The Police

The Police
11



 


 


 


Pradif membuka topinya dan mengganti topi tersebut dengan topi polisi. Pria itu mengenakan seragam kebesaran miliknya.


 


 


Ketika keluar dari ruang ganti, beberapa polis yang melihatnya mengangkat tangan untuk hormat. Pradif melakukan hal yang sama sambil tersenyum.


 


 


Sementara itu di kantor polisi, Regitta tampak cemas. Dia harus memikirkan matang-matang apa yang akan dia katakan nantinya.


 


 


Bayu dan Tiva sudah bosan menunggu. Fernan sudah menghabiskan 3 gelas kopi.


 


 


"Apa si brengsek itu tidak jadi datang?" Tanya Bayu.


 


 


"Macet?" Fernan balik bertanya.


 


 


"Kepala polisi sedang tidak ada, kita bebas menginterogasi dia," ucap Regitta.


 


 


Mobil polisi terhenti di pelataran. Keempat orang di dalam ruangan menoleh ke jendela. Mereka melihat Pradif dengan seragamnya turun dari mobil tersebut bersama Wildan.


 


 


"Iya, tidak ada kepala polisi sedang tidak ada di sini, karena dia bersama pembunuh itu," gerutu Bayu.


 


 


"Kenapa dia memakai seragam kepolisian? Apa dia mau naik jabatan atau mau menghadiri pemakaman?" Gerutu Fernan.


 


 


"Selamat datang di kantorku, kau bisa menganggapnya seperti kantormu sendiri."


 


 


Pradif tersenyum. "Terima kasih, Pak Wildan."


 


 


Keempat polisi itu berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan Pradif. Langkah Wildan dan Pradif terhenti.


 


 


Tatapan tajam ditunjukkan Regitta pada Pradif.


 


 


"Hei, Nona. Bukankah jabatanku lebih tinggi darimu? Mana salam hormat formalitasnya?" Tanya Pradif pada Regitta.


 


 


Fernan dan Bayu sangat kesal melihat sikap Pradif, padahal ada kepala polisi di sana. Tiva menatap pria itu dengan tatapan datar.


 


 


Melihat ketegangan yang akan dimulai, Wildan menghela napas panjang. "Kalian berbincanglah dengan santai, aku pergi."


 


 


Di ruang interogasi,


 


 


Regitta muak sekali melihat wajah Pradif. "Komjen, bisa kau melepaskan topimu? Aku gerah melihatnya."


 


 


"Wah, kau berani menyuruh atasanmu?" Pradif melempar topinya pada Bayu yang berdiri di belakang Regitta. Bayu segera menangkap topi itu.


 


 


Regitta mendecih. "Kau bukan atasanku. Ini kantor wilayah atasanku, bukan kantor wilayahmu."


 


 


Fernan dan Tiva memperhatikan dari luar ruangan sambil memakai earphone untuk mendengarkan percakapan mereka.


 


 


"Oh, jadi ini wajah asli si pembunuh?" Regitta tersenyum mengejek.


 


 


"Aku sudah di sini atas undangan kepala polisi. Meskipun dianggap sebagai tersangka, perlakukanlah aku dengan sopan."


 


 


Bayu memutar bola matanya.


 


 


Regitta menunjukkan foto Haris dan Erwin pada Pradif. "Kau polisi, kau tahu apa yang aku mau. Mengakulah."


 


 


"Apa buktinya?" Tanya Pradif.


 


 


"Rekan kami melihat wajahmu di TKP. Kau juga memiliki luka tembak di kakimu, sama seperti pembunuh itu," Bayu gatal sekali ingin bicara.


 


 


"Hanya itu? Bagaimana bisa kau menjadi seorang polisi, jika kau sembarangan menuduh seperti ini?"


 


 


"Aku hanya ingin tahu, kenapa kau membunuh mereka?" Tanya Regitta.


 


 


Pradif hanya menatap kedua foto itu. "Aku ingin kau membuka kembali kasus Jidan Anggara, dan aku akan memberikan kesaksian, termasuk kematian dua orang ini."


