
Armada Besi menerbangkan Jhose meninggalkan negara El Salvador menuju kota London negara Inggris.
Jhose keluar dari Airport melangkah lebar sambil melihat arloji di pergelangan tangan kiri dan menarik travel bag dengan tangan kanan nya.
Tidak ada yang menyambut nya kali ini berbeda dengan sebelumnya.
Masuk kedalam taxi online yang membawa nya meninggalkan bandara.
Jhose memijat pelipisnya sampil menyandar di sandaran. Menoleh kearah samping kaca yang terlihat gedung gedung klasic kota itu. Pandangan nya lurus kedepan, namun ingatan nya melanglang buana hingga El Salvador.
"Baru belasan jam saja aku sudah merindukan nya."gumam Jhose dalam hati.
Sedikit geli, Sebab Ia tidak pernah serius dengan wanita. Hanya datang dan pergi begitu saja tanpa ada rasa mendalam di dalam hati.
Jhose membuka ponsel nya. Ponsel pribadi yang beberapa bulan Ia matikan hanya sesekali dinyalakan ketika berada di dalam kamar Jeniver dan sekarang Ia nyalakan kembali.
"Jhose, kau sudah sampai?" Beberapa pesan masuk dari Jeniver.
" Jhose kau sudah makan? "
"Jhose, aku merindukan mu."
"Jhose???"
Jhose mengulas senyum, padahal hanya begini saja membuat hati nya senang.
***
Mobil membawa nya menuju markas besar ICPO-Interpol yang berpusat di kota London. Jhose Keluar dari mobil melangkah lebar menuju ke dalam gedung itu.
Sambutan hormat dari para anggota nya saat Ia baru saja masuk. Menuju ruang kerjanya melewati rekan nya yang semua nya sibuk dengan tugas menangani kasus masing masing.
Bersama anggotanya mereka bekerja sama, Sebagai anggota organisasi aparat internasional yang jauh lebih mementingkan pekerjaan dan tugas nya, terkadang terkesan lalai pada diri sendiri bahkan keluarga nya masing masing.
Ada diantara mereka yang bahkan menjomblo hingga usia tidak lagi muda, demi mengemban tugas tugas yang tidak mudah menangani kasus taraf internasional.
Ada pula yang saling jatuh cinta dengan rekan seperjuangan. Ada pula yang sudah hampir tiga tahun tidak kembali ke negara asal menjenguk anak dan istri disebabkan tugas nya yang hingga hari ini belum terselesaikan.
Jhose masuk ke ruang kerja nya. Kursi kebanggaan nya yang lama Ia tidak duduki.
Jhose duduk menyandar pada sandaran, kemudian mengeluarkan berkas berkas yang sejak tadi berada dalan tas nya di tangan kiri nya bertengger.
Mempelajari yang ia dapat dari Suriah hingga El Salvador. Hening suasana di ruangan itu hanya terdengar bunyi jarum jam di ruangan itu berputar.
Jhose mengeluarkan ponsel nya dari dalam laci meja kerja. Sudah sangat lama Ia mengabaikan ponsel itu semenjak penyamaran nya sebagai Lexy.
"Ken." Jhose mengetik pesan.
(" Belum ada pergerakan yang mencolok dari target Mr." balas Kenzo melaporkan.
" Lanjutkan!." Jhose membalas.
("Siap Mr." Kenzo membalas lagi)
Jhose menghela sambil menyandar di sandaran. Membuka laptopnya kemudian mulai mengerjakan sesuatu.
***
Malam semakin larut, Jhose baru saja keluar dari kantor. Pekerjaan hari ini cukup menyita waktu hingga partemuan nya dengan atasan.
Dengan mobil sport kesayangan nya Ia melaju kan mobil
melewati indahnya kota London di malam hari. Terus melaju jauh keluar menuju pinggiran kota hingga sampai
di tempat yang selalu Ia rindukan, rumah yang tidak pernah berbeda
dengan hari ini pun tetaplah sama.
Namun
Ada rasa Ia ingin membawa Jeniver bersama, memasuki rumah ini bersama saling menggenggam.
Sorot lampu mobil masih menyala, Jhose belum juga beranjak keluar dari mobil. Helaan nafas nya masih terdengar sambil
mengetuk ketuk kan jari nya disana
Suasana rumah yang sepi, Tentu saja penghuni nya sudah meringkuk di dalam peraduan dingin nya malam yang bersalju.
