THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
bertemu orang tua john



   John tercengang ketika melihat penampilan lia secara keseluruhan matanya tak berhenti henti berputar-putar memperhatikan lia dari atas hingga bagian bawah.



  Menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian john, lia memukul bahu john dengan sedikit keras. "Kau sedang melihat apa Hah?!" Lia marah pada john dia merasa tatapan john seperti hewan kelaparan dan siap memangsa lia.



  John menarik pergelangan tangan lia membuat wajah lia kini berhadapan langsung dengan john bahkan jarak di antara mereka berdua hanya 1 cm.



  "Kau sangat cantik." Bisik john di telinga lia membuat wajah lia memerah seketika, tidak tahu harus berbuat apa lia akhirnya menjauhkan wajahnya dari john sambil membuang muka juga menahan nafas.



   "Kau malu?" Tanya john sambil menggoda lia, lia yang sedari tadi membuang muka mencoba menetralkan jantungnya yang berdetak dengan kencang.



  "Cukup! Aku tidak peduli, ayo pergi untuk memeriksa buku itu." Lia yang masih merasa malu memutuskan untuk meninggalkan john yang terkekeh karena berhasil membuat lia tersipu malu.



  John menyusul lia yang sudah bersiap menunggu di depan pintu utama. "Kau terlihat begitu bersemangat." Ejek john pada lia, lia berusaha tidak peduli dengan ejekan dan memilh diam.



  John yang tidak mendapatkan respon dari lia juga memutuskan untuk terdiam tanpa mengucapkan banyak pertanyaan.



  Tak lama mobil limousin yang mereka tunggu datang, john yang sudah kesal karena tidak mendapatkan respon dari lia langsung masuk kedalam mobil mencoba tidak memperdulikan lia.



  Lia juga dia masuk ke dalam mobil tak acuh dengan john yang sekarang duduk di sampingnya, karena mood mereka berdua sudah terlanjur hancur pada akhirnya membuat suasana mencekam di dalam mobil terjadi.



  Tidak ada percakapan ataupun goda dari john yang biasa lelaki itu ucapkan, mereka berdua hanya diam sibuk dengan pemikirannya masing-masing.



***



  Kini mereka berdua telah sampai di gereja yang menjadi tempat pengucapan janji suci pernikahan mereka. John langsung turun dari mobil meninggalkan lia yang masih terdiam, menatap kosong pada halaman gereja yang begitu luas.



   "Kau tidak ingin keluar?" John melirik pada lia yang masih berada di dalam mobil. Lia tidak peduli dengan ucapan john atau lebih tepatnya kini lia sedang melamun, sehingga tidak menanggapi ucapan john.



  "Lia, apa kau takut?" Karena kembali merasa di abaikan john kembali masuk ke dalam mobil, lalu menarik wajah lia agar menatapnya, berniat untuk menggoda juga.



  Lia yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung melepaskan cengkraman tangan john dari dagunya, menatap nyalang pada john. "Hentikan john! Aku tidak akan pernah takut dengan semua ini, hanya saja aku tidak mau semua orang mengenalku." Lia berucap pada john. Memang sedari tadi lia takutkan ada seseorang yang mengenalnya apalagi sekarang dia tengah bersama dengan johnshon lei.



   John menghembuskan nafas panjang membuka dashboard mobilnya untuk mengambil barang yang dia inginkan. "Gunakan ini." John memberikan sebuah masker dan kacamata hitam pada lia, lia menatap bingung pada john. Bagaimana lelaki seperti itu bisa membawa barang-barang seperti ini.



  Lia mencoba menahan rasa penasarannya dan memilih mengambil barang yang di sodorkan oleh john padanya. Lia memakainya hingga membuat wajahnya tidak di kenali banyak orang.



  Setelahnya lia keluar dari mobil mengacuhkan keberadaan john, john yang kembali di acuhkan hanya menahan rasa kesal pada lia. Lia memang sangat keras kepala.



   Lia memasuki ruangan gereja mencoba mencari pendeta yang menikahkah mereka berdua, saat itu lia melihat pendeta itu tengah berdoa.



  Sambil menunggu pendeta itu selesai, lia duduk di banyaknya kursi yang tersedia memperhatikan pendeta itu.



  Tidak lama kemudian pendeta itu selasai. Pendeta membalikan tubuhnya hingga pandangannya bertemu dengan lia. Lia dengan segera mendatangi pendeta untuk mengucapkan salam.



  "Selamat siang pak." Sapa lia pada pendeta itu, pendeta yang berumur setengah abad itu tersenyum membalas salam lia.



   Terdengar suara derapan langkah kaki menuju mereka berdua yang lia yakini adalah john. Benar saja john datang dan langsung berdiri bersebelahan dengan lia.



  "Oh, anda adalah johnson lei dan annalia fanz yang kemarin lusa mengadakan janji suci pernikahan dengan terburu-buru?" Tanya pendeta itu ketika mendapati kehadiran john di samping lia.



  Mendengar penuturan dari pendeta itu membuat lia sedikit kaget, jadi john benar-benar tidak berbohong jikalau mereka telah menikah.



Tapi bukan lia namanya jika langsung percaya begitu saja pada apa yang orang lain ucapkan, bisa saja pendeta ini telah bersekongkol dengan john untuk menipunya.



   "Tidak mungkin, pak, saya tidak pernah mengucapkan janji suci itu." Elak lia pada pendeta, yang kini menampakan sebuah senyum samar pada lia.



