
Lia terbangun dari ketenangan tidurnya, mencoba mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Mengusap usap wajahnya yang lusuh, terlihat jelas bahwa dirinya sangat kelelahan.
Lia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, melihat apakah hal semalam kembali terjadi pada dirinya. Namun lia bersyukur karena dirinya kini sudah berbalut sebuah dress putih selutut dengan renda bunga di bagian ujung baju.
Mencoba mengumpulkan nyawanya kembali sambil memijat kepalanya yang terasa sangat pening, pandangnya terasa buram.
Setelah di rasa sadar sepenuhnya dengan dunia ini, lia beranjak dari tempat tidur, mengamati dengan lekat ruangan kamar yang sangat luas ini.
Pandangannya terhenti ketika mendapati tas miliknya berada diatas nakas, tanpa berpikir panjang lia mengambil tas itu, membawanya karena didalam tas itu ada beberapa hal yang dapat membantu lia pergi dari tempat ini.
Lia berjalan pelan menuju pintu keluar, lebih tepatnya mengendap-endap karena jujur lia masih ketakutan dengan lelaki yang bernama johnshon lei itu.
Takut dirasakan oleh lia, tapi lia tidak mau terus berada disini, lia harus menyelesaikan apa yang seharusnya lia selesaikan. Dengan berat hati lia nenarik gagang pintu dan menariknya, mata lia melirik ke sekeliling ruangan yang sangat luas, mata lia berputar putar mencari john.
Tapi lia merasa rumah itu sangat sepi bahkan tidak terlihat siapapun, merasa situasi sudah aman, lia perlahan keluar, sambil dengan sedikit berlari, lia berusaha mencari pintu keluar.
Rumah yang sangat besar, setiap sudut rumah itu seperti dirancang oleh masing masing arsitek yang berbeda, kadang di satu sudut, terlihat klasik, di satu sudut yang lain elegan, rancangan terus berebeda beda di satu sudut ke sudut yang lainnya.
Saat sedang mencari cari pintu keluar, lia melihat sebuah pintu besar, lia yakin bahwa itu adalah pintu keluar dengan cepat lia membuka pintu itu dilihatnya sebuah lapangan rumput hijau yang di penuhi oleh mobil mewah yang terpakir rapih. Tapi, lia sama sekali tidak tergoda, lia terus berlari menuju gerbang yang begitu tinggi tanpa satpam dan tanpa pengamanan lia dengan mudah keluar dari rumah itu.
Setelah merasa jauh dari rumah itu, lia berhenti sejenak di pinggir jalan, telapak kaki lia terasa sakit selama tadi berlari lia tidak menggunakan sepatu. Kulit lia yang sehalus sutra terasa robek, karena berlari di aspal yang panas terkena sinar matahari.
"Telapak kaki ku... Terasa seperti terbakar." Lia mengusap telapak kakinya, tak ada yang bisa lia lakukan, hidupnya kini sudah tidak berarti harapan lia satu satunya adalah semoga keluarganya masih mau menerima lia.
Lia masih menunggu taksi di pinggir jalan, tidak lama taksi yang lia tunggu datang. Setelah memberhentikan taksi lia dengan segera menaikinya karena waktunya tidak bisa di gunakan terlalu lama, dirinya ingin segera mengakhiri permasalahan ini.
***
Setibanya lia di rumah, semua orang di sana termasuk orang tua lia terkejut akan kehadiran lia. Terlihat dari seluruh ekspresi keluarganya yang dingin kejam dan sangat membenci lia. Tapi lia tidak menghiraukan hal itu, lia terus tersenyum kepada seluruh keluarganya tapi tak ada satupun yang menerima senyuman hangat yang di tampilkan oleh lia.
"Ternyata kau masih punya muka untuk kembali?" Interupsi seroang lelaki dengan pakaian tuxedo yang melekat pada tubuhnya.
"Ada apa?" Lia heran kenapa dengan seluruh keluarganya ini, di situ juga hadir tunangan dari lia yaitu georgeo. "Kau memang tidak tahu kak?" Tanya adik tiri lia yaitu aedeline, gadis yang sangat imut ini adalah adik tersayang lia ketahuilah lia rela memberikan apapun untuk aedeline.