Rintik butiran putih mulai turun dari langit, menyentuh kaca mobil membuat semua menjadi buram.
Masih di dalam mobil hingga beberapa waktu belum juga beranjak.
Jhose mematikan pendingin mobil, hembusan nafas nya telah berasap. Jhose mulai menaikkan kaca
mobil nya, Membuka pintu mobil kemudian keluar dari mobil nya.
Dengan Blazer jumbo berbulu Ia keluar, udara dingin semakin menusuk di kulit kala salju telah benar benar turun. Tangan Jhose Ia masukkan kedalam kantong Blazer Sambil melangkah menerjang salju yang turun tertiup angin.
Jhose menekan tombol bell nya, belum ada penghuni rumah yang terbangun hingga beberapa kali
Ia menekan tombol bell yang ada di samping pintu.
Tidak lama sang penghuni rumah terbangun, terlihat dari kaca yang tadinya tampak gelap munjadi terang.
Sepertinya lampu ruang tamu di nyalakan.
Ceklek.
Suara kunci rumah yang di putar.
Bukan Elis yang keluar seperti harapan. Namun Ibu nya, Glory yang mengintip di sela sela pintu kemudian membuka nya setelah sadar siapa yang datang.
"Jhose, Kau kembali?." Secepat itu Glory memeluk putranya. Putra kebanggaan yang sering membuatnya kesal.
Bukan lagi pukulan sapu atau sandal yang menyambut nya, tapi pelukan hangat seorang Ibu pada puta nya.
"Anak bodoh! Mengapa pergi lama sekali? Tidak pernah kau mengabari meski hanya sekedar mengetik pesan
Aku ibu mu, khawatir jika yang datang bukan kau namun surat kematian." Ujar Glory menangis seketika mengusap air mata nya.
"Bu" Jhose melepaskan pelukannya, "Tidak usah cemaskan aku. Aku baik baik saja." Ujar Jhose sambil mengecup kepala Ibu nya.
"Ayo masuk, udara sangat dingin, aku buatkan sup untuk mu." menarik tangan Jhose mengajak nya masuk kedalam kemudian menutup mengunci pintu.
"Aku merindukan sambutan sandal mu daripada perlakuan baik. kau tidak seperti biasanya." Ujar Jhose sambil melewati ibu nya. Menuju dapur kemudian menarik kursi di depan meja makan dan duduk disana.
"Dasar anak nakal!! Anggap saja suasana hati ku sedang senang." Glory meninggikan suara sambil menuju dapur membuat sesuatu.
Dentingan alat alat dapur mulai terdengar, Glory sungguh memasak untuk Jhose tengah malam begini.
Jhose mengulas senyum, Glory akan lebih bahagia jika dia membawa Jen kemari. Baru membayangkan saja rasanya menyenangkan. Duduk bersama sambil berbincang.
Menikmati kalkun kesayangan Glory meski rasanya tidak begitu enak.
Tidak lama semangkuk sup hangat tergeletak di meja. "Makan lah selagi panas, ini akan menghangatkan tubuh mu."
Jhose berkerut dahi. Tidak biasanya Glory bersikap begitu pada nya, Biasanya Elis yang melakukan nya, bahkan Elis selalu bersikap jauh melebihi Glory ibu kandungnya.
"Kau sedang tidak salah makan kan?." Jhose berkerut dahi kemudian meniup sup dan menyuapi mulut nya.
"Dasar anak bodoh!" Maki Ibu nya. "Anggap saja aku sedang berbelas kasihan pada mu." Melipat tangan di dada sambil menyandar di kursi dihadapan Jhose.
"Beberapa waktu lalu kakak mu kemari, Sebab itu suasana hati ku menjadi senang dan sadar jika aku merindukan mu. Aku baru sadar jika putra ku ada dua." Menggaruk pelipis nya yang tidak gatal.
"What?!." Jhose berkerut dahi.
Glory malah tertawa. "Maaf Jhose, aku hanya bercanda."
Meski dalam hati nya tidak sedikitpun berniat membedakan, namun kakak nya Jhose lah yang lebih dominan dengan sifat mendiang ayah nya.
"Ibu, kau pasti sangat merindukan suami mu."
-
-
..Next