
Gemerlap lampu menghiasi ruangan gelap itu. Diiringi musik dengan volume tinggi. Beberapa gadis berpakaian minim menari-nari di atas meja. Para penari telanjang yang meliuk-liukkan tubuh mereka untuk menghibur para pengunjung klub.
Salah seorang pria tua berjas sedang bercanda dengan 4 gadis muda yang menempel padanya.
Seseorang bertopi hitam sedang mengawasinya. Sudah bau tanah, tapi masih suka gadis muda. Dasar tidak berkaca.
Pria bertopi itu meletakkan gelasnya yang sudah kosong kemudian bangkit dari kursi bar menghampiri si pria tua. Pria bertopi itu duduk berhadapan dengannya. Pria tua mengernyit.
"Siapa kau?" Tanyanya.
Pria bertopi hitam tersenyum sambil menodongkan pistol ke dada pria tua itu. Gadis-gadis di sampingnya berteriak ketakutan dan segera lari.
Dor!
Mendengar suara letupan senjata, semua pengunjung klub berteriak ketakutan sambil berlarian keluar.
Darah segar mengalir membasahi kemeja putih pria tua itu.
Pria bertopi hitam mendecih sambil menyingkap jaketnya, ada name tag milik anggota kepolisian yang menempel di bagian dalam jaket pria bertopi itu.
Pria tua itu membulatkan matanya. "K-kau...."
Dor!
Dor!
Dor!
Di kantor polisi,
Tiva meletakkan semua barangnya ke loker penyimpanan. Dia melihat seragam polisi yang merupakan miliknya. Gadis itu menyentuhnya sambil tersenyum.
Fernan menepuk bahu Tiva. "Seragam itu hanya digunakan ketika kenaikan jabatan, acara resmi, dan pemakaman. Di lapangan, kita memakai pakaian biasa."
Setelah mengatakan itu, Fernan berlalu.
Tiva melihat meja kerjanya yang masih kosong. Dia duduk di kursi dan menghela napas. Jadi, pekerjaan Papa seperti ini?
Tidak ada yang istimewa di hari pertama kerja, Tiva mulai merasa bosan. Dia hanya mengotak-atik komputer di depannya.
Regitta melewati ruangan sambil melihat satu per satu anggotanya. Tatapan kedua perempuan itu bertemu. Regitta tersenyum tipis sebelum dia menghilang di balik pintu.
Merasa penasaran, Tiva membuka link biodata anggota kepolisian. Gadis itu mencari nama Regitta Agustiani Nasution.
Terpampanglah profil komisaris Regitta di layar komputernya.
Tiva membaca dengan teliti. "Lulus dari Akpol Semarang di usia 19 tahun? Wow! Apa itu tidak melanggar aturan? Dia masih sangat muda waktu itu. Menguasai 3 jenis bela diri, mampu bicara dengan 6 bahasa asing, dan sangat disiplin. Prestasinya banyak juga, ya. Kenapa tidak jadi BIN saja?"
"Apa kau sedang menguntit Komisaris Regitta?" Tanya seseorang yang membuat Tiva terlonjak kaget.
Dia menoleh, ternyata seorang polisi muda yang tampan. Pria itu tersenyum ramah. "Halo, namaku Bayu Hendra Suyanto."
Tiva tersenyum. Tampan sekali orang ini!
Mereka berjabat tangan. "Nativa."
Bayu mengambil kursinya dan duduk di dekat Tiva. "Kudengar ada polisi baru. Itu kau, ya?"
Tiva mengangguk.
"Aku juga baru. Semoga kau betah. Kau datang bersama siapa?"
"Kak Fernanda, dia yang memberikan tes padaku untuk masuk kepolisian."
Bayu menyikut lengan Tiva. "Ada waktu malam ini? Kita minum di Narnia Bar."
Fernan menarik kursi Bayu agar menjauh dari Tiva.
"Eh, apa-apaan ini?" Protes Bayu.
"Tidak ada kencan buta malam ini. Ada rapat mendadak, kalian harus ikut."
◈◈◈
Tiva tersenyum kecil ketika dia duduk diantara pria-pria tampan di ruang briefing.
Banyak sekali orang tampan di sini! Jerit Tiva dalam hati.
Regitta berdiri di depan anggotanya yang sedang duduk rapi. Dia memulai pembicaraan. "Ada masalah yang cukup serius. Kemarin malam, detektif Haris ditemukan tewas di klub Antares dengan 4 luka tembakan di dada, kepala, perut, dan... penisnya."
Beberapa polisi wanita menahan mual mendengar itu.
Regitta mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada meja. "Ini kasus pertama seumur hidupku, ada penjahat yang membunuh seorang polisi. Jika aparat kepolisian terbunuh, masyarakat akan risau. Mereka mempertanyakan kita, apa yang kita lakukan? Jika polisi saja bisa dibunuh, bagaimana dengan mereka. Itu yang akan mereka pikirkan."
Para polisi mendengarkan dengan serius, tak terkecuali Fernan, Tiva, dan Bayu. Regitta menghela napas berat kemudian duduk. "Ada yang ingin menambahkan?"
Fernan berdiri dan menambahkan, "Menurut saksi mata, pembunuhnya dengan terang-terangan menodongkan pistol dan menembak. Orang itu dipastikan pria dengan topi hitam, jaket biru gelap, sepatu putih, dia memiliki tubuh tegap dan kekar dengan tinggi sekitar 182cm, kulit kecoklatan, rambut hitam. Tidak ada yang melihat wajahnya dengan jelas."
"Selera berpakaiannya buruk sekali," ucap salah seorang polisi wanita.
"Kedengarannya tampan," sahut yang lain.
Regitta menggebrak meja. "Ini kasus yang serius, kalian tidak bisa mengatakan hal itu, ketika ada rekan yang meninggal dunia!"
Regitta berlalu kesal. Kedua polisi wanita itu merasa bersalah karena telah berkata demikian. Tiva menatap punggung Regitta yang semakin menjauh.
Fernan menghela napas panjang. "Kalian bubar, kita akan menunggu hasil dari tim forensik."
Regitta berdiri di balkon kantor polisi. Dia memukul pagar balkon. Perempuan itu mengambil rokok dari saku celananya. Ketika Batang rokok itu ditempelkan di mulutnya, Regitta baru menyadari, jika dia tidak membawa pemantik api.
"Shit, hari ini berat sekali."
Fernan menghampirinya dan mengambil rokok itu dari mulut Regitta.
"Ini masih jam kerja, Komisaris."
"Jangan ganggu aku, Fer. Sana pergi urus team-mu."
"Aku akan menangani kasus ini, jangan khawatir, Komisaris."
Regitta tidak menjawab. Dia menatap kosong ke Gunung Tangkuban Parahu yang menjulang tinggi di depannya.
Merasa tidak ada tanggapan, Fernan menoleh pada Regitta. "Komisaris?"
Masih tidak menjawab.
"Komisaris!"
Regitta masih bengong.
"Gitta!"
Regitta tersentak dan menoleh pada Fernan. "Apa?"
Fernan memutar bola matanya. "Biar aku yang menangani kasus ini, kau hanya perlu mengarahkan kami."
Regitta mengangguk.
◈◈◈
08.44 | 10 September 2019
By Ucu Irna Marhamah