The Police

The Police
5. Regitta Agustiani Nasution



 


 


 


 


Seluruh polisi mengenakan seragam kebanggaan mereka. Di makam pahlawan, mereka berbenjer menghadiri upacara pemakaman detektif Haris dan Komisaris Erwin.


 


 


Pertama kali Tiva memakai seragamnya. Jika seragam ini lebih sering digunakan untuk menghadiri upacara pemakaman, rasanya sangat menyakitkan. Lebih baik aku memakai pakaian biasa dan tidak merasa terbebani dengan semua ini.


 


 


Regitta tidak kuasa untuk tidak menunduk. Dia melepaskan topinya. "Aku akan menangkap orang itu, Pak."


 


 


Komisaris Erwin adalah seniornya yang telah melatihnya dan membuat Regitta menjadi komisaris juga menggantikan posisi Erwin sendiri.


 


 


Detektif Haris juga sangat baik padanya selama menjadi polisi junior di kantor. Regitta merasa terpukul dua kali.


 


 


Tiva turut melepaskan topinya. "Kita harus menangkapnya, Komisaris."


 


 


Regitta mengangguk.


 


 


Selesai pemakaman, Regitta duduk di mobil dengan pintu terbuka. Ada rokok yang menyala terselip di bibirnya.


 


 


Fernan menghampirinya. "Masih merokok?"


 


 


"Kau pikir, aku akan berhenti merokok?" Regitta balik bertanya.


 


 


"Rokok tidak akan membuatmu merasa tenang, satu Batang rokok akan memperpendek umurmu, Komisaris Regitta."


 


 


Regitta mendelik Fernan. "Aku yakin, pembunuhnya memiliki dendam terhadap detektif Haris dan Komisaris Erwin. Dia membunuh dengan begitu kejam."


 


 


"Ya sudah, kenapa kita tidak membicarakannya di briefing saja?"


 


 


Regitta melirik Fernan. "Aku ingin membicarakan ini denganmu dulu. Tidak ada yang aku percaya selain dirimu di kantor."


 


 


Fernan tersenyum. "Seharusnya kau mempercayai seluruh bawahanmu."


 


 


Sementara itu, Tiva dan Bayu sedang duduk di kursi taman sambil merokok.


 


 


"Aku melihat wajahnya, aku akan membuatnya masuk penjara," kata Tiva.


 


 


Bayu melirik Tiva. "Tidak perlu repot-repot, kita punya darah pelaku. Tim forensik sedang mengurusnya."


 


 


Tiva menghela napas berat. "Aku tidak melakukan apa-apa di kasus pertamaku. Tidak berguna."


 


 


"Jangan bilang begitu, kau nyaris menangkapnya, Tiva."


 


 


"Iya, cuma nyaris."


 


 


Bayu menepuk bahu Tiva. "Ini bukan salahmu, kau sudah berusaha. Aku dan Fernan juga tidak berhasil menangkapnya. Kita semua akan menangkapnya."


 


 


Di apartemen,


 


 


Tiva melepaskan seragamnya. Dia mandi dan berganti pakaian. Mendengar suara pintu diketuk, Tiva tersentak. Dia mengambil pistol dan keluar dari walk in closet.


 


 


Gadis itu mengendap ke pintu utama. Dia mengintip lewat lubang pintu, ternyata seorang polisi paruh baya. Gadis itu menarik pintu. Tiba-tiba pria paruh baya itu memeluknya.


 


 


"Tiva, kau tidak apa-apa, Nak?" Ya, dia adalah Dani Suhardi, ayahnya Tiva.


 


 


Tiva tersenyum sambil membalas pelukan ayahnya. "Aku tidak apa-apa, Pa."


 


 


Dani melepaskan pelukannya. "Jaga dirimu baik-baik, penjahat itu sepertinya mengincar polisi. Rekan-rekan Papa diincarnya, Haris, Erwin, mereka sudah meninggal."


 


 


Tiva mengusap lengan ayahnya. "Aku baik-baik saja, Papa juga harus menjaga diri."


 


 


Dani mengangguk.


 


 


"Mereka orang yang sangat bersalah, termasuk ayahmu, Dani Suhardi." Tiva teringat dengan kata-kata pria itu.


 


 


"Papa."


 


 


Dani menoleh. "Apa, Sayang?"


 


 


"Apakah Papa tidak berbuat jahat di masa lalu?" Tanya Tiva.


 


 


Dani terdiam sesaat. "Kenapa kau bertanya begitu?"


 


 


Tiva menunduk kemudian menggeleng.


 


 


"Papa harus pergi, jaga dirimu." Dani mengusap rambut Tiva dan mengecup keningnya kemudian berlalu.


 


 


Di kantor,


 


 


Regitta dan Fernan sedang berbicara dengan ketua tim forensik.


 


 


"Rizal, berapa lama lagi kita akan mendapatkan hasil dari sampel darahnya?" Tanya Regitta.


