THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
rasa bersalah



Sejenak john ikut merasakan kehangatan yang dia rasakan, apalah daya nya lia telah membuatnya tergila gila dengan segala kecantikan, kelembutan dan juga sebuah perasaan yang dapat mengubah sesuatu di dalam hati john.


Chuuup~


John mencium pipi kiri lia, lia yang melihat hal itu hanya tersenyum kemudian kembali terfokus pada indahnya lautan biru.


***


Sudah sebulan sejak kejadian mereka berdua berjalan jalan di pantai, kini lia dan john sudah kembali ke rumahnya.


kini lia sedang duduk di depan televisi menonton film kesukaan lia, seminggu ini banyak perubahan dari hubungan lia dan john yang semakin membaik, john lebih sering memanjakan lia dan lia juga sudah memulai menerima kenyataan, walau masih cukup menyakitkan tapi lia paham ini semua rencana tuhan, dia tahu pasti tuhan telah melakukan hal yang terbaik untuk lia.


John juga sudah membebaskan lia dan tidak lagi mengurungnya, lia pun bisa pergi dari rumahnya dengan leluasa, tapi dengan syarat lia harus meminta izin pada john jika hendak pergi ke luar rumah.



Drrrrt drttttt



ponsel lia yang ia letakan di sampingnya berbunyi, lia melihat layar telefonnya dan melihat telefon itu dari sahabatnya sekaligus manajer lia, yaitu mia.


Dengan segera lia mengangkat telefonnya.


"Hallo? mia?"


''Lia? jadi bukan kita bertemu hari ini?''


"Tentu aku akan segera kesana.. "



Lia menutup telefonnya dan memutuskan untuk mengganti bajunya, hari ini jadwal lia adalah untuk bertemu dengan mia manajernya, mia bilang dia sudah sangat rindu dengan lia.


Dengan mengunakan setelan turtleneck selutut berwarna putih tulang yang di padukan dengan jaket denim dengan panjang yang sama dengan bajunya.


Lia terlihat lebih modis dengan tampilan casual seperti itu, lia juga hanya mengikat rambutnya asal juga menambah kelengkapan busananya dengan sepatu kulit berwarna hitam.


Lia pergi dari rumah besar milik john dan sudah meminta izin pada john dan john juga menyetujui nya.


Lia pergi ke tempat yang sudah di setujui oleh mereka berdua, yaitu di sebuah cafe tempat favorit lia dulu.


Lia menjadi pusat perhatian orang orang yang melintas dengan pakaian lia, lia memilih berjalan kaki karena cafe itu tidak terlalu jauh dari rumah john.


Sesampainya di dalam cafe lia memesan satu gelas coffee hangat sambil menunggu kedatangan mia, kebetulan cuaca hari ini sangat dingin dan juga matahari yang enggan menunjukkan sinarnya membuat suasana menjadi lebih dingin.


'Sudah hampir musim dingin.. Adakah aku melakukan hal seperti dulu? Ahhh aku sudah menikah... Aku begitu bodoh lupa bahwa diriku sendiri sudah memiliki suami... Tapi ini begitu lucu, bayangan ku aku akan menikah dengan seorang yang benar benar aku cintai, tapi pada akhirnya aku menikah dengan manusia sedingin es seperti john, tapi untunglah dia sangat menyayangi ku.'



Pikir lia di dalam hatinya sambil menatap dinding cafe yang terbuat dari kaca kejalanan yang ramai oleh kendaraan dan juga lalu lalang pejalan.


Saat itu pelayan datang membuyarkan suasana tenang yang di rasakan oleh lia.


"Ini pesanan anda.. " Pelayan itu meletakan segelas coffe hangat di atas meja lia, lia tersenyum menatap pelayan itu hingga ia sadar wajah pelayan itu tidak asing untuknya.


"Lia?" Aedeline juga terkejut dia harus bertemu dengan kakaknya dalam keadaan seperti ini, memalukan!


"Kau bekerja di sini?" Tanya lia pada aedeline


"Jika kamu hanya ingin menghinaku! lebih baik kamu pergi dari cafe ini!" Aedeline membentak lia, lia hanya tersenyum kecil kemudian dia menatap aedeline tajam.


"Apa cafe ini milikmu? Kenapa kamu mengaturku untuk pergi dari sini? bagaimana jika ku bilang pada pemilik cafe ini bahwa aku di usir oleh pelayan nya sendiri karena malu dengan pekerjaan nya?" Lia menahan tawa saat ini dia begitu puas melihat aedeline.


"Hey! percaya karma? Kamu sudah melihatnya bukan? Betapa mirisnya nasib mu sekarang! Lihatlah aedeline yang angkuh sudah tidak bisa berkata apa apa! Aedeline dulu yang sangat percaya diri bahwa dia akan mendapatkan apa yang dia mau sekarang mendapat karma yang besar. Oh tidak! Bahkan ayahmu tidak bisa menolongmu saat ini? Atau ibumu? Aku yakin dia lah yang membuat mu seperti ini, hahahahhaaha!"


