
Lia tengah sibuk dengan piring kotor sisa sarapan mereka tadi, membereskan barang-barang yang tercecer di atas meja dengan sangat telaten.
Sementara kedua jagoannya tengah asik bermain di ruang keluarga, axel tengah sibuk dengan robot mainannya sedangkan john tengah menganggu anak semata wayangnya itu agar bisa ikut bermain.
Lia hanya menggeleng pelan karena sikap john yang seperti anak kecil. Padahal axel tengah merajuk pada john karena sudah membuatnya menangis.
Tidak memperdulikan mereka berdua lia kembali pada tugas awalnya yaitu mencuci piring kotor. Tetapi, lia ingat bahwa hari ini mereka sekeluarga memiliki janji dengan seseorang.
Lia dengen segera mendatangi anak dan suaminya yang masih sibuk dengan mainan robot milik axel.
"Axel, ayo cepat mandi hari ini kita akan pergi ke rumah kakek dan bertemu dengan saudara mu." Ucap lia pada axel yang langsung menatap lia dengan tatapan senang.
Axel langsung melepaskan mainan robot yang sedang ia genggam, mendekat pada lia sambil tersenyum bahagia. "Benarkah momy? Kita akan pergi menemui dede bayi?" Tanya axel antusias.
Lia mengangguk pelan meng-iyakan pertanyaan sang anak. "Maka dari itu, sekarang axel mandi yah." Lia mengusap pucuk rambut axel yang berwarna cokelat, entah bagaimana axel bisa memiliki rambut berwarna cokelat. Sedangkan lia dan john memiliki rambut berwarna hitam.
Lia pikir mungkin itu adalah faktor dulu dia tinggal di london, walau memang tidak mungkin .
Axel mengangguk senang dan langsung berlari bersama robot luar angkasa miliknya. "Menuju tak terbatas dan melampauinya! Cuuuu." Teriak axel sambil berlari dengan kecepatan penuh menuju kamarnya.
Lia yang melihat tingkah anaknya itu tekekeh pelan, axel memang sangat lucu dan axel adalah seorang anak yang sangat aktif.
"Hari ini kita akan pergi kerumah ayah mu lia?" Tanya john masih duduk di atas karpet hangat yang cukup tebal.
"Ya. Aku ingin melihat anak aedeline, dan ayah juga sangat rindu dengan axel, dia meminta ku mengajak axel ke rumah." Jelas lia sambil melirik suaminya yang sangat tampan walau hanya menggunakan kaos biasa.
"Sekarang kau mandi..." Lia ikut mendudukan tubuhnya di karpet itu bersama dengan john.
John menyeringai ini bisa menjadi kesempatan untuknya. "Ya sudah aku akan mandi." Ucap john sebelum pergi john mencium sekilas bibir lia yang berwarna merah alami. Setelahnya mengambil langkah seribu untuk menghindari amukan lia karena mendapatkan sebuah ciuman dadakan dari john.
"John!"
John tertawa dengan sangat keras dari kejauhan karena teriakan lia, john sangat tahu lia masih sering terkejut jika john memberikan ciuman secara mendadak.
Dan yang paling john suka saat mencium lia adalah wajah lia yang langsung memerah, itu membuat lia terlihat lucu bagi john.
Ya pilihan john untuk memilih lia sebagai istrinya tidak salah, karena hanya lia mengerti keadaannya dan hanya lia lah yang membuatnya terlalu bahagia untuk menjalani hidup.
***
Lia membuka lemari milik axel yang bergambar ruang angkasa, lie memilih baju apa yang akan di gunakan oleh axel. Sedangkan saat ini axel tengah membersihkan diri di kamar mandi.
Axel adalah anak yang sangat mandiri, anak lelaki itu sudah bisa mandi, memakai baju sendiri, makan sendiri dan axel juga bisa membuat susu untuk dirinya sendiri walau kadang lia melarangnya karena hal itu memang berbahaya.
Lia merasa axel adalah anak yang sangat pandai, saking pandainya axel kadang memberikan pertanyaan yang di luar logika seorang anak kecil seperti axel.
Pernah sewaktu dulu axel bertanya tentang bagaimana dirinya lahir ke dunia dengan menjelaskan sistem reproduksi pada manusia yang membuat lia terkejut.