 


 


"Jam 2 siang saya akan memberikannya hasilnya kepada anda, Komisaris," jawab Rizal.


 


 


 


 


Setelah berbicara dengan Rizal, Regitta dan Fernan duduk di depan komputer.


 


 


"Pembunuhnya mengincar polisi generasi keempat, aku rasa ini ada alasannya. Kita harus mengecek lagi kasus tahun di mana mereka masih aktif." Fernan membuka link.


 


 


Regitta menganggu. "Tahun 1999 sampai tahun 2010."


 


 


Pria bertopi memasuki ruangan forensik dengan menyelinap melalui jendela. Beberapa polisi di ruangan itu berkelahi dengannya. Pria itu melihat komputer yang sedang mengidentifikasi darahnya yang mereka temukan di tempat kemarin.


 


 


Komputernya berbunyi, menandakan jika darah tersebut sudah teridentifikasi.


 


 


"Masalah dengan gangster Singapura," baca Fernan.


 


 


"Setahuku, memang itu satu-satunya kasus besar selama 10 tahun terakhir itu, setelahnya tidak ada kasus besar lagi," kata Regitta.


 


 


Fernan menuju ke halaman berikutnya. Ada banyak foto polisi di sana.


 


 


"Itu foto mereka ketika muda," kata Regitta.


 


 


"Yang bertugas memecahkan kasus ini adalah... pak Haris Aryandi, pak Erwin Situmorang, pak Robi Galiyan, Komisaris Dani Suhardi, dan...."


 


 


Terdengar suara keributan dari ruang forensik. Kedua orang itu menoleh.


 


 


"Sepertinya ada penyusup." Regitta dan Fernan segera menuju ke ruangan itu.


 


 


Mereka meninggalkan layar komputer yang menyala, di mana terdapat foto polisi dengan nama Jidan Anggara.


 


 


Pria bertopi mendekati komputer dan melihat fotonya muncul dengan seragam polisi. Ada nama Pradifta Fernaldi Anggara di bawahnya. Pria itu mengambil sampel darahnya dan menghancurkan komputer tersebut.


 


 


Mendengar suara langkah kaki menuju ke ruangan tersebut, Pradif segera melompat ke jendela dan melarikan diri.


 


 


-


 


 


Tiva merasakan tidak tenang. Dia sangat mencemaskan ayahnya. Ada firasat buruk yang menghantui pikirannya. Tidak biasanya Dani bersikap baik, ucapannya tadi terdengar seperti sedang mengatakan kata-kata terakhir.


 


 


Tiva segera berlari menyusul ayahnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada panggilan dari nomor tak dikenal.


 


 


"Halo?"


 


 


"Ayahmu sudah keluar dari apartemenmu?"


 


 


Deg!


 


 


Tiva menatap ke sekeliling.


 


 


"Aku mengincarnya!"


 


 


Tut, tut, tut, tut.


 


 


Tiva berlari menuju ke lift, tapi lama. Dia memilih untuk menuruni tangga.


 


 


-


 


 


Regitta menengok ke jendela. Dia melihat pria bertopi berlari di atap.


 


 


"****, I will kill you!" Regitta keluar lewat jendela dan mengejar Pradif.


 


 


Fernan menyusulnya. Regitta meloncat dan menendang punggung Pradif. Pria itu terhuyung dan berbalik melawan Regitta, ternyata perempuan itu memiliki pertahanan yang lebih kuat dibandingkan Nativa. Pradif menurunkan topinya agar menutupi wajahnya.


 


 


Fernan mengambil borgol dan menerjang dada Pradif. Perkelahian dua lawan satu pun terjadi.


 


 


Meskipun kemarin Pradif mendapatkan luka tembak, dia mampu menandingi 2 orang polisi itu.


 


 


Regitta membelit leher Pradif dengan kedua kakinya. Pria itu jatuh bersama Regitta. Pradif menendang perut Regitta, tapi kakinya berhasil ditahan Regitta. Fernan menahan pergerakan kedua tangan Pradif.


 


 


"Sial, kau ini punya tenaga dari mana?!" Fernan memborgol tangan Pradif, tapi dengan cekatan Pradif memutar tangan Fernan dan memborgolnya kemudian borgol sebelahnya di kuncikan ke tangan Regitta yang sedang menahan kakinya.


 


 


"*******! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Regitta.


 


 


"Bukan kalian yang berhasil menangkapku, tapi aku yang berhasil mengalahkan kalian," kata Pradif sambil menendang mereka berdua kemudian segera lari.


 


 


Fernan dan Regitta jatuh berguling di atas atap. Mereka berdua segera berpegangan ke pipa air.


 


 


"Sialan! Bagaimana bisa dia mengalahkan kita?!" Gerutu Regitta.


 


 


"Dia berkelahi seperti seorang polisi," gumam Fernan.


 


 


Regitta mencerna ucapan Fernan.


 


 


◈◈◈


 


 


18.35 | 10 September 2019


By Ucu Irna Marhamah