THE PERFECT HUSBAND: I want you!

THE PERFECT HUSBAND: I want you!
posesif



"Jangan banyak bergerak...Kamu ingin apa? Nanti aku ambilkan... " John menahan tubuh lia agar tidak turun dari tempat tidurnya. "Ahhh aku ingin minum... " Pinta lia pada john yang kini duduk di samping lia.


"Tunggu aku ambilkan... " John membangunkan tubunya dari duduk lalu pergi meninggalkan lia sendiri di kamar.


Setelah pulang dari rumah sakit, dua hari yang lalu, john lebih posesif pada lia terutama pada kondisi dirinya dan juga janinnya, banyak hal yang tidak di perbolehkan oleh john untuk di lakukan oleh lia, termasuk berjalan atau berdiri.


Sebenarnya itu terlalu berlebihan lia beranggapan hal itu masih wajar di lakukan oleh dia, karena kandungannya masih tergolong sangat muda, saran dari dokter untuk tidak membuat lia kelelahan di tafsir kan berebeda di otak john.


Kelelahan di makna kan bahwa lia tidak boleh bergerak sedikitpun, bahkan jika pikiran bisa di kendalikan mungkin john meminta lia untuk tidak berfikir sejenak.


Rasanya ingin lia berkata bahwa itu terlalu berlebihan, tapi apalah daya lia yang akan selalu kalah dalam beradu argumen dengan john.


Lia menghembuskan nafas panjang, sudah 2 hari ini dia terus bergelut di atas ranjang king size milik john, tidak di perbolehkan keluar, berjalan jalan dan lain sebagainya.


Lia menghempaskan tubuhnya kasar di atas kasur, pandangannya fokus pada langit langit kamar john yang berwarna putih, pikirannya terbang membawa nya jauh tinggi ke tempat di mana sebuah khayalan pada akhirnya tak sesuai kenyataan.


Tak adalah yang perlu lia sesali, baginya ini sudah menjadi nasib nya, tapi lia juga bersyukur atas apa yang tuhan berikan padanya, setidaknya dia tidak menikah dengan lelaki bajingan.


Tapi yang masih menjadi pemikiran lia saat ini adalah kenapa john menikahinya? Bukankah banyak wanita di luar sana yang memiliki paras lebih menawan darinya?


Entahlah itu masih jadi rahasia yang belum bisa lia pecahkan, bertanya pun lia tidak pernah mendapatkan sebuah hasil yang jelas, hanya menjawab 'karena aku mencintaimu' yang terlontar dari bibir john.


Lia tidak paham maksud nya, toh mereka tidak pernah bertemu bahkan lia tidak mengenal john? Bagiamana john bisa mencintainya? Aneh bukan?


Lia tersadar dari segala pemikirannya, saat john duduk di tempat tidur sambil membawa segelas semangkuk bubur, vitamin dan juga segelas susu yang lia yakini itu adalah susu hamil yang sudah dia minum beberapa hari ini.


"Ayo makan dulu..." John mengusap usap pelan rambut panjang lia yang berwarna hitam yang berkilau, harum daun mint tiba tiba menyeruak di seluruh penjuru kamar john, john tersenyum lebar inilah yang ia suka dari lia, lia memiliki sebuah senjata yang dapat membuang seseorang melupakan masalahnya, yaitu ketika rambut lia di usap usap bau harum menyeruak tiba tiba saja tercium.


John pernah penasaran shampoo apa yang di gunakan oleh istrinya, sehingga memilik bau harum seperti ini, tapi yang dia lihat di kamar mandi hanya ada shampoo yang sama yang ia gunakan.


Lia mendudukan tubuhnya di atas busa empuk yang akhir akhir ini menjadi temannya, "John... Aku tidak mau makan bubur...." Lirih lia memandang bubur yang di bawa oleh john lesu.


"Tidak... Kamu harus makan ini selama beberapa hari... " Bantah john, mengambil sesendok bubur hendak menyuapkan nya ke mulut lia, namun dengan segera lia menggeleng dia tidak ingin memakan bubur lagi.


"Johnn... Ayolah... Tidak kah kamu berfikir anakmu akan kelebihan protein? Dia juga butuh vitamin dan kalsium, berhentilah terus menyuruhku memakan bubur!" Tolak lia ketus dengan tatapan yang mengancam, lia menunjukan bahwa dia sudah muak dengan rasa makanan halus berwarna putih ini.


John mengehela nafas panjang, sejenak dia berfikir tentang apa yang di katakan oleh lia benar adanya, lia juga membutuhkan asupan vitamin dan juga kalsium serta gizi gizi lain, yang memang di butuhkan oleh anaknya dan juga istrinya.


"Baiklah... Kamu ingin makan apa?" John meletakan sesendok bubur kedalam mangkuknya, membatalkan nya untuk masuk kedalam mulut lia.


