THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
bonus chapter



**ada yang kangen sama cerita ini?


atau ada yang kangen sama ara? wkwkwwk😂


salam nih dari hot dady**



nanti baca note di bagian akhir yah, ada kejutan buat kalian semua husbandnis♡


happy reading♡


***


"Wuhhh cucucucucu ahhhh mati!!" Teriak seorang anak dengan rambut cokelat yang tengah menggenggam 2 buah robot di masing-masing tangannya.


"Sudah momy bilang berapa kali, kalau didalam mobil duduk." Perempuan dengan rambut panjang itu menasehati, merasa bingung karena anak semata wayangnya itu tidak mau diam.


"Maaf momy." Jawab axel dengan wajah murung, dia kembali mendudukan tubuhnya diatas kursi mobil tidak melepas mainan pemberian kakeknya.


Lia hanya menggelengkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya pada jalanan.


"Ayo teruskan bermain." Interupsi sang ayah yang tak lain adalah johnson lei.


Axel tersenyum kecil, lalu meneruskan bermain robot walau kini tidak lagi dalam posisi berdiri seperti tadi.


Setelah pulang dari rumah james, lia dan john memutuskan untuk pergi ke rumah aedeline, adik tiri lia itu baru saja melahirkan seorang anak beberapa minggu yang lalu.


Ceritanya sangat panjang dan rumit, pada saat itu aedeline benar-benar diceraikan oleh georgeo pada hari yang sama setelah mereka menikah. Singkatnya setelah berpisah dengan georgeo lia membantu aedeline membuat binsis restoran kecil-kecilan. Hingga bisnis restoran milik aedeline berkembang dengan sangat baik, dan hal itu juga yang mempertemukan aedeline dengan seorang pebisnis muda bernama rio, mereka berteman sangat baik. Sampai tahun kemarin rio menikahi aedeline karena sudah merasa sangat cocok dengan aedeline.


Banyak yang terjadi setelah semua ini, lia dan aedeline tetap bersaudara meski dulu lia selalu mendapatkan perilaku jahat dari aedeline. Tapi karena itu lia paham, cara terbaik untuk balas dendam adalah memaafkan.


Mobil yang lia taiki berhenti di sebuah rumah dengan desain modern simple. Axel yang memang tidak sabar untuk bertemu dengan dede bayi langsung turun dari mobil tanpa peduli dengan lia dan john.


Mereka memang sudah sering bermain kemari, jadi axel tidak lagi asing dengan rumah ini. "Axel jangan berlari." teriak lia saat turun dari mobil dan menemukan anaknya tengah berlari menuju pintu utama.


"Anak itu hiperaktif sekali." Keluh lia sambil berkacak pinggang, sifatnya yang tidak mau diam sepertinya menurun dari lia.


"Sudahlah." John yang melihat lia kesal sendiri mengelus pucuk rambut istrinya agar sabar menghadapi axel.


Lia mendengus kesal, setelahnya mengikuti langkah john untuk masuk kedalam rumah aedeline. Walau si kecil axel sudah menekan tombol beberapa kali dengan sedikit berjinjit karena tubuhnya yang belum terlalu tinggi.


Lia dan john menghampiri axel, langsung dengan cepat lia menarik tangan axel agar tidak berulah dengan tingkah super aktifnya. Pintu rumah itu terbuka menampilkan seorang pria tampan yang tengah menggunakan apron.


"Kak lia, kak john." Sapa lelaki itu sebenarnya sedikit terkejut karean lia datang kerumahnya tanpa mengabari terlebih dahulu.


"Hai rio." Sapa lia, rio tersenyum senang lalu menyuruh satu keluarga itu masuk kedalam rumahnya.


"Om, dimana dede bayi? Aku tidak sabar ingin melihatnya." Axel menarik tangan rio.


"Dede bayi ada di kamarnya, axel mau lihat? Sana ke kamar tante aedel." Perintah rio dengan nada lembut pada axel.


Axel memang cukup dekat dengan rio, terutama karena rio adalah lelaki yang baik dan mudah sekali tersenyum.


