
Lia yang hanya menurut dengan apa yang di katakan john, lia duduk di pantry sambil mencicipi beberapa buah yang tersedia di sana.
Dari kejauhan lia melhat john sangat handal dalam memasak, entah bagiamana di bisa tidak tahu tentang itu.
Kadang john sering sekali berbalik dan menunjukkan senyumannya pada lia, lia hanya tertawa geli sejak kapan john lebih sering tersenyum padanya?
****
Sementara di kediaman keluarga fanz, ayah lia sangat terkejut dengan pernyataan yang ia dengar bahwa yang sudah membuat lia seperti itu adalah anak tirinya sendiri yaitu aedeline dan juga istri sahnya caroline.
"Saya tidak menyangka bahwa semua ini adalah rencana busuk kalian semua!" Ayah lia langsung memarahi istri dan anak tirinya itu.
Aedeline yang masih menggunakan gaun pengantin menatap ayahnya sendu, sesekali menunjukkan ekspresi memohon dan merasa bersalah padahal itu hanyalah sebuah kedok untuk menyembunyikan kejahatannya.
"Bukann pah... Mama yakin pasti bukan aedel kan?" Caroline menatap anaknya memberikan isyarat untuk mengangguk dan membela dirinya.
"I-i-ya pah... Bukan aedel yang ngelakuin nya, pasti orang itu adalah suruhan kak lia supaya aku di anggap jelek di depan papa..." Aedeline menunjukan wajah lemah dan tak berdaya.
"Pasti kak lia cemburu karena aku menikah dengan georgeo.. " Tambah aedeline sambil menatap suaminya yang tengah duduk di sofa.
"Apa yang akan kamu katakan! Kita semua sudah melihat buktinya, jika kalian memang ingin tetap hidup lebih baik sekarang kalian pergi dari rumah ini! Jangan kembali! Aku ingin kita bercerai caroline aku akan memberikan tunjangan untuk kehidupan mu dan aedeline, tidak ada yang membatah ini sudah keputusan akhir ku, kalian berdua pergi!" Teriak ayah lia dia sudah sangat marah dengan perbuatan kedua orang yang sangat dia percaya ini.
Caroline dan aedeline melangkah pelan meninggalkan ruangan kerja ayah lia dengan berat hati, tapi tidak ada rasa bersalah atau pun menyesal karena telah melukai lia.
Caroline justru senang karena mendapatkan uang tunjangan dari suaminya walaupun dia tidak berhasil mendapatkan perusahaan ayah lia, tapi dia masih punya aedeline yang bisa memanfaatkan george untuk menguras habis hartanya.
Aedeline berlari mendekati georgeo yang sedari hanya diam mendengarkan perdebatan antara keluarga yang penuh dengan drama ini.
"Gio... Mari pulang.. " Aedeline menarik tangan georgeo dan menggoyang goyangkan tangannya.
Georgeo berdiri dari duduknya, membenarkan jas pernikahan yang sebelumnya belum dia ganti, karena acara pernikahan nya benar benar gagal dan hancur karena kehadiran johnson lei.
"Maaf, tapi setelah aku mengetahui bahwa kamu yang merencakan taktik murahan ini, aku jadi merasa diriku tidak pantas bersanding dengan wanita murah seperti mu... Untungnya diriku belum melakukan apa pun dengan mu... Aku beruntung tuhan masih menyayangi ku... Hari ini juga kita bercerai!" Tegas georgeo tanpa ada rasa bersalah sedikit pun bahkan dia dengan mudahnya mengatakan hal itu tanpa merasa menyesal.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh georgeo membuat aedeline terjatuh, aedel merasa nyawanya baru saja di cabut.
Dan usahanya selama ini sia sia dia dengan susah payah membuat rencana ini dengan ibunya, dengan tujuan aedel bisa mendapatkan georgeo yang sedari dulu telah dia sukai.
Dan juga dengan di usirnya lia dari keluarga fanz memberikan kesempatan untuk aedeline bisa memliki perusahan ayah lia dengan sepenuhnya.
Namun karena kedatangan john tadi siang membuat seluruh rencana yang sudah dia buat hancur berantakan.
