THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
selalu cekcok



"Lepaskan sakit tau!" Lia mencoba melepasakn tangan john dari pipinya.


John akhirnya melepaskan tangannya dari pipi lia, lia cemberut dia semakin menatap john dengan tatapan jutek.


"Aku.. minta maaf... Tapi ekspresi mu itu sangat lucu.... " Ucap john menahan tawa.


"Sudahlah lupakan!" Lia memasukan sepotong demi sepotong daging kedalam mulutnya, dia tidak ingin di ganggu karena hari ini dia sedang sangat nafsu makan.


Terlihat dari jendela restoran yang begitu besat, andi dengan seorang gadis yang sedang berbicang bincang di depan mobil john, mereka berdua terlihat akrab sebuah tawa kadang terlihat di raut wajah mereka berdua.


Lia yang melihat itu tersenyum bahagia, andaikan saja dirinya bisa seperti itu, tapi...? Takdir berkata lain dia harus mengalami hal yang sebenarnya semua orang tidak ingin merasakannya.


"Apa yang sedang kamu lihat?" John melihat tempat yang di tatap oleh lia.


"Tidak... Apa apa... Hanya aku melihat anak buahmu sedang bersama perempuan." Jawab lia lirih, dia tidak ingin membuat john berfikiran yang tidak tidak.


"Lalu?" Nada john seperti sedang menunggu sebuah penjelasan akan apa yang di katakan oleh lia.


"Tidak.... Aku hanya merasa itu sangat menyenangkan...Aku harap... Mereka benar benar mempunyai sebuah hubungan." Harap lia, hatinya mengatakan hal yang sama berharap dia lah yang menjadi perempuan itu.


"Begitu kah...? Apakah kamu ingin kita sama seperti mereka?" Tanya john spontan mungkin john menebak apa yang di rasakan lia saat ini.


"Tidak!" Lia menjawab tegas, namun sebenarnya dia mengatakan ya.. Bahwa dia ingin seperti wanita tadi.


*Drrrrrttttt* Dering ponsel lia berbunyi memecahkan kecanggungan di antara keduanya.


Dengan segera lia menangkat telefonnya.


Lia menatap layar ponselnya ternyata yang menelfonnya adalah aedeline.


Merasa tidak nyaman karena ada john Disini, lia memilih pergi menjauh, tapi sebeleum dia pergi john dengan cepat meraih tangan lia, yang sekarang berada di pangkuannya.


"Mau kemana? Siapa yang menelfon mu, angkat disini." Paksa john pada lia.


"Aedeline! Iya aku angkat di sini turunin aku!" Lia memaksa, john peracaya dengan perkataan lia lalu melepaskannya.


Lia kembali duduk di kursinya, dan menjawab telefon dari aedeline.


"Halo...?"


''Halo... Kakak! Bagaimana kabar mu?" Sapa aedeline pura pura polos, padahal hatinya lebih busuk dari pada mertua yang tidak merestui anaknya.


"Ada apa?" Lia tidak ingin berbasa basi, jika hanya ingin meledaknya dia sudah bosa mendengarnya.


"Aku... Kakak tahu bukan ayah telah menjodohkan ku dengan georgeo?"


"Lalu?" Lia bertanya, walau di hatinya dia sudah tahu akan apa rencana yang di perbuat aedeline.


''Dan pesta pernikahan ku akan di laksanakan tiga hari lagi, aku mohon untuk kakak datang yahh... Aku ingin saat aku menikah semua keluarga ku lengkap... ''


Rengek aedeline dia sedikit membuat buat suaranya, agar terlihat memohon dan sangat membutuhkan.


"Bagaimana dengan yang lain?" Tanya lia, dia takut ayah dan ibunya tidak menginginkan kehadirannya.


''Kalau itu... Aku sudah membicarakanmya dengan ayah, dan dia mau menerima kakak sebagai tamu undangan.''


Jelas aedeline, saat mengatakan tamu undangan sepertinya ada maksud yang di tekankan oleh aedeline.


"Baik... Jika aku ada waktu, aku akan datang.... " Jawab lia, lalu dia mematikan telefonnya melanjutkan menyantap hidangannya.


