
8 bulan kemudian...
Sudah kesekian purnama dan mungkin hampir delapan bulan sejak Jhose meninggalkan El Salvador. Nomor ponsel dan semua yang berkaitan dengan Lexi identitas samaran nya Ia lenyapkan.
Tidak pernah lagi berhubungan dengan Jeniver meskipun hanya sekedar mengetik pesan.
Hanya melihat wajah nya di postingan social media jika Ia merasa merindukan sudah membuatnya tenang.
Melindungi nya dari kejauhan, Itulah yang dilakukan nya. Menjalin hubungan yang rumit sangat lah tidak mudah.
Mau tidak mau, Suka tidak suka.
Jhose harus membiarkan Jen melupakan nya . Itulah cara Jhose mencintai nya.
Sebab akan sangat berbahaya jika terus bersama dan lebih buruk nya lagi nyawa Jen menjadi taruhan.
Jhose sepenuhnya sadar akan profesi nya, Masih selalu terjun secara langsung meskipun jabatan nya adalah Seorang Jendral.
Yang memang masih sangat muda. Karir gemilang nya akan semua totalitas kerja keras nya sebagai Jendral dari Agen khusus kepolisian memberantas jaringan besar mafia internasional obat obatan terlarang.
Pekerjaan yang sangat berbahaya, hingga Akan menyakitkan jika Ia membahayakan orang orang yang Ia cintai. Lebih menyakitkan bagi Jhose jika Ia pergi bertugas dan hanya tinggal nama saat Ia kembali.
Bekerja dengan totalitas dan Siap untuk mati kapan pun.
Itulah yang Ia tanamkan di jiwa nya, dari sini lah Jhose sekalipun tidak pernah melibatkan perasaan nya dalam hal wanita.
Semua datang dan pergi begitu saja tanpa ada sesuatu yang mendalam.
Namun sedikit pengecualian saat bersama Jeniver. Berpisah dengan nya lah hal yang paling menyakitkan.
Jhose tidak ingin melihat kesedihan Jeniver jika Ia gugur dalam tugas nya. Itulah sebab nya, melupakan adalah yang terbaik.
Jhose bangun dari tidur nya, meraih remote agar tirai kamar nya terbuka. Terlihat dari kaca jendela kamar nya, Suasana sunyi dan gelap. Jhose menghelakan nafas nya.
Meraih ransel dari dalam lemari, mengisi nya dengan beberapa lembar pakaian.
Hari ini Ia akan mempersiapkan diri untuk melatih fisik nya. Di sebuah asrama tempat Ia meninjau latihan fisik para junior nya.
Para Agen yang Ia pimpin secara langsung.
Yang Tim nya hadapi kali ini bukan lah organisani sembarangan. Bahkan Ia telah menyelidiki selama lebih dari delapan bulan.
Jhose tidak terlalu suka berbasa basi. Terjun secara langsung dan tindakan nyata lah yang selalu Ia lakukan.
Ketegasan, Kejujuran dan Integritas yang tinggi. Itulah yang selalu Ia contohkan pada bawahan nya.
Meskipun gelar nya adalah seorang Jendral sekarang, Jhose enggan untuk memiliki ajudan.
*
Jhose sedang berada di dapur sekarang.
Dengan tangan kekar nya, Ia meraih pemanggang roti, mengoles beberapa keping rotu dan memasukkan nya kedalam pemanggang.
Rumah masih sangat sunyi, seluruh penghuni belum juga terjaga dialam yang telah menjelang pagi.
Namun Jhose telah bersiap dengan kaos putih polos yang melekat di tubuh nya dan celana jeans yang Ia kenakan.
Sebuah tas ransel berisi penuh telah bertengger atas di sofa.
Ya, Jhose akan bersiap. Ia kembali bertugas setelah beberapa purnama melakukan penyelidikan
Kasus besar yang Ia jalani bukan lah suatu permainan.
Cepat atau lambat dirinya akan melakukan pergerakan. Mempersiapkan diri kalau kalau Ia gugur dalam tugas nya sekarang.
Jhose membuat coklat panas, Ia sandingkan secangkir cokelat panas itu disamping roti bakar yang baru saja Ia buat.