"Aedel berada dikamarnya?" Tanya lia yang masih berdiri di ruang tamu rumah rio.


"Iya kak, jika ingin melihat masuk saja ke kamar aedel." Jelas rio, lia hanya mengangguk paham kemudian dia berjalan menuju kamar aedeline yang berada dilantai dua yang sudah di dahului oleh axel.


  John tidak memilih ikut kesana, dia hanya duduk di sofa ruang tamu untuk menemani rio. "Kau tidak bekerja?" Tanya john berbasa-basi pada rio.


   "Sementara ini aku hanya ingin bersama dengan aedel, menemaninya." Jawab rio, berjalan menuju dapur untuk mengambil masakan buatannya.


   "Baguslah, jangan sampai kau meninggalkan aedel." Ucap john memperingati, walau john masih kesal dengan perilaku aedel pada istrinya dulu, tapi lia mengajarkannya untuk tidak mendendam kepada seseorang yang sudah berusaha untuk meminta maaf dan memperbaiki diri.


Istrinya memang kelewatan baik hati.


   Rio dan john berbincang-bincang banyak hal, mulai dari masalah yang sering dihadapi ketika sudah melahirkan dan lain sebagainya. Sharing pengalaman john sebagai ayah, cara mendidik anak dan sebagainya.


  Sampai, lia dan axel datang, ikut bergabung dengan pembicaran antara john dan rio. "Dad, bolehkah aku punya satu adik bayi sama seperti anak bibi aedel?" Tanya axel polos.


  Mereka bertiga langsung memandang axel, bingung. Permintaan polos seperti tadi membuat gelak tawa seluruh orang yang berada di ruangan itu, termasuk lia yang tak tahan mendengar permintaan konyol dari anak lelakinya.


   "Tidak bisa, momy masih harus mengurus axel." Tolak lia, sebenarnya lia tak mau jika axel sampai tidak terurus bila dirinya memiliki anak lagi. Belum juga john yang masih sering bermanjaan pada lia. Sudah dipastikan bebannya akan bertambah sekian lipat.


   "Ayolah mom, axel sudah besar. Axel bisa mengurus diri sendiri. Yang seharusnya momy bilang seperti itu adalah dady." Jawab axel tanpa bersalah.


  John langsung melotot, terheran sekaligus malu karena anaknya mengatakan hal itu didepan rio. Hilang sudah wibawanya sebagai lelaki dingin yang di gadang-gadang memiliki sifat kejam. "Tidak, dady tidak seperti itu." Sanggah john tidak terima.


   "Lalu? Setiap hari meminta di ambilkan baju, di suapi dan minta di mandikan itu apa? Dady memang manja." Jelas axel sangat rinci membuat lia dan rio sekali lagi menahan tawa.


  John menggeram kesal, anaknya terlalu jujur untuk hal seperti itu. Pun marah axel tidak akan mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh tadi, karena memang itulah kenyataan, john sangat manja pada lia.


  


   "Sepertinya aku harus melihat aedel." Ucap rio memilih hengkang dari ruangan itu, tak ingin mendengarkan percakapan satu keluarga yang tengah membahas masalah aneh.


  "Bolehkan momy? Yah, yah? Berikan axel satu adik saja. Adik lucu." Mohon axel dengan mata berkaca-kaca, sengaja menunjukan pupy eyesnya agar lia tersentuh dengan kesungguhannya menginginkan seorang adik.


  Lia mengusap wajahnya kasar, topik ini sangat sensitif untuknya. Memiliki anak bukanlah hal yang mudah, dia takut gagal mendidik seorang anak, seperti kejadian yang menimpanya dahulu.


"Ya, nanti momy pikirkan akan beli dimana adik itu." Jawab lia asal.


  Axel melotot tak terima, berpikir mana mungkin adik itu dibeli. "Mom! Adik itu di buat, bukan di beli."


Dan jawaban itu suskes membuat john dan lia terperangah, kaget karena jawaban axel yang teramat seperti orang dewasa.


