
Wanita dengan wajah cantik sempurna berjalan cepat melewati kerumunan manusia yang sedang sibuk dengan sesuatu hal yang sudah menjadi kewajibannya, lia orang itu adalah lia tanpa hiaru dengan keadaan di sekeliling nya, lia menerobos siapa pun yang menghalangi tempat nya untuk berjalan.
Kantung mata wanita itu berair menahan sebuah tangisan yang sedari tadi dia tahan, wajah nya merah padam memancarkan ke kesalan yang tak terlampiaskan, salah satu telapak tangannya mengepal, seolah siap memberikan tinjuan untuk siapa saja yang berani mendekati dirinya.
Lia, dengan sisa tenaganya berusaha menjauh dari tempat nya berdiri tadi, walau lia tahu sekarang sesosok lelaki dengan wajah erotis sedang mengejarnya mati matian, tapi lia berusaha untuk tidak bertatapan dengan orang yang telah membuat kepercayaan nya pada cinta hancur.
Dengan sarkas lia berdecih jijik jika mengingat apa yang dia lihat sebelum nya, benci? Lia sangat membenci akan hari ini, dimana sebuah masalah harus ia rasakan lagi dalam hidupnya, kebahagiaan yang sebelumnya ia rasakan tersapu begitu saja oleh angin kekecewaan, itu yang sekarang menggambarkan hati lia sekarang.
"Lia! Tunggu!" Pria itu yang tak lain adalah johnson lei suaminya sendiri tengah berlari sekuat tenaga menyusul lia yang sedang di rundung kebimbangan.
grep!
"Tunggu!" Johh berhasil mencengkram lengan kanan lia, lia yang sudah tertangkap harus pasrah mendengar kan segala penjelasan dari john yang di yakini lia adalah sebuah kebohongan belaka.
"Lepas!" Lia menarik pergelangan tangannya yang masih di genggam erat oleh john, apalah daya tenaga john lebih besar dari pada dirinya.
"Tunggu! Dengar kan dulu penjelasan ku! Itu tidak seperti apa yang kamu lihat lia!" John menatap lia dengan tatapan yang meyakinkan, tapi dengan mudahnya lia menunjukkan tatapan jijik dan seolah tidak peduli dengan apa yang di jelaskan oleh john.
"Lalu aku harus bagaimana?" Lia menarik pergelangan tangannya lagi dan kini berhasil, "Aku harus mengatakan apa? Apa aku harus terkejut dan mengatakan 'Woow' suami ku sedang berpelukan dengan seorang wanita di dalam ruang kerjanya...? Atau aku harus pergi ke kantor polisi untuk melaporkan ini? Itu maumu?" Jelas lia dengan nada merendahkan.
"Dengar dulu apa yang aku katakan annalia fanz!" Bentak john pada lia, johh tidak peduli bahwa mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian banyak orang yang melintas, karena sekarang ini mereka sedang berdebat di pinggir jalan.
Lia menangis air matanya sudah tidak dapat di bendung lagi, bentakan john tadi membuat lia menyadari sesuatu yang cukup menyesakkan dada.
"Oke aku mendengar kan... Katakan apa yang kau ingin jelaskan?" Lia melipat kedua tangannya dan menaruhnya di dadanya, walau sesekali lia menghapus air matanya kasar.
John membuang nafas kasar, john menyesal karena tadi membentak lia yang john ketahui bahwa saat trimester pertama perubahan mood wanita hamil dapat berubah ubah dengan cepat.
"Dia... Dia rimelda, tunangan ku dulu dia menangis karena di tinggal kekasihnya, sebab itu dia datang padaku dan bercerita tentang semuanya.. " Jelas john pada lia, sementara lia tidak menunjukkan ekspresi apa pun dia masih menunggu john untuk mengatakan sesuatu hal yang dapat menyakinkan lia untuk percaya pada john.
"Hanya itu?" Tanya lia yang sedari terdiam menunggu penjelasan john selanjutnya tapi lia tidak mendapatkan kepuasan dari penjelasan john.
"Aku pikir akan ada alasan logis tentang apa yang ku lihat, ternyata tidak, kau sama saja seperti lelaki yang lain...Heh, aku lupa bahkan aku sampai tidak tahu apa alasan mu menikahi ku" Lia membalikan tubuhnya berjalan pergi dengan tetesan air mata yang sudah membasahi pipinya.
John tidak ingin mengejar lia, john hanya ingin lia menenangkan pikirannya, john juga tidak khawatir lia akan melakukan hal hal gila, karena john yakin lia akan berfikir dua kali karena sekarang di dalam tubuhnya ada sebuah nafas yang menunggu kehidupan.