 


 


"Kami tidak menerima persyaratan darimu." Regitta sangat kesal.


 


 


Pradif mendekatkan wajahnya, membuat Regitta bingung. Pria itu berbisik, "Kasus 4 tahun silam, kau sudah menjadi komisaris polisi saat itu, apa kau berhasil menangkap pembunuhnya?"


 


 


Regitta membeku. Bayu melirik Regitta.


 


 


 


 


"Kasus itu sudah ditutup, *******!" Bentak Regitta.


 


 


Bayu, Fernan, dan Tiva terhenyak kaget, karena Regitta tiba-tiba marah.


 


 


"Komisaris Regitta, kau seharusnya mengerti... apa yang kau lakukan dengan apa yang aku lakukan itu tidak jauh berbeda. Bahkan sepertinya kau lebih banyak," ucap Pradif.


 


 


Tidak ada yang mengerti dengan ucapan pria itu. Mungkin hanya Regitta yang mengerti.


 


 


Perempuan itu mengalihkan pandangannya. Ada butiran bening di pelupuk matanya. "Pak Haris, pak Erwin, dan pak Dani itu polisi yang baik. Tentu itu berbeda."


 


 


Pradif mendengus. "Ah, aku butuh rokok, apa di sini tidak ada rokok?!"


 


 


"Polisi tidak boleh merokok ketika bertugas di kantor," gerutu Bayu.


 


 


"Hei, ini bukan kantor wilayahku, aku juga tidak sedang bertugas." Pradif mengeluarkan korek apinya.


 


 


"Ngomong-ngomong, aku mau bertemu dengan rekanmu yang katanya melihat wajahku di TKP," kata Pradif.


 


 


Tiva dan Fernan gantian dengan Regitta dan Bayu. Keduanya memasuki ruangan. Tiva duduk berhadapan dengan Pradif.


 


 


Tiva menyodorkan sebatang rokok pada Pradif. Tentu saja Pradif menerimanya.


 


 


"Ah, aku suka sekali gadis ini. Kau sangat peka." Pria itu langsung menyalakan rokoknya. Asap rokok mengepul di ruangan interogasi.


 


 


"36B," kata Tiva.


 


 


Pradif mengernyit. "Apanya?"


 


 


"Jawaban dari pertanyaanmu waktu di telepon."


 


 


Pradif baru ingat. Dia menatap payudara Tiva. "Ooohh, tapi kelihatannya tidak begitu."


 


 


Tidak ada respon dari Tiva.


 


 


"Lalu nomor yang satunya lagi?" Tatapan Pradif turun.


 


 


"Aku akan membantumu membuka kasus Jidan Anggara, jika kau memberikan semua informasi yang kau tahu," kata Tiva.


 


 


Ekspresi Pradif berubah serius.


 


 


Regitta sangat kesal dengan keputusan Tiva yang tiba-tiba. Regitta memegang earphone di telinganya. "Jangan sembarangan mengambil keputusan! Kau harus bicara dulu denganku!"


 


 


Tiva melepaskan earphone dari telinganya. "Bagaimana Komjen Pradif? Apa kau mau bekerja sama denganku?"


 


 


Regitta mendengus.


 


 


"Kenapa kau mau melakukan ini?" Tanya Pradif.


 


 


"Ini permintaan terakhir Papaku. Mari kita hancurkan gangster sialan itu bersama." Tiva mengulurkan tangannya.


 


 


Pradif menatap tangan gadis itu. "Heh, aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu, Nona."


 


 


Tiva menarik kembali tangannya.


 


 


Keempat polisi itu mengantarkan Pradif sampai depan kantor. Fernan melirik Tiva yang tidak berekspresi sama sekali sejak Komisaris Jenderal datang.


 


 


Pradif mengulurkan tangannya pada Tiva. "Senang bertemu denganmu."


 


 


Tiva tidak menerima uluran tangan pria itu. Pradif menarik tangan gadis itu sehingga mereka bersalaman.


 


 


Bayu melirik Tiva dan Pradif bergantian.


 


 


◈◈◈


 


 


12.34 | 13 September 2019


By Ucu Irna Marhamah