    ***


   Ruang kamar itu begitu dingin dan sepi, hanya terduduk seorang wanita cantik bersurai hitam legam, tengah membaca sebuah majalah di atas tempat tidurnya. Baju tidur berwarna cream melengkapi kecantikannya yang terlihat sangat alami, bahkan tanpa polesan make up, wajah itu terlihat sangat bercahaya. Begitu sempurna.


  Sampai decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian lia, menatap pintu kamarnya menemukan john yang datang, masuk kedalam kamar. Dengan baju tidur yang serupa namun berwarna biru tua, terlihat elegan dipakai lelaki berwajah dingin tetapi terkadang manis itu.


   Mendatanginya, menidurkan tubunya diatas kasur, namun kepalanya diletakan pada paha lia. Meminta agar istrinya itu mengusap pelan rambutnya, sensual. "Axel sudah tidur?" Tanya lia, yang dengan perhatiannya mengusap-usap rambut john.


   "Ya, dia sudah tertidur." Jawab john sambil memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan sang istri pada rambutnya.


   "Aku tidak menyangka, sekarang axel sudah berumur 5 tahun. Rasanya baru kemarin." Ucap lia.


  "Sayang, apakah kau tidak memikirkan ucapan axel saat dirumah aedel?"


   "Yang mana?" Tanya lia.


    "Tentang memiliki anak lagi." Jawab john, suskes membuat lia menghentikan aktivitasnya mengusap surai lelaki itu.


   "Aku ta—"


  "Jangan takut, ini sudah lima tahun dan axel sudah besar. Kau tidak perlu khawatir tentang gagal menjadi orang tua. Semua orang tua belajar, agar menjadi lebih baik. Termasuk kita." Jelas john kini membalikan tubuhnya, terduduk diatas ranjang untuk menatap lia yang sedikit murung jika membahas anak.


   "Bagaimana jika aku gagal?" Tanya lia menyakinkan.


   "Tidak ada yang perlu di takutkan, kegagalan adalah awal. Kau harus berusaha menjadi lebih baik lagi jika memang gagal."


  Lia terdiam, memikirkan apa yang dikatakan john. Memang benar dirinya harus keluar dari ketakutannya memiliki anak lagi, dia tak ingin membuat john maupun axel kecewa dengannya hanya karena masalalunya. Menjadikan john dan axel sebagai sasaran.


  Dia tak ingin itu terjadi.


  "Baiklah, ayo kita membuat adik untuk axel." Jawab lia yakin.


  Setelahnya john tersenyum senang. Bahagia dirinya bisa mendapatkan jatahnya dan juga anak. Keuntungan sekaligus yang ia dapatkan, tanpa ada paksaan seperti dahulu. Jawaban itu akhirnya membawa mereka berdua lelap dalam kegiatan malam, penuh gairah yang memabukan, menjadi candu dalam setiap sentuhan. Memberikan banyak kenikmatan, dalam gerakan acak yang meminta dambaan, surga yang saling menguntungkan.


 ***


  Ini sudah satu bulan berlalu, sekarang axel sudah memulai sekolahnya. Setiap pagi, lia dan john selalu mengantarkan axel kesekolah bersama. Mereka berdua tak ada yang mau mengalah, baik john ataupun lia tak ada yang mau mengalah. Alhasil mereka memutuskan untuk bersama-sama mengantarkan axel kesekolah, walau itu memang berlebihan.


   Seperti saat ini, axel tengah belajar mengerjakan pr bersama dengan john dan lia. John yang sibuk membantu anaknya dan lia yang tengah memasak cemilan untuk mereka makan ketika selasai.


   "Dad, tahu tidak. Teman-teman axel berkata kalau axel sangat tampan, apalagi para gadis di kelas." Ucap axel jujur sekali.


  John terkekeh, memang kenyataannya anak lelakinya itu sangat tampan. Mata bulat dengan senyum manis dan wajah sempurna, begitu memukau sama seperti ketampanan john dan itu menurun.


   "Lalu, axel menjawab apa?" Tanya john penasaran, berharap sekali axel tidak menjadi seorang playboy di usianya yang masih kecil.


    "Aku berkata, terimakasih. Hanya itu, lalu kembali bermain bersama edward, juga hero." Jawab axel dengan cepat.


