The Police

The Police
12



 


 


 


Regitta mengacak-acak mejanya sampai benda-benda di atas meja berjatuhan ke lantai.


 


 


Fernan dan Bayu tak berkutik, begitu pun dengan Tiva.


 


 


Regitta berbalik menatap Tiva. "Kenapa kau melakukannya?! Kenapa kau mengambil keputusan sendiri?! Aku tidak akan mengizinkanmu membuka kasus itu!"


 


 


Tiva menatap kesal pada Regitta. "Aku tidak membutuhkan izin darimu, Komisaris. Aku akan melakukannya sendiri."


 


 


"Kasus Jidan Anggara akan ditutup, begitu pun dengan kasus Haris dan Erwin!" Bentak Regitta.


 


 


"Apa?" Tiva tidak percaya dengan keputusan yang dibuat oleh Regitta.


 


 


"Fernan, buat laporannya sekarang juga, Haris, Erwin, dan Dani dibunuh oleh orang yang sama," perintah Regitta.


 


 


Tiva menggeleng pelan. Dia menoleh pada Fernan. "Beginikah akhir dari kasus ini?"


 


 


Bayu menunduk. Regitta tidak menjawab.


 


 


"Komisaris, awalnya aku sangat kagum padamu, tapi... aku salah menilaimu." Tiva berlalu pergi diikuti oleh Bayu.


 


 


Regitta menutup matanya.


 


 


-


 


 


Tiva membuka pintu mobilnya. Bayu menyusul. "Tiva, kau mau kemana?"


 


 


"Jakarta."


 


 


"Mau apa?!"


 


 


"Menemui pak Robi, mau ikut?"


 


 


Tiva dan Bayu pergi ke Jakarta. Mereka tiba malam hari di ibukota.


 


 


Robi menyambut mereka dengan baik.


 


 


Bayu melihat ke sekeliling. Ada banyak polisi di sana yang berjaga. "Sepertinya polisinya bertambah, ya?"


 


 


Robi terkekeh. "Regitta memang berlebihan. Ada apa kalian kemari?"


 


 


Tiva menatap Robi. "Om Robi, aku ingin membuka kasus Jidan Anggara."


 


 


Robi mengerutkan keningnya. "Kenapa? Apa ada petunjuk baru?"


 


 


Tiva menggeleng. "Sebelum meninggal, Papa ingin aku membuka kasus itu lagi. Tidak ada lagi saksi, selain Om Robi."


 


 


Tiba-tiba Robi menangis. "Ini semua salahku, Nativa."


 


 


"Maksudnya?"


 


 


Robi mulai bercerita.


 


 


***


 


 


Dani yang masih muda memasukkan pelurunya ke dalam pistol. "Kita harus saling menjaga satu sama lain. Kita akan kembali ke rumah dalam keadaan selamat."


 


 


Haris, Erwin, dan Robi mengangguk. Jidan merasakan hal yang buruk akan menimpa mereka.


 


 


Mereka mengendap ke markas gangster untuk menyelamatkan para sandera.


 


 


Namun, di luar rencana, kelima orang itu terpisah dan satu per satu tertangkap. Mereka disiksa bersama para sandera.


 


 


"Aku akan mendapatkan banyak keuntungan dengan memiliki banyak sandera, termasuk 5 orang polisi," ucap ketua geng.


 


 


"Kau tidak akan bisa membunuh kami!" Teriak Jidan.


 


 


 


 


"Kau juga orang Indonesia, kenapa kau melakukan ini?" Tanya Dani.


 


 


"Kenapa? Karena aku ingin menguasai dunia gelap di Asia Tenggara."


 


 


Satu per satu sandera dibunuhnya di depan sandera lain. Itu membuat mereka semua terguncang.


 


 


Ketua geng yang kejam itu menelpon kepolisian Indonesia dan meminta tebusan. Namun, di saat itu terjadi pertikaian antara kelima polisi itu.


 


 


Ketua geng tertawa melihat sanderanya yang beradu argumen.


