
"Lalu kita akan kemana lagi?" Mia masih sibuk dengan permen lolipop yang ia pegang sedari tadi, rambut pendeknya beterbangan di tiup angin yang sedang berhembus dengan cukup tenang, topi baseball berwarna hitam itu sudah membantunya menghalau panasnya kota di siang hari.
"Bagaimana kalo ke mall saja, kemarin rencana kita gagal bukan?" Lia berjalan pelan di trotoar, dengan kaos floral yang dia gunakan juga rok denim selutut membuatnya terlihat seperti pekerja kantoran yang sedang menghabiskan waktu istirahatnya, tapi sayangnya dia bukan seorang pekerja kantor, melainkan istri dari pengusaha terkaya di negara ini.
"Baik.. Tapi apa kamu baik baik saja? Aku tidak mau kamu sampai sakit lalu john menyalahkan ku atas apa yang terjadi padamu... " Mia memberhentikan langkahnya, lia sigap menatap mia wajahnya terlihat murung saat mia membahas tentang john, hari ini lia memutuskan untuk tidak mengingat segala hal yang berkaitan dengan john yang hanya membuatnya stress.
"Sudahlah... Aku yang akan berbicara dengan john, sekarang kita bersenang senang dulu... " Lia mengenggam kedua tangan mia, sekarang sebuah senyuman terukir di wajah manis lia.
Mia mengangguk mantap, dia yakin lia akan selalu membelanya jika memang bukan dia yang bersalah, ke khawatiran pun hilang dari pikiran mia.
"Baik kalau begitu kita berangkat.." Mia tersenyum ceria, sambil menggandeng tangan lia, mereka berdua menyusuri jalan kota yang sedang ramai oleh pekerja yang sedang beristirahat siang maupun kendaraan yang sedang lalu lalang.
Lia sengaja tidak membawa satupun bodyguard miliknya dan juga kendaraan, lia lebih senang jika seperti ini baginya ini adalah sebuah kebiasaan yang sudah dia lakukan.
drrrttt Drttttt
Suara dering ponsel membuyarkan seluruh senyum yang tergurat di masing masing wajah mereka berdua, malah kini lia dan mia saling memandang kebingungan suara dering ponsel itu.
"Itu milikmu.. " Ucap lia sambil menunjuk sebuah tas ransel yang di bawa oleh mia di punggung nya.
Dengan segera mia mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya, mia menghembuskan nafas kasar saat melihat nama seseorang yang menelefon nya.
"Hallo..... "
"..."
"Iya... Tapi kan ini adalah waktu istirahat ku?"
"..."
"Baiklah baiklah terimakasih pak... Saya akan segera kesana.. " Mia mematikan telepon secara sepihak, pancaran wajahnya kini terlihat murung dan tidak lagi ceria.
"Kenapa?" Tanya lia yang menyadari perubahan ekspresi mia. "Aku harus pergi... sepertinya ada artis yang butuh bantuan ku untuk membantunya..."
...maaf lia lain kali saja yah?" Tanya mia dia takut lia akan kecewa lagi dengan nya, mendengar penuturan dari mia, lia hanya tersenyum tipis lalu menatap lembut pada mia.
"Tidak apa apa.. Pergilah pekerjaan mu lebih penting, kita bisa berkumpul lain kali lagi... "
"berjanjilah kau tidak akan marah padaku..?" Tanya mia, lia menggeleng dia memegang kedua pundak mia dan berusaha mengatakan bahwa dia baik baik saja.
"Pergilah... Aku tahu ini adalah impian mu, jangan khawatir kan aku... " Sekali lagi lia tersenyum manis kepada mia, mia mengangguk lalu pergi sambil melambaikan tangan pada lia.
"Aku berjanji akan melunasi janjiku padamu....Bye... " Mia berlari meninggalkan lia yang masih berdiri di trotoar, tepatnya kini lia sedang melihat perginya sahabat nya untuk menggapai segala impiannya.
'Semoga apa yang kamu inginkan bisa terwujud'
Lia berjalan pelan sendirian, tiba tiba saja angin berhembus kencang di tengah teriknya matahari, lia sedikit mendelikan matanya saat merasa cuaca siang ini cukup panas.
Lia teringat akan john? Bagaimana dia? Untunglah sekarang kepala pembantu dirumah john mau bekerja sama dengannya, jika tidak mungkin saat ini john sudah menelefon beberapa kali, sangat merepotkan punya suami seperti john.
"Apa aku pergi ke tempat kerjanya saja yah? Rasanya aku ingin berkunjung..." Lia melangkah pasti saat menyetujui apa yang di pikirkan oleh nya, sambil tersenyum senang walau terik matahari, lia mencari cari restoran terdekat untuk membeli makan siang yang akan dia berikan pada john di kantor.
"Dia pasti belum makan.. " Lia berhenti tepat di sebuah restoran yang cukup besar, lia tidak takut dengan harga dari makanan yang ada di restoran ini.
Karena selama ini john selalu memberinya tiga buah kartu black card dan juga kartu gold yang bisa di gunakan sesuka hati oleh lia.
