
"Sayang... aku menunggu mu di bawah untuk sarapan yah.. " John lalu pergi dari kamar, menuju ruang makan untuk sarapan.
Setelah beberapa lama menunggu, lia turun dari tangga rambutnya masih sedikit basah, namun sengaja dia urai.
Hari ini baju berwarna baju berwarna hitam dan rok berwarna putih lebih mendominasi di tubuh lia, entah kenapa hari ini lia tidak ingin menggunakan dress atau sebagainya.
"Apakah kamu menunggu lama?" Tanya lia duduk di kursi dekat john.
"Tidak... Ayo sarapan."
Lia mengangguk dia memakan sarapan paginya, tapi tidak terlalu banyak nafsu Makannya sedikit menurun.
John melihat perubahan mood lia, john penasaran kenapa lia bisa seperti itu padahal tadi pagi mereka baru saja bercanda.
"Kamu kenapa? apakah kamu sakit? Atau makanannya tidak enak?" Tanya john, dia sangat takut jika lia harus sakit lagi.
"Tidak apa..." Jawab lia, sebenarnya dia sedang memikirkan sesuatu.
Hari ini adalah pernikahan adiknya, tapi dia ragu haruskah dia kesana membawa john, atau dia seharusnya tidak datang ke sana.
Hal tersebut lah yang sedari tadi malam menggangu pikiran lia, hatinya bimbang, tapi jika lia salah memutuskan akan banyak hal yang lebih buruk menimpa lia.
"Sudahlah... Jangan memikirkan sesuatu hal yang tidak penting, sekarang kamu makan aku tidak ingin kamu sakit... " John mengecup kening lia, dia ingin menenangkan hati lia.
Hingga john tersadar dia ada rapat penting hari ini, dengan cepat john berdiri dan berpamitan pada lia.
"Sayang aku lupa aku ada rapat penting hari ini... Jadi aku akan berangkat yah.. " john mendekati lia dan mengelus pucuk rambutnya lalu pergi berangkat bekerja.
Lia mengikuti john dari belakang, dia ingin melihat keberangkatan john.
Di halaman depan rumah, sudah ada mobil john terparkir di sana, john sudah berada di dalam mobil sedangkan lia berada di luar melihat suaminya berangkat bekerja.
"Kamu.. harus makan yah... Tunggu aku pulang jangan ke mana mana." Teriak John dari dalam mobil sambil menurunkan kaca mobilnya, lia mengangguk tidak mengucapkan apa apa.
Mobil John melaju meninggalkan pekarangan rumah dan juga lia sendirian.
Teringat akan pesta pernikahan adiknya, lia langsung berlari menuju kamarnya dia memilih baju apa yang akan di gunakannya.
Di dalam lemari lia bingung, karena gaun yang dia punya sangat banyak, ingin sekali rasanya dia memakai semuanya namun dia yakin tidak bisa.
Jadi lia memilih salah satu gaun semata kaki, berwarna putih yang sangat elegan dan simple dan juga cocok di gunakan untuk pergi ke acara pernikahan.
Dengan cepat lia menggunakan baju itu, menata rambutnya dengan mengikatnya sederhana dan menambah make up tipis di wajahnya yang halus menambah ke cantikan lia.
Lia sangat terburu buru karena pesta pernikahan adiknya akan di laksanakan pukul 09.00 sedangkan sekarang sudah menunjukan pukul 08.15 tidak mungkin untuk sampai rumah lia dengan cepat.
Lia berlari menuju gerbang rumahnya, namun ada penjaga yang menghalanginya.
"Nyonya... Nyonya hendak pergi ke mana?" Penjaga itu menghalangi jalan lia, lia bingung mungkin john yang menyuruh penjaga ini agar tidak membiarkan lia keluar.
"Aku mohon.... Aku ingin pergi aku akan menghadiri pesta pernikahan adiku, aku janji aku akan kembali kesini." Lia memohon agar penjaga itu memberikannya jalan.
Kepala pembantu di rumah lia, datang k3 arah lia dia mendengar keributan anatara lia dan penjaga.
"Nyonya... Nyonya hendak pergi kemana? Tuan menyuruh kami untuk tidak membiarkan mu pergi." Pembantu itu juga melarang lia untuk pergi dari rumah.
"Aku hanya ingin pergi ke pesta pernikahan adiku, aku mohon aku akan kembali secepatnya, atau jika tidak penjaga bisa mengikuti antar aku dengan mobil menuju tempat pernikahan, aku mohonnnn" Lia sangat memkasa karena baginya, ini sangatlah penting.
Di kesempatan kali ini juga, dia ingin meminta maaf pada ayahnya atas segala kesalahannya.
