
Di sini lah lia duduk sekarang, di sebuah ruang makan dengan interior sederhana yang di penuhi dengan banyak hiasan hiasan yang banyak terpajang di dinding.
Dengan pelan lia mengayun ayunkan kakinya, sambil menatap semangkuk sup jamur yang sangat dia sukai. Emly memang sangat pandai dalam membuat masakan, terutama sup ini, lia sangat menyukainya.
"Stela? Kenapa kau tidak berhenti dari pekerjaan mu?" Tanya emly sambil, mengaduk aduk sup jamur yang ada di hadapnnya.
"Tidak apa apa kak, aku masih bisa bekerja, lagi pula dokter bilang aku akan melahirkan sekitar 1 minggu lagi." Lia dengan santainya menyuapkan sesendok sup hangat kedalam mulutnya, merasakan setiap rempah rempah yang begitu bersatu dan teraduk dalam kuah sup jamur.
"Jangan begitu stela, kau seharusnya memikirkan anak mu, aku akan membicarakan ini dengan gwen.. "
Lia mendengus kesal, dari awal sejak lia pindah kemari, tetangga yang paling mengkhawatirkan nya adalah emly. Emly juga sangat perhatian terhadap bayi yang di kandung oleh lia, saat mengetahui cerita lia dengan sigap emly berkata bahwa dia akan melindungi lia.
"Baik kak... " Jawab lia pelan, setelah itu yang terdengar hanya dentingan sendok yang saling beradu dengan piring.
Selama tinggal di melbourne lia memutuskan untuk ikut bekerja bersama dengan gwen, sebenarnya gwen tidak mengizinkan lia untuk bekerja, tapi karena begitu keras kepalanya lia akhirnya gwen tidak bisa berbuat apa apa kecuali menerima keinginan lia.
Gwen memberikan pekerjaan yang cukup mudah dan bisa di kuasai oleh lia yaitu menjadi sekertaris. Lia juga tidak terlalu asing dengan pekerjaannya, karena menjadi sekertaris adalah cita citanya ketika impiannya untuk menjadi seorang artis tidak terwujud.
Selama 8 bulan pergi dari kehidupan seseorang yang sangat penting di hidupnya tak membuat lia menyerah atau tepuruk. Walau begitu sulit baginya, tapi dengan keyakinan yang kuat bahwa dia masih bisa hidup tanpa kehadiran john, membuat nya yakin bahwa dia bisa hidup tanpa harus bergantung dengan john.
Lia menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat, termasuk kuat dalam menghadapi kenyataan kehidupan nya yang tak sesuai dengan harapan. Berusaha kuat selalu dia tampilkan di hadapan semua orang termasuk gwen. Yanga padahal semua orang tidak akan tahu betapa rapuh nya lia.
John yang di tinggalkan oleh lia, sama sekali tidak terdengar kabarnya, tidak pernah juga lia mendengar pencarian dirinya yang hilang, entah itu di tv atau internet. Semua terlihat baik baik saja tanpa ada dirinya.
Itu yang sangat lia harapkan, tapi itu juga menjadi sebuah bukti betapa tak di pedulikan dirinya. Bahkan ketika dia hilang tanpa kabar tidak ada yang mencarinya sedikit pun.
Hati lia terasa teriris jika mengingat hidupnya yang tak akan pernah bahagia, yang akan selalu penuh dengan kejutan yang cukup membuat kebahagiaan meredup secara perlahan.
Dengan berat hati, lia mengurus dan menjaga kandungan nya sendiri, bukan tak mau mengurusi kandungan nya, hanya saja lia sering merasa iri jika melihat seorang wanita hamil di istimewa kan oleh suaminya.
Berbeda dengan dirinya yang tengah berada dalam keadaan hamil tua pun dia masih harus terus bekerja. Lia sebenarnya tidak sendirian ada gwen dan juga emly yang selalu ada untuknya, tapi tanpa kehadiran seorang suami tetap saja membuatnya terluka.
"Lia kau melamun?" Tanya emly membuyarkan seluruh atensi rindunya kepada john, seseorang yang benar benar telah mengubah harinya.
"Eh tidak kak... Aku sudah selesai ini sangat enak." Puji lia sambil meletakan mangkuk yang sudah kosong.
Emly tersenyum menarik mangkuk itu "Mau nambah lagi?" Tanya emly yang di jawab dengan gelengan kepala oleh lia, mengingat john membuatnya kehilangan seluruh semangatnya.
"Mom!" Teriakan seorang anak lelaki membuat seluruh sorotan mengarah pada sang empu, yang berteriak dengan kencangnya.
