
Masih di Negara Suriah, tepat nya di sebuah rumah sakit.
Jen keluar dari kamar pasien bersama salah seorang rekan nya. Bergegas menuju instalasi gawat darurat sesuai perintah karena beberapa pasien datang dengan luka tembak.
Adalah hal biasa di Neg@ra konflik seperti ini.
"Percepat langkah mu Sofya"
Ujar Jen yang telah mendahului rekan nya.
"Aku segera menyusul."
Sofya berlari menyusul Jen.
Perawat dan para Dokter disibik kan dengan enam orang yang harus segera dilakukan operasi pengangkatan proyektil yang bersarang di tubuh mereka.
Mata Jen tertuju pada satu orang pria dengan dada yang berlumuran darah.
Jen membantu melepaskan pakaiannya sebelum memasang selang infus.
Wajah nya telah pucat pasi. tubuh nya lemah dengan nafas yang semakin pendek.
Secepat kilat Jen memasang Nasal oxygen cannula agar pasien bisa bernafas.
"Aku titipkan anak ku pada mu nona."
'Ya?"
Jen nampak bingung.
Pasien melirik gadis kecil yang jongkok memeluk lutut menyandar dinding rumah sakit sambil menangis.
Kemudian pria itu memejam nafas nya berangsur angsur menghilang.
"Tuan, Tuan?!."
"Dokter Dokter."
Jen memanggil Dokter, menyiapkan alat alat medis yang mungkin masih bisa menyelamatkan nyawa pria ini.
Berbagai macam cara telah dilakukan, namun hasil nya nihil, jantung pria ini telah berhenti berdetak nafas nya berhenti, denyut nadi pun menghilang.
gadis kecil yang di ujung itu bangkit ketika para dokter dan perawat sibuk mengurus ayah nya.
Meski tidak begitu faham apa yang terjadi, namun bisa disimpulkan gadis itu sedikit mengerti jika perawat dan dokter nya tidak bisa menyembuhkan sang ayah.
"abi abi. astayqaza..!
aistayqaz ya 'abi!"
Gadis kecil itu histeris menggoyangkan tubuh ayah nya. Menangis tersedu kemudian Jen menggendong nya. Membawa keluar gadis kecil itu.
"Kau akan aman bersama ku. Ayahmu sakit,kau tenang saja Dokter akan menyelamatkan ayah mu."
Anak itu mengangguk meski masih sesenggukan.
"Kau bisa menunggu ayah mu disini. Aku akan segera kembali."
Jen meletakkan gadis kecil itu di ayunan taman rumah sakit.
Melangkah masuk meninggalkan gadis itu sambil mengusap bulir bening yang lolos dari mata nya.
Jen teringat masa kecil dimana orang tua nya pergi meninggalkan nya untuk selamanya.
Meski tidak begitu ingat, penyebab pasti meninggalnya orang tua Jen. bisa ia rasakan sedih nya gadis kecil itu.
Jen kembali ke ruang IGD
Mendapat perintah mengantarkan pasien ke ruang operasi.
Jen pun mendorong bed bergegas mengantarkan pasien ke ruang operasi.
Diikuti Sofya yang juga mendorong pasien yang lain, Melewati lorong lorong rumah sakit menuju kamar operasi yang telah menunggu tim dokter disana.
Lima pasien telah masuk ke ruang operasi.
"Aku temui gadis kecil itu sebentar."
Jen berkata pada Sofya.
"Pergilah, aku yang menunggu disini."
Berdiri di depan kamar operasi dengan membawa beberapa kertas seperti nya profile pasien.
Jen bergegas menuju taman. Terlihat gadis kecil itu memegangi perutnya, menyandar pada ayunan sambil menggigit bibir nya.
Jen melangkah mendekat.
"Apa kau lapar?"
Gadis kecil itu mengangguk.
"Baiklah, tunggu disini sebentar. Akan kubawakan roti untuk mu."
Jen berlari menuju kantin. membeli beberapa potong roti dan air mineral.
Mengeluarkan beberapa lembaran uang.
"Ambil saja kembalian nya."
Jen bergegas kembali ke taman rumah sakit menemui gadis kecil itu yang masih duduk di atas ayunan.
"Ini untuk mu sayang, aku harus kembali bekerja. Nanti aku menemui mu lagi disini."
Gadis kecil itu mengangguk.
"Oh ya, siapa nama mu? Panggil aku Jen."
"Oliv"
"Baik lah Oliv, habiskan makanan mu. Aku segera kembali."