"Piz-"


"Jangan aneh aneh, aku ingin kamu makan, makanan yang bergizi!" Tolak john saat mengetahui makanan yang di inginkan oleh lia.


Tapi karena penolakan dari john dan juga untuk kebaikan janin dalam perutnya ini, lia harus membuang khayalannya jauh jauh.


"Ya...Sudah aku ingin salad buah!" Perintah lia pada john yang sedari menahan tawa karena, bibir lia yang sudah mengerucut lima senti, membuatnya gemas.


John tersenyum tanda menyetujui permintaan lia, dia sudah bersiap pergi dari kamar lia untuk membuat makanan yang di inginkan oleh istri tercintanya.


"John apakah kamu tidak pergi ke kantor?" Tanya lia sebelum john benar benar meninggalkan kamar, john menoleh melirik sebentar wajah lia yang sangat cantik walau tanpa polesan make up yang biasa iya gunakan.


"Aku khawatir dengan keadaan mu... Biarkan pekerjaan di urus oleh kenzo dan juga andi." Jawab john, lia menunjukan raut wajah bingung, wajahnya terlihat berfikir tapi juga sebuah senyuman terpatri dari bibir mungil lia.


"Jangan khawatir dengan kondisi ku, kamu tidak boleh mengabaikan pekerjaan mu, lagi pula aku sudah baik baik saja, jangan terlalu posesif." Jelas lia yang membuat john terpaku sebentar, apakah begitu posesif nya dia dengan keadaan lia.


"Baiklah... Aku akan pergi bekerja, asal kau berjanji untuk tidak membuat tubuh mu terlalu lelah, ingat ada janin yang ada dalam perut mu... Jaga dia baik baik...Aku juga tidak ingin kamu kenapa kenapa! Oke.... "


Tambah john, lia tersenyum manis sekelebat rencana licik terlintas di kepalanya, rencananya ini di mana dia akan pergi dari rumah john untuk berjalan jalan, dia sudah sangat bosan berada dalam rumah yang besar ini.


"Oke!" Balas lia dengan senyum cerahnya. "Baiklah aku akan meminta pelayan untuk membuatkan salad buah, jangan lupa minum susunya dan juga vitamin nya... " Perintah john yang di balas anggukan dari lia.


John mencium kening lia sekilas, lalu mengacak acak pucuk rambut lia. "Aku pergi..." John berjalan meninggalkan lia di dalam kamar, dengan senyum menyeringai lia tertawa kecil yang semua orang akan bergidik ngeri jika mendengar tawa lia yang mirip dengan nenek lampir.


setelah mendengar suara mesin mobil yang berjalan keluar dari pekarangan rumah john, lia meloncat kegirangan baginya ini adalah sebuah kesempatan yang sudah ia nanti nantikan, karena selama 2 hari ini john tidak pernah pergi meninggalkan lia sedikit pun.


"Hari ini.... Aku akan pergi bersama dengan mia, yeahhh!" Teriak lia girang sambil berjalan menuruni tangga untuk mempersiapkan dirinya.


***


Lia sedang duduk di hadapan seorang wanita dengan rambut pendek yang khas menjadi cirinya, mulut wanita itu menganga saat mendengar rinci demi rincian kisah yang di ceritakan oleh lia.


"Wahhh dia benar benar sayang padamu... Beruntung nya dirimu... " Wanita itu mengerjapkan matanya tak percaya, sambil terus fokus untuk menghaluskan pizza yang lumer di dalam mulutnya.


Ya dia adalah mia monica sahabat lia. "Ya seperti itulah johnson lei, dia sangat baik dan perhatian tapi kadang suka mengekang dan memaksa.." Lia tidak berminat untuk memandang wajah sahabatnya itu karena sedari tadi dia sedang merasakan nikmatnya pizza yang sudah lama ia inginkan.


"Beruntungnya dirimu....Aku tidak yakin anakmu akan mengikuti sifar siapa? Apakah akan menjadi ayahnya yang arogan atau dirimu yang lemah lembut." Argumen mia sambil mengambil sepotong pizza yang tersaji di atas meja.


"Ya...Ku harapkan anakku ini dapat mengambil sisi baik dari ayahnya, termasuk tampan jika dia lelaki dan perhatiannya juga tanggung jawabnya, laki laki seperti itu akan sangat langka di masa depan..." Lia reflek mengusap usap perut nya yang masih rata.


"Dan aku berharap jika dia perempuan dia dapat mengambil sisi baik dariku, yang kuharapkan apa yang terjadi padaku tidak tertimpa pada anakku ini kelak, cukup hanya aku yang merasakan pahitnya kehidupan."


Lirih lia sakit hatinya belum sepenuhnya hilang, kejadian itu masih terngiang ngiang di kepalanya, walau dia sudah memaafkan semua orang yang melukainya, tapi sebuah rasa sakit tidak akan hilang begitu saja