
Dalam perjalanan menuju London Bridge Jhose menginjak kuat pedal gas sambil mengetuk kan jari nya pada kemudi.
Entah mengapa waktu berjalan terasa begitu sangat lambat membuat nya tak kunjung sampai
Di tempat yang Ia tuju.
Waktu terus berputar sampai sinar matahari pun mulai muncul ke permukaan.
Menguapkan embun yang melekat pada dedaunan pohon di sekitar pinggiran kota.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga mobil berdecit di atas London Bridge.
Sebuah Jembatan indah Icon wisata di kota itu.
Jhose keluar dari mobil menutup pintu perlahan, Nampak seorang wanita yang mengenakan dress selutut tanpa lengan berdiri jauh di sana.
Rambut nya pirang lurus terurai, terhempas angin yang sepoi melintas.
Debaran dada Jhose menguat, perlahan mendekati wanita itu yang masih tidak beranjak dari tempat nya. Memandang luas sungai indah sambil menunggu matahari terbit.
Masih sangat jarang mobil melintas sepagi ini.
Jhose mendekat, berhenti ketika wanita itu menoleh. Sedikit memiringkan kepala dan mengusap rambut nya memastikan yang Ia lihat benar ada nya.
"Jhose." Mata nya berkaca menyebut nama itu.
Seketika Jhose berlari dan meraih wanita itu masuk dalam dekapan.
Semakin mempererat dekapan nya mengecupi pucuk kepala. "Aku sangat merindukan mu. "
Jeniver hanya menangis.
"Kau berkata akan menjemput ku. Kau berbohong."
"Maaf." Menangkupkan lagi ke dalam dada nya.
"Kau jahat, kau kira semua akan selesai dengan kata maaf?"
Jeniver memukul dada kekasih nya. "Kau membuatku menunggu, Kau membuat Aku mencemaskan mu. Dan Kau yang membuatku mrmikirkan mu setiap hari nya. Tidak kan kau peduli pada ku?"
Pukul lagi. Lagi. Lagi.
"Sssttt.. Maaf" Meraih tangan jeniver mengecup nya berkali kali.
"Maaf kan Aku."
Perlakuan Jhose membuat nya tertegun tersentuh.
"Aku tidak ingin membahayakan mu." Kecup nya lagi. Lagi.
"Bagaimana Kau bisa menemukan ku?."
Mengusap pipi Jen dengan satu tangan nya.
"Itu, Aku berusaha mencari tahu tentang mu sangatlah tidak mudah. Menemukan mu setelah melalui.proses yang sangat panjang dan kau tahu?
Aku hampir putus asa. Kau JAHAT." Pukul lagi.
"Kau menemukan ku, maka jangan salahkan Aku jika tidak akan pernah melepaskan mu untuk kedua kali nya." Mengecupkan bibir nya di bibir Jeniver.
"Jhose?." Membuat Jeriver terlonjak menatap mata nya.
Jhose mengusap mata Jeniver dengan jari nya menghilangkan bekas kesedihan.
Kemuduan mengecup bibir nya lagi, Lebih lembut dari yang tadi.
"Aku sangat merindukan mu."
Jhose menautkan bibir nya dengan bibir Jeniver, me..lu..mat lembut bibir Jen disana.
Hingga beberapa waktu berlalu dan beberapa mobil melintas tidak jauh dari sana mereka masih berciuman dan sesekali mengambil jeda nafas dan melanjutkan nya lagi dan lagi.
Ciuman hangat kedua nya melepas rindu yang teramat sangat dalam.
***
Di salah satu unit Apartement milik Jhose di kota London City. Disini tempat ini privasi sangat lah terjaga.
Jendela kamar yang dibiarkan terbuka dengan tirai yang masih tertutup melambai lambai sebab terhempas oleh udara yang sejuk melintas.
Hawa dingin yang di keluarkan dari mesin pendingin ruangan yang seharus nya menambah kesejukan, namun sama sekali tidak berguna untuk menyejukan mereka yang berada di atas ranjang sekarang.
"Aaahhh...."
Suara yang syahdu mendayu di kamar itu.
Sesapan demi sesapan terjadi di atas ranjang King size di sana.
