THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
yang jelas aku sangat mencintai mu!



Lia membuka matanya, pandangannya masih buram dia tidak mengingat jelas apa yang terjadi padanya. Dia melihat sekeliling ruangan, sepertinya dia berada di rumah sakit, lia melihat jarum infus menusuk tangannya dan selang peranapasan menacap di hidungnya.


   Kepala lia masih terasa pusing, mengingat hal yang terjadi padanya membuat dia merasa sangat lelah.


   pandangan lia tertuju pada john yang sedang tertidur sambil menggenggam tangan lia erat-erat, lia merasa sedikit bersalah karena terlalu memaksa john tapi Dia butuh jawaban itu.


   Tak lama, pintu kamar rawat inap,terbuka dilihatnya seorang suster mendatangi lia sambil membawa beberapa obat dan peralatan, suster itu segera mendekat ke arah lia, suster yang melihat lia sudah sadar segera memeriksa lia.


    "Anda sudah membaik?" Suster itu membenarkan bantal yang di gunakan oleh lia. "Iya... Lumayan" Jawab lia pelan sebab kepalanya masih terasa sakit.


   "Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya lia pada suster yang sedang memeriksanya.


   "Anda pingsan." Jawab suster.


   "Aku? Pingsan?" Lia kaget, dia bahkan sempat menutup mulutnya karena rasa keterkejutan "Iya, suami anda yang membawa anda kemari, dia menemani mba, bahkan dia tidak pernah meninggalkan mba sedikitpun." Jelas suster, menurut lia suster itu terlalu berlebihan tentang pujiannya untuk john.


    "Aku tidak terlalu percaya." Jawab lia yang masih merasa kesal dengan sikap john sebelumnya.


     "Mm, suami anda sangat baik, ketika anda pingsan suami anda sangat khawatir hingga hendak bertengkar dengan dokter, dia memaksa dokter agar bisa menyelamatkan anda. Terlalu berlebihan memang, dan yang lebih parah dia sampai memanggil dokter charlie yang sangat terkenal untuk datang ke sini, supaya dia bisa memeriksa anda" Jelas suster lagi, lalu terkekeh pelan mencoba mengabaikan sosok john yang masih tertidur di samping


   "Ohhh.. " Jawaban yang singkat menunjukan rasa ketidak percayaan terhadap ucapan suster tadi.


    " Anda istirahat terlebih dahulu, nanti saya kembali lagi untuk memeriksa keadaan anda." Suster itu berjalan keluar dari kamar lia.


   Lia hanya mengangguk, wajah murung tak menunjukan rasa senang. Dia pikir, mungkin dia akan mati, tapi lagi-lagi tuhan memberikannya kesempatan untuk hidup.


   Lia sudah tidak memiliki semangat untuk hidup, Apalagi sisa hidupnya akan menjadi buruk dengan dia terus bersama dnegan john.


   Lia menatap john dengan tatapan sedih dan juga benci, Di lihat dari wajah john dia sangat kelelahan terlihat kantung mata yang sangat jelas berada di bawah mata john.


   Hati lia terasa sakit saat dia harus memaksa kan diri agar bisa menerima kenyataan, kenyataan dimana dirinya harus menjadi pelarian dikala john sudah di jodohkan.


    John membuka matanya, dia melihat lia yang sudah sadar, melihat john sudah membuka mata lia langsung mengalihkan pandangannya dari john, tak ingin john salah paham dengan pandangan yang di berikan oleh lia padanya.


   "Kau sudah sadar? Aku sangat khawatir, kenapa kau tidak mengatakan  kau tidak makan beberapa hari? Apakah makannya tidak sesuai dengan keinginan mu?" John langsung memeluk lia dengan sangat erat, rasa khawatir john sangatlah besar.


   "Aku, tidak apa apa..." Lia melepasakan pelukan john, dia merasa tidak nyaman.


  "Aku minta maaf soal itu, saat di dalam mobil, aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu, dan aku tidak memahami perasaan mu." John terlihat sedih, dia menyesal atas apa yang telah dia perbuat pada lia sehingga membuat lia merasa terbebani.


   "Aku sudah selesai, aku juga sudah tidak di butuhkan lagi bukan? Perjodohan keluarga mu sudah batal, aku sudah tidak ada hak untuk terus bersama mu." Lia masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman john.


    "Tidak! Tidak seperti itu! Kau adalah istri ku! Kau memiliki hak untuk terus bersama ku! Dan aku tidak akan pernah meninggalkan mu." Jawab john tegas dia sangat takut kehilangan lia.


