
**Alohaaa semuaa, rindu dengan author? Heheh jadi gini aku mau kasih kalian hadiah nih sebab kalian udah buat aku seneng banget hehe, niatnya padahal chapter ini buat nanti kalau terbit:( tapi gak papa lah aku publish di sini buat kalian semua, ucapan terimakasih ku pada kalian semua, oh iya husbandnis, the perfect husband lagi aku revisi yah.
Malu ini liat tulisannya berantakan banget, maklum yah my first novel heheh, cerita ini semua pake sudut pandang lia yah, jadi lia yang akan menceritakan kisah hidupnya setelah adanya axel di kehidupan mereka.
Happy reading husbandnis**:)
***
"Shhsss jangan menangis, jagoan Dady" Lelaki dengan kaos v neck itu menenangkan seorang bayi laki laki berumur 6 bulan yang sedang menangis dengan cukup keras.
"Cup cup, udah yah.. Udah." John dia menepuk nepuk bokong sang anak agar tak lagi menangis, walau john tahu itu percuma. "Haus yah? Sebentar tunggu momy mu dulu." John menantap anaknya yang masih dengan keadaan menangis tiada henti.
"Ya ampun... Anak momyy." Lia mengambil alih axel, anaknya, dari gendongan suaminya. " Axel haus yah?" Lia mendudukan tubuhnya diatas kasur, diikuti oleh john yang duduk di sampingnya.
"Mungkin dia haus, beri saja asi." Perintah john, lia mengangguk lalu memberikan asi pada axel yang kemudian diam lagi tak mengeluarkan suara tangisan.
"Kayaknya beneran haus." John memperhatikan anak pertamanya yang masih menyusui.
Di bulan ke 6 kelahiran axel banyak hal baru yang dipelajari oleh john, termasuk menjadi suami yang bertanggung jawab, john juga belajar banyak tentang cara mengurus seorang anak.
Dia paham betapa sulit perjuangan lia saat bertahan hidup selama 8 bulan tanpa dirinya, membayangkan setiap pagi harus mengalami morning sickness, mencari makan tanpa bantuannya membuat john benar benar merasa bersalah. Bersyukurnya john karena diberikan seorang wanita kuat seperti lia, yang mampu mempertahankan kebahagiaannya sendiri tanpa bantuan dari orang lain.
John menatap lia yang masih berkutat dengan axel, sesekali menciumi wajah axel yang sangat sendu saat tertidur, john mengetahui axel belum tidur dari tadi siang sehingga membuat axel sedikit uring uringan.
"Ada apa?" Tanya lia menyadari john tengah memandangnya dengan tatapan yang sangat misterius.
"Tidak ada... " Jawab john kemudian berdiri untuk membereskan alat alat mandi milik axel juga pakainnya yang berceceran diatas tempat tidur.
John menatap kembali lia yang masih membungkus tubuhnya dengan bathrobe, sehabis mandi. Istrinya itu bahkan belum sempat memakai baju karena mengurus axel. Sekali lagi john merasa takjub dengan segala sikap lia yang hampir mendekati kearah keibuan.
Lia menidurkan axel di tempat tidurnya, menutupi setengah tubuh axel dengan selimut tipis menghindari axel supaya tak terkena terpaan hawa dingin dimalam hari.
"Kau sudah makan malam?" Tanya lia sambil mengambil beberapa helai pakaian dari dalam walk in closet untuk ia gunakan.
"Belum." Jawab john sambil memperhatikan gerak gerik lia yang bersiap untuk mengganti pakaian.
"Kenapa?" Tanya lia yang dengan cepat mengganti bathrobe yang digunakan olehnya menjadi baju tidur.
"Menunggu mu." Jawab john yang masih tak melepaskan pandangan dari lia, lia tak terlalu memperhatikan bahwa john sedang memperhatikan dirinya. "loh? Untuk apa nunggu aku?" Lia semakin kebingungan dengan sikap john, tapi lia memutuskan untuk meneruskan aktivitasnya yaitu mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk.
"Kalau memang lapar, duluan saja, aku sudah memasakan makanan kesukaanmu, nanti aku menyusul." Ucap lia yang kini menyisir rambutnya dengan telaten, saat itu harum mentol tiba tiba saja tercium, john tersenyum dia tahu, harum ini berasal dari rambut lia.
"Tidak, aku akan mengajak mu makan bersama." Jawab john yang masih duduk dipinggir ranjang, "Cih keras kepala." Lia menaruh sisir yang dia gunakan lalu berjalan mendekati john. "Sudah selesai, ayo kau belum makan, nanti sakit." Lia menarik pergelangan tangan john, suaminya yang masih sama perhatiannya, dan kini membuat lia tambah mencintainya.
John hanya mengangguk, pasrah ketika lia sudah menyeretnya dari atas tempat tidur, wanita yang membiarkan rambut panjangnya beruraian itu, sesekali tersenyum menatap john, entahlah john merasa dirinya sangat bersalah pada lia.
