
Suriah.
Masih di dalam Mansion.
Jhose mengedarkan pandangannya menatap pada sekeliling, Tidak ada siapapun di ruangan ini.
Sebelum nya Ia telah mengirimkan pesan pada Jen
"Aku membutuhkan bantuan mu."
"Masuklah ke kamarku. Setiap sudut ruangan terdapat cctv kecuali kamar ku, kamar mandi juga hal pribadi milik paman Mike."
Cklek..
Jhose membuka pintu kamar Jen. Kemudian menutupnya perlahan.
"Untuk apa kau memata matai keluarga ku."
Jhose terkesiap ketika Jen tiba tiba mendorongnya hingga membentur dinding dan memukul dada nya.
"Kau jahat,! Kau sama saja seperti mereka! Kalian selalu menganggap kami kriminal."
Memukul lagi dan lagi.
"Bisa bisa nya aku menyukai pria jahat seperti mu. Dasar pria tidak berperasaan."
Menyukai ku?
"Kau jahat!! Pergi kau dari kehidupan ku."
Jhose tidak bergeming, bahkan Ia menerima semua kemarahan dari Jeniver.
"Aku hanya menjalankan tugas, jika Mike tidak terbukti maka dia akan lolos dari hukum."
Jhose menarik Jen masuk kedalam dekapannya.
"Pergi kau dari sini, untuk apa memeluk ku. Aku membenci mu Jhos."
Berkata sambil menangis dan mempererat pelukannya.
"BODOH"
Semakin mempererat pelukannya. Meresapi rasa rindu yang menyeruak di hati.
"Pergi kau dari sini."
lirih Jen.
"Tapi, Bawa aku bersama mu"
"Aaa..."
Mengeraskan tangisan nya.
"Ssstttt, Pelankan suaramu. Kau bisa membuat mereka datang kemari."
Mengusap lembut rambut panjang Jeniver.
"Bawa aku bersama mu Jhose."
"Sssttt Pelankan suara mu."
"Kau tenang saja, aku sudah memasang alat peredam suara dikamar ini."
"Sejak kapan,?."
Jhose berkerut dahi.
"Sejak kau keluar dari kamar ku waktu itu.
"Apa kau diam diam menunggu ku datang lagi?."
Seringai menggoda muncul disana.
"Diam?!Aku hanya yakin suatu saat nanti kau akan kembali. dan itu terbukti kan?."
Jen melepaskan pelukannya.
Jhose melangkah mendekati ranjang dan tiba tiba melompat ke atas ranjang.
"Nyaman sekali."
Krek.. Krek..
Meregangkan otot-otot nya.
"Apa yang akan kau lakukan?!."
Pekik Jen sambil berkacak pinggang.
"Aku hanya ingin tidur."
Berkata sambil melihat arloji.
"Kita memiliki waktu lebih dari 30 menit."
"Ini lah yang kau sebut bantuan? hanya tidur,?!."
Jhose tergelak,
"Apa kau ingin aku tiduri?."
"What??."
"Tidak,!."
Melengos memalingkan wajah.
"Hahaha"
Tubuh Jhose bergetar. Ia tutupi tawa nya di bawah bantal. Jhose terbahak-bahak di sana.
Aaa Kau imut sekali Jhose
Jhose berhenti tertawa saat tiba tiba tangan Jen berada di perutnya. Ya, Jen naik keatas ranjang dan memeluk nya, Entah sejak kapan Jen telah berbaring disebelah Jhose.
"Jen?Apa yang kau lakukan?!"
"Diam lah, Aku hanya ingin memelukmu."
Jhose mengembalikan bantal di posisi nya semula. Meringsut menghadap Jen kemudian menenggelamkan wajah Jen di dada nya.
Jen mendengar debaran dada Jhose.
Pria ini sungguh sedang menahan diri.
"Kau sungguh merindukan aku?."
Berkata sambil mengusap rambut Jen.
"Aku sudah melupakan mu sekarang."
Semakin memperkuat pelukannya.
"Oh ya?."
Senyum samar muncul di bibir Jhose.
Buktikan Jen, lupakan aku jika memang kau bisa.
"Kau tidak usah menggoda ku Jhos. Jangan salahkan aku jika tiba tiba menyerang mu."
"Oh ya? Maka lakukan lah. Aku menantikan mu lho."
Jhose tergelak lagi hingga tubuhnya bergetar tertawa lagi.
"Jangan menertawakan ku!."
Jen mendorong tubuh Jhose.
Mata Jen membelalak ketika tubuh kekar itu mendekap nya. Menenggelamkan di Bahu Jen melepas lelah.