Dari mana axel bisa tahu mengenai sistem reproduksi di umurnya yang menginjak 4 tahun, ketika lia bertanya tentang hal itu axel menjawab dia mengetahuinya dari seroang anak bernama star.
Entah star mana yang axel maksud tapi lia tidak mengetahui bahwa axel mempunyai teman bernama star. Dan juga axel pernah menceritakan bagaimana terbentuknya sebuah galaksi dan berbagai macam galaksi, sehingga axel meminta kamarnya untuk di hias seperti galaksi.
Axel sudah bisa membaca dan juga tahu berbagai angka juga huruf alphabet. Kalau untuk hal itu lia lah yang mengajarkannya, karena axel belum masuk sekolah.
Menurut lia axel terlalu pandai, atau ada seseorang yang memberitahu hal itu pada axel.
Lia tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara halus milik axel. "Momy, kenapa melamun?" Tanya axel yang baru saja keluar dari kamar mandi, axel menggunakan bathrobe kecil pada tubuhnya yang malah membuat axel terlihat dewasa juga rambutnya yang basah. Lia merasa seorang john sangat melekat pada axel.
"Tidak apa-apa." Jawab lia, lalu mendekati axel untuk memberikannya sepasang pakaian yang sudah lia pilihkan.
"Pakai ini yah, momy akan membantu dady memilih baju" Lia meletakan sepasang pakaian itu di atas tempat tidur milik axel yang bertema tata surya.
"Oke momy. Momy? Apakah dady selalu manja seperti itu? Padahal dady sudah besar, seharusnya dady bisa mengurus dirinya sendiri." Ucap axel sambil melipat kedua tangannya menaruhnya di dadanya.
Tatapan axel polos, ekspresinya bingung karena sikap john yang memang sangat kekanakan pada lia dan juga manja.
Lia terseyum tipis lalu mengecup kening axel yang masih sedikit basah karena tetesan air dari rambutnya.
"Dady memang seperti itu axel, jadi axel tidak boleh manja seperti dady. Dady memang nakal." Jelas lia yang langsung mendapatkan sebuah anggukan mantap dari axel.
"Baik momy." Jawab axel dengan sebuah senyuman manis yang sangat mirip dengan john.
Lia lalu meninggalkan axel yang sudah Pandai memakai baju sendiri, pergi berjalan menuju kamarnya dengan john.
John bagi lia adalah big baby yang sangat manja, john akan meminta hal yang sama seperti yang lia lakukan pada axel. Kalau tidak, john akan merajuk seperti anak kecil. Ya, lia sudah terbiasa dengan sikap john yang kekanakan padanya.
Benar saja saat lia masuk kedalam kamarnya dia melihat john tengah terdiam di atas sofa, dengan bathrobe yang masih melekat pada tubuhnya.
Lia berdecak sebal dengan sikap john. Menghentakkan kakinya mencoba mengabaikan keberadaan john dan langsung memasuki walk in closet yang berada di kamarnya.
Memilihkan baju yang pas untuk john. Setelah selesai lia keluar dari dalam walk in closet, membawa beberapa helai pakaian untuk john.
"Kenapa kau lama sekali?" Tanya john yang memperhatikan lia yang sedang meletakan baju di atas tempat tidur.
Lia tersenyum tipis karena tingkah suaminya ini. "Kau tahu aku punya dua jagoan disini, dan aku bukanlah amuba yang bisa membelah diri untuk melayani kalian berdua secara bersamaan." Lia berjalan mendekati john, tidak lupa membawa pakaian milik john.
Baru beberapa langkah lia berjalan tangannya kembali ditarik oleh john, membuat lia terjatuh kebelakang jika saja john tidak menahan tubuhnya.
Hal ini sontak membuat lia merasa deja vu, sebelumnya ini pernah lia alami saat pagi pernikahan mereka. Lia berpikir john akan melakukan hal yang sama seperti pada waktu itu.
Tapi nyatanya tidak john malah mendekap tubuh lia erat. Jujur pelukan hangat john membuat rasa lelah lia berkurang, lia memegang dada john yang berdegup kencang.
"Maaf aku terlalu manja padamu." Ucapan john membuat lia terkejut, john memang tipikal lelaki yang sangat peka dengan perubahan sikap seseorang terutama tentang lia.