Sudah dirinya tidak mendapatkan perusahaan ayahnya dan juga dia tidak berhasil mendapatkan georgeo.
Bagai sudah jatuh di timpa tangga pula, peribahasa itulah yang cocok di berikan pada aedeline dan ibunya.
Kepandaiannya dalam berakting belum hilang bahkan semakin berkembang.
"Nakk georgeo tidak perlu seperti itu... Maafkan anak saya... Maaf...Nak georgeo bisa bukan membatalakan perceraiannya?" Caroline menatap georgeo dengan senyum yang meyakinkan bahwa georgeo tidak akan menceraikan anaknya.
"Maaf tapi keputusan saya sudah bulat...Saya lebih memilih merebut lia dari johnson lei dari pada harus menerima wanita murahan seperti aedeline.." Ucapan terakhir georgeo membuat hari aedeline seketika remuk berkeping keping.
Kenapa dirinya harus selalu di bandingkan dengan kakaknya yaitu lia kurang apakah dirinya?
Kadang dia lelah terus di jadikan perbandingan orang orang, namun kenapa dia harus merasakan ini lagi.
"Aoa istimewa nya lia sehingga dia begitu di cintai! Diriku kurang apa!? Apa yang kurabg dariku..... Hiksss aku benci kamu annalia!" Teriak aedeline histeris sambil terus menangis.
"Perbedaan nya adalah annalia adalah orang yang akan berjuang untuk mendapatkan apa yang dia mau, bukan melakukan hal murahan yang dapat menurunkan harga dirinya Sendiri!" Tanpa panjang lebar georgeo pergi dari ruangan ayah lia, sedangkan aedeline masih tetap menangis ibunya juga hanya bisa menenangkan anaknya.
Ayah lia hanya diam di balik meja kerjanya, rasa bersalah nya begitu besar pada lia karena dia terlalu percaya pada 2 orang penipu ini sehingga lupa pada anak kandungnya sendiri.
'Maafkan aku... Aku adalah ayah yang sangat bodoh!' Sesal ayah lia di dalam hatinya.
****
Lalu di tempat vila lia dan john, mereka berdua tengah menikmati makan romantis di pinggir pantai sebenarnya mereka berdua berada di atas balkon kamar lia.
Kebetulan di sana terdapat balkon yang langsung menghadap ke pantai dan cukup luas untuk melakukan makan malan, hanya dengan di temani lilin juga deburan ombak membuat rasa ini seperti sedang dinnet romantis di dalam hotel atau restaurant mahal.
Dengan makanan seafood dan juga meat buatan john, membuat mata yang melihat makanan tidak berhenti mengusap air liur nya.
Lia sedang menikamati beberapa seafood buatan john, dia sangat suka dengan masakan john Karna rasanya sangat enak.
"Aku tidak tahu sejak kapan kamu bisa memasak masakan seenak ini?" Tanya lia yang masih mengunyah makanannya.
"hehe.. Aku sangat senang jika kamu benar benar menyukainya.. " John masih sempat mengelus elus rambut lia.
"Suasana disini begitu menyejukan hati.." Lia menatap indahnya pantai yang biru di malam hari, sinar bulan memberikan cahaya tersendiri untuk warna laut yang berwarna gelap di malam hari.
"Aku sangat senang jika kamu benar benar menyukainya...Lupakan seluruh masalah mu... Ingatlah bahwa masih ada diriku yang akan selalu mejagamu.. " John memegang kedua tangan lia dan mengambil sesuatu dari dalam jas yang dia gunakan.
"Maafkan diriku karena terlambat memberikan ini untuk mu.. " John memasukan sebuah cincin ke dalam jari manis lia, ini semua telah di persiapkan sebelumnya dengan penuh perencanaan yang matang.
Sebuah cincin dengan mata berlian berwarna biru di bagian tengah dan juga berlian kecil yang bertaburan di pinggir di sekitar cincin sangat indah dan cocok di gunakan oleh lia.
John memang suami yang sangat sempurna bahkan untuk ukuran jari istrinya sendiri dia mengetahuinya, walau sebelumnya lia tidak menerima kehadiran john tapi kini dia merasa john benar benar orang yang di berikan tuhan untuknya.