The Police

The Police
3



 


 


Asap rokok mengepul memenuhi paru-paru gadis muda itu. Tiva melemparkan rokok yang masih panjang tersebut ke tanah lalu menyiramnya dengan air mineral.


 


 


Motor sport merah berhenti di depannya. "Butuh tumpangan?"


 


 


Tiva menoleh, ternyata Bayu. Tiva tersenyum dia mengangguk. Baru saja gadis itu akan naik, terdengar suara Fernan yang memanggil mereka berdua.


 


 


"Hei, kalian."


 


 


Keduanya menoleh.


 


 


"Ada apa lagi?" Tanya Bayu.


 


 


Tiva mendengus kesal.


 


 


Fernan menunjuk ke pintu. Kedua polisi muda itu saling pandang.


 


 


Tiva dan Bayu tidak jadi pulang, Fernan menyuruh mereka piket malam di kantor.


 


 


"Hanya kita bertiga di sini?" Tanya Bayu.


 


 


"Ada tim forensik di laboratorium," jawab Fernan.


 


 


"Kita harus melakukan apa?" Tanya Tiva.


 


 


"Lakukan apa saja, buat pekerjaan untuk kalian sendiri." Fernan duduk dan mengotak-atik komputernya.


 


 


Kedua polisi muda itu tidak mengerti dengan jalan pikiran ketua tim mereka. Namun, mereka menurut dan melakukan apa yang disuruh Fernan.


 


 


"Apa kita tidak bisa bertindak cepat?" Tanya Bayu.


 


 


Tanpa menoleh, Fernan menjawab, "Tidak ada CCTV yang menyala malam itu. Entahlah, sepertinya penjahat ini sudah merencanakan pembunuhan ini dengan matang. Tidak ada bukti, hanya ada saksi mata. Kita hanya bisa menunggu hasil dari tim forensik."


 


 


"Pembunuhnya mungkin memiliki dendam pribadi dengan detektif Haris, bukankah dia pernah berurusan dengan kelompok gangster terbesar Asia Tenggara beberapa tahun silam?"


 


 


Tiva menambahkan, "Aku sudah melihat data pribadi milik detektif Haris. Tidak ada yang mencurigakan. Dia tidak memiliki musuh sama sekali. Dia orang yang bersih, ya... mungkin hanya sedikit genit pada perempuan dan suka pergi ke klub malam."


 


 


Fernan menoleh pada kedua juniornya. "Masalah dengan para gangster itu sudah selesai sejak 2010 lalu. Jika ini perbuatan anggota gangster, kenapa tidak dari dulu membunuh detektif haris? Kenapa setelah 7 tahun kemudian baru membunuhnya?"


 


 


Bayu menggaruk lehernya.


 


 


Fernan menoleh pada Tiva. "Soal dia genit pada perempuan, itu karena dia seorang duda. Pergi ke klub malam juga tidak masalah jika dia tidak memakai seragam atau membawa name tag miliknya."


 


 


Tiva dan Bayu saling pandang.


 


 


◈◈◈


 


 


Pria bertopi membenarkan jasnya. Dia melihat CCTV di dekat tiang listrik. Dia menembak CCTV itu kemudian berjalan menaiki tangga.


 


 


Seorang pria paruh baya berbadan gemuk keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil melingkar di lehernya.


 


 


"Segar sekali malam ini. Tidak sia-sia aku berlibur ke Bandung."


 


 


Seseorang menodongkan pistolnya ke pinggang pria itu. Dia melihat cermin, ternyata pria bertopi itu.


 


 


"Komisaris Erwin, apa kabar?" Tanya pria bertopi.


 


 


Erwin menggerakkan matanya ke sudut. "Aku bukan komisaris. Aku sudah pensiun. Siapa kau?"


 


 


Pria itu tersenyum. "Aku yang membunuh Haris, sekarang kau akan menyusulnya."


 


 


Erwin bergerak menepis tangan pria itu.


 


 


 


 


Pranggg!


 


 


Tembakan pria itu melesat ke  guci besar di sudut ruangan. Terjadi sedikit perkelahian.


 


 


Mendengar suara keributan, para tetangga langsung melapor pada polisi.


 


 


Di kantor polisi,


 


 


Tiva dan Bayu yang sedang serius menatap layar komputer terhenyak saat mendengar suara dering telepon.


 


 


Bayu segera mengangkat teleponnya. "Kantor polisi, ada yang bisa dibantu?"


 


 


"Jalan Cisampa No. 23, Gedung Apartemen Trisula, aku mendengar suara pistol dan terjadi keributan di apartemen sebelah."


 


 


Fernan dan Tiva saling pandang.


 


 


Pria bertopi membanting tubuh Erwin ke meja kaca hingga pecah. Salah satu kaki mejanya yang patah menusuk punggung Erwin hingga merobek perutnya. Cairan merah pun menggenang di sekitar tubuh Erwin yang sedang sekarat.


 


 


"Kau mau tahu, siapa aku?" Pria bertopi hitam itu menunjukkan name tag kepolisian. Di dalam jaketnya.


 


 


"Kau ingat? Jidan Anggara?"


 


 


Kedua mata Erwin terbelalak.


 


 


Sementara itu, Bayu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lampu sirine menyala dan berbunyi.


 


 


"Hei, kau ingin menakuti pembunuhnya dengan menyalakan itu?!" Gerutu Fernan yang duduk di kursi belakang.


 


 


Tiva mendengus kesal, dia keluar dari jendela dengan berpegangan pada handle dan mengambil lampu sirine itu.


 


 


Bayu menoleh pada Tiva. "Hei! Hati-hati!"


 


 


Tiva melemparkan lampu itu pada Fernan. Pria itu segera menangkapnya.


 


 


"Firasatku buruk," kata Bayu.


 


 


"Kenapa?" Tanya Tiva.


 


 


"Bukankah mantan Komisaris kita tinggal di apartemen itu?" Tanya Bayu.


 


 


Kedua mata Fernan melebar. "Komisaris Erwin."


 


 


Tiva tampak berpikir. "Jadi... pembunuh itu benar-benar menarget polisi?"


 


 


Setibanya di apartemen, Fernan dan Bayu mengarahkan moncong pistol mereka kesegala arah.


 


 


"Pak Polisi!" Orang yang tadi melapor segera menunjukkan apartemen yang dia maksud.


 


 


Fernan menelan saliva, saat tahu apartemen itu memang milik komisaris mereka yang dulu, sebelum Regitta.


 


 


Ketika pintu apartemen dibuka, Bayu menutup mata sambil mengalihkan pandangannya. Dia tidak kuat melihat keadaan Erwin.


 


 


Tiva menunggu di luar mobil. "Sialan, kenapa mereka menyuruhku menunggu di sini?"


 


 


Tiva melihat seseorang yang menyelinap di atap. Gadis itu menautkan alisnya.


 


 


◈◈◈


 


 


11.00 | 12 September 2019


By Ucu Irna Marhamah