
Pria bertopi mengelap cipratan darah di wajahnya. "Darah kotor ini menodai wajahku."
Seseorang menodongkan pistolnya ke kepala pria itu. Ternyata Tiva. "Menyerah dengan baik-baik, atau kau menyesal."
Pria itu mengangkat kedua tangannya dan berdiri. Dia berbalik menatap Tiva sambil tersenyum. Wajahnya sangat tampan membuat Tiva terpesona.
Ketika lengah seperti itu, dia menendang tangan Tiva, pistolnya jatuh ke bawah. Gadis itu segera memberikan perlawanan. Mereka berkelahi di atap.
Fernan dan Bayu muncul. Mereka belari ke arah Tiva dan pembunuh itu.
Bayu menembak ke udara. "Menyerah sekarang juga, atau kami menyeretmu dengan paksa!"
Pria itu mendorong Tiva untuk melarikan diri.
"Aaaaa!!!" Tubuh Tiva akan jatuh dari atap, tapi pria itu menarik tubuh Tiva dan mendudukkannya lalu kabur.
Dor!
Dor!
Dor!
Fernan menembak dengan membabi buta. Bayu berlari mengejarnya. "Tidak akan aku lepaskan!"
Fernan membantu Tiva berdiri. "Tunggu di sini!"
Tiva menatap punggung Fernan yang berlari menjauh darinya. "Berengsek, aku ini polisi, bukan anak bawang yang tidak bisa ikut permainan!"
Pria bertopi menghentikan langkahnya ketika dia berdiri di tepi gedung. "Damn."
Dia melihat Bayu sudah di belakangnya. Pria itu nekat melompat ke gedung seberang.
Bayu menodongkan pistolnya. Dia berhasil menembak kaki pria bertopi. Namun, itu tidak menghentikan aksinya. Pria itu berlari di gedung seberang walau agak pincang.
Bayu menghentakkan kakinya kesal. Fernan berlari akan mengejar, tapi langkahnya terhenti di tepi gedung.
"Ah, sialan!" Maki Fernan.
Bayu mendelik kesal pada ketuanya. "Makanya aku tidak bisa mengejar dia."
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berlari dari belakang mereka. Kedua polisi itu menoleh, ternyata Tiva.
"Minggir kalian, sialan!" Teriak Tiva.
"Jangan!"
"Tidak!"
Tiva melompat dan dia berhasil mendarat di gedung selanjutnya dengan berguling. Fernan dan Bayu melongo.
Tiva bangkit sambil menepuk pakaiannya. "Inilah yang disebut dengan film action."
Gadis itu kembali berlari sambil sempoyongan. "Sialan, ternyata badanku sakit sekali. Apa aktor film action dibayar mahal untuk ini?"
Fernan mundur lalu mencoba melompat meniru Tiva, tapi dia selalu berhenti di tepi gedung. "Kenapa ini sulit?"
Bayu memutar bola matanya. "Kita lewat tangga saja, tolonglah... kita manusia normal, bukan Spiderman."
Tiva melihat jejak darah. "Bayu berhasil menembak pria tampan itu. Dia pasti tidak jauh dari sini."
Pria bertopi sedang bersembunyi di balik toren besar. Pria itu mengambil pisau dan mengeluarkan peluru dari betisnya.
"Hhh, sialan. Di film action, seseorang masih bisa berlari meskipun ada 3 luka tembakan di tubuhnya. Realitanya ini sakit sekali, *****."
Tiva melihat darah itu menuju toren. Dia menelan saliva. Tangannya mengepal. Dia tidak memegang senjata apa pun, karena pistolnya tadi jatuh.
Gadis itu melangkah mendekati toren. Pria bertopi menyadari keberadaan seseorang yang sedang menuju ke arahnya. Dia mengeratkan pegangannya pada pisau tersebut.
Tiva semakin dekat, tiba-tiba pria itu muncul dan melayangkan pisaunya. Tiva mengambil borgol dan menjadikannya pelindung tangan untuk meninju.
Pria itu tersenyum mendengar Tiva yang menyebutnya tampan. "Terima kasih, kau juga cantik dan... seksi."