    "Kau menikahi ku hanya karena ingin membatalkan perjodohan mu bukan? Dan perjodohan itu telah selesai, kau bisa mencari wanita yang lebih sempurna dari ku." Lia tidak ingin mengalah, usahanya untuk kabur dari john masih dia usahakan.


    "Istirahatlah.. Jangan pergi ke mana mana." Ucap john, dia menutup pintu kamar lia.


  Lia sama sekali tidak mengerti dengan perasaan john padanya, lelaki itu menolak seluruh permintaan lia untuk melepaskannya. Tapi fakta yang lia dapatkan, john hanya memanfaatkan dirinya.


    Tanda tanya besar muncul di hati lia, alasan untuk seperti itu sangat mudah di ucapkan oleh seorang johnshon lei. Tapi kenapa dia masih mempertahankan lia, apakah dia masih mau bersenang senang dengan lia, jika benar alangkah jahatnya hati john.


 


  Lia hanya ingin bebas, lalu sekarang john melarangnya. Hal apalagi yang john rencanakan.


    Lia mulai kesepian, selama beberapa jam john tidak datang ke kamarnya, dia merasa hampa tanpa kehadiran john, tapi jika john ada di sisinya akan ada saja masalah yang mereka buat.


    Lia teringat akan karirnya di dunia entertainment di mana saat dia sakit, akan ada banyak teman teman yang mengunjungi nya, tapi kini apa? Seorang pun tidak ada yang mengunjunginya, bahkan menjaganya.


    Lia melihat ponselnya tergeletak di meja, dia rindu dengan manjernya yaitu mia monica, Orang yang paling khawatir dengan keadaannya saat sakit, dan orang yang selalu menjaganya saat terluka hanya monica, tapi sekarang monica hilang tanpa kabar, lia juga tidak mempunyai waktu untuk mengabari monica, dia juga sangat sibuk dengan masalah yang setiap hari bertambah dan terus bertambah.


     Lia akhirnya memberanikan diri untuk menelefon mia Semoga mia masih mau menerima nya.


    "Hallo... " Suara jawaban terdengar dari speaker handphone lia. "Mia?" Suara lia pelan, dia takut Mia tidak lagi menyukainya.


    "Lia?" Tanya mia suaranya terdengar kaget, "Iya ini aku..." Jawab lia, dia masih takut mendapat penolakan dari sahabatnya setalah beberapa lama tidak bertemu.


    "Lia! Apa kabar? Kenapa kau tidak mengabari ku? Aku mendengar segala berita tentang mu... Apakah itu benar? Dan sekarang kau di mana? Kau sombong padaku! Bahkan kau tidak mengabariku."


Mia bertanya begitu banyak, sifat cerewet nya kembali, apalagi saat mengkhawatirkan lia, mia akan sangat bawel.


     Lia tersenyum ternyata sahabat nya masih menyayangi nya Dan lia rindu dengan ocehan mia.


    "Aku baik, aku terlalu sibuk dengan masalahku sehingga tidak sempat mengabari mu. Kalau berita itu, aku tidak tahu? Aku sama sekali tidak pernah melihat tv atau berita aku sangat di sibukan dengan kehidupan ku yang sekarang. Kau bisa mengerti?" Jelas lia, dengan suara parau menyembunyikan segala rasa sedihnya.


 "Kau sekarang tinggal dimana? Katanya setelah kau di usir oleh ayahmu, kau tinggal di jalanan?" Tanya mia, entah berita dari mana itu, tapi itu tidak benar semenjak menikah dengan john kehidupan lia sangat terpenuhi bahkan lebih baik dari pada sebelumnya.


    "Aku...Kehidupan ku bahkan lebih baik, dan aku sudah menikah." Jawab lia, Dia tidak takut mia membocorkan rahasia bahwa dia sudah menikah pada semua orang.


    "Apa! Kau sudah menikah? Apakah kau menikah dengan Om-om yang di beritakan berkencan dengan mu?" Mia terkejut, takutnya lia menikah dengan orang yang salah, di pikiran mia lelaki yang di nikahi oleh lia adalah seorang lelaki gendut dan sudah punya istri, setelah itu lia di jadikan istri kedua dan selalu di siksa oleh istri pertama.


Mia terlalu mendrama dengan segala pemikirannya.


     "Tidak! Berita itu palsu, aku tidak pernah berkencan dengan om om kau tidak perlu khawatir, disini aku merasa bahagia."


Lia menceritakan apa yang terjadi, dia terpaksa mengatakan bahwa dia sangat bahagia dengan pernikahan nya padahal kenyataan berbanding terbalik, sesungguhnya semua ini ia lakukan agar mia tidak khawatir dengan dirinya.


...  ***...