
Wanita dengan surai hitam itu berjalan gontai, kakinya terasa berat untuk sekedar melangkah agar bisa meneruskan jalannya, walau harus tertatih menjauh, hatinya masih tertinggal di sana, sedikit kecewa di rasakan terus menerus dalam lubuk hatinya, menyadari bahwa apa yang dia harapkan tidak akan pernah terwujud kan.
Sinar mentari mulai hilang, bersama dengan berganti nya sinar rembulan yang mau tak mau menggantikan tugas matahari, entahlah mungkin tanpa kedua cahaya itu bumi akan gelap.
Tak tentu tujuan dan arah, wanita ini yang tak lain adalah lia, sorot matanya tajam menatap sekitar jalan yang mulai sepi di pergantian siang dan malam.
Wajahnya sudah terlihat tak berkaruan, matanya sembap, sedang kan rambutnya sudah terbang melayang layang bersama hembusan angin malam yang membuat kehangatan menghilang.
Lia tidak tahu dia akan pergi kemana, sementara kini dia butuh tempat perlindungan untuk beristirahat. Tubuhnya sudah lemas, perutnya sudah tak bisa di ajak kompromi hanya untuk sekedar menahan cacing di perutnya sebentar.
Masalahnya saat ini dia tidak ingin bertemu dengan orang yang telah membuat mood nya tiba tiba menghilang ini, melihat wajahnya sudah memuakkan, john dia pasti akan mengelak dengan seribu ucapannya yang tidak akan bisa di bantah.
'Aku masih punya mia!' Lia ingat dia tidak sendirian di sini, dia punya mia yang bisa membantunya dengan senang hati.
Lia dengan cepat menghubungi wanita dengan rambut pendek itu, lia berharap mia mau menerima dirinya hanya untuk sekedar merebahkan diri.
"Hallo!" Lia dengan tak sabar ingin segera mendapat jawaban dari mia, dia tidak tahu seberapa lama dia bisa bertahan di sini, bukan lia tak mampu dia masih memiliki uang pemberian john yang cukup untuk bekalnya selama 1 tahun. Tapi yang lia permasalahan saat ini adalah tubuhnya yang sudah terlanjur lelah, semenjak mengandung lia tidak bisa berjalan jalan lebih lama.
lia bisa di bilang ibu hamil yang sedikit beruntung karena di kehamilannya ini lia tidak terlalu di repotkan dengan mual mual seperti ibu hamil biasanya, tapi tetap saja terkadang lia merasa kan mual walau tidak terlalu sering.
Tapi kini tubuhnya sudah sangat lelah, menopang tubuh nya saja lia sudah kesusahan.
``Hallo?``
"Mia kamu dimana?" Tanya lia dengan suara parau, yang terdengar sangat kesakitan.
``Lia kau baik baik saja?``
"Aku baik...Kau di mana?"
``Aku masih di tempat pembuatan film, ada apa?``
"Boleh aku pergi ke apartemen mu? Tolong..." Mohon lia kakinya mulai bergetar.
``Kau baik? Lia katakan kau kenapa!``
Mia mulai berteriak di tempat itu, suara kekhawatiran jelas di rasakan oleh lia.
"Aku baik, ada masalah, tolong izinkan aku untuk menginap sebentar di apart milikmu"
``Ya ya tidak apa apa, kau pergi ke sana aku masih tinggal di tempat yang sama, password nya masih yang dulu, aku akan segera pulang, tunggu di apart ku jangan ke mana mana!``
Tuuttt
Lia memutuskan panggilannya, dia segera mencari taksi untuk mengantarkan dirinya ke apartemen milik mia.
Setelah mendapatkan taksi, lia langsung menghembuskan nafas kasar sambil memijit mijit pelan kakinya yang terasa sangat pegal.
Lia sedikit marah dan kecewa karena sampai saat ini john tidak mencari dirinya, jangankan mencari menelefon atau sekedar menanyakan kabar saja john tidak melakukan nya.
Lia tersenyum kecut, ini lah yang membuatnya yakin bahwa dia hanya di manfaatkan untuk menjadi penyimpanan benih yang akan langsung di buang setelah anak ini lahir.
Sebelum itu terjadi lia memutuskan untuk pergi menjauh dari john, tidak ada alasan yang kuat untuk john mempertahankan nya, hanya karena bayi inilah lia di manjakan dan di biarkan hidup.
Miris sungguh miris, ternyata hidupnya tidak seberuntung apa yang dia pikirkan.
Lia menatap keluar jendela mobil, malam ini cuaca cukup dingin tak seperti biasanya yang selalu di penuhi kehangatan, atau mungkin itu hanya perasaan lia saja.
