
Regitta dan Fernan berlari di koridor rumah sakit. Kedua tangan mereka masih terborgol. Mereka melihat Tiva yang terduduk lemas di ruang tunggu.
Fernan duduk di samping Tiva. "Maafkan aku."
Pria itu memeluk Tiva dengan lembut. Regitta mengalihkan pandangannya ke pintu kamar mayat. Perempuan itu menarik tangan Fernan. Pria itu melepaskan pelukannya dan bangkit mengikuti kemauan Regitta.
Mereka memasuki kamar mayat dan melihat tubuh Dani yang sudah terbujur kaku dengan luka di leher dan perutnya.
Regitta mengusap kasar rambutnya. "Tuhan, kenapa kau mengambil nyawa mereka."
Keesokan harinya, acara pemakaman mantan Komisaris Dani dilakukan. Tiva dicutikan beberapa minggu.
Setelah itu, para polisi bekerja lebih keras lagi. Mereka mendatangi hotel La Nysca dan menyelidiki ponsel yang dibawa Tiva. Meskipun sudah rusak parah, tim komputer berusaha memulihkan file.
Tim forensik, Rizal yang mengalami cidera kehilangan semua detail mengenai DNA pria bertopi, setelah penyusupan itu.
Regitta benar-benar terpukul atas kehilangan ketiga seniornya dalam jangka waktu yang begitu singkat. Dia merasa tidak becus menjadi komisaris baru di tempat itu.
"Tidak ada apa pun di hotel La Nysca, Komisaris, sepertinya mereka sudah kabur tanpa jejak."
Regitta tidak merespon, saat bawahannya melapor. Fernan memberikan kode pada polisi itu untuk pergi. Pria itu pun pergi.
Tiva memasuki ruangan dengan pakaian rumahan. Regitta dan Fernan menoleh.
"Aku akan ikut kalian untuk menyelidiki kasus ini," kata Tiva.
"Kau membutuhkan cuti. Ini baru hari keempat," kata Regitta.
"Aku tidak mungkin diam saja melihat ayahku meninggal dan dalangnya belum ketemu!" Teriak Tiva.
"Aku tidak ingin membahayakanmu, Nativa," kata Regitta penuh penekanan.
"Aku bukan akan kecil! Aku sudah siap dengan segala resikonya semenjak aku menginjakkan kakiku di kantor ini!"
Regitta mengangguk. "Baiklah, Nativa."
Semua tirai di ruang briefing ditutup. Rapat dimulai.
Regitta memulai pembicaraan, "Ini membuat kita benar-benar terluka. Sudah tiga orang polisi yang menjadi korban. Pembunuh itu masih berkeliaran di luar sana. Kita tidak tahu, apakah dia sendirian, atau berkelompok. Bayu dan Galih sudah memasang banyak CCTV di setiap penjuru Kota Bandung."
Terlihat beberapa jalanan di kota sudah dipasang CCTV. Mereka melihatnya lewat cahaya in focus yang diarahkan ke dinding.
Bayu menambahkan, "Pria itu bisa berkelahi dengan baik. Dia bisa berkelahi dan menandingi kemampuan polisi. Kemarin Tiva sudah berbicara dengan ahli gambar wajah. Orang yang membunuh pak Haris dan pak Erwin adalah orang yang sama."
Bayu menunjukkan sketsa wajah tersangka yang tidak lain adalah Pradif. Fernan menyuruh tim forensik menemukan wajah yang cocok dengan sketsa itu.
Regitta dan Fernan mengerutkan keningnya.
"Sebelum meninggal, ayah bilang padaku untuk membuka kembali kasus Jidan Anggara," kata Tiva.
Regitta mengernyit.
Tiva melanjutkan, "Orang yang membunuh ayahku juga menyebut nama Robi."
"Semua yang diincar adalah mantan polisi yang sama-sama mengurus kasus gangster di Singapura. Pak Robi berada di Jakarta. Kita harus mengirimkan beberapa anggota polisi untuk melindunginya," sahut polisi yang lain.
Regitta memutar otaknya.
"Seharusnya pak Robi juga diinterogasi untuk keamanannya sendiri," kata Bayu denga sarkas.
Fernan menoleh pada Regitta yang tidak memberikan tanggapan.
"Orang yang membunuh pak Dani sudah jelas dia seorang gangster, lalu siapa sebenarnya orang yang membunuh pak Haris dan pak Erwin?" Tanya polisi wanita.
Tiva mengambil kesimpulan, "Yang jelas, setelah dia mendengar pak Haris dan pak Erwin meninggal oleh orang bertopi, gangster itu mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh ayahku. Mereka takut ayahku membocorkannya pada polisi dan meminta perlindungan. Yang jadi pertanyaan adalah... siapa Jidan Anggara?"
Tiva melanjutkan, "Keempat polisi itu menerima suap dari gangster untuk tutup mulut."
Semua polisi terkejut dengan ucapan Tiva.
"Jangan sembarangan bicara," kata Regitta dengan penuh ancaman.
"Itu yang dikatakan oleh orang yang membunuh ayahku."
"Apa kau percaya?"
"Jika pembunuh itu berbohong, kenapa Papa menutup kasus Jidan Anggara tanpa alasan yang jelas?!" Suara Tiva meninggi.
"Kau tidak mempercayai ayahmu sendiri?" Tanya Regitta dengan ekspresi kecewa.
"Seharusnya Papa dan timnya bisa membalaskan kematian rekan mereka. Kenapa ini tidak?" Tanya Tiva.
Regitta memutar bola matanya. "Kau terlalu melibatkan perasaanmu tanpa melihat fakta yang sebenarnya! Kau sedang tertekan, Tiva."
"Aku tidak tertekan!"
"Tiva, jaga nada bicaramu." Fernan memperingatkan.
Tiva terdiam.
"Komisaris, wajah teridentifikasi!"
Regitta menoleh.
Wajah itu terpampang besar di dinding. Seorang pria tampan berseragam polisi lengkap.
Tiva membulatkan matanya. Ya, pria itu orangnya. Pria yang berkelahi dengannya dan tiba-tiba menciumnya. Bayu dan Fernan mengernyit.
"Pradifta Fernaldi Anggara, dia seorang komisaris jenderal, putra dari Jidan Anggara."
Deg!
"Apa ini kebetulan, atau bagaimana?" Gumam Regitta.
Pintu ruangan dibuka dari luar. Para polisi yang sedang serius mengikuti rapat menoleh serempak.
"Komisaris Regitta, kenapa semua ini bisa terjadi?!" Bentak pria berkepala plontos dengan seragam kepala polisi yang melekat di tubuhnya.
Regitta tidak tahu harus menjawab apa.
Di luar kantor polisi ada banyak wartawan dan warga yang berkumpul seperti sedang berdemo.
Kepala polisi dan Regitta melihat dari jendela.
"Jika kau tidak bisa menangani kasus ini, aku akan menyuruh tim lain untuk mengatasinya."
"Tidak, Pak Wildan, kami akan berusaha mengatasinya." Regitta memohon.
Wildan mengalihkan pandangannya. "Kalau begitu, bubarkan warga dan media dari pelataran kantor kita."
Regitta mengangguk kemudian berlalu.
"By the way, kenapa ada profile komisaris jenderal Pradifta di briefing kalian?" Tanya Wildan. Langkah Regitta terhenti.
"Jika hanya ada sedikit bukti, jangan sampai melukai harga diri banyak polisi lagi." Setelah mengatakan itu, Wildan berlalu.
◈◈◈
20.40 | 15 September 2019
By Ucu Irna Marhamah