THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
bonus chapter + cast



   "Momy!" Seorang anak laki-laki yang masih menggunakan piyama tidur bergambar penguin itu memeluk tubuh lia erat.


  Lia yang sudah mengetahui siapa seseorang yang memeluknya ini hanya membalasnya dengan sebuah usapan kecil pada lengan sang anak. Ya, anak itu adalah axelarino lei, seorang anak laki-laki berumur 5 tahun yang sangat lucu dan aktif.


   Lia kemudian mematikan kompor yang tengah memberikan panas pada masakan yang sedang di buat oleh lia, pekerjaan lia akan selalu sama setiap harinya yaitu membuatkan sarapan untuk kedua jagoannya.


   "Momy... " Axel bergelayutan manja pada lengan lia, mencoba tetap sabar pada lelakinya ini. Lia langsung memeluk tubuh axel membawanya duduk di atas kursi yang tersedia di pantry.


  "Kenapa axel? Hm? Bukannya momy bilang mandi bersama dengan dady?" Tanya lia pada axel, pasalnya lia sudah mengatakan untuk axel mandi bersama dengan john.


  "Dady wajahnya seram, momy." Jelas axel dengan raut wajah ketakutan. "Seram bagaimana?" Tanya lia lagi semakin kebingungan, setahunya wajah suaminya itu sangat tampan dan hot dady sekali, tapi kenapa anaknya bisa menganggap wajah john seram.


  "Raaaaawwww... Arghhhh... Rawww" Suara seseorang yang tengah menirukan suara harimau memenuhi gendang telinga lia, lia yang melihat john menggunakan topeng badut membuat ibu satu anak itu menggeleng.


  Bagaimana axel tidak takut seperti itu jika yang di gunakan oleh john adalah topeng badut seram.


  "Momy lihat... Dady seram mom." Axel mengeratkan pelukkannya pada lia membuat lia terkekeh, pandangannya masih tertuju pada suaminya yang kini tengah berjalan pelan untuk membuat axel kaget.


  "Momy!!" Teriak axel pada akhirnya saat mendapati john sudah berada di sampingnya. "Sudah buka saja topeng mu, kau mau membuat anak mu ketakutan?" Ucap lia masih berusaha untuk menenangkan axel.


  Lelaki yang menjadi pusat omelan sang Istri hanya tertawa tidak berdosa pada lia. "Maaf sayang." John membuka topeng badut seram yang dia gunakan, mencoba menghilangkan rasa takut axel pada dirinya.


  John mengambil axel dari pelukan lia merayunya lagi agar tidak merajuk pada john. "Sudah kau tahu bukan? Axel takut badut kau malah memberikannya hal seperti itu." Omel lia pada john yang masih memeluk axel.


  "Ya, aku hanya mencoba untuk menghilangkan traumanya pada badut." Jawab john masih menenangkan anaknya.


 


  "Tadaaaaa sarapan sudah siap." Lia berusaha mengalihkan axel agar berhenti menangis, lia menaruh sepiring nasi goreng di atas meja makan dan menunjukannya pada axel.


  "Ayo, axel sangat suka nasi goreng bukan?" Lia merayu axel yang masih terus merengek walau pelan.


  Axel yang mendengar ucapan lia langsung melirik nasi goreng yang sudah tertata rapih di atas meja makan. "Axel mau momy." Rengek anak laki-laki itu dengan suara pelan.


  "Axel mau ini? Mari momy suapi. Asal axel berhenti menangis." Syarat lia pada axel yang langsung mendapatkan anggukan mantap dari axel.


  John yang melihat betapa mudahnya lia merayu axel hanya terdiam, ternyata benar anak lelaki akan lebih dekat pada sang ibu ketibang ayahnya.


  John menghela nafas panjang sebelum menatap lia dengan tatapan memelas karena dirinya juga merasa sangat lapar.


