THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
waktu yang berharga



"Baik.." Pelayan itu mengambil baju yang di inginkan oleh lia.



   Setelah selesai memilih milih baju, lia pergi mencari john.



  "Apakah kau tahu di mana john? Tempat ini sangat luas aku tidak bisa menemukannya dengan mudah." Lia bertanya pada pelayan yang tengah berjaga di depan toko baju.



  "Dia ada di dalam nyonya, sedang memilih baju." Jawab pelayan itu.



  Lia mengangguk lalu dia pergi menemui john, dilihatnya john sedang berdiri menatap gaun berwarna merah yang terpajang di menequen.



  Lia mendekati john.



  "Kau sedang apa?" Tanya lia.



   "Istriku? Kau sudah selesai memilih baju?" John malah bertanya balik pada lia.



  "Sudah...Lalu kau sedang apa?"



  "Aku melihat baju ini, sangat menarik kau bisa mencobanya " John menunjuk pelayan untuk mengambil gaun yang di sukainya ini.



  Sebuah gaun panjang dengan bahu terbuka berwarna merah, sangat lah modis dan glamor.



  "Cobalah..." John menyuruh lia untuk menggunakan gaun yang di pilihnya.



  Lia mengambil gaun itu, lalu pergi menuju kamar ganti untuk mencoba gaunnya. Setelah selesai mengganti baju lia keluar dari kamar ganti, berjalan pelan mendekati john.



  John terpaku apa yang di lihatnya ini sangat menakjubkan, lia yang tadi berpakaian santai kini berubah bak seorang bidadari yang cantiknya tidak tertandingi.



  Gaun itu membuat lia tambah sempurna, gaun itu membentuk lekukan tubuh lia yang begitu indah, dengan bagian belakang gaun yang panjang, membuat lia layaknya seorang artis yang hendak pergi ke acara red karpet.



  "Apakah aku jelek?" Lia menundukan kepalanya, dia berpikir tatapan yang di tunjukan john adalah tatapan ketidaksukaan akan penampilannya.



  John lalu tersenyum, mendekati lia dan mencium keningnya.



  "Kau sangat cantik istriku..." John mengangkat dagu lia, dia menunjukkan senyuman yang memberikan semangat dan kepercayaan diri untuk lia.



  "Bagaimana seorang lelaki dingin seperti john memiliki selera yang sangat bagus terhadap wanita?"



  pikir seorang pelayan yang memperhatikan mereka berdua.



"Aku ingin kau membungkus baju ini." John menyuruh pelayan untuk membungkus gaun yang di pakai lia.



  Lia pergi menuju ruang ganti untuk mengganti lagi bajunya.



  Setelah selesai kini lia kembali menggunakan dress yang di pakainya tadi.



  "Apakah kau lapar istriku?" Tanya john.



  "Mmm iya..Ngomong ngomong ini semua baju siapa?" Lia bingung melihat banyak bungkusan yang di bawa oleh pelayan.



  "Ini adalah baju, sepatu, dan segala kebutuhanmu." Jawab john singkat.



  "Apa! Apa kau yang memilihnya?" Lia semakin bingung.



  "Iya...Aku yang memilih kannya untukmu."



  "Apa... semua ini yang memilih nya adalah john bagaimana bisa? Aku yakin barang barang ini tidak cocok dengan seleraku, lagi pula untuk apa dia membeli banyak barang seperti ini? Di rumah sudah cukup banyak!"



  Keluh lia di dalam hatinya, hal seperti ini baginya adalah pemborosan membuang buang uang dan sifat ini seharusnya tidak boleh di biasakan.



  Dari pada membuang buang uang tidak jelas, lebih baik menyumbang nya untuk orang yang lebih membutuhkan.



  Pikir lia, tapi apalah daya dia adalah johnshon lei apapun yang di inginkan olehnya harus terwujud dan pasti akan dia wujudkan, dan akan susah memberi nasihat padanya.



  Lia hanya bisa menuruti apa yang di inginkan oleh john.




  John mengajak lia pergi dari mall itu untuk pergi makan siang.



