The Police

The Police
6



 


 


 


 


Tiva berlari menuruni tangga. Dia memasukkan peluru ke dalam pistolnya.


 


 


Sementara itu, Dani sedang menunggu lift yang membawanya turun. Sesekali dia melihat jam tangannya.


 


 


Ponsel Tiva kembali bergetar. Gadis itu sampai duluan di lantai pertama. Dia melihat beberapa lift yang belum terbuka. Dengan sempoyongan, gadis itu bersandar pada dinding. Dia melihat ponselnya dan matanya terbelalak ketika melihat foto ayahnya di dalam lift.


 


 


Pembunuh itu sedang bersama ayahnya di dalam lift.


 


 


Pria bermasker di belakang Dani mengeluarkan suaranya, "Mantan Komisaris Dani Suhardi, apa selama ini kau hidup tenang?"


 


 


Deg!


 


 


Dani menoleh melihat pria itu. Pukulan keras menghantam wajah keriput Dani. Terjadi perkelahian di dalam lift.


 


 


-


 


 


Tiva melihat beberapa lift mulai terbuka. Dia mengarahkan pistolnya ke segala arah. Beberapa orang yang melihatnya membawa pistol berteriak dan berlarian ketakutan.


 


 


Tiva mencari lift yang belum terbuka. Dia melangkah dengan gegas. Ada 2 lift yang belum terbuka. Dia menunggu di depan kedua lift itu.


 


 


-


 


 


Pria bermasker membawa pisau dan menusuk perut Dani. Pria paruh baya itu meringis. Dia menendang ************ pria bermasker.


 


 


-


 


 


2 orang petugas keamanan menghampiri Tiva yang membawa pistol.


 


 


"Apa yang kau lakukan dengan pistol itu, Nona?"


 


 


Tiva menoleh. "Ada penjahat di dalam lift! Ada Papaku juga di sana!"


 


 


"Nona, anda menakuti orang-orang." Petugas keamanan itu membujuk Tiva.


 


 


"Aku polisi!"


 


 


"Mana buktinya?"


 


 


Tiva tidak sedang membawa name tag miliknya. Dua petugas itu meyeret Tiva. Gadis itu berontak.


 


 


Salah satu pintu lift terbuka, Tiva melihat beberapa anak kecil keluar. Gadis itu melihat ke satu-satunya lift yang belum terbuka. Dia meronta.


 


 


"Lepaskan aku, *******! Aku harus menolong Papaku!" Tiva mencakar mereka.


 


 


Pintu lift itu terbuka lebar, begitu pun dengan kedua mata Tiva yang melihat ayahnya jatuh tertekuk dengan darah segar mengalir dari lehernya. Ada pisau yang menancap di sana.


 


 


Pembunuh bermasker itu berdiri sambil menjambak rambut Dani. Ada cipratan darah di masker pria itu. Air mata Tiva sudah tidak terbendung lagi.


 


 


Tiva menarik kepala dua petugas itu dan membenturkannya. Gadis itu berlari dan menembak ke arah pria bermasker.


 


 


Pria itu berlari. Tiva akan mengejarnya, tapi dia memikirkan keselamatan Dani. Dia berlari menghampiri ayahnya. Beberapa orang yang ada di sana segera memanggil ambulans.


 


 


"Papa." Tiva menarik pisau itu dari leher Dani.


 


 


"Aaarrgghh!"


 


 


Gadis itu menekan luka di leher ayahnya, dia berusaha menahan darahnya agar tidak terus menerus mengalir.


 


 


"Ini salah Papa, Nak. Papa telah khilaf."


 


 


Tiva memeluk ayahnya. "Papa bertahanlah."


 


 


"Ada banyak kesalahan yang sudah kami perbuat di masa lalu. Sebelum semuanya terlambat, buka kembali kasus Jidan Anggara secepatnya."


 


 


Setelah mengatakan itu, Dani berhenti bernapas. Tiva mengguncangkan tubuh ayahnya. Dia mendekatkan telinganya ke dada sang ayah.


 


 


"Papa!"


 


 


-


 


 


Pria bermasker memasuki bus sambil mengganti maskernya. Dia juga membuka jaket dan kaosnya di depan umum.


 


 


Orang-orang tentu melihat padanya, terlebih lagi ada darah di pakaian pria itu. Dia mendelik pada orang-orang yang menatapnya.


 


 


"Apa yang kalian lihat?!"


 


 


Semua orang segera membuang muka. Pria itu membuang baju dan maskernya begitu saja ke jalanan.


 


 


Ponselnya berdering, ketika dia akan menelpon, sebuah kaki menekan lehernya hingga kepalanya terbentur jok bus.