Setelah sampai di gedung apartemen milik mia, lia turun dari taksi sambil menyeret kakinya. Sejujurnya dia sudah tidak sanggup berjalan jauh, apalagi apartment mia yang berada di lantai 30 membuatnya harus berdiri cukup lama di dalam lift.
Nasibnya sungguh sial hari ini, Setelah terbang jauh di atas awan ternyata dia harus di jatuhkan dari tingginya langit.
Lia berdiri tepat di pintu apartemen mia, dengan tergesa gesa lia mengetikan password yang di gunakan untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka, lia dengan segera memasuki apart mia dengan tergopoh gopoh, melihat sofa panjang membuatnya dengan cepat merebahkan tubuhnya di atas sofa itu, kakinya berselancar menyusuri setiap kenikmatan dari gesekan busa sofa yang halus dan lembut.
Lia memejamkan matanya, apa yang akan dia lakukan setelah ini, sedangkan pikiran nya tentang john yang memanfaatkan nya masih saja terlintas di pikiran nya.
Jika memang benar lia harus membawa kemana anaknya ini agar jauh dari jangkauan john.
Sreet
Suara pintu apartemen terbuka, lia dengan cepat membulat kan matanya melihat siapa yang datang ke apartemen ini, ternyata seorang wanita dengan rambut pendek berjalan mendekati lia dan mendudukan tubuhnya di samping lia.
"Kau kenapa?" Mia dia sudah datang dengan membawa sebungkus makanan, wajahnya terlihat khawatir dengan keadaan sahabat nya ini.
Lia tersenyum getir, menatap manik mata sahabatnya ini sendu, mata nya yang tak hendak berair kini menunjukan bahwa dia butuh perlindungan untuk menguatkan hatinya.
Dengan cepat lia memeluk tubuh ramping lia, dan menangis di ceruk leher jenjang milik mia.
"Hiks... Mia john.. Di-dia hiks aku.... Aku bertengkar dengannya..." Lia dengan terisak menjelaskan mengapa dia bisa seperti ini.
"Sudah... Laki laki brengsek seperti john tidak usah kau harapkan..." Mia mengusap punggung lia pelan, menenangkan lia agar tidak lagi menangis.
"Dia hanya memanfaatkan ku... Mia hiks... " Jelas lia lagi, mia hanya mengangguk paham, inilah yang dia benci dari sebuah komitmen di mana salah satu di antara mereka harus ada yang terluka, karena ke egoisan yang menuntut sebuah keretakan.
"Sudah yah sudah, biar kan laki laki brengsek itu menyesal...Sekarang kau makan dulu yah, kasian keponakan ku pasti dia kelaparan." Mia melepasakan pelukannya dan mengelus elus perut lia yang masih rata.
Lia mengangguk dan membuka bukusan makanan yang di bawa oleh mia, isi nya adalah healty food yang di dominasi oleh sayur sayuran dan makanan ber protein juga bergizi tinggi.
"Makan yang banyak yah... " Mia memisahkan makanan milik lia dan mana miliknya, terlihat dari makanan mia yang cenderung banyak karbohidrat.
"Mia aku ingin pergi... " Lirih lia pelan sebelum menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. "Pergi? Pergi kemana?" Mia terkejut dengan ucapan lia.
"Aku akan pergi sejauh jauhnya, meninggal kan john, aku ingin mengurus anak ini sendirian." Cicit lia yang di balas gelengan oleh mia.
"Tidak tidak! Aku tidak menyetujui nya... Jangan keras kepala!" Bantah mia tidak menyukai keputusan lia yang mendadak.
"Tapi aku tidak ingin terus terusan berada dalam kungkung an john, mia, aku tidak ingin anak ini sampai berada di tangan john..." tambah lia lagi bahkan dia menunda untuk memakan sup daging yang di belikan oleh mia, dan lebih memilih untuk memandangi sup itu.
"Lalu jika kamu ingin pergi, kau akan pergi ke mana?" Kini giliran mia yang bertanya tentang keputusan lia yang terlalu tergesa gesa.
"Mungkin ke london inggris, aku akan tinggal di sana, itu rencana ku.. " Jawab lia spontan.
"Jadi kau benar benar akan memisahkan anakmu dengan ayahnya? Aku tidak terlalu yakin john hanya memanfaatkan mu, jangan terlalu cepat mengambil keputusan lia, karena penyesalan hanya datang di akhir." Ucap mia sambil menepuk bahu lia pelan.
"Pikirkan dahulu keputusan mu, oke?"
novel ini akan tamat loo sekitar beberapa chap lagi, untuk info lebih lanjut bisa follow akun ig novel ku yg lain di @Za_novel, di situ kalian dapet info update novel, smp foto visual cas termasuk lia sm john ada yg penasaran sm mukanya? Yuk follow