Menarik kursi dan duduk di ruang makan di sana.
Elis baru saja keluar dari kamar, melewati ruang tamu yang masih gelap.
Mata nya mengkeryit melihat lampu dapur yang menyala, Ia pun mendatangi menuju kesana.
"Apa yang sedang kau lakukan?."" Suara Elis tepat di belakang Jhose.
"Elis? Kau sudah bangun?." menoleh
"Hanya beberapa hari di asrama." bicara kemudian meminum cokelat yang baru saja Ia buat.
Elis menggenggam tangan Jhose, menatap nanar pada nya."Aku selalu cemas jika kau keluar dari rumah. Tidak bisa kah kau percayakan semua pada bawahan mu?"
Jhose menggeleng. "Aku hanya pergi untuk mempersiapkan diri. Kau jangan cemas, Aku segera kembali." Bangun dari duduk nya mengecup pipi Elis kemudian.
"Aku akan merindukan mu."
Memasukkan suapan roti terahir dan menegak secangkir cokelat hangat.
Melesat dengat terburu buru menuju ke ruang tamu.
"Sampaikan pada Ibu, Aku pergi."
Meraih ransel kemudian menggendong nya.
"Semalam ada seorang wanita kemari, Dia mencari mu. Aku mengatakan kau sudah tertidur, Dan Aku akan membangunkan mu. Tapi Dia melarang."
Jhose menghentikan langkah nya mendengarkan Elis bercerita.
"Aku tidak membuat janji dengan siapapun."
"Jika ada yang mencari ku, katakan saja Aku sudah pergi." Mersih handle pentu.
"Tapi Dia berkata kalau Nama nya itu Jeniver."
Sontak saja membuat Jhose terkejut. Ia menutup kembali pintu yang baru saja Ia buka.
Tidak mungkin Jen kemari.
"Dia mengenakan seragam relawan, dan mengatakan Dia menunggu mu di London Bridge pagi ini."
"Itu Mustahil, Bagaimana bisa dia kemari. Gadis bodoh."
Tarikan nafas Jhose terdengar berat.
Ada desirah hebat di dada Jhose mendengar itu,
Antara percaya dan tidak, Jeniver mencari nya hingga kemari.
Jhose Seketika membuka pintu dengan tergesa dan berlari menuju mobil yang terparkir di sana.
Tas ransel bertengger di bahu Ia bawa lari dengan nsfas yang berlarian seiring debaran hati nya.
Ia masukkan ke belakang kemudi, menutup pintu kemudi dengan tergesa. Kembali ke tempat nya meraih handle pintu depan dan masuk kedalam mobil.
"Jhose tunggu?!." Elis berteriak kemudian menuju mobil Jhose yang menghentikan langkah nya saat hendak masuk kedalam mobil.
Sangat terlihat, dari reaksi Jhose. Wanita itu begitu penting untuk nya.
Elis juga sangat memahami bahwa gadis itu bukan lah gadis yang biasa, Sangat terlihat ada kerinduan yang amat besar menyelimuti hati nya.
Elis mendekati Jhose, Ia mendongak dan meletakkan kedua tangan nya di pipi Jhose.
"Apa gadis itu yang membuat mu merenung di taman semalaman?"
"Apa Gadis itu yang kau rindukan setiap malam?."
"Apa gadis itu yang membuatmu tersenyum saat menatap wajah nya tertawa di ponsel mu?"
"Apa gadis itu yang membuatmu menjauhi semua wanita?."
"Jika benar, bawa dia pada ku. Bawa menantu ku kemari. Aku ingin menyambut nya dengan hangat, Aku ingin memeluk nya."
Elis menatap nanar pada Jhose, mata nya berkaca kaca, Seketika Jhose memasukkan nya kedalam dekapan.
"Ini tidak mudah Elis, Kau saja tidak menikah. Maka Aku juga tidak akan menikah." Mengecup pipi Elis.
"Kau jangan bercanda, Bawa saja Dia kemari." Melepas pelukan nya.
"Aku pergi Elis, jaga diri mu." Kecup lagi di pipi Elis.
Jhose melesatkan mobil nya meninggalkan halaman rumah nya dengan Elis yang melambai melepas kepergian