Jen mencakar rambut Jhose yang sekarang berada di atas nya me..re..masi bukit indah milik Jeniver. Bukit yang terawat terjaga dengan baik dan kali ini Ia biarkan Jhose untuk menikmati nya.
"I Love you Jhose."
"I Love you"
"Aaahhh.."
Suara suara yang indah mendayu mengudara.
Di jelajahi pria yang teramat Ia cintai yang sekarang berada di
Atas nya tanpa bu..sa..na.
*Ahh.. Jhose..
No*...
Menjerit kecil saat tangan kekar itu me..re..masi bukit milik nya.
Bibir mereka bertaut, saat sesuatu yang menegang menyeruak masuk kedalam.
Jen mencakar apa saja, mulai dari sprey yang tidak bersalah menjadi pelampiasan hingga lengan kekar berkeringat Jhose yang Ia gunakan untuk berpegangan.Dengan nafas yang saling berkejaran.
Tetesan peluh kedua nya terlihat mengkilap di tubuh dan sesekali mengalir di dahi akibat aktifitas membara yang sekarang sedang terjadi.
Pantulan kasur yang tercipta dari setiap hentakan yang Jhose lakukan, meski sedikit memaksa ahir nya benda itu terbenam semua.
Aaahhhh
Dan terjadilah, Setiap hentakan yang nikmat berkejaran dengan nafas nya.
Sambil sesekali menautkan bibir mereka dengan Jhose sangat tergila gila me...re..ma..si buah da*da.
Semua berjalan tanpa beban dan rasa ragu, Ketinduan yang terpendam mereka lepaskan di kamar apartement ini.
*Aaahhh
Ahhh
Ahhh
Jhose..
Aaahhhh*...
"Aku mencintai me Jeniver Halten."
Jhose menekan milik nya menyeruak menekan kedalam.
Dengan bibir yang sekarang Ia tautkan membiarkan cairan hangat itu menyeruak memasuki
Tubuh Jeniver.
"Aku mencintai mu." Jhose mengecupi kedua mata, dahi Jeniver dan terahir bibir nya.
Dengan nafas yang masih ngos ngosan dan milik nya yang masih belum tercabut.
"Aku juga." Jawab Jen dengan nafas yang masih berkejaran pula.
Jen tertawa, Ia melingkarkan tangan nya pada pinggan Jhose agan menekan ke bawah lebih dalam.
Wajah nya Ia tangkup kan di dada Jhose karena malu akan apa yang terjadi barusan.
Masih dengan posisi yang tadi, Jhose berada di atas dengan tangan yang masih menahan. mengusap pipi jen dengan satu tangan nya, mengecup bibir nya lagi dan lagi.
"Aku sangat, sangat merindukan mu."
"Aku juga Jhose."
Jhose mengusap rambur rambur Jen yang mengenai wajah. "Terimakasih kau menjaga nya memberikan ku yang pertama." Kecup lagi kedua mata nya.
"Dan yang pertama pertama lain nya adalah kau." Mengusap pipi Jhose dengan kedua tangan nya.
"Kau tidak pernah jatuh cinta?." Meraih tangan Jen lalu mengecup nya.
"Menurut mu?."
Jhose menggelengkan kepala.
Kemudian Ia melepaskan milik nya dan meringsut menggeser tubuh.
Ia raih selimut yang tadi sempat Ia hempaskan karena mengganggu aktifitas mereka dan sekarang Ia gunakan untuk menutupi tubuh polos nya dan Jeniver.
"Jhose, Apa kau pernah melakukan ini dengan wanita?." Pertanyaan aneh muncul.
"Tidak, setelah mengenal mu." Meraih tubub Jen masuk dalam dekapan. "Tapi Kaulah yang terahir. "
Dengan iseng nya Ia meremas bukit milik Jen.
"Aww, hentikan."
Re..ma..s lagi.
"Jhose hentikan." Menyingkirkan tangan.
Jhose me Re..mas.. Lagi sambil terbahak.
"Jhose?!."
Jhose tertawa sambil meringsut naik ke atas Jen dengan bertumpu pada kedua lutut.
Jen menutup wajah nya dengan tawa kedua nya yang mengudara.
Di dalam Apartement, Di Kota London, di Negara Ingris