Jen melambai pada Oliv
Oliv pun membalas nya" Sampai jumpa lagi kakak Jen."
Olive menatap punggung Jen yang berlalu menjauh.
Membuka bungkusan roti kemudian memakan nya lahap sekali.
Menghabiskan dua potong roti kemudian menegak minuman.
Olive menyimpan sisa roti itu untuk makan malam nanti. Takut kalau ini adalah makanan terahir untuk nya.
Hari sudah gelap, lampu pencahayaan rumah sakit begitu terang hampir mengalahkan sinar mentari.
"Hati hati Jen. Bye..!"
ujar Sofya.
Jen bergegas menemui Oliv di taman. Ia berencana membawa Olive ke mansion sambil memberi tahukan jika ayah nya telah tiada perlahan.
"Oliv, ayo ikut dengan ku."
Jen mengulurkan tangan.
"Kau mau mengajak ku kemana?."
tanya Olive
"Kerumah ku. Disana akan ada bibi Mia yang akan mengajak mu bermain."
Berkata sambil menggendong gadis kecil yang berusia sekitar 3tahun.
Jen bergegas menuju mobil nya. Meletak kan olive di samping kemudi, memasang seat belt disana.
Jen melakukan mobil nya, jauh meninggalkan rumah sakit.
Jen melirik pada spion, Dua mobil hitam di belakang nya seperti nya mengikuti dari rumah sakit.
Jen melakukan mobil nya. Ia berdebsr sebab tidak ada lagi pengawalan untuk nya. Ia pernah meminta paman nya untuk tidak selalu mengawasi karena Ia telah dewasa.
"Ah, Sial!!."
Jen terus melajukan mobil nya, semaki. kencang pula mobil itu mengikuti.
"Dorr..!! Dorr..!!
Amunisi mengenai mobil yang Jen kendarai.
"Apa itu kak Jen. ,"
Pekik Olive menutup telinga ketakutan.
Beruntun mobil Jen telah di disaighn khusus jadi tidak tembus peluru.
Jen semakin gemetar terus melajukan mobil nya ketika amunisi terus menerus menghujani mobil nya.
Jen meraih ponsel yang ada di dalam tas. Segera Ia menghubungi Jhose, namun tentu saja tidak di angkat nya karena sedang bersama Mike.
Jen kemudian menghubungi paman nya.
"Paman tolong aku!!!."
Jen berteriak di sana.
Ciiitttt...!!
Mobil hitam itu mulai menyusul Jen. Membuat Jen menjatuhkan ponsel nya dan..
Brrrraaakkk!!!
ponsel Jen terjatuh.
***
Mike panik ketika baru saja Jen menghubungi nya minta pertolongan.
Mike berusaha menghubungi Jen namun tidak bisa.
"Ada apa tuan?."
Sam bertanya, melihat raut wajah Mike yang gusar.
"Jen! Lacak keberadaan nya sekarang!!."
"Jen sedang berada di rumah sakit."
Ujar Sam.
"Perjalanan antara rumah sakit dan mansion pasti terjadi sesuatu bdengan nya!! Ayo Sam,.."
Mike meraih revolver di atas meja hendak berlari menuju parkiran.
"Aku ikut dengan anda tuan?!."
Jhose terlihat sangat panik.
Mike berkerut dahi.
"Aku bisa mengemudi lebih cepat dari mu!!."
Jhose berlari bergegas menuju parkiran melewati Mike yang sekarang berlari di belakang nya.
"Cepat!!."
Jhose meninggikan suara pada Mike. Sudah tidak perduli lagi apa yang akan Mike katakan nanti tentang nya.
Mike masuk kedalam mobil. Jhose melajukan mobil nya sebelum Mike menutup pintu mobil.
Jhose mencengkram kemudi, Mike melihat itu setelah pintu mobil tertutup sempurna.
Wuuussss..!!
Jhose menginjak pedal gas hingga speedometer berada pada batas maksimal.
Mike berpegangan, bungkap karena sedikit tegang memikirkan hal buruk terjadi pada Jen keponakan nya.
"Apa dia mantan pembalap? Dia sungguh sangat gila."
Bergumam dalam hati.
Tiiii....nnnnnn!!!
Menekan Klakson ketika mobil lain terasa melewati.
Dooorrrt!!!...
"Jeennn...!!!!"
Pekik Mike sesaaat seketika Jhose melompat dari mobil.
-
-
Like.. komen.. vote...
terimakasih