"Baiklah... Penjaga akan ikut dengan nyonya." Akhirnya kepala pembantu itu mengizinkan lia untuk pergi ke acara pernikahan adiknya.
"Tapi aku mohon, jangan bilang pada john jika aku pergi sebab jika john mengetahui ini dia akan mengacaukan pesta pernikahan adikku." Tambah lia, kepala pembantu itu hanya mengangguk menyetujui keinginan lia.
"Terimakasih." Ucap lia senang.
Mobil yang akan di tumpangi lia sudah siap, lia berangkat bersama dua orang pengawal dan satu supir yang akan menemaninya.
Jarak tempuh menuju rumah lia sangatlah jauh, mungkin lia akan terlambat beberapa menit.
Sementara di rumah keluarga fanz di sana pesta tengah berlangsung meriah, ucapan janji suci pun telah selesai, aedeline dan georgeo resmi menjadi pasangan suami istri.
Banyak tamu yang menghadiri acara itu, tamu yang hadir rata rata adalah pejabat pejabat, pemilik perusahaan, artis dan juga sederetan orang orang kaya.
Di atas panggung, aedeline, georgeo, ayah lia yaitu james fanz, dan ibu aedeline yaitu caroline sedang berbicang bincang untuk menyambut tamu.
Aedeline teringat akan kakaknya, kemana lia yang katanya akan datang ke acara pernikahannya.
"Ayah... Dimana yah... Kak lia di bilang dia akan datang" Aedeline berpura pura baik di depan ayah lia.
"Kamu masih ingat saja dengan kakakmu, dia itu sudah sangat mempermalukan nama keluarga kamu masih saja bersikeras untuk mengundangnya dalam acara pernikahan ini." Ayah lia berucap pelan, dia tidak ingin suaranya terdengar oleh para tamu.
"Tidak apa apa ayah... Walau dia seperti itu dia tetap kakakku dia sangat baik padaku." Ucap aedeline, dia memuji lia yang padahal di belakang aedeline sangat membencinya.
"Kamu memang anak baik aedeline..." Ayah lia memuji aedeline yang sangat baik pada kakaknya.
'Heh kamu pikir anakmu itu akan datang kesini, mungkin gaun saja dia sudah tidak punya.'
aedeline mengejek kakaknya, padahal aedeline tidak tahu sekarang derajat kakaknya lebih tinggi dan jauh terpaut dari pada dia.
Tak lama lia datang menggunakan mobilnya dia meminta supir untuk mengantarnya sedikit jauh dari rumahnya agar para tamu undangan tidak curiga.
Lia juga meminta para pengawal untuk menjaga jarak darinya agar semua orang tidak curiga.
Lia pun berjalan dari tempat supir memberhentikannya menuju tempat pesta sesampainya di tempat pesta yaitu dirumah lia.
Banyak orang yang membicarakan kehadiran lia, ada yang menyebutnya tidak punya malu, tidak punya otak dan sebagainya.
Lia berjalan menuju panggung utama untuk memberi selamat pada adiknya.
Seluruh keluarga fanz yang melihat kedatangan lia terkejut, bahkan aedeline menganga melihat gaun yang di gunakan lia adalah gaun buatan desainer terkenal yang hanya ada satu di dunia.
'Bagaimana dia bisa menggunakan baju itu, baju itu sangat malah dan hanya ada 1 di dunia dan dia yang miskin sekarang bisa membelinya itu tidak mungkin.'
Kesal aedeline melihat kakaknya lebih cantik dari pada dirinya, sehingga kakaknya lebih terlihat mirip seperti pengantin wanita dari dia.
Georgeo terpaku dia tidak tahu, saat melihat lia yang sekarang, jantungnya mulai berdetak kencang.
Lia tersenyum pada seluruh keluarganya, dia tidak marah atau membenci mereka karena dia tahu yang membuat mereka membenci padanya karena aedeline dan ibu tirinya itu.
Lia naik ke atas panggung dengan sangat anggunnya, aedeline tetlihat sangat senang dengan kehadiran kakaknya padahal hanya akting belaka.
"Kakak!" Aedeline dengan cepat memeluk kakanya itu sangat erat dia berusaha terlihat sangat baik di hadapan para tamu undangan.
"Selamat yah aedel kakak turut senang dengan pernikahanmu... " Lia melepasakan pelukan adiknya dan tersenyum bahagia kepada aedel.
Aedeline membalas senyuman kakaknya, padahal di hatinya dia sangat jijik dan benci pada kakaknya.
"Selamat yah georgeo jaga adikku baik baik... " Lia menepuk bahu georgeo, georgeo masih takjub dengan lia yang sekarang lebih santai dan tenang.
Lia melihat ibu tirinya dan memeluknya.
"Kamu masih punya muka untuk kembali kerumah ini?" ibu aedel berbisik di telinga lia.