Setelah memesan beberapa makanan berat, lia memutuskan untuk menaiki kendaran menuju kantor john, karena letaknya yang cukup jauh dari tempat lia berada kini, lagi pula lia merasa kelelahan di juga takut janin yang ada di dalam perutnya lelah gara gara ulahnya.
Supir itu mengangguk lalu menjalankan mobil yang khas dengan ciri berwarna kuning ini.
Lia terdiam sejenak di dalam mobil, berfikir pastinya yang tengah kini dia lakukan. Ada sedikit perasaan yang aneh dalam dirinya, mengingat dia belum memberi kabar pada john bahwa dia akan mengunjungi nya, tapi hatinya yang lain berkata untuk membuat kejutan pada john.
Lalu lia berfikir lagi, bagaimana jika john sedang rapat dan tidak ada di kantor saat ini, apa yang akan dia lakukan?
Menunggu! Itu lah jawaban dari pertanyaan lia sebelumnya, jadi lia memutuskan untuk tidak mengabari john tentang kunjungannya ini.
Sesampainya di depan halaman gedung besar milik john, lia turun setelah membayar jasa supir tadi karena telah mengantarkan nya.
Lia berjalan pelan memperhatikan sekeliling halaman dari gedung ini, dia sangat suka dengan segala desain yang di tata begitu rapih bahkan untuk sebuah halaman.
Lia mendorong pintu kaca yang menjadi pembatas antara luar dan dalam, lia melihat seorang satpam dan resepsionis yang tengah memperhatikan nya.
Lia menghampiri resepsionis yang berdiri di balik meja yang sangat besar. "Mba? Apakah bapak john nya ada?" Tanya lia pada resepsionis itu.
Resepsionis itu menjawab sambil tersenyum dia tahu bahwa lia adalah seseorang yang sangat spesial bagi john, karena pertama kalinya lah john membwa seorang wanita ke tempat kerjanya, dan terakhir kehadirannya di kantor ini membuat banyak kehebohan, termasuk dari para karyawan yang sangat mengidolakan john.
"Ada... Anda bisa langsung pergi ke ruangan kerjanya atau perlu saya menghubungi beliau untuk menjemput anda di sini?" Tawar resepsionis membuat lia menggeleng keras, dia datang kesini untuk memberikan kejutan lalu apa gunanya kejutan ini jika pada akhirnya john mengetahui kedatangan nya?
"Tidak apa apa biarkan saya sendiri saja yang pergi, terimakasih..." Lia pergi meninggalkan resepsionis yang sangat ramah itu, lia menyukai nya, john memang pandai dalam memilih seorang karyawan yang cocok untuk pekerjaan nya.
Lia menaiki lift menuju lantai paling atas yang menjadi tempat ruangan john.
ting!
Lift terbuka lia menyusuri lorong gedung yang begitu indah di penuhi dengan lukisan lukisan abstrak yang lia kurang pahami apa maksudnya.
Di depan ruangan john, dia melihat kenzo yang sedang mencatat beberapa berkas di meja kerjanya yang terletak di depan ruangan john.
"Kenzo... " Lia melambaikan tangannya pada seseorang yang tidak lagi asing di hidupnya.
Kenzo melirik lia sebentar, setelah itu membalas senyuman yang di lemparkan lia padanya. "Ada apa kau kemari?" Tanya kenzo, sambil menutup dokumen yang sedang di bacanya.
"Aku ingin memeberikan makan siang untuk john, apa dia ada di dalam?" Lia menunjukan sebuah paper bag yang berisi makanan yang tadi di belinya olehnya.
"Ada masuk saja... Hanya saja tadi ada tamu, tapi sudah keluar.." Jawab kenzo ramah, tanpa sungkan lia membuka pintu ruangan john.
Lia mempertegas tatapannya saat merasa aneh dengan pemandangan yang ada di depannya, tapi setelah itu paper bag yang di pegang olehnya terjatuh, dengan mata yang membulat dan air mata yang sudah tidak bisa dia tahan, lia menangis menyaksikan sesuatu hal yang membuat hatinya teriris.
Lia membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengatakan hal hal yang sangat bodoh, apalagi ini adalah kantor.
"John... " Lirih lia, dengan suara yang hampir hilang, tatapannya kosong john yang menyadari kedatangan lia terkejut.
Lia berjalan pergi menjauhi tempat itu sambil menangis, mengumpat di dalam hatinya....Sambil berjalan tanpa peduli apa yang tengah di bicarakan oleh para karyawan yang melihat nya.
"Lia tunggu dengar kan penjelasan ku... Tunggu itu tidak seperti apa yang kamu lihat!" John menarik pergelangan tangan lia, namun di tepis kasar oleh lia yang masih menangis.
"Apa yang perlu kau jelaskan! Ini sudah selesai! Salahkan diriku sendiri karena bodoh telah mempercayai mu! Kau sama saja seperti yang lain! Hanya membuat ku terluka." Tatapan lia menusuk hati john, tanpa peduli lagi dengan john, lia pergi dari kantor john dengan perasaan yang tidak menentu.
'Lebih baik aku mati sebelumnya dari pada seperti ini!'
Sementara seorang wanita yang menjadi dalang dalam perdebatan ini tersenyum puas dengan tatapan menyeramkan seolah siap mengajak siapa saja mati dan masuk neraka bersama nya.