  "Momy apakah dady tidak akan di beri sarapan?" Tanya john dengan suara yang di buat-buat juga wajah yang di buat seimut-imutnya. Lia yang melihat hal itu langsung menatap jijik pada john, bergidik ngeri karena merasa aneh dengan tingkah suaminya.


  Lia langsung mengambilkan sepiring nasi goreng dan memberikannya pada john, john langsung tersenyum semringah.


  "Berhenti menunjukan ekspresi wajah seperti itu, aku ingin muntah saat melihatnya." Ledek lia mencoba tidak peduli dengan wajah sok imut yang di tunjukan oleh john.


   Axel yang tengah asyik menikmati nasi gorengnya menahan rasa tidak peduli kepada kedua orang tua, lagi pula axel tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan.


  "Axel makan yang banyak yah, setelah ini kita akan pergi menuju rumah kakek." Ucap lia pada axel yang masih asyik menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


  "Asyik! Pergi ke rumah kakek." Axel bersorak senang karena tahu bahwa hari ini dia akan pergi menuju rumah kakeknya yang tidak lain adalah ayah lia.


  Lia tersenyum manis menatap axel lalu menatap john yabg sama sama tengah sibuk dengan sarapannya. Lia tidak menyangka bahwa dia sudah 5 tahun mengurus axel hingga sekarang axel tubuh dengan sehat.


  Kadang lia sendiri merasa aneh dengan sifat axel yang kelewatan sangat mandiri, bahkan di umur yang ke lima tahun ini axel sudah bisa mandi dan memakai pakaian sendiri. Mungkin lia berpikir hal ini karena sedari dalam kandungan lia sangat mandiri dan kuat walau tanpa ada seroang suami yang mendampingi, sehingga axel mengkuti sifat lia.


  Hanya pikiran lia saja.


  Selama 6 tahun lia membangun bahtera rumah tangga bersama dengan john membuat lia bahagia, lia sendiri merasa hal ini mimpi karena pernikahan mereka tidak pernah lia ingat jelas kejadiannya. Yang lia ingat pada hari pernikahannya hanyalah john menyematkan cincin di jari manisnya, setelahnya lia tidak mengingat apa-apa lagi.


  Lia juga sempat merasa aneh mengapa seroang johnson lei sangat ingin menikahnya, dan saat lia menanyakan hal itu pada john. John hanya tersenyum manis kemudian mencium kening lia, pada hari itu john menceritakan bagaimana dirinya bisa menikahi lia.


  "*Kenapa kau menikahiku?" Tanya lia pada john yang masih berkutat dengan laptopnya.


  John yang mendapati pertanyaan itu langsung memberikan sebuah senyuman manis pada lia, kemudian john mencium kening lia yang sedang duduk di sampingnya.


  "Aku akan menceritakannya, tapi ku harap kau tidak tertawa saat kau tahu kenyataannya." Pinta john membuat lia mengangguk semangat.


"Bagaimana aku bisa mencintai mu? Hm, kau tahu tentang  merasakan cinta pertama? Aku menyukai mu saat pertama kali bertemu dengan mu di sebuah acara penghargaan model bergengsi. Kau sangat cantik malam itu dengan balutan gaun berwarna merah marun membuat dirimu menjadi bintang yang paling terang di antara bintang yang lain" John tersenyum tipis mengingat pertemuannya dengan lia pada sebuah acara penghargaan malam itu.


"Sampai pada saat itu aku sadar,  kau adalah sahabat masa kecilku, kau adalah orang yang selalu menemani ku dahulu sewaktu aku bersekolah di sekolah dasar, kau adalah gadis dengan poni dan juga gigi yang berantakan itu, temanku, sampai pada akhirnya aku sadar, takdir sudah menunjukan alurnya bahwa aku harus mendapatkan dirimu." John melirik lia sambil menggait kedua tangannya.