  John menghela nafas panjang, untungnya anak itu mewarisi sifatnya, setia dan tak suka bergaul bersama wanita. Setidaknya axel tidak akan menjadi playboy karena ketampanannya.


  Lia yang sudah selesai membuat cemilan, terkekeh mendengar cerita anaknya. Ikut duduk diatas sofa, sambil meletakan nampan berisi jelly buah yang sangat cantik, buah-buahan yang ia potong-potong, diletakannya pada kulit buah melon lalu di siram dengan agar-agar.


    "Ayo, makan dulu." Perintah lia, memberikan potongan buah melon berisi segala jenis buah-buahan yang lain pada axel dan john secara bergantian.


   "Momy hebat sekali, bentuknya sangat menarik." Puji axel memakan buah itu dengan sangat lahap.


  "Tentu, momy kan, luar biasa." Tambah john yang juga sibuk menyomot buah itu.


   Lia tersenyum senang, keluarganya memang sangat bahagia. Entah bagaimana semuanya bisa berakhir seperti ini, berawal dari kebencian hingga akhirnya berujung kebahagiaan. John dan lia saling mencintai sedari kecil, tanpa mereka sadari.


   "Mau hadiah lagi tidak?" Tanya lia.


  Kedua jagoannya itu menoleh pada lia, mengangguk serempak. Menginginkan hadiah yang ditawarkan lia. Lia lagi-lagi tertawa, john dan axel memang seperti kembar, sungguh itu membuat lia gemas sendiri.


 


   Lia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya, sebuah amplop putih yang sekarang tengah ia genggam. Memberikan amplop itu pada john agar suaminya itu bisa membacanya.


 


  John dengan cepat, mengambil amplopnya, membukanya dengan terburu-buru hingga menemukan kertas lain didalamnya. Membacanya didalam hati, kemudian melirikan mata pada lia.


  surat pernyataan kehamilan sang istri, sukses membuat john berteriak kegirangan. Langsung memeluk istrinya dengan sangat erat, menciumi pucuk rambutnya terlampau senang apa yang ia baca didalam surat itu.


   "Terimakasih. Astaga, aku senang sekali." Pekik john, masih memeluk istrinya bahagia.


   "Mom, dad, apa hadiahnya?" Tanya axel penasaraan, dirinya tidak membaca kertas itu sebab masih di cengkram oleh john.


  Pasangan suami istri itu menoleh, menatap sang anak sulung dengan senyuman lembut. Menggendong axel ke atas pangkuan john, agar anak itu tahu apa hadiah yang akan diberikan lia padanya.


   "Hadiahnya, adalah axel akan memiliki seorang adik." Ucap sang ayah, membuat axel tersenyum lebar, menatap sang momy tak percaya, meminta penjelasan.


   "Benarkah momy?"


  Lia menganggukan kepalanya, meng-iyakan. Setelah akhirnya mereka bertiga kembali berpelukan ralat berempat bersama sang cabang bayi. Menciptakan banyak kebahagiaan di kehidupan keluarga mereka yang sempurna, berharap ini tak pernah sirna dan terus bertahan selamanya.


   Benci, cinta dan juga rasa takut kehilangan telah membuat keluarga ini bersama, saling melengkapi hingga nanti, ketika mereka mati.


***


**Finish, udah bonusnya sampai sini aja, oke?


nah kalian pada bilang pengen season 2 tentang axel kan? iya kan? nah ara turutin nih






  taraaa, ini diaa my starlight judulnya, kalian bisa langsung baca yah, soalnya ara udah post prolognya. tinggal chapter 1 nya belum ara post. Disini juga ada lia sama john kok, dan juga adiknya axel.


cerita ini berkisah tentang kehidupan axelarino lei 20 tahun kemudian.


sambil nunggu chapter pertama nya ara post, boleh dong mampir ke cerita ara yang lain di noveltoon. siapa tahu ke cantol 😂


btw makasih yah, buat semuanya yang udah dukung cerita ini. POKOKNYA BIG LUV DARI ARA♥️♡**




  


axel waktu kecil, gemush banget♡