Jen terbawa suasana, mengusap rambut Jhose dan punggungnya Disana.
"Tidurlah Jhos"
Aku jadi ingin menangis lagi kan?
De..sa..Han nafas Jhose Terdengar. Ia benar benar terlelap sekarang.
"Jika kau terus begini. jangan salahkan aku jika ingin terus memiliki mu."
Mata Jen perlahan ikut memejam. Terdapat jurang yang sangat dalam untuk hubungan mereka. Jhose tidak ingin menyakiti Jen di kemudian hari. Itu sebab nya Ia berusaha menahan diri.
"Nona Jen, Nona Jen"
Jen terkesiap ketika seorang pelayan wanita membangunkan nya.
Astaga Jhose?!
Jen terbangun dada nya berdebar.
Ia menatap sekeliling.
"Kemana dia?."
"Ada apa nona"
Dua pelayanan wanita itu saling pandang.
"Kalian mengagetkan saja."
"Sudah waktunya untuk makan malam."
Pelayan berkata dengan ramah.
"Baik lah, tunggu aku dibawah."
"Baik lah nona."
Pelayan membungkuk kemudian berlalu dari dari kamar Jen, menutup pintu perlahan.
***
Mia mengenakan bathrobe milik Mike berlari menuju kamar belakang dengan membawa pakaian basah yang baru saja Ia tanggalkan tadi. Menutupi wajah yang Semerah tomat yang Ia bawa lari karena sungguh terbawa suasana.
Mike mengulas senyum mengusap bibir nya.
"Kita akan menikah Mia, secepat mungkin."
Mia Mengutuki kebodohan nya di dalam kamar. Menatap cermin memperlihatkan tanda kepemilikan yang Mike ciptakan Tadi.
"Bagaimana bisa sampai keterusan begini sih?."
"Aku jadi benar benar menikmati nya kan. Bagaimana jika aku semakin menyukai nya?."
Bergumam di depan cermin.
Otak mesum, menyingkir lah..
Mia bergumam sambil terus mengoles krim di leher nya menyamarkan tanda tanda itu.
Sial! Tetap terlihat kan? Mike sangat kurang kerjaan! Apa yang akan dikatakan Jen nanti
Seperti biasa, di jam makan malam para pelayan sibuk dengan aktifitas nya. Menyiapkan makan malam dirumah utama juga untuk para bodyguard di rumah belakang.
"Kau orang baru ya?."
Salah seorang Bodyguard bertanya pada Jhose sambil menikmati hidangan makan malam mereka.
"Benar senior."
"Siapa nama mu?."
"Lexy."
"Bekerjalah dengan baik. Kau disini mendapatkan gaji 3x lipat dari pekerjaan mu sebelumnya."
"Mohon bimbingannya senior."
Sedikit membungkuk disana.
"Nikmati lah makanan mu. Besok ikut aku ke markas?."
Menepuk bahu Jhose.
Markas?
Disisi lain, Jen melangkah menuruni tangga mendekati meja makan.
Hanya Mike dan bodyguard setia nya yang duduk disana.
"Dimana Mia?."
Bertanya sambil menarik kursi kemudian duduk di sana.
"Maaf aku terlambat."
"Ah, tidak apa-apa Mia. Semua nya selamat makan..."
Mike mengulas senyum disana, Ia tutupi senyumnya dengan tangan.
Kau pasti sedang menertawakan penampilan ku!
Shal sialan?! Mengapa warna nya harus pink sih! Memalukan!
Mia memajukan bibirnya mengumpat dalam hati.
"Jika terus mengumpat, kau akan kehilangan selera makan mu."
Berkata dengan lembut kemudian mendekatkan wajahnya pada Mia. Melepas syal
nya kemudian melemparkan kesembarang arah.
A.. kenapa di lepas
Mia, lehermu! Jen berteriak dalam hati sambil menatap Sam yang menjawab dengan mengherdikan bahu.
"Jen, Paman akan segera menikah."
Meraih tangan Mia dan mengecup nya.
"Menikah?."
Jen terperangah.
Begitu juga dengan Mia, Mata nya berkaca kaca.
Jen menatap Mia.
"Kau hebat Mia, apa yang kau perbuat hingga pamanku jatuh cinta pada mu."
Jen bangkit dari duduk nya, Memeluk Mia kemudian.
"Selamat Mia, Tuhan memberkati mu."
"Terimakasih Jen."
Mia melepaskan pelukannya.
Maka berhentilah dari dunia hitam mu, dan memulai semua yang baru bersama Mia calon istri mu
Jen bergumam dalam hati.
-
Next