The Police

The Police
17



◈◈◈ 17


 


 


Fernan sedang mengadakan rapat dengan para rekannya di bawah pemantauan Regitta. Sementara perempuan itu tampak cemas.


 


 


Fernan menoleh pada Regitta kemudian mengangguk. Regitta juga menganggukkan kepalanya.


 


 


Setelah rapat, Regitta dan Fernan berjalan menuju parkiran.


 


 


"Apa kau khawatir?" Tanya Fernan.


 


 


Regitta mengangguk. "Sangat, Aku rasa kita perlu meminta bantuan pada angkatan darat."


 


 


Fernan merangkul Regitta. "Kasus ini akan selesai dan kita akan berkencan."


 


 


Kedua pipi Regitta memanas mendengar itu. Dia tersenyum kecil.


 


 


-


 


 


Pradif memberikan instruksi pada semua bawahannya. Tiva memperhatikan pria itu.


 


 


"Dia tampan sekali ketika menjadi pemimpin di antara para polisi itu," gumam Tiva.


 


 


Pradif menoleh lalu tersenyum. Tiva juga tersenyum.


 


 


"Aku sudah menghubungi pihak militer dari Singapura," kata Pradif.


 


 


Tiva mengangguk.


 


 


-


 


 


Singapura


 


 


Penyergapan akan segera dimulai. Tim Komjen Pradifta sudah tiba di Singapura bersama Nativa.


 


 


Sebagian dari mereka menyerbu markas lama, ada juga yang menyelinap masuk ke markas baru, tempat-tempat pribadi milik para gangster, dan lainnya.


 


 


"Ini markasnya? Jelek sekali," bisik Tiva.


 


 


"Mana mungkin mereka membeli gedung mahal untuk markas mereka," gerutu Pradif.


 


 


Semua polisi Indonesia dan angkatan udara Singapura sudah menangkap beberapa orang anggota gangster. Mereka ditanyai, di mana San Cortez. Tidak ada yang menjawab.


 


 


Anggota geng yang berkewarganegaraan Singapura diserahkan pada kemiliteran Singapura.


 


 


Tim Komisaris Regitta bersama angkatan darat Indonesia datang dan memberikan bantuan.


 


 


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Bayu pada Tiva. Nativa menggeleng kemudian berlalu.


 


 


Bayu menghela napas berat.


 


 


Regitta berbicara dengan Pradif.


 


 


"San Cortez tidak di sini," kata Regitta.


 


 


Pradif menggeleng. "Dia memang pandai bersembunyi."


 


 


"Dulu kau menyusup ke tempat ini?" Tanya Regitta.


 


 


Pradif mengangguk.


 


 


"Pernah bertemu dengan San Cortez?"


 


 


Pradif menggeleng.


 


 


Regitta mendengus.


 


 


Ponsel Regitta berdering. Dia segera mengangkat panggilan dari bawahannya. "Halo?"


 


 


"Komisaris, kami menemukan San Cortez."


 


 


Regitta membulatkan matanya. "Di mana?!"


 


 


"Jakarta, Indonesia."


 


 


 


 


◈◈◈


 


 


Di dalam pesawat, terjadi percekcokan antara Regitta dan Pradifta. Tidak ada yang bisa menghentikan pertengkaran keduanya. Bawahannya sibuk berdiskusi.


 


 


"Kenapa kita harus satu pesawat?" Tanya Fernan pada Tiva. Gadis itu mengedikkan bahunya.


 


 


"Jadi, kelima polisi itu berbohong? Mereka mengaku tiba di Singapura untuk membebaskan sandera, nyatanya itu kejadian di Indonesia. Kenapa mereka berbohong?" Tanya Bayu.


 


 


"Pantas saja San Cortez bisa bahasa Indonesia, sudah jelas dia orang Indonesia. Kenapa repot-repot ke Singapura," gerutu Tiva.


 


 


"Ini membuatku sakit kepala," gerutu Fernan.


 


 


Tiva tampak berpikir. "Berarti selama ini... kejadian itu terjadi di Indonesia, tapi kenapa ayah dan rekan-rekannya harus berbohong?"


 


 


Hari kedua...


 


 


Sesampainya di Indonesia, mereka melihat ketua geng rubah yang duduk di kursi dengan kedua tangan diborgol.


 


 


"Ada apa denganmu? Kau mau mempermainkan kami?!" Geram Regitta.


 


 


Pria paruh baya itu tertawa pelan.


 


 


Tiva berbisik pada Pradif. "Apa dia San Cortez?"


 


 


Pradif mengedikkan bahunya.


 


 


"Aku senang sekali melihat kalian (para polisi) saling mencurigai, saling membunuh, dan saling mengkhianati."


 


 


Fernan mengepalkan tangannya geram. "Apa kau benar-benar San Cortez? Tampangmu tidak menunjukkan jika kau adalah dia."


 


 


San Cortez tertawa. "Aku orang yang pemalu, untuk pertama kalinya aku menunjukkan diriku di depan orang lain."


 


 


"Aku pikir, San Cortez adalah pria keren dari dunia gelap, nyatanya hanya pria tua yang memiliki isi kepala sampah," ujar Fernan.


 


 


Pradif menoleh pada Fernan. "Jangan diajak bicara, cepat selesaikan kasus ini."


 


 


Setelah menemukan San Cortez, persidangan kembali dibuka. Regitta berbicara di depan semua orang di ruangan itu.


 


 


Para polisi merasa begitu lega, termasuk kepala polisi yang terlihat paling semangat hari itu.


 


 


Berbeda dengan yang lain, ekspresi Tiva dan Fernan tampak tidak bagus.


 


 


"Kak Fernan, aku merasa ada yang salah, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku," kata Tiva.


 


 


Fernan menoleh pada Tiva. "Aku juga merasakan hal yang sama."


 


 


"... Dengan ini, saya... Regitta Agustiani Nasution, menutup kasus ini." Setelah berkata demikian, Regitta menghela napas lega.


 


 


Tiba-tiba Pradif beranjak dari kursinya. "Yang mulia, saya ingin memberikan kesaksian."


 


 


Tiva dan Regitta mengernyit.


 


 


Setelah diizinkan, Pradif pun mulai bicara. "Saya Pradifta Fernaldi Anggara, mengakui semua perbuatan saya. Dengan keadaan sadar, saya telah menghabisi nyawa detektif Haris dan Komisaris Erwin."


 


 


Tiva membeku mendengar pengakuan Pradif. Regitta tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Fernan dan Bayu terbelalak.


 


 


Tiba-tiba peluru melesat menembus dada Pradif. Tiva membulatkan matanya. "Pradif!"


 


 


Tiva melihat sniper di jendela. Gadis itu mengambil pistolnya dan menembak sniper itu. Ternyata tidak hanya 1 sniper, ada banyak sniper di sana.


 


 


Terjadi baku tembak antara sniper dan polisi di dalam pengadilan.


 


 


Fernan tersungkur dengan darah mengalir di dadanya.


 


 


Regitta berteriak, "Fernan!"


 


 


◈◈◈


 


 


13.56 | 14 September 2019


By Ucu Irna Marhamah