THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
kenapa begitu rumit untuk di pahami



     John teridam kemudian meminum sampanye yang ada di tangannya, tidak ada reaksi dari john hanya dengan mudahnya tersenyum tapi tak memberikan sebuah kejelasan.



  "Apa kau tuli!" Bentak lia dengan nada yang cukup tinggi, dia kesal dengan john karena sama sekali tidak memberikan kepastian.



  Pembantu john yang sedang melakukan pekerjaannya melirik ke arah lia sedikit terkejut karena hanya lia lah yang berani membentak seorang johnson lei.



  "Apa kau tidak bisa sabar untuk mendengar jawabanku Istriku?" John malah tersenyum tipis menatap kagum pada lia karena memiliki keberanian yang sangat besar hingga bisa membentak dirinya.



  Lia yang mendapati tanggapan santai dari john mendecih sebal, lelaki yang ada di hadapannya ini memang sengaja melakukan itu.



   Lia melipat kedua tangannya menaruhnya di dadanya menatap john tajam. "Apakah johnshon lei harus menunggu seseorang untuk berteriak di hadapannya? Bukannya tidak sopan berlaku seperti itu? Aku tahu, tapi johnshon lei kekurangan pembersih telinga atau mungkin terlalu banyak mendengarkan sebuah bualan?" Sedikit sindiran di selipkan dari kata kata yang di ucapkan lia tapi anehnya john seperti sudah kebal dengan sindiran kecil yang menurutnya tidak ada apa apanya. John meletakan gelasnya di atas meja kemudian duduk bersebelahan dengan lia.



  "Aku tidak keberatan dengan syarat dari mu hanya saja yang aku takutkan, saat aku membebaskan mu kau akan pergi dan mengkhianati ku. Bahkan aku bisa membuat mu menjadi artis lagi, tapi apakah aku bisa memepercayaimu?" Suara hangat dan pelan milik john menggelitik telinga lia, wanita itu merasa tidak nyaman memutuskan untuk menggeser tubuhnya mejaga jarak aman dari john.



  "Hei! Jangan takut aku tidak akan menggigit mu." John menarik pergelangan tangan lia agar tidak pergi jauh darinya.



  Lia yang merasa di sindir berusaha menenangkan dirinya agar bersikap biasa saja. "Apakah aku tidak bisa mendapat kepercayaan dari mu? Jika memang kau tidak percaya padaku aku bisa mati di hadapan mu sekarang." Ucap lia dengan nada bicara yang tenang, bahkan itu tentang nyawanya tapi lia seakan tidak menganggap hal itu penting.



John yang mendengar pernyataan lia tersenyum tipis ingin sekali dirinya memberikan tepuk tangan pada lia karena perempuan itu sangatlah berani.



  "Aku bisa mempercayai mu, tapi apakah kau percaya bahwa kita telah menikah? Komitmen yang sangat mudah untuk ku membantu mu sebagai suami mu." Sepandai-pandainya lia merayu, john akan selalu membalikan fakta dan mencari cara agar bisa menang.



  Lia berpikir dengan keras dia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak percaya dengan pernikahan ini, dia harus mencari opsi yang aman ketibang gegabah dan mengatakan hal yang membuat rencananya gagal.



  "Aku percaya jika aku sendiri yang memeriksanya, besok aku memeriksa langsung pada pendeta yang menikahkah kita." Ucap lia lagi setelah berpikir beberapa saat.



  "Jika memang begitu, aku juga akan memberikan jawaban ku esok karena aku ingin kau percaya atau tidak dengan pernikahan kita." John tersenyum manis bukan senyum seriangaian yang dia berikan melainkan sebuah senyum tulus. John juga mengelus rambut lia yang panjang, kembali duduk pada tempatnya semula.



  "Malam ini kau tidur di sini, pembantu akan mengantarkan mu menuju kamar mu." Jelas john sambil berjalan pergi meninggalkan lia bersama dengan pembantu yang sudah di berikan perintah.



  "Mari nyonya lei, saya antar anda menuju kamar anda." Pembantu itu menunjukan jalan menuju kamar yang telah di siapkan untuk lia.