"Steve..." Anak lelaki berumur 7 tahun itu berlari dan behambur dalam pelukan hangat emly, ya itu adalah anak emly steve stailor anak pertama emly.
Emly sudah menikah saat umurnya masih menginjak 20 tahun, pernikahan itu terjadi karena perjodohan. Dan kini karena perjodohan bodoh itu, steve yang menjadi korban ke egoisan kedua orang tuanya.
suami emly memutuskan untuk meninggalkan emly saat emly sedang mengandung steve, hal itu lah yang menjadi kan emly begitu profektif dengan kondisi lia.
Emly bilang dia tak mau membuat lia merasakan penderitaan yang sama dengan dirinya, karena emly tahu
itu sangat berat dan tak akan mudah di hadapi sendirian.
"Ehh ada tante... " Steve melepaskan pelukannya lalu berjalan ke arah lia dan sesegera mungkin memeluk lia erat, lia suka saat di peluk steve karena tubuh nya yang gempal membuatnya empuk untuk di peluk.
"Hai steve? Bagaimana sekolahnya?" Tanya lia masih dalam posisi memeluk steve. "Sekolah steve baik tante, bagaimana dengan adik steve? Kapan dede akan lahir? Steve ingin segera mengajak dede bayi main bola." Ucap steve polos sambil menatap perut lia yang sudah besar.
"Sudah steve sekarang ganti baju dulu oke?" Perintah emly pada anak semata wayangnya itu. Steve mengangguk lalu berjalan pergi menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
"Dia sangat tampan kak... " Puji lia yang memperhatikan kepergian steve dari meja makan. "Ya dia memang sangat tampan, hanya saja tubuhnya sedikit gemuk." Imbuh emly sambil membereskan sisa sisa makan mereka.
"Itu bagus kak, aku menyukai nya sangat nyaman untuk di peluk." Lia tersenyum lagi, membayangkan bagaimana anaknya nanti saja sudah membuatnya tersenyum tidak karuan.
"Stela? Apakah saat kau akan melahirkan, kau akan mengundang dia?" Tanya emly, yang di pahami oleh lia dari kata 'dia' itu adalah john, suaminya yang entah bagaimana kabarnya.
"Aku tidak tahu kak... " Jawab lia spontan, dia tidak bisa memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi jika john tau di mana tempatnya berada, dia tidak bisa mengambil banyak resiko jika mengetahui john benar benar tidak menginginkan kehadirannya.
Lia tidak egois dia hanya bimbang, banyak sekali atensi yang dia pikirkan tentang kehidupan kelak, lia berjanji pada dirinya sendiri akan memberi tahu keberadaan anaknya pada john setelah anak nya dewasa, atau setelah dirinya siap, entah itu kapan? Yang jelas hal itu lama kelamaan akan terjadi.
Johnson lei! Lelaki tampan itu adalah salah satu alasan lia berada di tempat ini, alasan lia menjadi sangat kesusahan, dan membuat lia menanggung beban yang tak seharusnya dia pikul sendirian.
Lelaki bermarga lei itu telah membuat lia merasakan indah dan pahitnya kehidupan secara bersamaan, selama tinggal di negara ini lia tidak pernah mendengar kabar dari john, entah berita, tv, majalah, atau berita internet tidak pernah meliput ataupun mengambarkan berita tentang lelaki itu.
Ya johnson lei bagai telah di telan bumi, tidak ada yang pernah mengetahui keadaan nya, bahkan karyawan nya sendiri. Kabar terakhir menyebutkan bahwa john strees karena sesuatu hal, yang lia yakini karena kepergiannya.
Bahkan saat perusahaan morris company, perusahaan milik keluarga gwen melakukan kerja sama dengan perusahaan HW EVOLUTION yang tak lain adalah milik john, john tidak pernah sedikit pun menunjukkan batang hidungnya. Gwen bilang hanya ada satu perwakilan dari HW EVOLUTION yang gwen ketahui bernama kenzo.
Saat tak sengaja bertemu dengan kenzo di lobi gedung, kenzo sama sekali tidak mengenali lia yang untungnya membuat lia tenang, karena keteledoran nya tempatnya bersembunyi hampir saja di ketahui oleh kaki tangan john.
Lia menghembuskan nafas kasar, hidupnya sangat sial, masalah demi masalah terus saja menimpanya.
maaf kemarin ada kesalahan teknis, aku up kebanyakan heheh, oh yah aku up doubel yah gak niat niat, tapi sekarang aku lagi was was banget karena aku tinggal di banten, di pandeglang huhuhuhuhu untungnya gak berpotensi tsunami:)
02-08-2019 22.19