Lia menyindir aedeline, aedeline hanya tertunduk malu dia ingat dulu apa saja yang telah dia perbuat pada lia, mulai dari menjebak nya, menjahilinya membuatnya di marahi oleh ayahnya, itu pantas dia terima.


"Maafkan aku...Kamu hanya tidak tahu bahwa selama ini aku iri padamu, aku iri! Aku melihat dirimu di beri perhatian lebih oleh ayahmu! Aku ingin! Aku ingin mendapatkan perhatian dari ayahmu, aku iri padamu karena dirimu selalu mendapatkan hal yang baik! sedangkan aku? Tidak! Aku hanya mendapatkan masalah dan terus seperti itu, Aku hanya iri padamu hanya iri!"


Jelas aedeline sambil menundukan kepalanya, air mata mengalir dari matanya dia tidak bisa membendung rasa bersalah nya.


"Aku tahu sekarang kamu membenci ku! Aku terima itu, karena memang aku lah yang bersalah, tapi kenapa? Kenapa? keberuntungan selalu berpihak padamu! Aku mencintai georgeo bahkan sebelum bertemu dengan mu! Tapi kamu dengan mudahnya di jodohkan oleh keluarga dengan nya! Betapa murakanya aku saat mengetahui itu, iya aku salah... Aku salah... Karena selalu membuat mu dalam masalah, tapi itu aku buat karena aku iri padamu! Bahkan di saat aku melakukan hal yang sangat nekat untuk menjebak mu, kamu malah menikah dengan johnson lei!"


Aedeline menghapus air matanya kasar, kadang aedeline menatap lia sendu dengan penuh rasa bersalah.


Kebetulan suasana cafe sedang sepi pengunjung sehingga aedeline tidak terlalu menjadi bahan tontonan pengunjung.


"Aku percaya karma! Dan sekarang aku memang sedang merasakan nya! Ayah dan ibu bercerai! Aku baru saja menikah dengan georgeo tapi dia sudah menceraikan ku! Ayah memberikan tunjangan untuk ku dan ibu, tapi ibu malah menghambur hamburkan uang nya untuk berjudi dan mabuk! Sedangkan uang tunjangan ku dari georgeo masih mengalir setiap bulanannya tapi itu tidak bisa menutupi hutang ibuku saat bermain judi! Bahkan ayah tidak membantu kami! Biarkan! Itu adalah hukuman untukku... Hikss.... Hiksss kamu beruntung sekali!"


Aedeline menangis tersedu sedu, air matanya berusaha ia bendung namun itu tidak bisa, ia ingin menumpahkan segala bebannya yang ia tanggung saat ini.


Lia hanya menatap aedeline datar, tidak ada perubahan dari wajah lia hanya kadang lia mengeritkan alisnya.


Lalu lia berdiri dari duduknya mendekati aedeline.


"Lakukan apa pun yang kamu mau! Aku pantas menerimanya... " Tambah aedeline masih dengan mata yang sembab dan air mata yang terus mengalir.


Lia menatap aedeline tajam, wajahnya tidak bisa terbaca, apa yang akan lia lakukan pada aedeline.


Setelah beberapa menit menatap aedeline tajam, lia tersenyum pada aedeline dan memeluknya erat.


Aedeline cukup terkejut dengan perlakuan lia, aedel pikir lia akan menampar atau menjambak nya, namun tidak! Lia malah memeluk aedeline setelah mendapatkan pengakuan dari aedeline.


"Aku hanya ingin kamu jujur...Katakan jika kamu iri padaku, jangan diam! Katakan apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka, kami semua tidak akan paham dengan apa yang kamu mau jika kamu terus diam dan mengumpat di dalam hatimu."


"Aku tidak tahu soal keberuntungan, menurutku itu sudah sebuah jalan yang di gariskan oleh tuhan, aku juga tidak selamanya beruntung....Kadang aku merasa sangat sial..." Ucap lia masih memeluk aedeline yang menangis.


"Lebih terbuka lah... Jangan hanya diam dan menyetujui sesuatu hal yang sebenarnya kamu tidak ingin menyetujui nya. Katakan apa masalah mu bukan memendam nya sendirian... Kamu adikku...Kamu seharusnya sering bercerita padaku bukan membenci ku... " Lia melepasakan pelukannya, lalu mengenggam kedua tangan aedeline.


"Jangan khawatir...Kamu bisa selalu datang padaku saat kamu membutuhkan bantuan... Selama itu masih bisa kutangani aku akan selalu membantu mu." Tambah lia lagi membuat aedeline semakin menangis menjadi jadi.


"Maafkan aku... Maafkan aku kakak... Kakak maafkan aku... " ucap aedeline tidak lagi berani menatap lia.


"Jangan menangis sudahlah... Aku sudah memaafkan mu.. " Lia menepuk pucuk rambut aedeline yang tengah menunduk menyembunyikan wajahnya.


'Aku begitu berdosa membuat seseorang seperti kak lia tersiksa karena ulahku... '