THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
alasan ku kini aku hanya ingin bebas!



  "Apa yang akan kau berikan jika memang benar bahwa kita telah menikah? Kau akan menyerahkan dirimu untuk ku?"



  "Baik, Kalau itu mau mu aku akan menyerahkan diriku untukmu, asal kau bisa memberi ku sebuah bukti yang jelas bahwa kita telah menikah dan tanpa ada paksaan dari siapapun."



   Lia menjawab tanpa ragu untuk apa dia memikirkan dirinya kini yang sudah tidak berharga lagi pula johnshon lah yang telah membuat hidupnya hancur, dia harus bertanggung jawab. Jikalau bisa lia ingin membalas dendam pada john atas apa yang telah dia perbuat pada lia.



  "Jawaban yang cepat dan tanpa berfikir lebih lanjut, aku salut dengan dirimu lia." John menyeringai lalu melirik dua orang laki-laki yang tidak lain adalah bodyguardnya.



  "Keluarkan buku itu!" John sedikit membentak dan berbicara dengan tegas tak lupa masih dengan wajah tanpa ekspresi.



  Salah satu dari lelaki itu mengangguk sambil mengambil sesuatu di dalam dashboard mobil mengeluarkannya lalu memberikannya kepada john.



   John masih dengan sebuah senyum menyeringai mengambil buku itu memberikannya pada lia, lia menatap buku itu dengan bingung.



  Buku yang di berikan john adalah buku nikah sedikit rasa takut menjalar dalam perasaan lia, lia berpikir tidak mungkin dia dan john benar-benar menikah sementara dirinya sama sekali tidak merasa bahwa hal itu terjadi.


 


  Mencoba bersikap biasa saja, lia menerima buku nikah itu kemudian membukanya. Kemudian yang terjadi adalah mata lia membulat sempurna, mulutnya menganga kaget.



  "Ini tidak mungkin! Kau pasti memaslukan tanda tanganku, aku tidak pernah ingat ataupun menyetujui untuk menikah denganmu, bahkan sampai sekarang aku tidak tahu siapa dirimu." Lia berteriak frustasi, merasa di permainkan dengan apa yang terjadi sekarang.



  Mungkinkah ini adalah bagian dari rencana aedeline, seketika kepala lia kembali di singgahi rasa pening. Jadi semalam bukanlah sebuah tindakan pemerkosaan tapi memang hal yang wajib di lakukan pasangan suami istri.



  Tapi lia belum bisa percaya sepenuhnya karena dirinya sendiri tidak pernah mengingat bahwa dia pernah menikah.



  "Kau sudah berjanji dan aku tidak seseorang mengingkari janjinya, nyonya lei." John tersenyum penuh kemenangan menatap menggoda pada lia.



  "Nyonya lei? Lei— aku tidak peduli dengan siapa dirimu yang jelas aku tidak mau menyerahkan diriku untuk lelaki ******** penipu seperti mu!" Sarkas lia dengan mata yang sangat penuh dengan kemarahan.



  "Kau adalah perempuan yang paling keras kepala beraninya kau mengatakan bahwa aku adalah lelaki ********, apa kau tahu hanya dengan menjertikan jari aku johnshon lei dapat membunuhmu." Ucap john membuat lia merinding pasalnya suara sangatlah halus tapi juga tegas.



  John menarik tangan kiri lia membawanya mendekat pada dirinya, mendorong tubuh lia pelan hingga membuat tubuh lia terbaring di atas kursi mobil.



  "Apa? Kau adalah johnson lei? Tidak mung—akhh" Lia merintih kesakitan karena john menindih tubuhnya dan mengunci pergerakan lia.



  Lia tahu selama menjadi anak dari keluarga fanz dirinya selalu di perkenalkan dengan dunia bisnis dan yang lia tahu johnson lei adalah seorang pemilik perusahaan HW evolution, perusahaan terbesar yang bahkan sudah membuka cabang di luar negeri.



  "Aku—tidak peduli, aku hanya ingin kau melepaskan ku, aku ingin pulang." Lia berusaha melepaskan dirinya dari kungkung john.



  "Kau ingin pulang? Bukannya kau sudah di usir oleh keluarga mu?" Tanya john pura-pura tidak mengetahui kebenaran yang sebenarnya.



  Entah kenapa saat john mengatakan bahwa lia di usir dari rumahnya sendiri, membuat rasa sakit pada hati lia semakin parah rasanya dia ingin menangis sekarang juga karena telah terlalu percaya pada kedua orang penjilat seperti aedeline dan ibunya.



  Tetapi dirinya harus kuat tidak boleh terlihat lemah di depan semua orang, lia memejamkan matanya menahan agar sebuah air mata tidak menetes.



  Lia kembali membuka matanya menatap tajam john yang masih menindih tubuhnya. "Aku memang sudah tidak mempunyai rumah, jadi mungkin alasan ku kini aku hanya ingin bebas." Ucap lia dengan suara parau terdengar menahan isakan di telinga john.



   Saat itu juga john merasa sangat sakit hati melihat penderitaan yang di rasakan oleh lia hingga membuat orang yang paling di cintai oleh john ini teriksa.



  Dengan cepat john memperbaiki posisinya, kembali duduk dengan tenang dan melepaskan lia dari kungkungannya.



  keheningan memecah kedua orang yang mulai duduk berjauh jauhan sambil membayangkan sesuatu yang mereka pikirkan, hal yang masih membuat lia terheran adalah seseorang yang buas seperti john tiba-tiba berhenti hanya karena suara paraunya.



