THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
waktu istimewa



"Kau sekarang tinggal di mana? Aku akan mengunjungi mu!" Mia ingin bertemu dengan lia setelah beberapa hari tidak bertemu.


    "Aku tidak bisa memberi tahu di mana tempat tinggalku, aku harus bilang kepada suami ku. Dia tidak ingin ketenangan nya di ganggu." Jawab lia berbohong, dia tidak mungkin berkata jujur bahwa dia tinggal bersama pemilik perusahaan HW evolusion yang sangat kaya raya dan terkenal, itu akan membuat mia terkejut.


   "Suamimu sangat tertutup, aku yakin dia sangat membosankan." Tebak mia, mendengar cerita lia tentang suaminya membuat mia berpikir bahwa john adalah seseorang yang membosankan.


   "Ya. Dia memang seperti itu." Lia memainkan bola matanya, di pikirannya tidak ada namanya john yang membosankan, yang ada hanyalah john yang keras kepala dan juga ingin menang sendiri.


   Selama beberapa jam lia bercerita dengan monica, Jika mereka sudah berbicara tidak ada hal yang bisa menghentikan mereka, bahkan pekerjaan tapi jika pekerjaan itu begitu penting, menunda lebih baik. Tapi setelah itu mereka akan meneruskan cerita mereka lagi.


   Baru saja selesai menelefon dengan mia, john datang kini dia sudah mengganti pakainannya.


   John menggunakan kemeja panjang berwarna navy dengan celana panjang hitam membuat kesan cool pada john. John melihat lia yang mulai membaik, dia duduk di samping lia.


   "Kau habis berbicara pada  siapa?" John menarik tangan lia dan menggenggam nya erat-erat, dia tidak berhenti menciumi punggung tangan lia yang terasa sangat dingin.


   "Siapa pun, itu bukan urusanmu! Itu adalah masalah pribadi ku!" Jawab lia cuek dia masih malas menjawab pertanyaan john dengan baik atau jujur.


    "Kau begitu cuek padaku? Apakah kau begitu membenci ku?" Tanya john lirih, dia merasa begitu berdosa pada lia sehingga bertanya saja lia tidak mau jujur dan tidak peduli padanya.


   "Kau pikirkan sendiri! Aku tidak mau terlalu banyak berbicara." Lia mengalihkan pandangannya, baru pertama kali ini dia melihat seorang johnshon lei begitu merasa bersalah dan tidak berdaya.


   "Oke, sekarang kau harus makan terlebih dahulu" John mengeluarkan sebuah tempat makan dari dalam plastik yang tadi dia bawa. John membuka tutup tempat makan itu, ternyata isinya adalah bubur, john menyuapi lia dengan penuh perasaan.


   "Ayo makan, kau tidak makan selama beberapa hari. " John menyuapkan sesendok bubur ke mulut lia. Lia terdiam sejenak, dia mencoba merasakan masakan yang di bawa john untuknya.


   "Bubur ini, kau yang buat?" Tanya lia dia menatap john serius, wajahnya terlihat tidak menyangka tapi john tidak bisa menebaknya.


   "Ini—bubur buatan bibi." Jawab john berbohong padahal bubur ini adalah buatannya sendiri, dia ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk istri tercinta nya.


  Hanya saja dia terlalu takut lia akan menolak buburnya, jika tahu yang memasak bubur ini adalah dirinya.


   "Oh, pantas rasanya nikmat, mungkin jika kau yang membuatnya rasanya akan aneh" Lia menyukai bubur yang di buat oleh john, walau john mengaku bubur itu adalah buatan bibi di rumah tapi dia merasa senang lia memuji rasa masakannya.


    "Kalau memang enak, kau harus makan yang banyak." John menyuapi lia lagi, lia menerima saja, dia memang sangat lapar dia juga tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit.


   Sangat langka baginya seorang john yang keras kepala tiba tiba berubah jadi perhatian dan lembut seperti ini. Walau hanya perlakuan kecil, suasana itu membuat hati mereka tenang, seakan sedang melakukan kencan romantis yang  sederhana tapi begitu manis.