 


 


"Berapa gaji kalian di kepolisian? Jika kalian tutup mulut, aku akan memberikan semua yang kalian mau dan mengembalikan kalian dengan selamat."


 


 


"Kau pikir, kami ini anjing?!" Bentak Jidan.


 


 


Dor!


 


 


Jidan jatuh tersungkur dengan darah mengalir dari kepalanya. Yang melihat itu terkejut, ternyata Robi yang menembak kepala Jidan.


 


 


Dani menggeleng tidak percaya.


 


 


"Mengagetkanku saja. Oh iya, ini adalah tawaran dari detektif Robi, selain orang yang mati itu, kalian bisa pulang dengan selamat."


 


 


Erwin meninju wajah Robi. "Apa yang kau lakukan *******! Kau mengkhianati kita dan membunuh rekan kita!"


 


 


Robi melawan. "Aku mau pulang dan melihat keluargaku! Jika aku mati di sini, mereka akan menanggung beban hutangku! Kalian tidak mengerti! Saat aku meminta bantuan pada kalian, apa kalian membantuku?! Tidak! Kalian mementingkan diri kalian masing-masing! *******!"


 


 


Ketua geng terkekeh melihat itu. "Kalian semua sama-sama hina, kenapa saling menghina. Sekarang pulang sana, bawa mayat itu. Tinggalkan nomor rekening kalian."


 


 


***


 


 


Tiva membeku mendengar cerita itu. Bayu menggeleng tidak percaya.


 


 


"Aku merasa berdosa, membunuh temanku, memakan uang haram, dan sekarang teman-temanku terseret karena keegoisanku. Mereka pergi lebih dulu karena aku."


 


 


"Pantas jika Pradifta membunuh mereka, kalian sendiri yang membunuh ayahnya, aku pikir ketua gangster itu yang membunuhnya!" Bentak Bayu.


 


 


***


 


 


Pradif yang saat itu masih merupakan mahasiswa akpol terkejut dengan kedatangan peti ayahnya. Dia tidak mengira ayahnya akan pergi secepat itu.


 


 


Kasus kematian Jidan Anggara ditutup begitu saja.


 


 


Itu membuat Pradif heran, jika iya musuh yang menembak Jidan, kenapa kasusnya ditutup? Kenapa tidak menangkap dulu pelakunya? Dan kenapa Jidan dimakamkan di pemakaman umum, bukan makan pahlawan?


 


 


Pradif meminta penjelasan pada rekan-rekan ayahnya, tapi dia dibentak dan diusir dari kantor polisi.


 


 


Ibunya Pradif jatuh sakit. Itu membuat Pradif semakin terpukul. Tak lama kemudian, ajal menjemput ibunya. Pradif sendirian hingga dia lulus.


 


 


Sambil memegang name tag milik ayahnya, Pradif tersenyum. "Ayah, sebentar lagi aku akan memiliki ini, seperti Ayah."


 


 


Setelah menjadi polisi, dia memohon pada Dani yang waktu itu menjadi komisaris, agar Dani mengizinkannya membuka kasus Jidan. Dani tidak mengizinkan, bahkan ketika komisaris digantikan Erwin, Pradif tetap tidak mendapatkan izin membuka kasus ayahnya.


 


 


Hingga di satu titik, dia menemukan sedikit petunjuk. Di bulan yang sama, ketika tim Dani pulang dari Singapura, Haris, Erwin, Robi, dan Dani membayar semua hutang mereka. Keempat polisi itu juga membeli rumah, apartemen, mobil, dan masih banyak lagi.


 


 


Timbul pertanyaan di kepala Pradif. "Apa mereka yang mengorbankan ayah demi keselamatan mereka sendiri?"


 


 


Dengan tekad yang kuat, Pradif berhasil menduduki posisi Komisaris. Saat itu dia nekat melakukan misi sendirian dengan menerobos perbatasan Singapura. Dia berhasil menangkap salah satu anggota geng Rubah.


 


 


Disanalah dia mendapatkan kebenarannya.


 


 


◈◈◈


 


 


13.27 | 14 September 2019


By Ucu Irna Marhamah