***
Lia seorang gadis dengan mata bulat itu terdiam selama beberapa jam di sebuah cafe yang sangat dia sukai, sambil menyesap chocolat coffie yang membuat rasa dingin di sekeliling nya menghilang.
Lia sudah cukup menangisi john, entahlah dia sudah terlalu bosan menangisi seseorang yang memang tidak menginginkan kehadirannya.
Toh dia juga tahu semua ini akan terjadi sedari awal, apakah alasan john untuk mempertahankannya? Mungkin bayi ini, apa john hanya memanfaatkan lia untuk mendapatkan keuntungan dari lia, yaitu seorang keturunan?
Alasan yang sepadan dengan segala yang di pikirkan lia, hampir 3 jam setelah kejadian bodoh itu lia terus duduk di cafe ini, sudah hampir satu loyang lia memakan red Velvet cake and ice cream yang sudah dengan baik hati membantu memperbaiki mood lia yang sudah hancur.
"Tenang lia, tenang, apa pun alasannya john hanya memanfaatkan mu...Well alasannya untuk menikahiku pun tidak jelas" Gumam lia pada dirinya sendiri, terlihat gila memang tapi apalah yang bisa lia lakukan. Bercerita pada siapa dia saat ini? Mia sedang sangat sibuk, sama hal nya dengan ayahnya yang mungkin tidak akan pernah menyempatkan waktu untuk mendengar kan keluh kesahnya.
"Aku memang sendirian... " Lirih lia lagi sudah gelas ke lima lia meminum kopi kesukaannya ini, baginya ini adalah sebuah obat untuk menghilangkan rasa kesalnya.
"Mba! Tolong jus melon with milk" Perintah lia pada seorang pelayan yang kebetulan melewati dirinya.
Pelayan itu mengangguk menyetujui permintaan lia, lia memijit pelipisnya pelan otaknya terasa berputar begitu cepat, kepalanya terasa berat sedetik kemudian mata lia terpejam total, dia sadar akan apa yang di lakukan nya kini tapi yang dia harapkan dia tidak lagi bisa membuka kedua matanya, "Ini silahkan jus nya... " Pelayan itu datang sambil menaruh segelas jus pesenan lia di atas meja.
Nyatanya lia tidak akan pernah bisa menutup matanya jika dia tidak benar benar mati, lia tersenyum kepada pelayan itu yang sudah melayaninya dengan baik.
Brakkkkk!
Lia tersentak wajahnya berubah tajam saat mendengar suara dentuman keras meja yang di gebrak, lia meluaskan pandangnya dan terfokus pada seorang wanita dengan tatapan marah menatapnya seksama.
Wanita dengan surai cokelat itu membawa aura gelap yang membuat siapa saja yang dekat dengannya tertular aura nya itu.
Lia mengeritkan alisnya bingung, lia menelisik setiap sudut dari wanita yang baru saja membuat jantung nya bersenam ria itu, dengan jengkel lia bertanya pada wanita yang sedikit tidak asing baginya.
"Siapa aku?! Harusnya aku yang bertanya siapa dirimu! Berani berani nya datang ke kehidupan john?! Hah!? Wanita jalang!" Bentak wanita itu sarkas, lia semakin kebingungan, apa yang wanita ini bicarakan, pikir lia.
"Saya tidak paham maksud anda, tolong jaga bicara anda!" Timpal lia tak kalah kasar, jika sudah tentang bentak membentak lia sudah ahli dalam hal ini.
"Jangan pura pura suci deh mba! Jalang mana ada yang ngaku! Dasar jalang!" Wanita itu dengan kasarnya mendorong tubuh lia hingga jatuh tersungkur ke lantai, orang orang yang melihat pertengkaran itu hanya bisa diam dan menyaksikan sebuah tontonan gratis ini.
Lia geram dia mengepalkan tangannya, menatap tajam wanita yang berada di hadapannya ini dengan tatapan siap membunuh, wajahnya tiba tiba berubah dingin.
Byurrrr
Lia dengan berani nya menyiramkan jus melon miliknya di tubuh indah wanita itu, dengan seriangai tajam lia menatap remeh wanita yang sama sekali tidak di kenal olehnya.
"Ternyata aku masih terkenal sebagai seorang artis, bahkan orang asing pun mengaku mengenalku, dasar fans!" Lia mengguratkan wajah dingin nan menyeramkan yang hanya dia tunjukkan pada saat dia sedang menghadapi orang berengsek yang kurang pekerjaan.