  Masih dengan kondisi ramai pemebeli di lantai satu, dan juga dengan pengamanan yang ketat john dan lia pergi dari mall itu.



  Mereka hendak menuju restoran untuk makan siang, dan masih bersama dengan andi yang menjadi supir mereka berdua.



   John memliki restoran favorit yang sering ia kunjungi yaitu the glory food yang di kenal adalah tempat makan para bangsawan dan miliarder, karena satu porsi makanan di sana bisa berharga 30-125 juta.



  Sesampainya di restoran itu, john dengan lia turun dari mobil.



  Keadaan restoran sama dengan keadaan di mall tadi, sepi pengunjung dan hanya ada pelayan juga penjaga yang menunggu kedatangan mereka.



  "Apakah dia membooking restoran ini? Ini adalah restoran yang sangat mewah dan terenak di negara ini? Tidak mungkin sepi pengunjung bukan?"



  Lia kembali di bingung kan dengan apa yang di pikirkan oleh john, dengan mudahnya mengeluarkan uang yang mungkin akan sulit untuk di dapat kan oleh orang lain.



  "Apakah kau memesan tempat ini?" Tanya lia.



  "Iya aku memesannya... " Jawab john, dia mengajak lia duduk di meja yang sudah di sediakan.



   Meja yang sangat besar untuk mereka berdua, tak lama kemudian makan datang mengisi kosongnya meja dan yang kini sudah di penuhi oleh makanan enak yang sulit untuk di tolak oleh siapapun.



  "Kau tak seharusnya membooking tempat ini, dari pada membuang uang tidak jelas lebih baik kau sumbangkan, berikan ke panti asuhan itu lebih bermanfaat." Saran lia pada john, dia sangat terkejut dengan makanan yang di sajikan oleh pelayan yang sangat banyak.



  "Tak ada yang sia sia untuk dirimu.. Istriku....Apa pun akan ku lakukan untuk kenyamanan mu..." Jawab john, dia sangat pandai mencari alasan.



  "Lalu ? Siapa yang akan memakan semua ini?" Tanya lia lagi.



   "Kau... Kau baru sembuh dari sakit... Kau harus makan yang banyak dan aku ingin kau tambah gemuk sedikit."



  "Aku tidak akan bisa menghabiskan seluruh makanan ini?"



  "Sudah... Mari makan.. " John mengusap rambut lia.



   Lia malah terdiam, dia sudah tidak nafsu makan mendengar alasan john yang tidak masuk akal.



  "Kenapa tidak di makan? Apakah tidak enak? Atau kau mau aku menyuapi mu?" Ucap john, dia berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.



  "Tidak... Hanya saja... "



   "Tenang setelah kau makan, aku akan menyuruh andi untuk pergi membagikan makanan ini untuk para anak jalanan atau pengamen, jadi kamu harus makan yah... "



  Rayu john, agar lia mau memakan makanannya.



  "Benarkah?" Lia senang jika memang john akan membagikan makanan ini untuk para pengamen.



  John mengangguk, lalu dia menyuapkan sesendok daging ke mulut lia.



  "Anak manja... Makan yang banyak... " ucap john jail, dia tersenyum meledek ke arah lia.



   "Jika memang tidak mau menyuapiku jangan meledek, aku bisa makan sendiri!" Lia mengambil sendok yang di pegang john lalu memakan daging sapi panggang yang di sediakan untuknya.



  "Hehe apa hanya ini caraku... Agar bisa membuatmu makan yang banyak? Tapi aku suka ekspresi mu... Itu sangat imut"



  Ledek john di dalam hatinya, dia sangat tahu jika mengucapkan kata kata tadi di depan lia, habislah dia akan kena omelan ibu ibu bawel.



  John sudah tidak tahan melihat lucunya wajah lia, lalu dia mencubit pipi lia dan berkata.



  "Aku ingin kau terus menunjukan ekspresi imut seperti ini.... Aku Menyukainya." John tertawa puas, dia mencubit kedua pipi lia sambil memonyong kan bibirnya tanda gemas.