Ekspresi kaget dan tak Meyangka di tunjukan oleh lia, tak kala lia melihat fotonya sedang di gendong oleh seorang lelaki. Lia berusaha memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, lia ingat bahwa malam itu aedeline mengajaknya untuk pergi kepesta lajang karena sebentar lagi lia akan menikah dengan georgeo. Dan lia diberi air minum oleh aedeline setelah itu lia tidak mengingat apapun lagi.
"Aedel bukankah kau yang memberi kakak minuman itu?" Tanya lia menatap tajam wajah aedeline yang terlihat khawatir dan juga sedikit pucat.
"Jadi kakak menyalahkan ku atas segala kejadian yang terjadi atas kesalahan kakak? Aku sudah memperingatkan kakak untuk tidak banyak minum tapi apa? Kakak terus meminum wine sampai akhirnya kakak tak bisa aku kendalikan." Aedeline menjawab sambil menunjukan wajah yang tak bersalah wajah yang merasa sedih karena sudah di tuduh.
"Sudah! Lia kau tidak bisa menyalahkan adikmu atas apa yang kau perbuat sekarang aku ingin kau pergi dari rumah ini dan jangan lagi kau mengaku sebagai bagian dari keluarga fanz!" Teriak ayah lia di hadapan seluruh keluarganya termasuk sang tunangan yang ikut menatap lia benci.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, lia sangat kaget, dan terpukul. Keluarga satu satunya yang lia harapkan akan menolongnya malah mengusir lia, dan mnyuruh lia untuk tidak mengaku sebagai bagian dari keluarga fanz.
"Tapi ayah, semua ini bukan salahku!" Lia berusaha membela dirinya. Namun ayahnya tetap bersikeras dan menyuruh lia untuk segera mengemasi barang barangnya, dan angkat kaki dari rumah keluarga fanz.
Tak ada yang perlu lia katakan lagi, ayahnya sudah menentukan keputusan, lia tak bisa mengganggu gugat. Lia akhirnya mengemasi seluruh barang barangnya, lia keluar dari rumah ayahnya sambil di tatap dengan tatapan sinis dari seluruh keluarganya, termasuk tunangannya sendiri yaitu georgeo, georgeo terlihat jijik dan benci dengan lia yang sekarang. Padahal dahulu georgeo sangat sayang pada lia.
"Dan satu lagi, kau bukan lagi tunangan georgeo, georgeo akan menikah dengan adikmu aedeline!" Ayah lia menambahkan keputusannya lagi.
Keputusan baru yang ayah lia ucapkan, membuat hati lia semakin terluka, jelas bahwa ini semua adalah rencana aedeline.
Sejak awal lia sudah tahu bahwa adik tirinya yaitu aedeline sangat mencintai tunangannya, lia sudah berusaha berbicara kepada aedeline jika memang aedeline mencintai tunangannya, lia akan mengikhlaskan georgeo untuk aedeline.
Tapi aedeline sangatlah licik, dia menolak mentah mentah tawaran kakaknya dan terus berusaha terlihat baik dan bagus di
hadapan ayah lia. Aedeline membuat seluruh rencana ini dengan ibu kandung aedeline untuk menyingkirkan lia, dan juga agar aedeline bisa menguasai seluruh harta yang dimiliki oleh ayah lia.
Tapi lia kini lia hanya lah sebuah debu di jalan yang dengan mudah hilang hanya dengan tiupan angin kecil, yang bisa lia lakukan kini hanya lah diam melihat senyum licik aedeline melihat penderitaan lia.
Ibu kandung lia sudah meninggal saat lia berumur sebelas tahun, ibu lia meninggal karena mengalami kecelakan mobil. Dan saat itu pula lia hanya mempunyai ayahnya, dan ayahnya kini lebih peduli dengan anak tirinya dan mengusir anak kandungnya sendiri.
Sungguh sebuah kepandaian dapat membutakan mata seseorang
Hanya bagaimana cara lia meneruskan hidupnya yang lia pikirkan kini, kenyataan pahit ini sudah menjadi takdirnya