Wanita itu menggertakan giginya, pakaian yang di gunakan olehnya sudah basah kuyup karena di siram oleh jus milik lia, semerbak bau harum melon menyeruak di sekitar meja lia, harum melon itu memabukkan seolah membuat siapa pun terbuai dengan wanginya.
Tapi tidak dengan seseorang yang menjadi sasaran siraman jus melon itu, dia begitu kesal dengan perlakuan lia yang seharusnya menjadi korban nya saat ini, tapi di balikan kini dirinya menjadi korban dari kenekatan lia.
Wanita itu, lia sudah tidak lemah seperti biasanya dia berani melawan dengan siapapun yang mengancam hidupnya.
Pengalaman hidup lia seolah menjadi latihan bela diri dalam sikapnya untuk menangani orang orang yang menjadi benalu untuknya, mengancam, menghina, mencemooh merupakan salah satu faktor kuatnya mental lia terhadap bully an orang lain terhadap dirinya.
Menjudge adalah salah satu 'Hobi' bagi orang orang yang selalu menganggap dirinya benar, dengan segala sangkalan dan sebuah perkataan yang hanya bisa di cerna oleh masing masing dari orang yang memiliki IQ 'yang sama' dengan orang yang membuat spekulasi bodoh, tanpa fakta yang menyudutkan dapat orang lain.
"Lia! Rimelda! Apa yang kalian lakukan!" Vokal suara khas itu sudah sangat di ketahui oleh lia, pemiliknya adalah johnson lei suami sekaligus CEO dari perusahaan HW EVOLUTION.
Lia melirik sebentar asal sumber suara itu, tak bertahan lama ketika dia melihat wanita yang di panggil rimelda itu *Terjatuh* secara tiba tiba ke lantai, wajahnya memelas dan air mata sudah membasahi wajah manisnya, sayangnya itu adalah air mata palsu.
"John... Tolong... " Lirihan wanita itu terdengar menggema di seluruh sudut cafe itu, dengan pandainya wanita itu berakting seolah dirinya yang tersiksa di sini.
"Rimelda kamu tidak apa apa?" John dengan sigap mendekati rimelda berusaha membantunya berdiri. "Astaga! baju mu basah... " Dengan cepat john membuka jas yang di gunakannya oleh nya, lalu menyelimuti nya di tubuh rimelda.
"Cihh menjijikkan!" Sementara lia yang melihat tontonan itu hanya berdecih jijik dengan akting yang bagus rimelda dapat mengelabui john.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya john yang masih mendekap tubuh rimelda dalam pelukan hangatnya.
"Istri mu john, aku aku aku hanya ingin menjelaskan semuanya tentang hubungan kita sebagai sahabat, tapi apa yang dia lakukan? Dia menyiramku.... " Dusta rimelda dengan manjanya pada john, John yang mendengar pengaduan dari rimelda, menatap sang pelaku tajam john sempat tidak menyangka istrinya dapat melakukan hal semurah itu.
"Apa yang kau lakukan lia! Kamu tidak melihat bahwa rimelda ingin menjelaskan semuanya kepadamu! Tapi kenapa kau malah memperlakukan ini kepadanya!
aku tidak menyangka kamu akan semurah itu lia... " John dengan mudahnya percaya dengan omongan rimelda yang sama sekali tidak benar dalam segalanya.
Perkataan john yang menohok, menyayat hati kecil lia sehingga membuat sebuah luka kembali tercerca di relung hati lia untuk kesekian kalinya.
"Kau percaya dengan ucapan nya? Hah! Aku tidak menyangka kamu lebih percaya dengan jalang seperti dia dari pada istri mu sendiri? Aku tidak akan membela diri, silahkan kau percaya dengan ucapannya, tapi jangan salahkan aku jika suatu saat nanti kau menyesal!" Lia mengambil tas jinjing miliknya, lalu pergi meninggalkan dua orang yang telah membuat hari lia buruk.
'Ternyata aku harus merasakan lagi yang namanya di tinggalkan' Cicit lia di dalam hatinya, sambil berjalan pelan air matanya sudah tidak dapat dia bendung lagi, "Hiks.. Hikss jika kamu bahagia bersama dia, aku pergi... Hiksss" Ucap lia pelan setelah meninggal kan cafe yang dia tempati tadi
Hai makasih yah yg udh baca novel ku, maaf jarang bales komentar kalian, aku takut gugup heheheh, jangan lupa semangat in aku dengan cara vote like dan juga kasih Point nya, ohh ya novel ini adalah asli karya pemikiran aku sendiri, novel ini sampai chap 30 karena otakku bukan karena niru komik atau sebagainya, hanya meluruskan saja, terimakasih:)