Tiba tiba john menghentikan langkahnya membuat lia bingung, tanpa aba aba saat itu juga kedua tangan john sudah memeluk bagian perut lia dari belakang, lia tidak melakukan penolakan hanya saja dia merasa bingung dengan sikap suaminya. John juga dengan sengaja menempelkan dagunya dibahu lia, sehingga lia sendiri dapat merasakan deru nafas milik john.
"Maaf.. "Lirih john masih bisa di dengar jelas oleh lia, lia menaikan kedua alisnya bingung, kenapa tiba tiba john meminta maaf padanya, padahal selama beberapa bulan ini mereka tidak memiliki masalah, malah terkesan tentram tanpa ada perdebatan.
"Untuk?" Tanya lia pada akhirnya, "Maaf karena telah meninggalkan mu saat hamil, membuatmu terluka hingga hampir meregang nyawa karena melahirkan axel." Jelas john dengan suara pelan, membuat lia melengkungkan sebuah senyuman.
"Sudah ku katakan aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi, aku sudah senang kita bisa bersama lagi." Elak lia yang masih merasakan penyesalan yang luar biasa pada diri john, mungkin john benar benar merasa bodoh karena telah membuat lia pergi menjauh darinya.
"Tapi aku benar benar menyesal, lia..." Rancau john terlihat frustasi jika mengingat hal apapun yang pernah dia lakukan pada lia.
"Aku tahu, tapi aku tidak menyesal pernah memaafkan mu, karena aku tahu cinta mu tulus padaku, semua caramu, semua kasih sayang mu, benar benar tulus padaku." Lia menarik kedua tangan john yang masih merangkulnya erat, "Aku mencintai mu lia, sangat." Bisik john ditelinga lia membuat lia merasa nyaman.
***
Note: Sudut pandang lia
Ini adalah kehidupan baruku, setelah aku melahirkan axel menurut sudut pandangku, ada banyak hal yang mengagetkan sekaligus aneh yang tidak aku ketahui sebelumnya, mungkin kalian sedikit penasaran apa saja yang telah terjadi kepada beberapa orang yang telah membuat hidupku terasa susah di awal.
Jadi jika kalian penasaran, mari kita dengarkan cerita singkat ku ini.
Jadi setelah aku melahirkan axel dan juga memaafkan kesalahan john, gwen terharu dia menangis saat aku memaafkan john dengan mudah, gwen sampai memuji beberapa kali karena diriku yang benar benar dewasa, aku hanya tersenyum tipis saat itu, gwen juga bahagia ketika melihat anakku lahir dengan selamat tanpa cacat.
John yang juga mengetahui tentang gwen berterimakasih dengan sangat besar kepada gwen karena telah menjaga ku selama aku tinggal di melbourne, john juga memperpanjang kerja sama antara perusahaan HW EVOLUTION dengan perusahaan milik keluarga gwen yang sebenarnya gwen menolaknya, namun sekali lagi, john bukanlah orang yang mudah ditolak permintaannya.
Juga dengan emly, yah dia bahagia ketika melihat anak ku lahir kedunia, anaknya steve si gembul langsung bertanya padaku, apakah axel bisa langsung diajak bermain bola? Pada saat itu aku terkekeh, oke steve benar benar menginginkan teman bermain, mungkin dia kesepian. Dan pada saat itu juga aku berkata jujur pada emly bahwa aku bukanlah saudara gwen, melainkan sahabatnya, aku juga menjelaskan alasanku melakukan itu pada emly, emly sempat merasa kecewa, namun dia bahagia mengetahui aku dan suami ku sudah kembali berbaikan.
Dia bangga padaku karena berhasil mempertahankan pernikahan ku yang masih sangat muda. Sedangkan gwen, dia merasa sedih ketika aku bilang akan kembali lagi ke negara ku, tapi aku berjanji pada gwen akan sering mengunjunginya lagi ke melbourne, sebelum pulang juga aku sempat berpamitan dengan pada orang tua gwen yang menerima keadaanku waktu itu.
Orang tua gwen sempat terkejut saat mengetahui suamiku adalah johnson lei, john juga berterima kasih pada keluarga gwen karena membantuku, yah selama aku di london john berterimakasih kepada orang orang yang telah membantuku.
Itu cukup mengharukan, dan ini adalah cerita saat aku kembali, saat melihat semuanya porak poranda, penuh dengan ketidak jelasan, ayahku begitu khawatir dengan menghilang diriku tanpa ada kabar, ayah ku mengalami depresi atas hal itu, aku sempat merasa bersalah kepada dirinya karena telah pergi begitu saja tanpa mempertimbangkan berbagai macam resiko yang akan ku timbulkan nantinya.