  "Ah bagaimana bisa? Yang jelas saya sendiri yang menikahkah kalian berdua, benarkan pak john?" Pendeta itu melirik john.



  "Tidak mungkin, bapak hanya bercanda kan? Atau bapak bersekongkol dengan john untuk menipu saya?!" Lia mulai kesal dengan pendeta itu, bukan maksud tidak sopan dia tidak ingin jika semua ini memang telah di rencanakan oleh john.



   "Tidak ada rekayasa di pernikahan anda, pernikahan adalah hal yang sakral bagi saya menikah di hadapan tuhan tidak akan bisa di palsukan ataupun di permainkan, kalian berdua memang menikah dan juga sudah sah menjadi pasangan suami istri." Jelas pendeta itu tidak menghilangkan senyum yang ada di wajahnya.




  Kepala lia terasa pening sekali, bagaimana dirinya bisa melupakan hal sepenting itu jika memang mereka pernah menikah, kenapa tidak ada memori ataupun ingatan mengenai pernikahan mereka.



   "Terimakasih pak, kami akan pergi." Ucap john pada pendeta itu, sambil membawa lia dengan cara merangkul pinggangnya.



  Lia terus memegangi bagian pelipisnya menahan rasa sakit yang tiba-tiba melanda kepalanya.



  "Jangan terlalu memaksakan untuk mengingat hal itu yang terpenting kau sudah tahu kebenarannya." Ucap john yang masih membawa lia dalam dekapannya.



  Lia tidak menjawab ucapan john memilih diam untuk meredakan rasa sakit pada bagian kepalanya.



   John membawa lia ke dalam mobil membantu lia untuk duduk dengan benar karena lia sedari tadi tidak berbicara.



  John menyuruh supir untuk menjalankan mobil.



  Lia hanya mengalihkan pandangannya pada jendela mobil yang menampilkan suasana jalanan yang ramai, sadar akan sesuatu hal yang ganjal lia melirik john untuk menanyakannya.



"Tunggu, ini bukan jalan menuju mansion mu." Ucap lia bertanya pada john.



"Memang bukan, kita akan pergi menuju rumah orang tua ku." Jawab john menatap lia sekilas.



"Untuk apa?" Tanya lia kebingungan, karena mereka berdua menikah juga tanpa adanya kedua orang tua



"Untuk memperkenalkan mu pada kedua orang tuaku." Jawab john sambil menunjukan raut bahagia, lia malah menunjukan ekspresi bingung dengan sikap john, kenapa sekarang john malah ingin mengenalkan lia pada orang tuanya.



"Aku—aku sangat takut." Lirih lia, tentu saja dia ketakutan mereka berdua menikah tanpa sepengetahuan kedua orang tua johm, apa yang kedua orang tua john pikirkan tentang lia.



"Tidak usah takut, aku ada untuk dirimu." John berusaha menenangkan lia agar istrinya itu tidak takut untuk bertemu kedua orang tuanya.



Lia membuang nafas panjang, menyiapkan mental untuk bertemu dengan kedua orang tua john, apapun yang akan mereka asumsikan tentang lia, lia tidak peduli. Karena lia yakin john akan membelanya.



"Kau tidak akan mengingkari janji mu bukan?" Tanya john lagi dia ingat janji yang di buat olehnya dengan lia.



"Aku bukanlah tipe orang yang mudah Mengingkari janji, aku akan tepati janji ku, tapi aku ingin kau membebaskan ku. Aku berjanji aku tidak akan kabur ataupun melakukan sesuatu yang kau larang, aku ingin mencari pekerjaan, aku tidak ingin terus bergantung padamu." Lia Menjelaskan keinginannya dan permintaannya pada john.



"Aku tidak yakin kau akan melakukan itu dengan benar." Perubahan drastis di tunjukan oleh ekspresi john yang semula tenang menjadi ketakutan dan merasa sebuah ketidak percayaan.



"Aku janji... Aku mohon, jika aku melanggar peraturan mu aku rela tinggal di rumah itu selamanya. Aku akan selalu pulang tepat waktu, dan melakukan segala kewajibanku." Lia memohon pada john, agar memberikannya kebebasan dia tidak ingin terkurung dalam rumah bagai penjara itu.



"Baiklah... Itu yang kau ucapakan sendiri, dan kau tahu apa resikonya jika melanggar." Joh menurut, tidak ada salahnya dia memberikan kesempatan untuk lia.




***





Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, mobil yang di naiki lia dan john berhenti di depan sebuah mansion yang sangat besar dan sangat indah. Mansion itu lebih besar dari pada rumah john, tapi yang jelas itu adalah mansion orang tua Johnson lei.



"Ayo turun... Kau tidak perlu takut aku akan melindungi mu." John meyakinkan lia, bahwa tak ada yang perlu lia khawatirkan.



Lia mengangguk mencoba memberi kepercayaan pada john, bahwa lelaki itu akan selalu melindunginya.



John bersama lia turun dari Mobil, dan berjalan masuk kedalam rumah, john dengan lia di sambut oleh para maid dan penjaga rumah yang berjejer rapih memberikan hormat pada john.



Dari kejauhan terlihat seorang lelaki paruhbaya dan seorang wanita paruhbaya, yang sepertinya itu adalah orang tua john.



Saat lia dengan john berjalan mendekat, terlihat ekspresi ketidaksukaan ibu john kepada lia, ibu john memperhatikan lia dari atas sampai kebawah, melihat betapa layaknya seorang lia menyandang gelar nyoya lei.