
Di sini dia berdiri dengan suasana yang berbeda, dengan semilir angin yang berhembus kencang membuat hatinya berdesis, langkahnya pelan tapi gontai, hanya suara derapan yang terdengar nyaring di jalan yang begitu lebar ini.
Sepatu flat shoe's yang di gunakan olehnya memberinya cukup kekuatan untuk berjalan lebih cepat, sejauh ini dia melangkah tapi hatinya masih tertinggal bersama dengan rasa yang hilang.
Lia gadis dengan tubuh indah itu menyusuri indahnya jalanan london di pagi hari, wajahnya terlihat lelah tapi masih dia usahakan untuk terlihat baik di hadapan orang yang sedang berlalu lalang.
Sesekali lia mendapat sapaan dari beberapa orang yang melihat nya, Setelah membulat kan hatinya untuk pergi dari segalanya termasuk seseorang yang spesial di hidupnya, kini di sini lah lia berdiri kota london yang juga ikut berperan dalam aliran kisah hidupnya.
Di sinilah dia menemukan jati dirinya dan kemampuan nya, meninggalkan kota ini selama beberapa tahun membuatnya rindu segalanya yang menjadi favorit nya di sini.
Sambil menarik narik satu koper yang di bawanya lia berjalan santai, suasana kota ini sangat sejuk, apalagi di pagi hari.
Lia menghembus kan nafas pelan tak bersemangat, seharusnya suasana london yang indah seperti ini lah yang membuatnya semangat, tapi entah kini itu tidak berlaku lagi untuknya.
Lia membuang nafas lagi ketika dia memberhentikan langkahnya di depan sebuah flat, masih dengan ingatan yang terlintas jelas bahwa dia dulu pernah, mengetuk pintu ini dengan tergesa gesa hanya untuk mengatakan bahwa dia di terima di sebuah agensi permodelan yang sangat terkenal di london.
Lia tersenyum kecil membayangi betapa lucunya dia saat itu, kenangan yang sangat indah. Lia menelan salivanya, perlahan memberani kan diri hanya untuk mengetuk pintu flat ini untuk kesekian kalinya.
Tok tok tok
Lia menggeram sebentar, membenarkan posisi rambut dan juga pakaian nya, mengusap wajah lelahnya agar tidak terlalu tertampak.
Pintu flat itu terbuka, menampilkan seorang wanita dengan tubuh semapai dan rambut berwarna pirang, sepasang manik mata biru yang menjadi objek favorit untuk di pandangi oleh semua orang.
Wajah wanita itu sedikit terkejut, dia menutup mulutnya yang sudah terbuka dengan kedua tangannya. Tak lama saling memandang wanita itu dengan cepat menarik lia kedalam pelukannya, membuat lia merasakan kehangatan ini lagi.
"Lia!" Pekik wanita itu girang setelah melepaskan pelukannya yang begitu erat. Lia hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Jujur dia bahagia bertemu dengan sahabat nya lagi Gwen Morris, dia adalah sahabat lia saat lia mengenyam bangku kuliah di london.
Sahabat yang sudah di anggap saudara oleh lia ini selalu membuat nya rindu dan teringat dengan segala tingkah konyolnya untuk sekadar membuat lia tertawa.
Itu berhasil, kini lia menangis menatap wajah sahabatnya yang tak banyak berubah. "Sudah lia jangan menangis, kau baru saja bertemu denganku tapi sudah menunjukkan kesedihan." Gwen menenangkannya lia yang matanya sudah deras oleh air mata.
"Gwen apa kabarmu?" Tanya lia sambil sedikit terisak, dia mengusap pelan air matanya, lalu tersenyum manis.
"Aku baik, bagaimana dengan mu?" Tanya gwen sambil menggenggam kedua tangan sahabat nya.
"A-ku tidak lebih baik gwen... " Lirih lia, dia menundukan wajahnya, keputusan yang besar untuknya meninggalkan john tanpa sebuah kejelasan.
"Kau punya masalah? Ceritakan?" Wanita itu membenarkan duduknya, menatap lia dengan intens menunggu cerita yang akan di ceritakan oleh lia.
"Aku sudah menikah... "
"Apa!" Gwen berteriak histeris jujur itu membuatnya kaget, sekaligus kecewa dengan lia karena menikah tanpa memberi tahu dirinya.
"Kau tidak mengundang ku, untuk hari bahagia mu sendiri?" Intonasi suara gwen terdengar sendu, Terselip sebuah kekecewaan yang mendalam dari suara gwen.
"Maaf gwen... Bukan aku tidak mau... Ta-tapi aku menikah secara mendadak...Ceritanya panjang, intinya pernikahan ini tidak pernah di dasari oleh cinta, entahlah ini terlalu rumit gwen..." Lia meneteskan air matanya, yang entah untuk kesekian kalinya, tapi gwen memahami bahwa permasalahan inu begitu besar untuk lia.