  "Tolong mba, jangan panggil saya dengan panggilan seperti itu, saya bukan istri johnshon lei." Lia tersenyum canggung pada pembantu yang sepertinya umurnya lebih tua dari lia.



   "Ah bagaimana bisa nyonya bukan istri tuan, semalam kalian berdua sudah menikah saya juga ikut menyaksikannya." Ucap pembantu itu, memang tidak ada yang salah dari ucapannya hanya saja lia yang masih bingung dengan apa yang terjadi di sini.




  "Mungkin dengan beristirahat nyonya bisa mengingat kembali." Pembantu itu tersenyum kecil memberhentikan langkahnya ketika sampai di sebuah pintu ruangan yang cukup besar.



  "Nyonya di dalam sudah di siapkan baju, setelah itu nyonya di tunggu oleh tuan lei di ruang keluarga." Jelas pembantu itu sambil meninggalkan lia di depan pintu.



   Kebingungan memenuhi otak lia antara banyak pilihan dan ketentuan sangat merepotkan.



  Lia membuka pintu ruangan itu dilihat oleh matanya sebuah ruangan dengan gaya eropa dengan hiasan lebih berwarna emas menjadi gaya utama untuk kamar yang lia lihat, sedikit kekaguman di pancarkan dari wajah lia, yang begitu takjub akan dekorasi dan arsitektur kamar ini.



   Lia masuk kekamar itu, bola mata lia tidak berhenti berputar putar melihat seluruh hiasan di dalam kamar, tempat tidur besar di hiasi tiang bak kamar seorang ratu eropa pada zaman dahulu.



  Tak dapat di deskripsikan lewat kata kata betapa indahnya kamar itu, sehingga membuat lia terdiam membeku.



  Setelah puas memperhatikan, lia melihat sebuah pakaian yang di letakan di atas kasur. Lia mengambil baju yang berwarna putih itu dan menggunakannya, entah kenapa baju itu begitu pas dengan lia.



  Lia membiarkan rambut panjangnya tergerai tanpa memberi tambahan apa apa lagi, lia segera turun untuk menemui john di takutkan john akan marah dan akan berbuat sesuatu yang tidak di inginkan.



  Lia turun kebawah menuju ruang keluarga yang terletak persis di bawah tangga. Lia menuruni satu persatu anak tangga dengan anggunnya, baju yang digunakan lia seperti bersatu dengannya baju gaun setumit berwarna putih dengan hiasan bordir di bagian dada dan pinggang menciptakan keelokan yang membentuk tubuh sempurna milik lia, di tambah pula dengan keindahan rambut panjang lia dan juga kaki jenjangnya membuat lia menjadi sangat sempurna.



  John yang melihat penampilan lia seolah tak sadar, bahwa sedari tadi dia tidak berkedip dan sekali pun tidak mengalihkan pandangannya dari lia. Lia berjalan ke arah john yang sedang duduk di sofa sambil menunjukan tampang galak, berdiri tegak di hadapan john.



   "Ada apa kau memanggil ku kemari?" Tanya lia sambil menatap santai kearah john. "Duduklah terlebih dahulu." John meletakan telapak tanganya di sofa memberi isyarat agar lia duduk di sampingnya, lia dengan santai duduk di samping john sambil sedikit memberi jarak dari john.



   "Ada apa? Kau tidak melihat aku sudah begitu kelelahan, aku ingin istirahat bisa?" Lia mengeluh kepada john dari wajah lia memang sudah terlihat kalau lia cukup kelelahan.



   "Istirahat? Kau lelah? Kalau begitu istirahatlah di sini temani aku sebentar." John merangkul pinggang lia dari samping, lia sedikit tidak nyaman dengan perlakuan john terhadapnya.



    "Aku tidak bisa, aku merasa tidak nyaman" Lia menatap john sambil menunjukan raut wajah tidak suka.



   "Tidur disini saja aku akan membuatmu nyaman." John kembali menarik pinggang lia agar mendekat padanya, meletakan kepala lia di bahunya dan mengusap usap rambut lia.



  "Tidurlah, aku mencintaimu." John mencium kening lia sambil terus mengusap rambut istrinya itu.