Tiva melotot. "Hei! Kau akan aku tuntut karena melecehkanku dengan verbal!"
Beberapa kali Tiva berhasil memukul pria itu dengan kepalan tangannya yang dilingkari borgol. Pria itu sedikit terhuyung.
"Karena kau melihat wajahku, aku harus membunuhmu." Pria itu menodongkan pistolnya ke dahi Tiva. Pria itu menarik pelatuknya.
Dor!
Tiva tersenyum, karena dia memiringkan kepalanya. Dengan segera, dia memeluk tubuh pria itu dan membantingnya.
Pria bertopi meringis. Tidak mau kalah, dia membelit kaki Tiva dan membuatnya jatuh. Gadis itu beteriak. Pria itu bangkit sambil sempoyongan, Tiva segera bangun dan menendang betis pria itu.
"Kau pikir, aku mau menyerah?!" Tiva meringkus kedua tangan pria itu ke belakang. Gadis itu membuka borgolnya, tapi pria bertopi berputar dan menukar posisi mereka. Pria itu menguncikan borgol ke tangan Tiva. Merasa terancam, Tiva kembali melawan. Pria itu membelitkan borgolnya ke pipa gas. Dan mengunci tangan Tiva yang satunya.
"Kau tarik tanganmu, kau akan menjadi tahu rasa, gadis nakal," bisik pria bertopi.
"*******, kau!" Teriak Tiva.
Pria bertopi hitam itu menepuk pantat Tiva. "Sialan, gadis ini. Tadi menyebutku tampan, sekarang mengataiku."
"Jangan meraba tubuhku, *******, Berengsek!" Teriak Tiva.
"Kenapa? Apa kau masih perawan? Kau takut?" Tanya pria itu sambil menepuk pantat Tiva sekali lagi.
Gadis itu menggerakkan kakinya untuk menendang pria itu, tapi pipanya akan lepas. Dia harus berhenti untuk keselamatannya.
Pria itu mengusap rambut panjang Tiva. "Seharusnya gadis muda sepertimu tinggal di dalam rumah yang hangat dan keluarga yang penuh cinta."
Tiva terdiam sesaat mendengar itu.
"Kau berasal dari keluarga yang broken home, ya? Jadi, kau melarikan diri dari rumah dan menjadi seorang polisi. Tiva menatap pria itu dengan tajam.
Pria itu tersenyum sambil menepuk bahu Tiva dan berlalu. "Aku kasihan padamu, jadi aku tidak akan membunuhmu, gadis manis."
Tiva meneteskan air matanya, ucapan pria bertopi itu sangat melukainya. "Bagaimana denganmu, *******! Kau yang tidak jelas asal-usulnya tiba-tiba datang dan membunuh korban dengan brutal! Mereka korban tak bersalah!"
Pria itu mendecih. "Mereka orang yang sangat bersalah, termasuk ayahmu, Dani Suhardi."
Tiva terbelalak. "Apa maksudmu, ********!"
Pria itu menghentakkan kakinya kesal. "Jangan mengataiku terus!"
Tiva terbelalak saat pria itu kembali. Gadis itu sangat ketakutan. "Katanya mau pergi, sana pergi!"
Pria itu tersenyum lalu menarik wajah Tiva dan menciumnya. Tiva membeku dalam ketakutan. Pria itu memperdalam ciumannya.
Fernan dan Bayu telah tiba. Mereka terbelalak melihat apa yang terjadi.
Pria itu melepaskan ciumannya kemudian mengelap bibir Tiva yang sedikit basah. "Mulut cantikmu perlu dikasih pelajaran."
Pria itu melompat, melarikan diri saat Fernan dan Bayu mengejarnya lagi.
Tiva merasa lemas. Dia jatuh terduduk. "Papa...."
Bayu kembali dan menghampiri Tiva. "Di mana kunci borgolnya?"
Tiva melirik saku celananya. Bayu dan Tiva saling pandang.
"Apa aku boleh mengambilnya?"
Tiva mengangguk.
◈◈◈
16.13 | 13 September 2019
By Ucu Irna Marhamah