"Tidak apa apa lia, aku mendengar cerita mu disini... " Gwen tak segan lagi, membawa lia hanyut dalam pelukan nya, mungkin suatu kebiasaan atau sebuah keharusan, gwen selalu memeluk lia ketika bersama nya.
"Aku tidak tahu gwen, aku tidak tahan dengan ini semua, aku lelah gwen, aku lelah....Hiks..." Lia mengeluarkan seluruh unek unek yang selama ini dia simpan, semenjak hamil mood lia lebih cepat berubah ubah, kadang marah dan kadang tiba tiba sedih.
Lia juga tidak bisa setegar dulu, tembok pembatas besar yang lia bangun susah payah harus runtuh dengan mudahnya karena seluruh perhatian yang john berikan untuknya. Membuatnya merasa sesungguhnya masih ada orang yang mencintainya, walau pada akhirnya lia harus pergi dengan kekecewaan yang sama.
"Aku hamil gwen... Sedangkan hikss suami ku... Dia hanya memanfaatkan ku..Gwen aku ingin terlepas dari ini semua, aku lelah gwen, sungguh, kenapa tuhan begitu tidak adil padaku... Hikss hidupku selalu di penuhi masalah gwen..." Tangis lia pecah begitu saja dalam pelukan hangat gwen.
Gwen yang mendengar kisah lia ikut meneteskan air mata, sebelumnya dia mengetahui betapa kejam nya hidup lia, mulai dari meninggal nya ibu kandung lia, hingga siksaan yang di berikan oleh ibu tirinya pernah di lihat langsung oleh gwen.
Menjadikan nya mengerti dan tahu apa yang di alami oleh lia, "Sabar lia.. Aku tahu.. Kau selalu beruntung, kau beruntung..." Gwen berusaha menguatnya sahabatnya, dan juga berusaha menguatkan hatinya yang ikut terluka mendengar kisah lia.
"Tidak gwen! Aku tidak beruntung, aku selalu sial! Hikss"
Gwen menggeleng pelan, melepaskan kungkung an nya, dan menatap lia sama dengan lia, gwen sudah menangis.
"Dengar! Jika orang tidak menginginkan kehadiran mu, ingat masih ada aku! Aku akan selalu membantu mu! ingatlah kau tiak sendirian lia, hiks tidak sendirian! Ada aku, mia dan juga anak mu! Aku tidak akan meninggalkan mu... " Di sinilah, gwen sebagai sahabat lia membantu nya, gwen bukan orang yang pandai menyemangati orang lain.
Gwen mudah menangis dia sangat tidak sanggup jika harus melihat sahabatnya sendiri terluka, baginya menangis adalah sebuah umpatan rasa kekesalan nya yang tak bisa terlampiaskan.
"Gwennn... Hikss terimakasih..." Lia tersenyum getir, menahan seluruh kesedihan nya, benar yang di katakan oleh gwen, dia tidak sendirian.
Masih ada orang yang menyayangi nya, masih ada orang yang membela nya.
***
Lekaki dengan wajah erotis itu menggeram frustasi, rambutnya terlihat acak acakan, wajahnya lesu. sebuah lingkaran hitam tercetak jelas di kelopak matanya.
Rahang lekaki itu mengeras saat mendapatkan penjelasan dari beberapa orang yang hasilnya cukup mengecewakan.
"Apa kalian bodoh! Mencari seorang wanita saja kailan tidak becus!" Bentak lelaki itu sambil memukul meja kerjanya, sorot matanya menatap tajam dua orang lelaki itu. Tatapan yang sangat mengerikan seakan siap menguliti, orang yang di tatap olehnya.
"Ma-af ta-tapi kami sudah berusaha... Jejak wanita itu tidak terlacak di mana mana... " Jawab salah seorang lekaki itu gugup.
"Di mana andi!?" Tanya lelaki bersurai hitam itu yang di ketahui bernama johnshon lei.
"Bos andi sedang mencari data tentang wanita itu..." Jawab lelaki itu sambil menunduk kan kepalanya.
"Kalian berdua! Pergi dari sini!" John menunjuk dua orang lelaki itu untuk segera pergi dari ruangan kerja miliknya.
Kedua orang lelaki itu pergi dengan tergesa gesa meninggalkan ruangan john.
John menggebrak meja kerjanya lagi, entah keberapa kali dia melakukan ini, dia begitu frustasi dengan berbagai hal bodoh yang terjadi beberapa hari ini.
John memijit pelipis nya pelan, kepala nya terasanya berat, hidupnya tak berjalan seindah dulu setelah kepergian seseorang yang benar benar mewarnai hidupnya menghilang tanpa kejelasan.
John tahu apa kesalahan nya, john tahu apa yang telah membuat istrinya itu pergi meninggalkan nya. Itu karena ulahnya, karena keceroboh an nya yang percaya mendengar drama seorang wanita ular yang tak tahu malu.
'Lia kau di mana?'