The Police

The Police
16. Fernanda Gibran Mahali



 


 


 


Setelah sidang pengadilan selesai, Tiva dan Pradif berlalu.


 


 


"Kau keren sekali tadi," kata Tiva sambil terkekeh kecil.


 


 


Pradif menoleh pada Tiva. "Aku bukan keren, aku tampan. Seseorang yang mengatakannya padaku."


 


 


Tiva memukul lengan Pradif.


 


 


Regitta menghampiri mereka. "Komjen, kau mengingkari janjimu."


 


 


Pradif dan Tiva menoleh.


 


 


"Aku sudah memberikan kesaksian, kasusmu sudah selesai, kan? Aku akan mengurus kasusku sendiri." Pradif melipat tangannya di depan dada.


 


 


"Kasusku adalah kematian 4 orang polisi ditambah kasus Jidan. jika kau mau membuka kasus Robi, artinya kasusku tidak bisa ditutup, aku harus menyelidiki kasus itu juga," gerutu Regitta.


 


 


"Baguslah, kita akan menyelidikinya bersama, atau masing-masing?" Tanya Pradif.


 


 


Fernan tiba-tiba muncul dan menimbrung, "Kau bukan ingin menyelidiki kasus pak Robi. Kau ingin mengejar gangster dan menangkap mereka. Kau pikir, kau akan berhasil?"


 


 


"Memangnya kenapa? Aku pernah masuk ke markas mereka dan menangkap beberapa anggotanya."


 


 


Fernan kembali bersuara, "Yang kau tangkap hanya sebagian kecil dari mereka."


 


 


Pradif mengernyit. "Kau tahu banyak tentang mereka, ya?"


 


 


Fernan dan Pradif saling menatap dengan ekspresi tak terbaca.


 


 


Regitta berdehem membuat tatapan mereka terhenti.


 


 


Fernan menarik tangan Regitta. "Ayo, pergi."


 


 


Pradif dan Tiva melihat mereka. Langkah Fernan terhenti dan menoleh pada Tiva. "Kau tidak ikut, Tiva?"


 


 


Tiva menggeleng.


 


 


Fernan melanjutkan langkahnya.


 


 


 


 


Mobil Fernan berhenti di pelataran rumah besar. Dia keluar dengan menenteng jasnya.


 


 


Fernanda terlahir di keluarga besar Mahali. Sejak kecik cita-citanya ingin menjadi polisi, meskipun ayahnya melarang. Sebagian besar keluarga Mahali adalah pengusaha, ada juga yang terjun di bidang politik, dan dunia entertainment.


 


 


Mungkin bisa dibilang Fernan satu-satunya pria Mahali yang menjadi polisi.


 


 


"Sudah pulang?" Tanya Nyonya Mahali.


 


 


"Iya, Ma. Mana papa?"


 


 


"Tumben mencarinya."


 


 


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan papa."


 


 


"Malam ini papa pulang."


 


 


 


 


Tiva dan Pradif sedang berusaha mencari informasi tentang San Cortez.


 


 


"Bukannya Cortez itu marga Spanyol, ya? Kenapa tinggal di Singapura dan bisa bahasa Indonesia?" Tanya Tiva.


 


 


Pradif mengedikkan bahunya. "Mungkin dia berdarah campuran, karena geng rubah pada dasarnya lahir di Singapura."


 


 


"Kita membutuhkan waktu berapa lama?" Tanya Tiva.


 


 


Pradif tampak berpikir. "Seminggu."


 


 


 


 


Fernan duduk bersebelahan dengan ayahnya.


 


 


"Mau meminta bantuan dariku?" Tanya Tuan Mahali.


 


 


"Aku ingin informasi tentang geng rubah yang dipimpin San Cortez."


 


 


Tuan Mahali mendecih. "Bukankah para polisi memiliki lebih banyak informasi, kenapa kau bertanya padaku?"


 


 


"Karena kau pernah bekerja sama dengan dia."


 


 


"San Cortez memiliki banyak sekali orang kepercayaan. Dia tidak muncul secara langsung di depan anak buahnya, atau pun rekannya di dunia gelap. Dia itu tersembunyi. Jika ada orang yang mengaku sebagai dirinya, itu pasti orang lain."


 


 


Fernan mencerna ucapan ayahnya. "Lalu aku harus bagaimana, Ayah? Banyak polisi yang gugur karena mereka."


 


 


Tuan Mahali menatap putranya. "Kau sudah menjadi bagian dari polisi, jadi lakukan hal yang sudah seharusnya kau lakukan."


 


 


Fernan menatap ayahnya yang beranjak pergi.


 


 


Keesokan harinya, Regitta merokok lagi. Kali ini Fernan juga ikut merokok.


 


 


"Tiva di mana? Apa dia bergabung dengan kepolisian Komjen?" Tanya Regitta.


 


 


"Aku tidak tahu. Kemarin aku mencoba menelpon dia, tapi tidak diangkat."


 


 


"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Komjen Pradif membuat kita terjebak."


 


 


Fernan melempar puntung rokoknya. "Kita tuntaskan saja kasus ini. Siapa yang lebih dulu menangkap San Cortez, kita atau mereka."


 


 


Regitta mengangguk.


 


 


 


 


Pradif melihat Tiva yang serius memilih senjata. "Kenapa kau memilih untuk mengerjakan misi ini denganku? Bukankah kau sudah berada di tempat yang benar?"


 


 


Tiva menoleh. "Kau pernah bilang pada Komisaris Regitta, kalian sama... aku rasa, aku mengerti dengan apa yang kalian bicarakan."


 


 


Pradif mengangguk.


 


 


"Alasanku adalah... kita sama, ayah kita mati oleh gangster sialan itu. Jika aku diam di kantor Komisaris Regitta selamanya, aku tidak yakin, apakah kami akan menangkap si Cortez itu atau tidak. Sementara bersamamu, aku yakin, karena luka yang kita miliki sama."


 


 


Pradif mencerna ucapan Tiva. "Aku sudah membuka kasus Robi di depan hakim, Regitta dan Fernan pastinya mau tidak mau harus menyelesaikan kasus ini, karena mereka sudah menangani kasus kematian 3 polisi sebelumnya. Jadi, tetap saja kau bisa menangani kasus ini bersama mereka, tidak harus denganku. Apa kau punya motif lain?"


 


 


Wajah Fernan terbayang di benak Tiva. "Entahlah, aku tidak yakin pada mereka."


 


 


"Kenapa kau tidak mempercayai rekanmu sendiri? Sebagai polisi, harusnya kalian semua saling percaya satu sama lain."


 


 


Tiva menatap kesal pada Pradif. "Kau sudah tahu, aku dan mereka tidak sependapat, mereka sangat ingin menutup kasusnya, meskipun Om Robi terbunuh. Jika aku boleh jujur, mereka tidak mau berurusan dengan gangster!"


 


 


Akhirnya Pradif diam.


 


 


"Apa kau tidak mau bekerja sama denganku, sehingga kau memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?" Tanya Tiva menyelidik.


 


 


"Aku hanya tidak ingin membahayakanmu."


 


 


Tiva memutar bola matanya. "Meskipun aku mati, tidak akan ada yang mencariku, orang tuaku sudah tiada."


 


 


Hening.


 


 


"Kenapa kau mengkhawatirkanku?" Tanya Tiva.


 


 


"Kau masih kecil," jawab Pradif kemudian berlalu.


 


 


◈◈◈


 


 


13.33 | 14 September 2019


By Ucu Irna Marhamah