
Nativa cukup ketakutan dalam posisi itu. Ditindih pria topless dengan pistol di tangannya.
"Aku datang untuk menyelamatkanmu, Bodoh!" Bentak Tiva.
Pradif masih belum percaya. Dia mendekatkan wajahnya, membuat Tiva takut setengah mati. Ternyata pria itu mendekatkan telinganya ke dada Tiva.
"Jantungmu berdegup kencang, apa kau takut padaku?" Pradif melepaskan Tiva.
"Sialan! Tentu saja aku takut padamu, dasar psikopat mengerikan!" Tiva mendorong pria itu.
"Kenapa kau menyelamatkanku? Bagaimana bisa kau tahu dengan keberadaanku? Kau menguntit?"
"Bayu memiliki bukti pengakuan pak Robi yang telah membunuh ayahmu. Dia memberikannya pada komisaris Regitta. Mereka akan membuka kasus Jidan lalu menutupnya dengan bukti itu," kata Tiva.
Pradif mencerna ucapan Tiva. "Lalu masalahnya apa?"
"Kau bilang, kau akan memberikan kesaksian, jika kasus Jidan Anggara dibuka kembali?" Ucap Tiva dengan nada setengah bertanya.
"Iya, tentu saja." Pradif mengangguk.
Tiva mengernyit. "Kau tidak akan menangkap anggota gangster itu?"
Pradif menatap Tiva. "Aku mengerti perasaanmu, ayahmu tewas karena perbuatan para gangster, ayahku juga tewas karena mereka lewat tangan Robi."
"Jadi?" Tanya Tiva.
Pradif menatap Tiva. "Kau ini sedang mengajakku berkerja sama?"
Tiva mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, aku akan membantumu. Kita harus menangkap gangster itu."
Pradif tersenyum. "Antusias sekali."
-
Di kantor,
Pradif sedang duduk di kursi kebesarannya sambil mengotak-atik komputer.
Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. Pradif menoleh.
"Komjen, komisaris Regitta ingin bertemu dengan anda."
Pradif mengangguk. "Biarkan dia masuk."
Regitta tersenyum dengan wajah cerah. Dia duduk berhadapan dengan Pradif, padahal pria itu tidak menyuruhnya duduk.
"Selamat pagi, Pak. Besok kita akan bertemu di persidangan, jangan lupa dengan kesaksian anda."
"Mana mungkin aku lupa."
Regitta mengangguk kemudian beranjak dari tempat duduknya. Pradif segera bersuara, "Mau kemana, buru-buru sekali? Duduk dulu."
Regitta kembali duduk dan menatap Pradif. "Kenapa?"
Pradif menatap Regitta dengan serius. "Komisaris Regitta, aku mengerti dengan perasaanmu."
Regitta mengernyit.
Regitta tampaknya mengerti kemana arah pembicaraan Pradif. Dengan tenang dia menjawab, "Mereka berdosa sepenuhnya padaku, Komjen. Mereka melukaiku secara langsung dan mereka tidak ada gunanya untuk hidup."
Pradif tersenyum. "Itu jawabanku juga, kau puas?"
Regitta mendengus kemudian berlalu.
Keesokan harinya di persidangan. Tiva tampak gugup. Bayu dan Fernan duduk bersebelahan. Wildan yang terlihat lebih tertekan.
Hakim meminta kesaksian dari Regitta.
Regitta berdiri dan mulai bicara, "Saya Komisaris Polisi, Regitta Agustiani Nasution, membuka kembali kasus Jidan Anggara yang sempat ditutup tanpa penjelasan beberapa tahun silam. Dengan bukti terkait, pembunuh sebenarnya dari Jidan Anggara adalah Robi Hardianto, rekannya. Ketika dalam tekanan para penjahat, Robi menembak kepala Jidan. Buktinya pengakuan Robi ada pada rekaman suara yang saya pegang ini. Dengan berdalih tidak bisa membawa Jidan dalam keadaan selamat, keempat polisi itu kembali dengan membawa jenazah Jidan. Keempat polisi tersebut adalah Robi Hardianto, Haris Juha Prawira, Erwin Tamborang, dan Dani Suhardi..."
Tiva menunduk, ketika nama ayahnya disebut.
"... Jidan dimakamkan di pemakaman umum, padahal seharusnya dimakamkan di makam pahlawan (khusus polisi), itu tidak adil untuk keluarga Anggara. Selain itu, keempat polisi tadi selama hidupnya mendapat suap dari para penjahat yang pernah menyandera mereka untuk tutup mulut. Dengan kebenaran ini, saya tutup kasus Jidan Anggara, mulai besok, jenazah Jidan Anggara akan dipindahkan ke makam pahlawan."
Mendengar penjelasan Regitta, semua orang sangat terkejut.
"Yang mulia, ada kesaksian khusus dari putra mendiang Jidan Anggara," sambung Regitta.
Hakim mengangguk.
Tiva melihat Pradif yang melangkah menuju ke depan untuk memberikan kesaksian.
Pradif menghela napas panjang kemudian mengeluarkan suaranya, "Saya Pradifta Fernaldi Anggara, putra dari Jidan Anggara yang dimaksud..."
Regitta duduk di samping Fernan. "Kasus ini akan berakhir. Kita bisa bernapas lega dan berkencan."
Fernan tertawa.
"... mengenai kesaksian Komisaris Regitta, aku sudah mengetahuinya sejak lama. Sebelumnya aku sudah memohon pada polisi untuk membuka kasus ini, tapi tidak ada yang mendengarkanku..."
Tiva merasa sedih mendengar ucapan Pradif. Regitta juga merasa bersalah untuk itu.
"... aku mencari solusi sendiri, bagaimana caranya agar kasus ayahku dibuka kembali dan pembunuhnya diadili sesuai hukum yang berlaku. Aku sangat terpukul. Namun, aku merasa senang, ketika komisaris Regitta bersedia membuka kasus ini kembali."
Regitta mendecih.
"Seperti yang dikatakan Komisaris Regitta pada saat jumpa pers beberapa minggu lalu, Haris, Erwin, dan Dani dibunuh oleh orang yang sama dan pembunuhnya sudah meninggal. Lalu... siapa yang membunuh Robi?"
Regitta membulatkan matanya. "Kesaksian macam apa itu, dia bilang dia akan mengakui pembunuhan itu."
Bayu berbisik pada Regitta. "Jika saja waktu itu Komisaris tidak mengadakan jumpa pers, Pradif tidak akan mengatakan hal yang sama. Selain itu, jika Pradif mengakuinya, maka media akan menganggap polisi mengubah-ubah laporan."
Regitta bungkam.
"Saya Komisaris Jenderal Pradifta Fernaldi Anggara akan menyelidiki kasus Robi dan berusaha semaksimal mungkin untuk menangkap pembunuhnya."
Tiva tersenyum sambil bertepuk tangan. Pradif tersenyum padanya.
Bayu melirik Tiva dan Pradif bergantian.
◈◈◈
18.15 | 14 September 2019
By Ucu Irna Marhamah