"Biasa...Aedeline ingin aku meminta maaf pada ayah dan ibu agar keluarga bisa kembali seperti dulu." Jawab lia berbohong, ia tahu jika mengajak john ke pesta akan membuat sebuah kehebohan dan masalah baru untuk lia.


Jadi lia memutuskan jika nanti pergi ke pesta pernikahan, dia tidak akan mengajak john.


"Lalu apakah kamu akan pergi ke sana?"


"Aku tidak tahu... Aku sangat malas... " Jawab lia asal, jika bukan karena pernikahan dia tidak pernah ingin datang menginjakkan kakinya lagi di rumah itu.


"Jika kamu ingin datang, aku bisa mengantarkan mu kesana?" Tawar john.


"Tidak usah! Ehhh ehhhh aku bisa sendiri lagian.... Gak tahu dateng gak tau engga." Jawab lia spontan dia tidak ingin sampai john menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke rumahnya.


Setelah selesai makan, mereka bertiga pulang kerumah john, setelah sampai di rumah john memilih untuk pergi lagi ke kantor karena ada rapat mendadak jadi sisa hari itu lia lewati tanpa kehadiran john.


3 hari berlalu...


Semuanya masih sama sepertinya biasanya, perselisihan masih saja terjadi di antara john dan lia, mereka tidak bisa sehari saja tidak membuat kuping seluruh orang yang ada di rumah john merasa sakit.


Karena kadang, lia sangat bawel dan sangat mengoceh apalagi kepada suaminya.


Lia sudah mulai biasa dengan kehidupannya, menjadi istri johnshon lei tidaklah buruk, john juga memperlakukan lia layaknya seorang ratu dan tidak ada yang keberatan tentang apa pun yang mereka lakukan.


Pagi itu lia sudah terbangun, memergoki suaminya tengah memakai kemejanya di depan matanya.


Seluruh bagian dada john terlihat begitu berotot dan sangat lah bagus, tak heran semua wanita sangat ingin bersamanya.


Sejenak lia terdiam melihat apa yang sekarang di tampilkan john, namun tiba tiba john merusak suasana itu.


"Sudah puas melihat dadaku... " John merangkul lia erat erat.


Lalu lia tersadar akan apa yang dia lalukan tadi, Langsung dengan cepat pipi lia memerah dan dia kini sedang menyembunyikan itu.


"Kenapa harus ganti baju di depan aku hah!" Lia malah ngotot menurutnya dia tidak salah.


"Kamu adalah istriku... Kamu harus terbiasa melihat itu... " John menarik hidung lia membuatnya menjadi marah adalah hal yang paling john sukai.


"Biasa...?" Lia memebalikan posisi tubuhnya kini dia tengah berhadap hadapan dengan john, tubuh mereka sangat dekat bahkan lebih bisa di bilang melekat.


Lia menggelantungkan kedua tangannya di leher john, "Apa harus aku lakukan agar terbiasa?" Goda lia, dia sudah sangat kesal menjadi bahan ledekan jika dia memang bisa menggoda john kenapa dia tidak melakukannya.


"Sejak kapan istriku seagresif ini... Dan pandai menggoda." John tersenyum menyeringai dia sangat senang dan aneh dengan sikap istrinya yang biasanya dingin tiba tiba berubah 180 derajat.


"Sejak dan saat aku mengetahui kalau kamu adalah playboy tukang gombal, dan dari situ aku belajar padamu agar bisa menggoda seoarang lekaki lain kelak... "


Lia tersenyum licik... Dia tahu bahwa john akan marah saat lia mengucap kata lelaki lain.


"Benarkah?" John justru memeluk pinggang lia yang begitu langsing sangat erat dan semakin erat.


Tangan yang lia gantungkan di leher john tiba tiba bergerak dengan cepat lia memasangkan dasi di kerah kemeja john.


"Kamu terlalu berfikiran negatif..." Bisik lia di kuping john, lalu pergi dari dekapan john untuk pergi mandi.


'Istriku.... Kamu memang sangat menggoda belum pernah merasakan harimau yang kelaparan mencari mangsa'


John tertawa puas, dia melihat istrinya yang sekarang sudah terbiasa dengan kehidupannya sudah membuat john senang.