Tapi mungkin hal itu dapat di manfaatkan oleh lia.



...



   Lia terdiam kebingungan karena yang dia rasakan kini, mobil yang dia naiki sudah berhenti, lia melirik ke arah jendela dan mendapati halaman mansion besar milik john.




  Lia melihat john membuka pintu mobil dan keluar dengan gagahnya john juga membenarkan jas yang dia gunakan, sepatu kulit yang dia gunakan dan juga tuxedo yang di pakai oleh john menambah kesan gagah pada diri john.



  Lia bahkan sedikit terpesona dengan aura yang di pancarkan oleh john hingga kini lia tidak sadar bahwa sedari tadi terus menatap john.



  John yang merasa dirinya di perhatikan tersenyum jahil sambil membalas tatapan lia, membuat lia salah tingkah dan langsung membuang muka kembali menatap jendela mobil mewah milik john.



  Di kaca terlihat jelas pantulan wajah lia yang sangat cantik walau tanpa polesan make up, tapi nasibnya harus seburuk ini hanya karena sebuah masalah kecil, seharusnya kini lia hidup bahagia bersama dengan tunangannya, membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia namun takdir berkata lain dengan membuat masalah ini untuk lia.



  "Cepat keluar!" Ucap john membuat lia tersentak karena di sadarkan dari lamunannya, lia mendongak menatap john dingin.



  "Aku tidak mau! Aku ingin pergi dari sini dan tidak akan pernah percaya pada surat palsu itu!" Lia menyuarakan ala yang sedari tadi ingin dia katakan.



  John tidak merespon ucapan lia john malah menarik paksa tangan lia, menggendongnya dengan gaya bridal style membawanya secara paksa ke dalam rumah besarnya.



  Lia tidak ingin di perlukan semena-mena seperti ini dia masih berusaha melawan walau tahu akhirnya akan selalu nihil, dirinya akan selalu kalah oleh john.



  Memasuki pintu utama yang berdiri menjulang tinggi hingga pertama masuk pemandangan yang di dapati oleh lia adalah para maid yang sudah berbaris rapih menyambut kedatangan john.



  Para maid berseragam itu membungkuk hormat saat john melewati mereka, sementara lia yang berada di dalam gendongan john hany menatap takjub.



Tidak aneh mungkin bagi seorang johnson lei karena dirinya bisa melakukan apapun yang dia mau, lia semakin bingung bukannya saat dirinya kabur rumah ini sepi bahkan seperti tidak ada kehidupan, namun hal yang lia lihat saat ini adalah jawabannya.



  Sampai pada sebuah ruangan yang sangat luas john mendudukan tubuh lia di atas sofa, lia sudah bersiap untuk melarikan diri tapi tangannya sudah terlebih dulu di tahan oleh john.



  "Jangan melakukan hal aneh istri ku, kau tidak akan pernah bisa pergi karena rumah mu yang baru adalah di sini." John mengelus pucuk rambut lia yang di biarkan terurai.



  "Hentikan omong kosong mu, aku bukan istri mu, dan aku tidak pernah menikah denganmu." Teriak lia gusar, lia sangat tidak jijik dengan panggilan istri yang john gunakan.



John tidak menanggapi ucapan lia lelaki tampan tapi berwajah dingin itu hanya menatap santai pada lia, meneliti setiap inci wajah lia yang sangat sempurna bagi john lia adalah seorang malaikat tanpa sayap yang di berikan untuknya.


 


  "Aku tanya apa yang sebenarnya kau mau?" Lia bertanya hal itu untuk kedua kalinya berharap kali ini jawaban yang di berikan oleh john serius.



  "Aku menginginkan dirimu!" Jawab john lagi dan lagi membuat lia merasa muak, kenapa john tidak menjawab dengan alasan sesuatu yang logis.



Lia memijit pelipisnya yang merasa bingung dengan yang harus dia lakukan, setelah lama berpikir lia mendapatkan sebuah ide untuk memanfaatkan keadaan ini.



  Dia bisa memanfaatkan ke inginan john untuk bersama dirinya sebagai cara balas dendam pada aedeline, di sini dirinya tidak akan mendapatkan sebuah kerugian, di satu sisi lia bisa membalas dendam dan di satu sisi yang lainnya dia dapat keuntungan karena john mau menampungnya juga bertanggung jawab.



  "Jadi kau menginginkan diriku?" Tanya lia lagi mencari keberadaan john yang ternyata sudah duduk di sofa bersebelahan dengan lia.



  "ya" Jawab john singkat sambil terus memperhatikan lia.



  "Baiklah, aku akan menyerahkan diriku untukmu, tapi dengan beberapa syarat." Pinta lia dengan sebuah smrik pada wajahnya, memanfaatkan apa yang perlu di manfaatkan.



  "Apa itu? Sebutkan saja." Ucap john tak pelak membuat sebuah harapan besar di dalam hidup lia bisa tergambar dengan jelas.



   "Aku tidak ingin kau menggangu kebebasanku, aku akan melakukan apapun yang aku inginkan keculi untuk pergi darimu, bagiamana? Tidak sulit bukan?" Lia menjelaskan syarat yang dia ajukan pada john.



  John yang mendengar persyaratan yang di berikan oleh lia hanya terdiam, john menuangkan sampanye pada gelasnya meminumnya tanpa ekspresi.