Lia hanya tersenyum miring, dan menjawab pelan.
"Apakah ibu akan terus sombong seperti ini, tidak kah ibu percaya bahwa aku masih di sayangi ayah? Apakah ibu yakin akan mendapatkan apa yang ibu inginkan?" Jawab lia pelan, dia tahu ibu tirinya tidak akan tinggal diam melihat kehadirannya di pesta pernikahan anaknya ini.
Lia lalu melepas pelukannya seakan tidak terjadi apa apa antara dia dan ibu tirinya.
Lia melihat ayahnya, dia merasa lemah dia tidak tahu apakah ayahnya masih menyayanginya.
Ayah lia menatap lia teduh hatinya merasa bersalah karena waktu itu telah mengusir anak kesayangan.
'Aku senang melihat mu dalam kondisi baik baik saja, dan sekarang kamu bertambah gendut apakah hidupmu yang sekarang lebih baik?'
Ayah lia senang melihat perubahan anaknya yang semakin membaik.
Lia menatap ayahnya dan memeluknya erat erat... Ingin sekali lia berkata rindu, tapi ayahnya sudah tidak menganggap lia sebagai anaknya.
"Ayah... Maaff... " Ucap lia pelan... Dia tidak ingin menangis, menangis hanya membuatnya terlihat lemah.
Ayah lia hanya terdiam, dia tidak mengucap kan apa pun, tapi yang jelas hatinya sangat ingin mengatakan yang sesungguhnya.
Lia melepasakan pelukannya, dan menatap ayahnya.
"Apakah ayah sehat?" Tanya lia, namun belum sempat ayah lia menjawab tangan lia di tarik oleh aedeline dan membawanya pergi dari ayahnya.
"Aku ingin mengajak kakak jalan jalan." Ucap aedeline berbohong sebenarnya dia di suruh ibu kandungnya untuk menjauhkan lia dari ayahnya.
Lia hanya menurut dia mengerti dengan apa yang di rencanakan aedeline dengan ibu tirinya.
Sementara di kantor john, perasaannya tidak tenang saat dia sedang rapat pun pikirannya terbagi dan terus memikirkan lia.
John akhirnya memutuskan untuk menelfon lia namun telefonnya tidak di angkat, john semakin khawatir dia menelefon rumah.
"Hallo bi... Dimana lia!" ucap john setelah mendengar jawaban dari kepala pembantu.
''Itu... iii itu tuan... Nyonya pergi dari rumah nyonya bilang dia ingin pergi ke pesta pernikahan adiknya, tapi tenang tuan dia bersama dengan 2 pengawal dan bersama supir tuan jangan khawatir.'' Jelas kepala pembantu gugup dia takut john memarahinya.
"Baiklah.. " Jawab john, john menutup telefonnya, dia menggebrak meja kerjanya dengan kuat. *Duakkk*
"Apa begitu memalukan nya aku sampai pergi ke pesta pernikahan adiknya saja aku tidak di ajak! Andi kenzo siapkan mobil kita pergi kerumah lia sekarang!" John berteriak dan berjalan pergi menuju mobilnya di ikuti andi dan kenzo.
***
Lia dengan aedeline sedang menikmati makanan yang tersedia, banyak tamu yang bergosip tentang lia yang hadir di acara pernikahan.
"Perempuan tidak tahu malu"
"Mungkin dia datang ke sini hanya untuk numpang makan gratis"
Semua tamu undangan tertawa, lia hanya diam mendengarkan seluruh ejeken para tamu undangan padanya.
Aedeline tersenyum licik, dia senang melihat kakaknya yang mendapat hinaan dari banyak orang.
"Kamu tahu aku menang... " Aedeline berbisik di kuping lia, lia terseyum kecut.
"Apakah kamu yakin? Apakah kamu tidak tahu bahwa ayah memberi ku warisan dari setengah kekayaannya?" Lia menjawab santai di tidak takut dengan ucapan aedeline.
"Bahkan kamu menikah merebut tunangan kakak mu sendiri." Lia menen
gguk segelas minuman yang ada di tangannya.
"Kamu!!!" Aedeline mengangkat tangannya hendak menampar lia, tapi ada tangan yang mencengkram tangan aedeline sehingga tidak berhasil menampar lia.
"Jangan kamu sentuh istri ku!!!" Suara itu terdengar asing di kuping lia, dan benar saja itu adalah suaminya johnson lei.
John mendorong aedeline hingga jatuh ke tanah, semua orang yang datang di sana terkejut.
"Apa!!! Dia adalah istrimu!!" Aedeline terkejut bukan main.
Lia pun hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa.
John menatap tamu undangan dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
"Jika ada yang berani mengganggu istriku! Itu akan berhadapan dengan ku!"