   Sebuah perhatian yang sangat amat tulus di tunjukan oleh john, tapi kenapa? Terkadang John begitu angkuh dan sombong kadang juga sifatnya dingin.


   Dan sifat itu selalu berubah ubah, tidak bisakah satu sifat ini terus bertahan di diri john. Janganlah menghilangkan rasa perhatian dan kasih sayang yang begitu besar ini, Karena dengan cara ini lia yang keras kepala bisa di taklukan.


   "Maaf, saya mengganggu, saya hanya akan memberikan obat ini." Suster meletakan obat yang harus di minum oleh lia.


   "Letakan saja di situ" Dingin. Angkuh di tunjukan oleh john, ekspresi ketidaksukaan  john terhadap suster itu dia tampilkan dengan sangatjelas.


   Dia ingin marah karena suster itu mengganggu waktu istimewanya bersama lia, yang jarang sekali john dapatkan. Walau john tahu suster itu tak berniat menganggu waktu mereka berdua.


    "Baiklah, Saya harus segera pergi." Suster itu segera berjalan pergi meninggalkan lia dengan john, tapi lia menahan suster itu agar tidak dulu pergi.


    "Tunggu!" Teriak lia, suster itu berhenti dan membalikkan badannya menghadap lia.  "Kapan saya bisa pulang?" Sepertinya lia sudah tidak betah berada di rumah sakit ini.


   "Saya tidak tahu, saya harus menanyakannya lagi pada dokter, saya yakin anda bisa sesegera mungkin pulang dari rumah sakit ini." Kaku, suster itu sangat kaku, dia sepertinya sangat takut dengan john, bahkan untuk menatapnya saja suster itu tidak berani.


   "Oke..." Raut kekecewaan di tampilkan lia, dia tidak betah di rumah sakit ini. Suster itu berjalan pergi, john melihat lia yang begitu bersedih.


    "Kau kenapa ingin sekali cepat-cepat pulang? Apa kau rindu melakukannya denganku? Atau kau merasa disini  tidak ada kebebasan untuk kita melakukannya?" Goda john, dia ingin menggoda istrinya yang imut ini yang terkadang cuek dan dingin ini.


    "Jangan mengatakan hal yang sangat tidak penting! Kau sudah berjanji tidak akan melakukan hal-hal aneh padaku!" Lia memberontak dia tidak mau melakukan hal yang di bicarakan john, itu membuatnya merasa seperti orang gila.


    "Aku tidak bilang setuju! Pada permintaan mu untuk kita tidak melakukan hal seperti itu, lagian kita adalah sepasang suami istri, kau pasti akan mersakannya, dan mungkin akan terbiasa."John semakin menggoda lia, kini wajah lia memerah ucapan john membuatnya malu.


     "Sudah Cukup! Kau memang selalu berusaha untuk menang." Lia berusaha menyembunyikan wajahnya dari john, agar john tidak melihat bahwa lia sekarang sedang merasa malu.


    "Wajah mu memerah, sayang... Apakah kau malu?" John tersenyum licik, dia ingin tertawa sekencang-kencangnya melihat wajah istrinya itu.


    "Tidak! Aku tidak malu! Sudah aku ingin beristirahat, jangan ganggu aku!" Lia menarik selimut dan menutupi wajahnya, rasa malu masih jelas di rasakan lia.


    Lia tersenyum kecil, mengingat apa yang di bicarakan john tadi, sejujurnya dia merasa malu dengan ucapan john tapi terkadang rasanya. Entahlah untuk sekarang lia belum dapat memastikan kenapa sekarang dia bisa tersenyum sendiri.


    "Oke aku berhenti, kita teruskan di rumah saja, aku tahu kau sangat tidak nyaman melakukan nya di sini." John menarik selimut yang menutupi wajah lia dan mencium keningnya.


    Di cium oleh john, membuat wajah lia semakin memerah. Oh tidak wajah lia sangat merah, rasa malunya begitu besar. Dan sekarang perasaannya tidak menentu,  karena johnson lei sudah berhasil menggoda dirinya.


Johnson lei sialan!


...  ***...


... ...