh, segar sekaleeeehhh!"


 


 


Ponselnya berdering. Tiva menoleh sesaat, melihat nama Papa di layar HP-nya. Gadis itu memutar bola matanya malas. Meskipun begitu, dia mengangkat panggilan dari ayahnya.


 


 


"Halo, Pa?"


 


 


"Tiva! Setelah menjadi polisi, kau jangan mempermalukanku lagi di media! Jaga nama baik keluarga Suhardi! Ingat itu!"


 


 


Hanya itu yang dikatakan oleh ayahnya, setelahnya panggilan tersebut berakhir. Tiva tertawa sarkas dengan buliran bening di matanya.


 


 


"Dia bahkan lupa, tidak mengucapkan selamat atas kelulusanku melewati semua tes untuk menjadi seorang polisi."


 


 


Tiva melemparkan botol bir ke dinding hingga pecah. "Aku ini anakmu atau mukamu? Menjaga nama baik, hanya itu yang kau pikirkan, *******!"


 


 


Tiva tak bisa membendung air matanya lagi. Dia menangis sambil menjambak rambutnya sendiri.


 


 


Tiva berlalu ke balkon. Angin malam langsung menyambutnya. Rambut panjangnya bergerak-gerak sesuai arah angin.


 


 


Tiva bergumam sendiri. "Aku tidak mau mandi, rasanya dingin sekali. Lebih baik aku langsung tidur saja. Besok pagi juga mandi. Selain itu, tidak ada bedanya, entah aku mandi atau tidak, aku tetap cantik."


 


 


Ketika Tiva akan kembali masuk, netranya melihat seorang pria mengendap memasuki balkon di apartemen seberangnya. Tiva menyipitkan matanya.


 


 


"Pencuri? Penjahat? Aku harus melihatnya." Tiva melompati pagar balkon dan berjalan di sisi-sisi sekat dinding yang tipis, layaknya ninja.


 


 


Namun, dia memang bisa melewati itu sampai dia harus berayun di kabel listrik untuk mencapai gedung apartemen di seberangnya.


 


 


Mungkin gadis itu berpikir, jika dia sedang berada dalam film action.


 


 


Tiva melompat ke balkon di mana pria itu menyelinap. Dia mengambil pistol dari sarungnya untuk berjaga-jaga. Gadis itu melihat jendelanya tidak ditutup. Gorden putihnya bergerak-gerak tertiup angin malam.


 


 


Tiva mengintip lewan celah jendela. Tampak di dalam sana ada pria dan wanita yang sedang berdebat.


 


 


"Apa yang kau lakukan di sini?"


 


 


"Aku merindukanmu."


 


 


"Bagaimana jika ayahku tahu?"


 


 


"Aku akan bicara baik-baik dengannya."


 


 


Mereka berciuman. Tiva mengalihkan pandangannya. Lampu apartemen itu mati dan setelahnya... tentu saja itu terjadi.


 


 


Tiva memasukkan kembali pistol itu ke sarungnya. Dia melihat apartemennya di seberang sana.


 


 


"Terusss... aku harus melompat dan berayun lagi untuk sampai ke apartemenku?"


 


 


◈◈◈


 


 


17.55 | 12 Februari 2019


By Ucu Irna Marhamah