 


 


Orang-orang di bus ketakutan, mereka menjauh dari dua orang itu, karena bus masih melaju.


 


 


 


 


Tiva meletakkan ponselnya ke telinga.


 


 


"Apa kau sudah membereskan mantan polisi itu?"


 


 


Tangan Tiva gemetar. "Iya, dia sudah mati."


 


 


"Siapa kau?"


 


 


"Aku pacarnya orang yang kau telepon."


 


 


"Oh, ****** cantik itu, ya. Aku akan mentransfer uangnya ke rekening pacarmu. Nilainya cukup banyak, kau bisa meminta bagianmu darinya."


 


 


"Terima kasih, aku akan bilang padanya. Anyway, bolehkah aku datang ke tempatmu? Di sini bosan." Tiva mencoba berakting.


 


 


"Kau nakal sekali, ya. Datanglah ke hotel La Nysca."


 


 


Pria itu mengambil pisau dari tasnya.


 


 


"Aku akan segera ke sana, tunggu aku." Tiva mengakhiri panggilannya.


 


 


Pria itu mengarahkan pisaunya ke kaki Tiva. Gadis itu meringis saat kakinya tersayat. Pria itu merebut ponselnya lalu berlari, Tiva menembak punggung pria itu hingga dia jatuh.


 


 


Dengan sisa kemarahannya, Tiva menginjak punggung si pembunuh.


 


 


"Siapa kau, *******?" Gadis itu menjambak rambut pria itu dan menarik maskernya.


 


 


Tiva terkejut, karena wajahnya berbeda dengan pembunuh yang kemarin.


 


 


Pria itu memukul wajah Tiva lalu nekat melompat keluar dari bus yang masih melaju. Pria itu jatuh berguling-guling di aspal.


 


 


Tiva melirik orang-orang di bus. "Suruh sopirnya menghentikan bus ini, aku cape jika harus melompat seperti aktor film action. Aku tidak dibayar untuk itu."


 


 


Mereka segera memberitahu sopir dan bus pun berhenti. Tidak hanya Tiva, semua orang di dalam bus berlarian keluar.


 


 


Pria itu berjalan terhuyung menjauhi keramaian. Dia menelpon nomor yang sama. "Halo, Bos... perempuan tadi adalah polisi... kalian harus segera pergi dari hotel itu."


 


 


"Apa?! Sialan!"


 


 


Dor!


 


 


Pria itu jatuh tersungkur saat Tiva menembak pahanya.


 


 


"Sialan, kau yang memaksaku melakukan ini, Brengsek!" Tiva menendang punggung pria itu hingga terkapar.


 


 


"Katakan, siapa kau?" Tiva menodongkan pistolnya.


 


 


"Kau seorang polisi, apa kau mau jadi pembunuh?"


 


 


Tiva menembak paha pria itu yang satunya lagi. "Kau sudah membunuh ayahku, kau yang memaksaku untuk menjadi seorang pembunuh."


 


 


Pria itu melemparkan ponselnya ke jalan raya, hingga ada mobil yang melindasnya. Tiva sangat marah. Dia menendang perut pria itu.


 


 


"Kenapa kau membunuh ayahku, *******!" Tiva berteriak kencang.


 


 


"Ayahmu yang *******, *****!" Pria itu menendang kaki Tiva. Gadis itu terjatuh sambil menangis.


 


 


"Tanpa persiapan, dia masuk ke markas bos dan menghancurkan semuanya. Dia mau diam, jika dia menerima uang untuk membesarkanmu! Itu juga yang dilakukan oleh Haris, Erwin, dan Robi!"


 


 


Tiva tercengang mendengar itu.


 


 


"Kau masih mau membela ayahmu?!"


 


 


Tiva menatap tajam pada pria itu. "Jadi, kau yang membunuh Om Haris dan Om Erwin?"


 


 


Pria itu menggeleng. "Ada orang lain yang membunuhnya. Itu sebabnya aku disuruh membunuh Dani, sebelum semuanya bocor!"


 


 


Tiva menautkan alisnya. "Siapa orang itu?"


 


 


Pria itu menggeleng.


 


 


Tiva memborgol tangan pria itu. "Ikut aku ke penjara, kau harus menjelaskan semuanya di sana."


 


 


Pria itu meronta dan berlari kabur ke jalanan. Dia tidak melihat ada truk yang melaju ke arahnya dan menabrak tubuhnya.


 


 


Tiva menutup matanya.


 


 


◈◈◈


 


 


19.31 | 15 September 2019


By Ucu Irna Marhamah