Lia yang mendengar cerita john terkejut bukan main, pasalnya john mengatakan bahwa dirinya adalah teman masa kecil john, tapi kenapa lia tidak mengingat hal itu. Lia menghiraukan alasan kenapa dirinya bisa melupakan hal sepenting itu dan mencoba kembali mendengarkan cerita john.


  "Bukan hal mudah bagiku untuk mendapatkan mu, kau seorang yang ambisius dan sangat sulit untuk di tipu, segala hal telah ku coba untuk meluluhkan hati mu, namun kau begitu keras kepala untuk tidak pernah membuka hatimu, kecuali dengan georgeo." John mencengkram erat kedua tangan lia yang masih dia genggam.


  "Aku sangat sedih dan kecewa begitu mengetahui kau dan georgeo di jodohkan, bahkan kau sendiri tidak menolak perjodohan itu, tapi saat aku melihat kebencian yang di tunjukan oleh adik mu, memberikan ku sebuah ide untuk memanfaatkan nya."


  "Aku tertawa sejenak ketika mendengar betapa bencinya adik tiri mu, aku sempat marah medengar banyak hal hal buruk yang telah di perbuat aedeline agar citra mu buruk, tapi aku juga senang karena aku dapat memanfaatkan hal itu." Kemudian terbit sebuah senyum dari wajah john yang dia tunjukkan pada lia.


"Sampai pada akhirnya tiba malam di mana aku melihat aedeline mengajak mu untuk pergi ke club malam, aku pikir aedeline hanya akan mengajak mu minum biasa, tapi ternyata aku sempat melihat aedeline memasukan obat perangsang kedalam minuman mu. Sebelum itu terjadi aku memutuskan untuk memberikan obat dan setelah obat itu bekerja aku pun memulai pernikahan ku dengan mu." John tertawa pelan mengingat betapa sulit dirinya untuk mendapatkan seorang annalia fanz.


  "Kau tahu betapa bahagianya aku saat menikah dengan mu? Sungguh itu adalah hal terindah dalam hidupku, lebih indah dari pada saat aku mendapatkan contract kerja, atau investor. Tapi aku keweca saat kau tidak mengingatku sebagai john sahabat mu dulu. "


  Jelas john pada lia yang masih menatap john dengan tatapan sendu ingin rasanya lia menangis karena melupakan seseorang seperti john yang jelas sangat menyayanginya.


  "Bag—bagaimana bisa?" Tanya lia menutup kedua mulutnya, lalu menangis dalam pelukan seorang johnson lei.


"Kau adalah harta yang paling istimewa" John mengecup kening lia sekilas berusaha menenangkan istri nya itu*.


  Lia tersenyum sendiri mengingat hari dimana john jujur kenapa dia bisa menikahi lia. Sungguh, lia merasa sangat beruntung karena tuhan telah membuat alur yang begitu indah untuknya. Jika takdir tidak melakukan hal ini bagaimana lia bisa mendapatkan seorang lelaki yang sangat tulus mencintainya seperti john.


   "Jangan melamun, mari makan bersama ku. Aku akan menyuapi mu." John membuyarkan lamunan lia, membuat lia mengangguk kecil langsung duduk di samping john untuk menikmati sarapan bersama keluarga kecilnya.


***


Annalia fanz





johnson lei





andi



kenzo



Mia monica



aedeline fanz



***


**pengenalan visualnya cukup sekian dulu, buat yang nunggu georgeo ataupun gwen sama emly belum bisa ku tunjukin karena belum nemu visual yang pas:)


masih mau lagi gak? lanjut bonus chapternya? atau udah segini aja? komen deh entar aku pertimbangkan lagi.


oh iya kalian yang kepo sama alasan john nikahin lia udah kejawabkan? padahal tadi itu suprise buat kalian nanti, tapi kalian nya pada gak sabar:( dan aku juga gak tega sama kalian akhirnya kasih nya sekarang aja.


jadi gimana? mau lanjut atau udahan**?