Lia tersenyum tipis membalas pelukan sang suami tidak kalah erat. "Tidak apa, aku mengerti." Jawab lia yang sejujurnya paham mengapa kadang john terlalu manja dan terlalu over protective padanya. Semua ini mungkin berkaitan dengan kejadian di masa lalu.
Dimana john pernah dua kali kehilangan sosok lia, tapi kini john sudah berjanji tidak akan membiarkan istrinya ini lepas ataupun pergi sejengkal saja dari kehidupannya.
***
Lia berlari kecil untuk merengkuh tubuh mungil anak lelakinya, lia sangat gemas dengan axel karena lelaki itu sangat tampan dengan baju turtle neck yang dia gunakan juga sebuah jas yang melengkapi penampilan axel.
Lia yang terlanjur gemas langsung menciumi pipi axel yang sedikit berwarna merah alami. Tidak memperdulikan john yang sudah menatap mereka berdua dengan tatapan cemburu.
"Momy... Aku juga ingin di cium." Rengek john pada lia, mendengar rengekan john membuat perut lia terasa mual kenapa ada lelaki semanja john.
Akhrinya dengan berat hati lia memberikan sebuah kecupan singkat pada pipi john agar bayi besar ini tidak lagi merengek.
Sejujurnya john juga sangat tampan hari ini, dengan menggunakan sebuah turtle neck berwarna merah yang sengaja lia samakan agar mereka terlihat kembar.
Sementara lia hanya menggunakan sebuah dress panjang berwarna biru navy, make up di wajahnya cukup simple tapi tidak menghilangkan aura seorang model pada lia.
Karena bakat menjadi seorang model benar-benar telah mengalir pada diri lia, bahkan gaya sesimpel ini berhasil membuat seorang john terpana.
Bagaimana pun penampilan lia akan selalu mempesona di mata john.
"Sudahkan? Ayo berangkat." Lia menggenggam tangan axel menggunakan tangan kanan, dan tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam tangan john.
Menggiring dua jagoan lia menuju mobil.
***
"Kakek!!" Teriak axel sambil berlari pada pelukan ayah lia yang sudah menunggu kedatangan mereka ke kediaman keluarga fanz.
"Cucu kakek." james memeluk cucu semata wayangnya dengan sangat erat, james sangat rindu dengan axel yang memang sangat lucu dan aktif.
"Kakek axel rindu." Ucap axel yang masih berada dalam pelukan james. "Kakek juga rindu pada axel." Jawab james belum melepaskan pelukannya pada axel.
"Axel, kakek punya hadiah untukmu." James melepasakan pelukannya pada axel, menatap kedua bola mata cucunya yang berwarna cokelat persis seperti mendiang istrinya.
"Apa itu kek?" Tanya axel, james memang sangat suka membelikan axel mainan mungkin setiap james melihat mainan keluaran terbaru lelaki itu akan selalu teringat pada axel dan langsung membelinya.
"Ayah, sudah lia bilang. Ayah tidak boleh terlalu sering membelikan axel mainan, di rumah mainan miliknya sudah terlalu banyak." Cecar lia yang merasa ayahnya terlalu berlebihan.
Mungkin bagi lia berlebihan karena hampir setiap minggu ada saja mainan yang di kirimkan james untuk axel. Tapi tapi james itu adalah ucapan kasih sayangnya pada axel.
"Tidak apa-apa lia, ayah senang melihat axel bahagia." Jawab sang ayah yang sekarang malah pergi bersama dengan axel meninggalkan lia dan john berdua di ruang keluarga.
Lia mengusap pelipisnya, sebenarnya james ingin bertemu dengan lia atau memang hanya alasan untuk bertemu dengan axel.
"Sudahlah, ayahmu sepertinya sangat menyayangi axel." John yang sedari berdiri di samping lia mengusap pundak istrinya pelan.
"Sudahlah, tapi setelah ini kita harus pergi ke rumah aedeline, aku ingin melihat anaknya." Pinta lia langsung mendapatkan anggukan dari john.
John menarik pinggang lia, membuat tubuh lia mendekat pada john. John langsung memberikan sebuah kecupan singkat pada pucuk rambut lia.
***
**maaf telat update, padahal waktu itu udah di Review tapi pas aku buka udah gak ada lagi:(
maaf yah maaff
kalian masih mau lanjut atau buat season 2 tentang axel?
tapi aku takut kalian gak suka dan ceritanya takut gak sepopuler the perfect husband.
gimana**?
aku ambyar:(