Tapi syukurlah sekarang ayahku sudah kembali sehat lagi, saat bertemu dengannya aku menangis dihadapnnya yang melamun didepan sebuah taman rumah sakit, dia terus meneriakkan namaku, tubuhnya sangat kurus tulang rahang di wajahnya tercetak jelas, aku menangis sekuat kuatnya, dokter bilang ayahku mengalami tekanan yang sangat besar karena kehilangan ku dan penyesalan yang sangat besar karena dulu pernah menelantarkan ku.
Aedeline dan caroline ibu tiriku, sudah tak lagi menganggu kehidupan ayahku atau diriku, mereka berdua meminta maaf padaku dan berterimakasih karena telah membantu keuangan aedeline dan membantunya mendirikan sebuah restoran kecil yang cukup terkenal, yah... Semuanya telah selesai aku tak lagi mempunyai dendam pada aedel ataupun ibunya, kami malah berteman baik sekarang.
Tentang rimelda, oke ini sedikit mengejutkan karena yang jelas aku melihat rimelda sudah menikah dengan seorang pengusaha yang cukup terkenal namun umurnya sudah cukup tua, sekitar 40 tahun dan pernah menikah sebanyak 2 kali, ini terlalu janggal bagiku, dan ketika aku bertanya pada john dia bilang dia lah yang telah menikahkah rimelda dengan lelaki itu.
Entah cara apa yang digunakan oleh john namun itu menyeramkan, saat bertemu dengan ku, pula rimelda tak banyak bicara dia hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku, aku sangat takjub dengan segala kekuasaan milik john yang tak ada siapapun yang bisa menolaknya.
Dengan orang tua john? Baiklah kedua orang tuanya telah menerimaku dengan baik, apalagi ibu john yang sangat bahagia ketika aku membawa pulang seorang cucu lelaki, dia sampai menangis dan meminta maaf padaku, terlalu berlebihan memang, namun yahh aku memakluminya, ayah john tetaplah ayah yang sangat baik dia sangat bahagia ketika aku pulang dengan selamat.
Bahkan ibu john sering berkunjung kerumah untuk membantu atau memberitahukan padaku cara mengurus anak yang baik, dia sangat baik dan ternyata tak seburuk apa yang ku kira.
Tentang mia? Baiklah dia sudah menjadi seorang manajer artis yang sangat terkenal, dia bahkan lebih sibuk dari pada diriku, aku memakluminya, dia juga senang saat aku kembali lagi.
Lalu apalagi? Oh ya, karir ku, itu sudah lama runtuh aku sudah tidak punya peran apa apa lagi di dunia entertainment, tapi semua dunia sudah tahu bahwa aku adalah istri dari seorang johnshon lei, dia mengumumkannya pada semua orang bahwa aku adalah istri sahnya, sontak semua orang terkejut karena saat pengumuman itu dibuat aku sudah membawa seorang anak. Sempat terjadi beberapa kontroversi yang cukup menghebohkan dunia, ya aku juga merasa sangat kaget berita ini akan menjadi hot news selama beberapa bulan di beberapa majalah hingga berita.
Setelah terjadi kontroversi itu banyak sekali tawaran kepadaku untuk menjadi model dari beberapa majalah hingga sebuah perusahaan fashion mode agensi model yang menampungku juga mengajak untuk kembali bekerja sama, namun aku tolak semua pekerjaan itu tak kuterima, john sebenarnya tidak melarangku untuk kembali kedunia entertainment, hanya saja dia bilang aku harus pandai membagi waktu, agar seimbang antara mengurus rumah tangga dan juga pekerjaanku.
Tapi aku kembali berpikir sepertinya aku belum bisa menerima tawaran kerja itu karena aku memiliki axel yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dariku. Mungkin saat axel sudah besar nanti aku akan kembali ke dunia entertainment.
Semuanya berjalan dengan baik, semua masalah ku dengan orang banyak telah selesai, dan saat itu aku dapat menghirup nafas senang karena pada akhirnya aku tak perlu bersembunyi dari banyak orang, aku sudah bebas saat ini.
Dan aku tinggal mengurusi keluarga kecil ku yang bahagia, belum tentu— karena akan ada banyak persoalan kedepannya, namun kami berdua telah berjanji akan selalu terbuka ketika terdapat sebuah masalah, saling mengerti dan memahami satu sama lain, karena dengan begitu kami berdua tidak akan mudah di pisahkan, karena masalah dalam sebuah hubungan itu wajar, yang perlu di tekankan adalah cara kita sebagai manusia untuk menyelesaikan masalah ini, dengan cara sebaik mungkin.
Dan kami berdua sudah berjanji akan itu, bersama dengan axel sebagai penyemangat untuk kami berdua.
Untuk saat ini kehidupan ku berjalan dengan baik, aku harap akan seperti itu seterusnya.
***
Yeayy gimana? Mau lagi gak bonus chapter nya? Kalau mau komen deh yang banyak kalau emang banyak yang mau entar ku publis lagi heheh.